Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Boleh aku meminta nomor kamu?


__ADS_3

Setelah mengetahui kebenaran kalau dirinya hamil, Anin dan Kenjo langsung melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Benar saja, Anin hamil dengan usia kandungan 8 Minggu atau sekitar dua bulan dan perkembangan janinnya sangat baik.


Kenjo tidak berhenti tersenyum ketika keluar dari rumah sakit. Dia menggandeng tangan Anin dengan erat, takut wanita itu jatuh. Bahkan dia tidak mengizinkan Anin untuk membawa mobil sendiri dan menyuruh orang untuk menjemput mobil istrinya itu di parkiran rumah sakit.


"Bisa tidak bawa mobilnya, jangan kaya siput? kapan kita sampainya kalau begini cara kamu bawa mobilnya?" protes Anin, kesal. Kenji suaminya, mengemudikan mobilnya, layaknya seperti siput.


"Aku takut kamu kenapa-napa, Sayang. Kamu kan tahu, kalau kandunganmu masih sangat muda." ucap Kenjo, dengan sangat lembut, menyikapi, protesan istrinya


"Iya, tapi gak gini juga bawa mobilnya. Kalau begini, lebih cepat jalan kaki dari pada naik mobil. Kamu jangan terlalu berlebihan, ah!" Ani mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya. Aku tambahin kecepatannya." ucap Kenjo menambahi kecepatan, tapi masih tetap sangat lambat bagi Anin.


"Sayang, ini sama aja gak ada bedanya dari yang tadi. Tambahin lagi kecepatannya, cepat!"


"Tapi, aku sudah menambahin kecepatannya, Sayang. Masa harus ditambahin lagi?" ucap Kenjo tidak mengindahkan permintaan sang istri.


"Kalau kamu masih seperti ini bawa mobilnya, aku lebih baik turun dan jalan kaki. Aku yakin, kalau aku akan lebih dulu sampai di rumah dari kamu," ancam Anin.


Mendengar ucapan sang istri, akhirnya Kenjo pun mengalah dan mengemudikan mobil seperti biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kabar tentang kehamilan Anin, langsung disambut gembira oleh keluarga masing-masing. Khususnya di keluarga Kenjo, karena ini merupakan cucu pertama orang tua Kenjo. Anin langsung diberikan nasehat untuk tidak terlalu capek, jangan banyak pikiran dan sebagainnya. Bahkan disuruh memberitahukan kalau seandainya dia menginginkan sesuatu.


"Anin! kamu benaran hamil, Sayang?" tanya Amanda, begitu kedua mertuanya baru saja pulang.


"Iya, Mah!" jawab Anin dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Hmm, bagaimana kalau untuk sementara kamu ke pulang ke mansion kita? Jadi, mama bisa ngejagain kamu sekaligus dua keponakan mu." tawar Amanda, dengan penuh harap.


"Tidak perlu, Mah! Tadi mama Ayu juga meminta hal yang sama, tapi aku menolak. Kalau aku memilih untuk ikut mamah, nanti jadi gak enak sama mama Ayu," tolak Anin.


"Kenapa kamu menolak? harusnya kamu mengiyakan, permintaan ibu mertuamu itu. Mbak Ayu memintamu ke rumahnya karena ingin yang terbaik buat kamu,"


"Aku merasa gak enak, Mah. Lagian aku tidak merasa apa-apa. Yang justru perlu dirawat itu, mas Kenjo. Dia yang merasakan ngidamnya. Dia sekarang manja banget dan maunya ditemani sama aku. Ini aja aku bisa di sini, karena mas Kenjo lagi tidur. Kalau tidak, aku tidak boleh kemana-mana," jelas Anin, membuat Amanda menganggukkan kepala, mengerti.

__ADS_1


"Ya udah deh kalau begitu. Sekarang kamu harus jaga benar kandungan kamu. Jika kamu mau makan sesuatu, jangan ditunda-tunda dan segera hubungi mama atau ibu mertuamu," pesan Amanda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Oh, itu kekasihnya, Adrian?" batin Mita melihat keromantisan Adrian dan Reyna dari jauh.


