Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku mau menikah


__ADS_3

Dua tahun sudah berlalu, Adrian akhirnya pulang ke Indonesia, karena sudah berhasil meraih S2-nya dengan nilai cumlaude. Dia disambut dengan gembira, seperti Aby dulu, di mana orang tua nya mengadakan acara makan malam di mansion keluarganya.


Adrian bukan hanya disambut dengan kemeriahan perjamuan makan malam. Dirinya juga disambut dengan keriuhan yang ditimbulkan oleh banyaknya balita di rumahnya, yang membuat kepalanya hampir meledak. Setahun lalu dia memang pernah pulang, tapi karena masih belum begini berisiknya.


Anak kakaknya Aby, sudah berumur 3 setengah tahun menuju 4. Anak kakaknya Anin, sudah 2 tahun, ditambah dengan kedatangan 3 anaknya, Calvin yang sudah dua tahun juga. Rumahnya sekarang sudah seperti penampungan anak-anak.


"Adrian kenapa dengan wajahmu? kenapa terlihat stress?" tanya Celyn dengan tatapan menyelidik.


"Kepalaku sakit, Kak. Bocah-bocah ini semua berisik. Tuh, lihat si Calista, nangis terus dibikin Aarick. Belum lagi yang di sana." keluh Adrian dengan raut wajah frustasi.


Celyn terkekeh melihat raut wajah Adrian. Gak bisa dipungkiri sih, suara bocah-bocah itu memang sangat berisik.


"Sabar, Rian. Belum lagi, kalau ini dan anak kakakmu Anin, sudah lahir," Celyn menunjuk perutnya yang membesar.


Ya, sekarang Celyn dan Anin sedang mengandung anak ketiganya, dan usia kandungan Celyn sudah 7 bulan sedangkan Anin masih 2 bulan.


"Itu gak kembar lagi kan, Kak?" tanya Adrian.


"Hasil USG sih nggak, tapi kita tidak bisa memprediksinya, seperti Anin." jawab celyn.


"Mudah-mudahan tidak kembar." Ucap Adrian.


"Huaaaa!" suara tangisan Calista melengking, hingga membuat gendang telinga yang mendengar hampir pecah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aarick, putra sulung Aby. Tangisan itu berangsur-angsur mereda ketika Arend datang membujuk si Calista. Begitulah selalu, Aarick yang membuat menangis, Arend yang akan membuat Calista diam.


"Aarick kenapa sih suka buat Calistanya menangis?" tanya Calvin dengan lembut pada bocah yang diharapkannya bisa jadi menantunya kelak.


"suka aja, Om liat Calista nangis." jawab bocah itu dengan ekspresi wajah datar, seperti tidak merasa bersalah.


"Yang penting jangan sampai dewasa nanti kamu buat putriku itu menangis." gumam Calvin yang ditanggapi dengan kekehan dari Aby.

__ADS_1


"Masih mau, jodohin mereka? masih kecil aja udah berantem begitu," ujar Aby.


"Kenapa tidak? apa kamu tidak sadar, kalau dulu sikap kamu ke Celyn juga hampir sama? buktinya sekarang kamu jadi bucin sama dia,"


Aby bergeming tidak bisa membalas ucapan yang mengandung ledekan dari Calvin, yang sialnya tidak bisa disangkal, karena itu memang sangat benar.


"Nanti kalau sudah besar, sepertinya putriku akan jadi rebutan, Aarick sama Arend nih. Atau jangan-jangan si Kama anak kamu juga, Ken."


Aby dan Kenjo berdecih, melihat Calvin yang menurut mereka terlalu percaya diri.


"Belum tentu. Bisa jadi, gak ada yang suka sama sekali, hahahahaha!" celetuk Kenjo, membuat Calvin mendengus kesal.


"Kita lihat saja nanti!" ujar Calvin, kesal.


"Yang jelas, kalaupun nanti mereka tidak berjodoh, jangan sampai itu membuat persahabatan kita jadi hancur. Kita harus menghargai keputusan anak-anak kita, dan menerima siapapun yang menjadi jodoh mereka nantinya," ucap Aby, bijaksana dan diplomatis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardan tidak langsung menjawab, dia menarik napas terlebih dulu, baru membuangnya kembali ke udara.


"Papah, tentu tidak lupa akan janji papah. Tapi papa tidak mau egois, memaksakan kehendak, meminta Reyna untuk menikahimu, sementara pendidikannya belum selesai. Apa kamu tidak merasa kalau kami sedikit egois bila meminta dia menikah denganmu secepatnya?"


