Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Bab 166


__ADS_3

Calvin dan Cantika tidak langsung pulang ke rumah mereka sendiri. Mereka memutuskan untuk ke rumah orang tua Calvin lebih dulu. Kedua orang tua Calvin terlihat sangat bahagia, bahkan sampai meneteskan air mata, mendengar kabar kalau mereka akan mendapat tiga cucu sekaligus.


Setelah dari kediaman orang tua Calvin, sepasang calon ayah dan ibu itu, langsung menuju ke kediaman Bagas papanya Cantika.


"Bagaimana? apa kandungan Cantika baik-baik saja?" tanya Bagas setelah berbasa-basi sebentar.


"Semuanya baik-baik saja, Pah. Katanya kandungan Cantika sudah 8 minggu, dan perkembangan janinnya juga sangat bagus," jelas Calvin dengan senyuman yang tidak tanggal dari bibirnya.


Bagas mangut-mangut dan berkata, "Baguslah kalau begitu,"


"Pah, ada kabar bahagia lagi yang mau kami sampaikan," Calvin memperbaiki duduknya dan memberikan isyarat pada Cantika untuk mengeluarkan gambar hasil USG itu.


"Kabar apa yang mau kalian berdua ingin sampaikan?" Kening Bagas berkerut demikian juga halnya dengan Clara.


"Ini, Pah, Mah." Calvin menyerahkan photo print-an USG ke tangan Bagas yang menerimanya dengan hati yang was-was. Dia khawatir ada sesuatu hal yang tidak baik yang akan disampaikan oleh putri dan menantunya itu.


"Apa ini?" Kening Bagas benar-benar berkerut.


"Cantika dan kandungannya benaran tidak apa-apa kan?" sambungnya lagi.


Calvin dan Cantika saling silang pandang disertai dengan senyuman di bibir masing-masing.


"Pah, bukannya di photo itu terlihat jelas, kalau ada tiga kantong janin? itu berarti, Papa akan mendapatkan tiga cucu sekaligus."


"A- apa? tiga cucu? kamu tidak lagi bercanda kan?" tanya Bagas dengan suara yang gugup dan tangan yang gemetar.


"Tidak, Pah! ini benaran. Kami aja sempat tidak percaya, ketika ___"

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini! aku mau pergi dulu!" Bagas langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah keluar sambil membawa photo hasil USG itu, tanpa menunggu Calvin menyelesaikan ucapannya.


"Pah, mau kemana?" pekik,Cantika kesal dengan sang papa.


Bagas tidak menjawab. Dia terus saja melangkah menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


"Papa mau kemana sih, Mah?" Kening Cantika berkerut.


Clara mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tau.


"Apa papa tidak senang karena Cantika mengandung 3 bayi sekaligus, Mah?" tanya Calvin merasa tidak enak.


"Tidak mungkin papa tidak senang, dia justru pasti mau pamer." ujar Clara menenangkan menantunya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dia memasang headset ke dalam telinganya, dan langsung melakukan panggilan dengan Ardan.


"Halo, Gas, ada apa?" terdengar suara Ardan dari ujung telepon.


"Kamu ada di mana?" tanya Bagas.


"Kamu gimana sih? bukannya aku sama Rio tadi ngajak kamu dan Clara buat kumpul di rumahku? berarti kami ada di rumah lah," jawab Ardan.


"Jadi Rio ada di sana juga, kan?" tanya Bagas memastikan.


"Ya pasti adalah. Kamu kenapa sih dari tadi nanya-nanya aja?" Bisa dipastikan kalau kening Ardan pasti berkerut di ujung sana.

__ADS_1


"Aku sekarang ada di jalan mau ke sana,"


"Oh, begitu? akhirnya dirimu mau datang juga. Tadi kamu sok menolak."


"Bagaimana aku tidak menolak? kalian berdua suka meledekku. Apalagi Rio," ucap Bagas dengan nada kesal.


Terdengar suara kekehan yang sangat dikenal oleh Bagas, di ujung sana, "Maaf deh, kami bukan meledekmu, aku hanya mengatakan fakta," bukan Ardan yang berbicara, tapi Rio yang buka suara.


"Cih, meledekku. Nanti siap-siaplah, giliran aku yang akan ada di atas angin, dan meledekmu habis-habisan," ucap Bagas yang tentu saja, dia ucapkan dalam hati saja


"Oh ya, Amanda bertanya, Clara ikut ke sini,kan?


Bagas, sontak menghentikan mobilnya tiba-tiba, hingga menimbulkan suara klakson ribut di belakangnya, begitu mendengar pertanyaan Ardan.


"Astaga!" aku lupa bawa istriku," Bagas pun menepikan mobilnya.


"Kamu bagaimana sih? istri sendiri bisa dilupakan." Bagas mendengar suara kekehan Ardan di ujung telepon


"Diamlah! sekarang aku mau putar balik dulu, buat jemput istriku mumpung belum terlalu jauh," ucap Bagas sambil memutuskan panggilannya secara sepihak. Tidak perduli dengan Ardan yang pasti sedang mengumpatinya di sana.


Begitu panggilan terputus, Bagas langsung menghubungi Clara sang istri.


"Sayang, maaf ya! tadi aku pergi begitu saja tanpa membawamu," ucap Bagas begitu panggilannya dijawab sang istri.


"Baru nyadar ya? udah perginya gak pakai pamit lagi," protes Clara yang pastinya bibirnya tengah mengerucut dari ujung sana. "Emang kamu mau pergi kemana sih?" imbuh Clara, bertanya.


"Aku memutuskan untuk ke rumah Ardan. Sekarang aku mau pulang ke rumah untuk menjemputmu. Jadi kamu siap-siap ya," Ardan langsung memutuskan panggilan setelah mendengar jawaban 'iya' dari Clara istrinya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2