
"Kamu ya, aku cariin kemana-mana, ternyata kamu sudah ada di sini. Mana makan malam kakak belum ada lagi," protes Roni, tidak memperdulikan Adrian yang masih kebingungan di belakangnya.
"Kakak belum makan ya? kalau gitu, kakak makan saja dulu. Makanan masih ada kok di dapur." Reyna meraih tangan Roni dan mengajaknya ke dapur.
"Jadi, kamu masak makanan buat Adrian, tapi melupakan kakakmu ini?" tanya Roni, ketus. Akan tetapi, tetap duduk dan menerima piring yang berisi makanan dari tangan Reyna.
Sementara itu, Adrian melangkah menyusul Reyna dan Roni ke dapur. Matanya mengitari seluruh ruangan untuk memastikan kalau saat ini dirinya benar-benar berada di apartemennya di London.
"Adrian, ke sini!" Reyna memanggil Adrian dengan nada yang lembut.
Adrian melangkah dengan perlahan menghampiri Reyna.
"Kenapa, Kak Roni ada di sini?" bisik Adrian.
"Hmm, karena emang, Kak Roni bakal ada di London sama aku." jawab Reyna yang membuat Adrian semakin bingung.
"Sumpah, aku makin tidak mengerti sekarang," Adrian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tunggu saya selesai makan dulu, Tuan muda. Nanti biar aku yang menjelaskan," ucap Roni, masih tetap dengan panggilannya karena masih merasa segan untuk memanggil kekasih adiknya itu dengan sebutan nama saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adrian sudah duduk di atas sofa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tapi, tatapan matanya, menunjukkan kalau dirinya masih tetap menunggu penjelasan dari Reyna dan Roni.
Roni yang mengerti makna tatapan dari pemuda di depannya itu, menghela napas dengan cukup panjang dan kemudian dia mulai
menceritakan semua apa yang terjadi, mulai dari alasan Reyna menolaknya dan berpura-pura memiliki seorang kekasih, tentang Ardan yang sudah mengetahui segalanya dan menyuruh mereka menyusul Adrian ke London, sampai tentang Reyna dan dirinya yang akan melanjutkan kuliah juga di London sama seperti Adrian. Roni bercerita dengan detail, tanpa menambah dan mengurangi sedikitpun.
"Maaf, Tuan karena laranganku, Reyna jadi mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan buat anda." ucap Roni setelah selesai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Adria tidak langsung menjawab. Dia sibuk mencerna semua cerita Roni.
"Jadi di sini aku adalah korban permainan papa mama dan kak Aby? mereka sengaja tidak memberitahukanku yang sebenarnya, supaya aku tetap jadi kuliah di sini?" ucap Adrian, sambil mengusap wajahnya dengan kasar, merasa kesal karena sudah dibodohi.
__ADS_1
"Jadi, ternyata papa sudah tahu apa yang terjadi padaku, tapi pura-pura tidak tahu? jadi sia-sia dong rasa sedihku selama 4 hari ini? kok papa tega sih? arghhh!" Adrian menggerutu sambil menggusak rambutnya dengan kasar.
Roni mengulum senyumnya melihat ekspresi kesal yang diperlihatkan oleh Adrian.
Adrian meraih ponselnya hendak menelpon sang papa dan melayangkan protes. Tapi dia mengurungkannya kembali karena melihat jam yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam, yang berarti di Jakarta, masih pukul 4, pagi. Bisa dipastikan kalau kedua orangtuanya pasti masih enak-enaknya tidur.
"Sudah malam, Tuan. Aku dan Reyna mau pamit kembali ke apartemen kami." celetuk Roni, menyadarkan Adrian dari rasa kesalnya.
"Pulang? kenapa kalian tidak tinggal di sini aja kak samaku?" tanya Adrian, merasa tidak rela berpisah dengan Reyna, walaupun hanya sementara.
"Maaf, Tuan. Itu sama sekali tidak baik." sahut Roni.
"Kalau begitu, bolehkah kak Roni pulang duluan? Nanti aku akan mengantarkan Reyna ke apartemen kalian."
"Maaf, dengan sangat terpaksa aku mau mengatakan tidak boleh. Kalau mau bertemu besok saja, tapi Tuan yang ke apartemen kami. Aku tidak mau, kalian berdua khilaf." Reyna mengerucutkan bibirnya, mendengar ucapan sang kakak.
