
"Bagaimana apa kamu berhasil menjebak Aby?" tanya Ningsih mamanya Shasa dengan antusias.
"Berhasil sih, Mi, tapi Abynya tidak percaya. Dia bilang kalau aku hanya berpura-pura saja," sahut Shasa dengan lemas.
"Anak bodoh! kamu ada ambil photonya kan?"
Shasa menganggukkan kepalanya,mengiyakan.
"Ya udah, tunggu apa lagi? kita bisa langsung ke rumah Aby, dan menunjukkan semua bukti itu, dan meminta pertanggung jawaban Aby. Mama yakin kalau mereka pasti akan memaksa Aby untuk menikahimu, karena kalau tidak, mereka bisa kehilangan muka di depan umum." Ningsih begitu sangat bersemangat menghasut Shasa.
"Hmm, mami benar juga. Apa kita ke sana sekarang juga, Mi?"
"Iyalah, lebih cepat lebih baik. Mami yakin kalau kamu berhasil menikah dengan Aby, kita akan disegani banyak orang. Ayo, sekarang kamu siap-siap. Dandan yang cantik!"ujar Ningsih dengan semangatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kami ke sini mau bertemu dengan tuanmu. Jadi izinkan kami masuk!" seru Ningsih dengan kesal karena security itu mengajukan banyak pertanyaan dan tidak mau membukakan pintu.
"Tunggu sebentar, Ibu aku coba tanya dulu sama Ibu Amanda." Sang satpam itu terlihat mengangkat telepon dan menghubungkannya ke rumah utama.
Sekitar 3 menitan, sang security menyudahi panggilannya dan menemui dua orang wanita yang ada di luar pagar.
"Kalian boleh masuk! Ibu Amanda dan Pak Ardan menunggu kalian di dalam," ujar satpam itu sambil membuka pintu pagarnya.
"Gitu dong. Asal kamu tahu, anak saya ini, calon istri dari tuanmu Aby. Jadi kamu jangan macam-macam!" ujar Ningsih dengan sombongnya sambil menarik tangan Shasa untuk masuk ke dalam rumah.
Shasa menatap kagum mansion mewah, milik keluarga Bagaskara. Pikirannya sudah melanglang buana, membayangkan kehidupan yang lebih mewah dari hidupnya yang memang sudah mewah sebelumnya jika dia menikah dengan Aby.
"Silahkan duduk, Bu Ningsih, ada urusan apa datang kemari?" tanya Amanda dengan sopan.
"Aku datang ke sini mau meminta Aby anakmu utuk bertanggung jawab menikahi putriku. Dia sudah menghancurkan masa depan Shasa." ucap Ningsih dengan berapi-api.
"Anda jangan coba memfitnah putra saya, Ibu Ningsih yang terhormat. Kamu kira kami akan percaya begitu saja?" Jangan harap!" bukan Amanda yang menjawab tapi Ardanlah yang buka mulut. Dan seperti biasa, auranya dingin dan mencekam.
"Aku tidak bercanda, kalian berdua bisa lihat ini, sebagai bukti." Ningsih memberikan beberapa lembar photo yang menunjukkan Aby dan Shasa sedang berpelukan dengan tubuh yang ditutupi oleh selimut saja.
__ADS_1
Kedua netra Amanda sontak membesar dengan sempurna dan dengan mulut yang sedikit terbuka melihat lembaran demi lembaran photo itu.
"Ini tidak mungkin! ini pasti hanya rekayasa kalian berdua." ucap Amanda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Itu asli, bukan rekayasa. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh tanya pakar telematika, untuk membuktikan photo-photo itu asli atau bukan," tantang Ningsih dengan sangat yakin.
"Kami tidak akan lari dari tanggung jawab bila itu memang benar terjadi. Photo-photo ini boleh saja asli, tapi aku yakin kalau ada rencana licik di balik ini. Karena aku sangat mengenal putraku yang tidak mungkin tertarik pada putrimu ini." sindir Ardan sarkasme.
"Apa maksudmu? Apa kamu mau bilang kalau putriku ini tidak cantik?" ucap Ningsih tidak senang.
"Hmmm, kalau wajah sih, boleh dikatakan cantik karena semua wanita itu memang cantik, kalau aku bilang jelek, berarti aku sudah menghina ciptaan Tuhan, yang berarti aku juga sudah menghina-Nya. Tapi, sikap buruk, penuh drama putrimu lah yang membuat dia jelek." ucap Ardan tegas, dan eksplisit.
"Terserah kamu mau mengatakan apa pun tentang putriku, tapi yang jelas aku tetap ingin meminta pertanggung jawaban putramu.
"Pertanggung jawaban apa yang anda maksud, Tante?" Tiba-tiba Aby muncul dari atas.
Melihat kedatangan Aby, Ningsih langsung berdiri dan menghunuskan tatapan ke arah Aby.
