Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Mayonise tanpa pengawet


__ADS_3

"Rio, jam berapa kita bertemu dengan, Bagas?" tanya Ardan, lalu membuka lebar mulutnya, menguap.


"Katanya dia sendiri yang akan datang ke sini sekitar jam 9 an lah. Kenapa?"


Ardan melirik Arloji yang melingkar di tangannya, " Hmm, masih jam 8, sepertinya aku tidak sempat tidur dulu, aku ngantuk banget soalnya." Ardan kembali membuka mulutnya lebar-lebar.


"Wow!" Rio mangut-mangut dengan menerbitkan senyum misterius di bibirnya.


"Apa yang otakmu lagi pikirkan? jangan berpikir yang tidak -tidak!" Ardan memasang wajah tidak senang.


"Aku tidak lagi memikirkan apa-apa. Kamu tidak boleh su'udjon sama orang," jawab Rio.


Ardan mendengus dan berdecih mendengar jawaban sahabat sekaligus asistennya itu.


" Cih,Aku mengenalmu, bukan setahun atau dua tahun, Rio. Jadi aku sudah cukup paham, bagaimana dirimu. Pasti sekarang kamu lagi berpikir yang tidak-tidak." Ardan menarik sedikit sudut matanya, ke atas menatap curiga pada Rio.


Suara tawa Rio akhirnya pecah melihat tatapan Ardan. "Aku cuma merasa, kalau tadi malam kamu pasti menyerang Amanda habis-habisan. Semalaman kalian pasti melakukan itu,tanpa istirahat." tebak Rio yang membuat Ardan meradang. Dia melemparkan pena yang ada di tangannya ke arah Rio.


"Kamu bisa diam tidak?! sekali lagi kamu bicara aku akan potong gajimu!" bentak Ardan dengan menampilkan wajah yang tidak bersahabat.


"Kamu kenapa sih? sensitif amat. Bukannya kamu hari ini se ...." Rio urung melanjutkan ucapannya, melihat tatapan Ardan yang semakin tajam.


"Iya ... iya aku diam." Pungkas Rio mengakhiri percakapan. Kemudian dia fokus kembali memeriksa dokumen-dokumen yang ada di depannya.


Walaupun Rio terlihat serius dengan dokumen di depannya, pikirannya tetap berkelana mencari jawaban ada apa dengan Ardan. Keningnya berkerut juga mengingat Amanda yang hari ini juga ikut masuk bekerja. Rio semakin bingung, melihat kondisi yang berbeda dari sepasang pengantin baru itu. Ardan yang uring-uringan tak bersemangat, sedangkan Amanda yang terlihat baik-baik saja.


"Kalau Ardan sampai ngantuk begini, karena semalaman melakukannya, berarti, Mandapun pasti terlihat ngantuk dong." batin Rio.


"Dan anehnya mengapa mereka berdua malah masuk kerja hari ini? biasanya pengantin baru kan, masih betah berada di kamar terus? atau jangan-jangan mereka belum melakukannya, makanya Ardan uring-uringan. Aahh bodo amat lah," bisik Rio kembali pada dirinya sendiri, kembali fokus pada dokumen yang ada di depannya.


"Rio, apa cinta itu harus diungkapkan?" celetuk Ardan tiba-tiba dengan wajah yang frustasi.


Alis Rio sontak saling bertaut, mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh, Ardan. Dia semakin yakin dengan dugaannya, kalau tadi malam tidak ada yang terjadi antara Ardan dan Amanda.


"Hmm, bagi seorang perempuan, itu sangat penting. Karena mereka butuh kepastian."


"Tapi, apakah tidak cukup, hanya dengan kita memberikan perhatian saja? harusnya dengan perlakuan kita, wanita sudah bisa mengerti kalau mereka itu sudah jadi sosok yang istimewa buat kita." ujar Ardan.