"Ahh, Kak Roni terlalu berpikir jauh. Tenang saja, aku gak akan seperti itu, Kak."Adrian berusaha menyakinkan Roni.
"Maaf Tuan, tetap saja tidak boleh!" ucap Roni dengan tegas
Roni terdiam, karena memang dirinya tidak bisa menjawab apa-apa. Karena dulu waktu masih SMA dia pernah menyukai satu gadis teman sekelasnya, dan memang ingin terus bisa melihat gadis itu.
"Ahh, aku tidak bisa terpengaruh. Bagaimanapun kalau sudah berduaan sangat mustahil kalau tidak terjadi apa-apa." bisik Roni pada dirinya sendiri.
"Maaf, Tuan! tetap tidak bisa. Ayo Reyna, kita pulang!" pungkas Roni sambil berdiri mengajak adiknya itu pulang.
"Kenapa masih di situ? Ayo pulang!" Roni menatap Reyna dengan tajam, karena melihat adiknya itu masih belum beranjak dari tempat duduknya.
Dengan bibir yang mengerucut, Reyna berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah Adrian yang juga tengah menatapnya.
"Aku pulang dulu ya, Ian. Besok pagi aku akan ke sini, untuk masak sarapan."
"Tidak boleh!" sambar Roni dengan cepat, hingga membuat pandangan dua sejoli itu, sama menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa, Kak?" protes Reyna.
"Karena setan tidak kenal waktu. Godaan bisa datang kapan saja. Pokoknya selama kalian berduaan saja di dalam satu tempat, setan akan beraksi. Kalau mau masak sarapan Tuan Adrian, kamu sekalian saja masak di apartemen kita, dan biarkan Tuan Adrian datang ke tempat kita untuk sarapan." pungkas Roni, tegas tak terbantahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi kembali datang menyapa bumi London. Adrian terlihat mengerjap-erjapkan matanya. Kemudian dia bangkit duduk seraya menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk merenggangkan otot-otot yang kaku.
Dia melihat ke arah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 6 lewat 20 menit. Adrian langsung melangkah ke arah kamar mandi untuk mandi.
Selepas dari kamar mandi, Adrian langsung berpakaian lengkap dan bersiap hendak ke unit apartemen sebelah di mana ada wanita pujaannya. Akan tetapi sebelum dia pergi, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan melihat kalau papanya sedang memanggil.
"Hmm, kebetulan papa nelpon, aku harus protes nih." batin Adrian sambil menyentuh tombol jawab.
"Halo, Pah! aku baik-baik saja di sini!" ucap Adrian, memberitahukan kabarnya sebelum ditanya.
"Sekarang aku mau pro ...."
"Udah, gak usah protes! kalau papa memberitahukan kamu dari awal, kamu pasti tidak akan mau kuliah di London." Ardan langsung menyela ucapan Adrian karena dia tahu apa yang akan diucapkan oleh putra bungsunya itu.
"Tapi, kalian benar-benar tega membiarkanku bersedih selama 4 hari, pah."
"Kamu sedihkan gak sampai mati? kalau tadinya kamu mau bunuh diri karena sedih, pasti juga papa kasih tahu." terdengar suara Ardan papanya yang terkesan sangat santai dan tidak merasa bersalah.
"Arghh, terserah papa deh."
"Adrian, tujuan papa meneleponmu bukan untuk membicarakan hal itu. Papa mau kamu di sana jangan sampai bermalas-malasan. Dan satu lagi, jangan sampai kamu melakukan hal yang tidak boleh dilakukan pada Reyna sebelum kalian berdua sah. Sebagai seorang laki-laki kamu justru harus menjaga kehormatan orang yang kamu cinta. Jangan biarkan na*fsu menguasaimu. Kalau papa mengetahui sekali saja kamu melakukan hal itu dengannya, papa akan mencabut semua fasilitas yang papa berikan padamu.Tapi sebaliknya, kalau kamu berhasil menyelesaikan studimu di sana dengan baik, papa akan menikahkanmu dengannya begitu kamu lulus. Jadi, sekarang pilihan ada di tanganmu, kalau mau menikah dengan Reyna, berarti kamu harus turuti syarat yang papa berikan." ucap Ardan dengan tegas.
Adrian meneguk ludahnya dengan sedikit kesusahan. Dia tahu kalau Ardan papanya tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Tbc
Maaf ya, aku bukannya pelit up. Tapi memang sistem lagi error. Aku sampai Chat adminnya.
__ADS_1