"Sepertinya, wajahnya tidak asing. Aku seperti pernah melihat gadis itu. Dia siapa ya?" Mita bertanya-tanya dalam hati sambil berusaha mengingat wajah Reyna.


"Akh sudahlah! pusing aku mengingatnya. Yang penting aku sudah tahu kalau Adrian tidak berbohong. Sebaiknya aku pergi dari sini. Aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka," bisik Mita pada dirinya sendiri sambil berlalu pergi.


Sementara itu, pasangan yang sedang diperhatikan oleh Mita, tidak menyadari kalau mereka diperhatikan dari jauh oleh seseorang.


Mereka berdua merasa seperti dunia ini milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak. Hingga membuat seorang pemuda dari jarak yang tidak terlalu jauh menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


"Ya, Tuhan. Sepertinya aku tidak boleh lengah, memperhatikan dua orang itu." batin pemuda itu. Siapa lagi dia, kalau bukan Roni, kakaknya Reyna.


Roni melirik ke arah jam yang menempel di pergelangan tangannya, "Sepertinya aku harus masuk ke dalam kelas lagi." ucap Roni yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri. Roni melihat sekali lagi ke arah Reyna dan Adrian, kemudian dia melangkah menuju kelasnya.


"Aduh!" rintih seorang wanita yang terjatuh karena menubruk tubuh tegap Roni.


"It's ok. It wasn't your fault.It was my fault because i didn't watch my steps.( Tidak apa-apa. Ini bukan kesalahanmu. Ini salahku, karena aku tidak memperhatikan jalan." ucap wanita itu yang masih belum melihat ke arah Roni karena sibuk menepuk-nepuk debu dari celana jeansnya


"Are you okay?" tanya Roni dengan raut wajah yang sedikit bersalah.


"Oh, i'm okay," sahut wanita itu sambil mengangkat wajahnya, untuk melihat ke arah Roni.


"Roni!"


"Mita!"


Seru keduanya bersamaan dengan mata yang membesar dengan sempurna.


"Oh, aku baru ingat, wanita tadi, adiknya Roni. Pantasan aku seperti pernah lihat wajahnya." Batin Mita.


"Kamu kuliah di sini?" tanya Mita, yang masih belum bisa lepas dari rasa kagetnya, melihat pemuda yang merupakan teman sekelasnya. Mereka beda dua tahun, tapi bisa sekelas, karena Roni pernah lompat kelas sekali sewaktu SMP dan sekali ketika SMA.

__ADS_1


"Ya, seperti yang kamu lihat." sahut Roni, tersenyum tipis.


"Wah, aku gak nyangka kita bisa bertemu lagi. Kamu terlihat semakin gagah dari terakhir kita ketemu." ucap Mita dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Kamu juga, Kak Mita."


"Ih, kamu! jangan panggil kakak, akh." protes Mita dengan bibir yang mengerucut hingga membuat Roni terkekeh.


"Pantasan tadi aku melihat adikmu bersama dengan Adrian di sana. Kalian berdua hebat!" puji Mita, tulus.


"Kamu mengenal Adrian?" Roni bertanya dengan kening yang terangkat ke atas, menyelidik.


"Iya, dia satu kelas denganku," jawab Mita.


"Kenapa? apa kamu takut kalau aku menghancurkan hubungan mereka?" tanya Mita, to the point.


"Bu-bukan seperti itu," sangkal Roni, gugup. Karena dugaan Mita sangat tepat sasaran.


"Kamu tenang saja. Aku tidak sejahat itu, kok." senyum manis Mita, masih tetap setia bertengger di bibirnya.


"Ehem, aku sepertinya harus masuk ke kelas dulu. Soalnya kelasku sebentar lagi mau mulai." ucap Roni, dengan ekspresi wajah yang tidak enak.


"Oh iya, silahkan! aku kebetulan sudah tidak ada kelas, dan aku mau pulang," sahut Mita.


"Emm, aku pergi dulu ya," Mita menganggukkan kepalanya.


Roni melangkah melewati Mita, dan demikian juga Mita mengayunkan langkah hendak berlalu pergi.


"Mita, boleh aku meminta nomor kamu?"


"Roni, boleh aku meminta nomor kamu?"


Tiba-tiba keduanya saling berputar badan, dan berucap bersamaan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2