"Kaum perempuan ini unik, Dan. Mereka butuh ungkapan. Setelah diungkapkan, baru mereka butuh pembuktian, lewat perlakuan kita pada mereka. Aku juga tidak mengerti kenapa wanita susah untuk dimengerti. Buku setebal apapun tidak akan cukup membahas cara mengerti wanita. Apa kamu belum mengungkapkan isi hatimu pada, Manda?" tebak Rio, yang dibalas dengan anggukan kepala dari Ardan, membenarkan.


"Kenapa? apa karena kamu gengsi ngungkapinnya" tebak, Rio kembali.

__ADS_1


"Sebenarnya bukan gengsi. Aku hanya tidak mau jadi seperti kamu yang nurut sama Jasmine. Kamu sepertinya takut sama istrimu itu. Dan aku tahu, dia seperti itu ketika kamu mengungkapkan perasaanmu padanya." terang Ardan mengungkapkan alasan dia sebenarnya.


Rio menghela napasnya dengan cukup panjang. "Sebenarnya yang aku takutkan bukan Jasmine. Yang lebih aku takutkan itu, dia pergi meninggalkanku, karena merasa aku tidak mencintainya. Kamu pasti tahu dengan jelas ketika Jasmine pergi, karena mengira aku tidak mencintainya. Sama seperti kamu, aku sudah memberikan dia perhatian, berharap dia mengerti dan tahu kalau aku mencintainya. Tapi, ternyata dia mengira kalau perlakuanku, hanya sebuah bentuk tanggung jawab. Aku kira, Amanda pun pasti merasa seperti itu." Jelas Rio panjang lebar tanpa jeda, membuat Ardan tercenung dan bergeming, berusaha mencerna penjelasan Rio.


"Lagian, ada gunanya juga kita mengungkapkan rasa cinta kita pada istri. Mereka akan merasa tersanjung, dan satu lagi, kita akan bebas meminta untuk melakukan proses penciptaan." sambung Rio kembali,menjelaskan.


Tok ... tok ...tok


"Masuk!" teriak Ardan dari dalam.


Suara decitan pintu, mengalihkan tatapan dua pria itu ke arah pintu, untuk melihat siapa yang datang.


"Pak Ardan, pak Rio, apa kalian berdua mau dibuatin kopi?" tanya Amanda menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Ardan dan Rio saling silang pandang, bingung untuk sepersekian detik. Detik berikutnya tawa mereka berdua pecah, sedangkan Amanda mencebikkan bibirnya kesal bercampur malu.


"Kamu masuk dulu, dan tutup pintunya!" titah Ardan.


Amanda menurut, masuk ke dalam ruangan Ardan dengan bibir yang mengerucut ke depan.


"Kenapa kamu tiba-tiba berbaik hati menanyakannya? bukannya biasanya, aku minta dulu baru kamu buatkan?" tanya Ardan dengan nada meledek.


"Aku bosan, Mas. Dari tadi aku bengong aja di luar sana, gak punya kerja sama sekali," aku Amanda.


"Manda, kamu suka buah anggur nggak?" Rio buka suara.


Amanda menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Rio yang ambigu.


"Pantas, kamu tidak suka dianggurin. Dan asal kamu tahu, Ardan juga tidak suka buah anggur, makanya dia juga nggak suka dianggurin. Jadi nanti malam, jangan anggurin Ardan. Kasihan adiknya, sudah terlalu lama dianggurin."


Ardan mendelik ke arah Rio, yang tidak merasa takut sedikitpun. Sedangkan Amanda, terlihat mengrenyitkan keningnya, bingung dengan maksud perkataan Rio.


"Mas Ardan punya adik? siapa? kok aku nggak tahu?" tanya Amanda dengan wajah polos.


"Ada, tentu saja ada. Makanya nanti malam kalian kenalan. Dulu sih kamu sudah pernah kenal, cuma saking lamanya, kamu jadi lupa sama adiknya Ardan." ucapan Rio semakin terdengar ambigu di telinga Amanda.


"Rioo! "Ardan menggeram dengan rahang yang mengeras. Akan tetapi, Rio tidak peduli sama sekali.


