Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Bersiap-siaplah menerima murka Om Bagas


__ADS_3

Sementara itu, Viona kembali bergabung dengan teman-temannya di tempat acara dengan wajah yang berbinar bahagia. Senyumannya tidak pernah lepas dari bibirnya, membayangkan kehancuran Cantika.


Akan tetapi, kedua matanya membesar dengan sempurna ketika melihat teman-teman Max yang direncanakan akan membuat hancur si Cantika sedang bersenda gurau dan Max sendiri tidak kelihatan.


Viona dengan tergesa-gesa melangkah menghampiri para pemuda itu.


"Kenapa kalian semua berada di sini? dimana Max?" cecar Viona, dengan raut wajah panik.


"Hmm, bukannya kamu tahu dia ada dimana? dan kamu tadi sudah membawa Cantika ke tempat Max berada, kan?" tanya salah satu teman Max dengan kening yang berkerut.


"Maksud kalian apa? bukannya kalian yang akan bermain-bermain dengan Cantika malam ini?" tanya Viona semakin panik.


"Kenapa harus kami? yang menginginkan Cantika kan si Max sendiri. Kami tidak mau ikutan."


"Tapi kata Max tadi ... arghh, brengsek! aku dibohongi." Viona segera memutar tubuhnya dan berlalu dengan segera untuk menuju kamarnya kembali.


Ya,Viona tadinya mengira kalau yang ada di dalam kamar adalah teman-temannya Max. Karena rencana awal mereka memang begitu. Max berjanji akan menerima cintanya, jika mau menyiapkan kamar, agar teman-temannya, bisa menikmati tubuh Cantika. Mendengar hal itu, Viona yang memang sudah menyukai Max sejak lama, dengan senang hati menyetujui ide pemuda itu. Ditambah dengan dirinya juga yang sangat membenci Cantika. Akan tetapi, ternyata dirinya sudah dimanfaatkan oleh Max untuk melancarkan niatnya untuk memilik Cantika.


"Arghh! awas kamu Max!" umpat Viona sambil sedikit berlari. Akan tetapi, karena dia memakai sepatu heels yang tinggi, membuat dia tiba-tiba terjatuh dan kakinya terasa sangat sakit untuk digunakan berjalan.


"Kamu kenapa buru-buru, Vi? mau kemana sih?" tanya salah satu temannya sambil membantu Viona untuk berdiri.


"Tidak kemana-mana kok," jawab Viona, berbohong. Karena kalau dia jujur, semua teman-temannya akan sangat membencinya nanti.


Viona menghela napas pasrah, sambil mendongkak ke atas, tepat ke arah kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Menyingkir dari depanku! kalau tidak aku pecahkan lampu ini ke kepalamu!" ancam Cantika sambil mengangkat lampu tidur yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Tampak pakaian Cantika sudah robek, di bagian lengan, hingga menampakan kulit putih Cantika yang mulus.


"Haha! kamu kira aku takut dengan ancamanmu, hah?! Ayolah Cantika, jangan jual mahal, kita nikmati saja malam ini. Aku yakin nanti kamu bakal ketagihan kok," Ujar Max dengan mata yang fokus pada lampu yang ada di tangan Cantika.


Max kembali mendekat ke arah Cantika, hingga tanpa sadar Cantika melempar lampu tidur itu ke arah Max, dan pria itu dengan tangkas langsung menghindar.

__ADS_1


Melihat Cantika yang sudah tidak memiliki senjata apapun, mengayunkan langkahnya, menghampiri gadis yang sudah beringsut tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya.


Cantika,beringsut mundur hingga akhirnya tubuhnya berhenti sendiri, karena tubuhnya sudah membentur tembok.


"Please jangan apa-apakan aku, Max, please!" mohon Cantika, lirih. Baru kali ini dirinya merasa lemah di depan laki-laki itu.


Dia merasa menyesal, karena menolak permintaan Calvin yang ingin pergi bersamanya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur.


Max mengungkung tubuh Cantika yang sudah tidak bisa pergi ke mana-mana lagi. Pemuda itu, berusaha untuk mendaratkan bibirnya ke bibir Cantika, tapi Cantika sontak memalingkan wajahnya, sehingga bibir pemuda itu hanya menyentuh pipinya.


Max menangkup dan menahan pipi Cantika dengan kencang, agar wanita itu tidak memalingkan wajahnya lagi. Air mata sudah membanjiri pipi gadis itu, dan tenaganya juga sudah tidak ada.


Brakk ...