"Kamu harus menikahi Shasa, secepatnya. Kami sudah merusaknya, berarti kamu harus bertanggung jawab." Intonasi suara Ningsih menggelegar dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah Aby.
"Si-siapa bilang dia tidak sedih, dia hanya sudah capek menangis di rumah tadi. Jangan banyak alasan lagi, pokoknya kamu harus bertanggung jawab. Kalau tidak, aku akan menyebarkan photo-photo ini di internet!" ancam Ningsih, sebagai senjata terakhir.
"Aby, kamu harus bertanggung jawab, Nak. Mama ingin kamu menikahinya." ucap Amanda tiba-tiba dengan raut wajah yang frustasi.
Ardan dan Aby sontak menatap ke arah Amanda, kaget dengan keputusan Amanda.
"Sayang! apa-apa an kamu? kamu tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Omongan dua wanita ular ini tidak boleh langsung kamu percaya begitu saja." Ucap Ardan dengan suara tinggi dan menatap tajam ke arah Amanda.
"Mama, apa mama tidak percaya pada Aby? aku tidak mungkin melakukan itu, Ma!" seru Aby tidak terima.
"Bagaimana mama mau percaya sama kamu? kamu saja sudah membohongi mama dengan mengatakan kalau kamu menginap di rumah Kenjo, tapi lihat! kamu ternyata ada di hotel bersama Shasa." pekik Amanda, marah.
"Ok, kalau untuk itu, Aby minta maaf! Tapi, aku benar-benar tidak melakukan perbuatan kotor itu, Ma." Lagi-lagi Aby, melakukan pembelaan diri.
"Itu benar, Ma! tidak mungkin Kak Aby melakukannya. Shasa ini dari dulu mengejar-ngejar Kakak, tapi kakak tidak pernah memberikan respon. Aku rasa nih perempuan, menjebak kakak supaya kak Aby mau menikahinya." Celetuk Anin yang muncul tiba-tiba sambil menghunuskan tatapan tidak sukanya pada Shasa.
__ADS_1
"Sialan! ngapain sih si cerewet ini ikut campur segala. Tunggu kalau aku sudah jadi kakak iparmu, aku akan memberikanmu pelajaran nanti." umpat Shasa dalam hati.
"Terlepas dari kata dijebak, tapi buktinya sudah ada. Jadi Aby kamu tidak boleh lari dari tanggung jawab. Bagaimana kalau dia benaran hamil anakmu nanti? mama tidak mau, ada wanita yang bernasib sama dengan mama." ucap Amanda dengan lirih dan wajah sendu, mengingat kisah masa lalunya.
"Mama! aku tetap tidak mau, karena aku tidak mau bertanggung jawab atas apa yang tidak aku lakukan sama sekali." Tolak Aby mentah-mentah.
"Aby! apa kamu tega ada wanita yang mengalami kisah seperti mam dulu? jadi please, turuti kemauan mama." pinta Amanda memelas.
"Sayang, aku tidak setuju!" seru Ardan, tegas.
Senyum di bibir kedua wanita licik itu, yang tadinya merekah mendadak surut mendengar suar Ardan.
"Apa-apa an ini? kalian jangan mempermainkan kasus ini ya! jangan kira karena kalian orang yang berkuasa, kalian bisa seenaknya dan aku tidak berani menyebarkan ini ke media sosial," lagi-lagi Ningsih memekik dengan suara tinggi.
"Baiklah! aku akan menikah dengan putrimu!" ucap Aby dengan tegas, membuat senyum di bibir kedua wanita itu kembali merekah.
"Aby! jangan gegabah!" bentak Ardan.
"Tunggu, Pah! aku belum selesai bicara," ucap Aby.
"Dengar, aku akan menikahimu, tapi dengan syarat, kalau kamu hamil benar-benar hamil anakku. Tapi kalau tidak, jangan harap aku kan menikahimu! Sekarang kalian boleh pergi!" usir Aby dengan intonasi suara yang datar, tapi penuh intimidasi.
Raut wajah kedua wanita itu seketika berubah pias, dengan peluh yang tiba-tiba menetes di pelipis mereka.
Kedua wanita itu nyaris beranjak pergi, dan seketika terhenti, begitu mendengar suara Aby kembali, yang menatap mereka dengan aura membunuh.
"Ingat! aku akan menyelidiki ini semua. Sekali saja aku menemukan bukti kalau aku tidak pernah melakukannya, kalian akan rasakan akibatnya. Dan asal kalian tahu, kalau kalian melakukan ini dengan cara licik ,aku akan menyelesaikannya dengan cara cerdik. Kalian berdua pasti tahu kan apa akibatnya jika berani mengusikku." Pungkas Aby mengakhiri ucapannya, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan kedua wanita yang semakin terlihat pucat itu.
Tbc
Cha Eun wo as Abyasa
__ADS_1