Adrian tercenung, mendengar ucapan papanya yang dia pikir sangat benar.


"Tapi, Pah, dia kan tetap bisa melanjutkan pendidikannya, walaupun kami sudah menikah?"


"Kalau dia kuliah di negara ini, bisa jadi. Tapi , dia kuliah di luar negri. Apa kamu berpisah setelah menikah dengannya?" ucap Ardan Ambigu.


"Maksud, Papah? kenapa kami harus berpisah setelah menikah?" Kening Adrian berkerut, bingung.

__ADS_1


"Setelah memiliki seorang istri, bukannya seharusnya kamu harus bekerja? Apa kamu tidak malu, memberikan nafkah buat istrmu menggunakan uang papah?"


"Tapi Pah, bukannya uang Papah, uangku juga?" tanya Adrian.


"Dari pertanyaanmu, menunjukkan kalau kamu belum cukup dewasa Adrian. Papa sama mama memang bertanggung jawab atas hidup dan pendidikanmu. Tapi, ketika kamu sudah menikah, kamu harus bertanggung-jawab pada dirimu sendiri, dengan mulai menata masa depanmu. Kami sebagai orang tua, hanya bisa membantu saja. Apalagi, kalau kamu sudah menikah, kamu pun otomatis harus menanggungjawabi, istri dan anak-anakmu sendiri, dengan hasil kerja kerasmu." Ardan berhenti sejenak, untuk mengambil jeda, dan Adrian tetap tidak bergeming menunggu papanya melanjutkan penjelasannya.


"Uang dan harta papah memang cukup untuk menghidupi kalian berdua. Tapi jika papa melakukan hal itu, sama saja secara tidak langsung, papa menjadikan kamu sebagai laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab. Kamu cukup bersyukur, tidak seperti kebanyakan orang yang harus susah-susah mencari pekerjaan. Kamu sekarang sudah bisa mempraktekkan ilmu yang kamu dapat dengan membantu kakakmu, mengurus perusahaan." sambung Ardan kembali, menjelaskan.


"Kamu masih cukup muda, Nak. Aku harap kamu jangan memaksakan kehendakmu pada Reyna. Biarkan dulu dia menyelesaikan, kuliahnya. Dua tahun bukan waktu yang lama kok" Amanda ikut menimpali ucapan Ardan suaminya.


"Kecuali, kamu menikah dengan Reyna, dan kamu bekerja di London selama dua tahun, untuk menafkahi istrimu, selama Reyna kuliah. Atau kamu menikah dengannya, tapi kamu tetap bekerja di Indonesia dan dia kembali ke London. Bagaimana?" Ardan memberikan usul.


Adrian mangut-mangut, mencerna penjelasan panjang lebar dari papanya.


"Aku paham sekarang, Pah. Sebagai laki-laki yang beristri, kita jangan ketergantungan pada orang tua lagi. Kita harus bertanggung jawab pada wanita yang kita nikahi," Adrian diam untuk sepersekian detik. Detik berikutnya dia menghela napasnya dengan sekali hentakan,


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menikah saja dulu dengan Reyna dan kami berpisah setelahnya. Aku membantu kak Aby di perusahaan dan Reyna tetap kembali berkuliah ke London." pungkas Adrian, memutuskan.


"Astaga, ujung-ujungnya tetap ingin menikah ya," ucap Ardan, seraya mengembuskan napasnya.


"Iya dong, aku mau kami sudah terikat di dalam pernikahan, walaupun kami harus Long distance relationship (LDR) akhirnya. Aku takut nanti Reyna digondol pria lain di sana."


"Itu berarti kamu tidak percaya padanya. Dalam sebuah hubungan itu, kalian harus saling percaya, walaupun jarak memisahkan. Seandainya kalian sudah menikah pun, perselingkuhan bisa saja tetap terjadi. Intinya sekarang harus saling percaya." Aby menimpali ucapan Adrian.


"Ah, Pokoknya aku mau tetap menikah. Aku akan merasa lebih tenang bekerja, kalau Reyna sudah jadi istriku, titik tidak pakai koma."


"Ya udah, terserah kamu! sekarang intinya, Reyna mau gak menikah denganmu, dalam waktu dekat ini?"


Adrian langsung tergugu, karena sejujurnya dia belum membicarakan masalah ini pada sang pujaan hati.

__ADS_1


Tbc


Satu Bab lagi novel ini akan Tamat. Please tetap dukung dengan memberikan like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh , 😁🙏🏻😍


__ADS_2