Tiba-tiba pintu jebol, karena tendangan yang sangat keras dari luar dan itu terjadi ketika bibir Max hampir menyentuh bibir Cantika,


Max sontak menoleh ke arah pintu, dan kaget melihat sosok pemuda yang berdiri dengan tangan yang terkepal dan rahang yang mengeras serta wajah yang memerah.


"Ca-Calvin!" desis, Max dengan raut wajah panik dan ketakutan. Di belakang pria itu, tampak juga Dion yang dari wajahnya juga terlihat sangat marah.


Tanpa berpikir panjang, akhirnya keluar dari dalam mobil yang sudah terparkir di luar pagar rumah Viona.


Dia sedikit mengalami kesulitan untuk masuk karena harus berhadapan dengan satpam yang melarangnya untuk masuk.


Mereka berdebat sangat alot, sampai akhirnya Dion datang dan meyakinkan si satpam, kalau Calvin datang untuk menjemput seseorang di dalam sana.


Max yang melihat kemarahan yang terpancar di manik mata, milik Calvin, sontak melepaskan tangannya dari pipi Cantika,sehingga wanita itu tersungkur jatuh.


"Brengsek kamu! Berani sekali kamu menyentuh wanitaku, bajingan!" Calvin dengan amarah yang sudah memuncak segera melompat, memberikan tendangan ke kepala Max, hingga pemuda itu terhuyung ke belakang dan merasakan pusing yang amat sangat.


Calvin menghambur ke arah Cantika, dan memeluk erat wanita yang sedang ketakutan itu. Sedangkan Dion langsung mendekat ke arah Max dan memberikan pukulan yang bertubi-tubi ke wajah pemuda itu, yang sama sekali tidak sanggup lagi untuk melawan.


"Cantika, tenang! ini aku! kamu sudah aman," ucap Calvin, yang tanpa sadar memberikan kecupan yang bertubi-tubi di puncak kepala gadis remaja itu.

__ADS_1


Cantika menangis sesunggukan, dan membenamkan kepalanya ke dada Calvin. Dia langsung merasakan kenyamanan dan merasa terlindungi.


Ketika melihat, lengan Cantika yang memar demikian juga dengan pipinya, membuat amarah Calvin kembali mencuat. Dia membuka jaketnya dan memasangkannya ke tubuh Cantika. Kemudian dia langsung berdiri dan menarik tubuh Max yang sudah tidak berdaya untuk berdiri.


"Dion, bawa Cantika ke dalam mobilku, cepat!"


Dengan emosi yang memuncak, Dion menarik Max keluar dari kamar menuju tempat acara ulang tahun Viona berlangsung. Kemudian dia melemparkan Max ke tengah-tengah tamu undangan Viona.


"Siapa di sini yang bernama Viona?" tanya Calvin dengan nada yang datar dan dingin. Aura kemarahan yang berasal dari wajah Calvin, membuat atmosfer di tempat itu terasa menakutkan.


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi?"


"Kenapa, Max bisa babak belur?"


Terdengar bisik-bisikan di antara para tamu undangan yang bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.


"Kamu yang bernama Viona?" Calvin mendekat ke arah gadis yang bersembuyi di belakang seseorang karena ketakutan.


"Aku paling anti untuk berbuat kasar pada wanita. Tapi menurutku kamu bukanlah seorang wanita. Kamu itu iblis yang menjelma menjadi manusia. Bagaimana mungkin kamu tega, menjebak teman kamu sendiri, hah?" bentak Calvin dengan sengit.


"Apa, Max sudah berhasil ... Oh, tidak! " batin Viona menggeleng-gelengkan kepalanya.


Calvin mencengkram pipi Viona dengan kencang, hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Apa kamu kira, Max berhasil? tidak! tidak sama


sekali! dan kamu harus bersyukur tentang itu. Kalau tidak, aku tidak akan segan- segan menghancurkanmu juga." ucap Calvin sambil menyentak pipi Viona, hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi itu.


Calvin kemudian memutar tubuhnya, dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, dia kembali memutar tubuhnya dan berbicara dengan lantang.


"Ingat, masalah ini tidak akan berhenti di sini begitu saja. Bersiap-siaplah untuk menerima murka dari Om, Bagas Prasetyo Wijaya. Dia akan menghancurkan kalian berdua, karena kalian telah berani mengusik putrinya, dan bersiap-siaplah juga, untuk segera dikeluarkan dari sekolah dan sekolah besar lainnya tidak akan menerima kalian berdua lagi." pungkas Calvin sambil melangkah pergi, meninggalkan Viona yang berteriak-teriak, memohon maaf.

__ADS_1


Semua yang ada di sana pun kecuali gengnya Max, akhirnya meninggalkan Viona, sambil mengumpati gadis itu dan Max.


Tbc


__ADS_2