"Kamu suka mayonise nggak, Manda?" Rio kembali bertanya.


"Iya, aku sangat suka mayonise. Kenapa?" sahut Amanda.

__ADS_1


"Wah, kebetulan dong. Asal kamu tahu, Ardan juga punya mayonise yang sangat lezat."


"Itu juga aku tahu, di rumah kan memang banyak mayonise."


"Wah kalau yang Ardan simpan ini beda. Bebas bahan pengawet. Dan kebetulan sudah melimpah ruah, karena kelamaan disimpan." ucap Rio dengan ekor mata yang dinaikkan ke atas, melirik Ardan yang dadanya sudah turun naik, menahan marah.


"Emang kalau disimpan lama-lama, nggak kaladuwarsa?" tanya Amanda yang memang menganggap mayonise yang dimaksud oleh Rio adalah mayonise yang sebenarnya.


"Bukan! tadi kan aku sudah bilang, kalau moyonisenya tanpa pengawet. Makanya kamu cobalah minta nanti dari dia. Dengan senang hati pasti langsung dia berikan. Dan aku jamin pasti bisa membuat perutmu ...." Rio mengelus-elus perutnya.


"Kenyang?" Amanda mengerjap-erjapkan matanya.


"Iya, kenyangnnya bukan hanya sehari tapi __ Aww!" pekik Rio kesakitan, karena tiba-tiba buku melayang tepat di kepalanya.


"Keluar kamu! Jangan kotori pikiran istriku!" titah Ardan, menunjuk pintu.


"Cih, becanda aja tidak boleh! padahal aku kan mau membantu kamu." Rio menggerutu, sambil mengayunkan kakinya menuju ke luar.


"Kenapa, Rio nya kamu usir, Mas? kamu marah ya, karena dia ngasih tahu, kalau kamu nyimpan mayonise yang enak?"


Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung bagaimana cara menjelaskan pada Amanda.


"Kamu mendekat sini!" Ardan menggerakkan jari telunjuknya, menyuruh Amanda mendekat.


Amanda menggigit bibirnya, mendekat ke arah Ardan.


"Kamu benar-benar mau meminta mayoniseku?" tanya Ardan dengan nada menggoda.


"Kalau, Mas nggak keberatan, tentu saja aku mau. Aku penasaran dengan rasanya.Tapi kalau Mas tidak mau, ya ... aku juga tidak memaksa."


"Oh, tentu saja aku tidak keberatan.Dengan senang hati aku akan memberikannya, karena aku memang menunggumu memintanya." Alis Amanda kembali bertaut, semakin bingung.


"Kamu mau tahu, mayonise yang dimaksud oleh Rio?" Amanda menganggukkan kepalanya.


Rio mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah wajah Amanda. " Maksudnya, cream kental yang bisa membuat kamu kenyang selama sembilan bulan," bisik Ardan, yang membuat bola mata Amanda membesar dengan sempurna.


"Ihh, mesum!" pekik Amanda sambil mendorong tubuh Ardan yang tidak bergeser sedikitpun, justru dirinya lah yang hendak terjungkal ke belakang. Untungnya lengan besar Ardan dengan sigap merangkul pinggang Amanda.


Tanpa meminta izin lagi, akhirnya Ardan yang tidak mampu menahan diri lagi, mendaratkan bibirnya ke bibir Amanda. Awalnya hanya menempel, tapi karena tidak ada perlawanan, Ardan memagut, lalu menyesap bibir merah milik Amanda. Ardan memberikan gigitan kecil sehingga mulut Amanda terbuka. Ardan tidak menyia-nyiakan kesempatan, lidahnya langsung melesak masuk dan membelit benda tidak bertulang di dalam mulut Amanda. Amanda yang tadinya hanya menerima serangan Ardan, kini memberanikan diri membalas serangan itu.


"Hei, sedang apa kalian berdua?" Bagas tiba-tiba muncul di depan pintu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2