
Hari ini, mansion keluarga Bagaskara terlihat sangat ramai, didatangi oleh banyak tamu, dari berbagai kalangan. Karena hari ini, keluarga terkaya nomor satu itu, mengadakan syukuran atas kelahiran dan keselamatan keturunan Bagaskara, yaitu baby Arick dan baby Arend.
Keluarga Bagaskara sengaja mengadakan syukuran ini, setelah Roni benar-benar sembuh, setelah lebih dari seminggu berada di rumah sakit.
Tampak di sana hadir anak-anak yatim piatu, dari 5 panti asuhan di Jakarta, karena Celyn benar-benar ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak itu. Bahkan tidak tanggung-tanggung, keluarga Bagaskara menjadi donatur tetap di panti asuhan itu.
Wajah sepasang ibu dan ayah baru itu, begitu bahagia. Itu terlihat, dari senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibir mereka. Senyum kebahagiaan yang terpancar dari bibir mereka mengandung makna yang berbeda. Celyn yang memang tulus bahagia karena kedua anaknya, sedangkan Aby selain karena kedua anaknya, senyumnya juga karena membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti. Dimana akan menjadi malam pertama buatnya dan Celyn. Ya, masa nifas istrinya itu telah berakhir, kemarin.
Tampak di antara para tamu, Calvin dan Kenjo yang sudah hadir. Anin sepertinya tidak ada niat untuk menyapa sang kekasih,Anin lebih memilih berbaur dengan putri-putri dari para kolega papanya daripada menghampiri Kenjo. Apalagi masalahnya kalau bukan, karena sampai sekarang Kenjo belum memberikannya kepastian.
"Kamu ada masalah sama, Anin?" tanya Calvin, menatap penuh tanya pada, Kenjo.
"Hmm," sahut Kenjo singkat, seperti tanpa beban, dan sepertinya tidak berniat untuk menghampiri Anin.
"Masalah apa? apa kamu tidak berniat untuk memperbaikinya?" Calvin benar-benar terlihat bingung sekarang.
"Masalah sepele. Kamu tenang saja, nanti juga baik sendiri," jawab Kenjo, masih berusaha untuk tetap santai.
"Sob, kamu jangan menganggap sepele semua masalah. Seringan apapun masalah yang kamu alami, kalau kamu menganggap sepele, itu bisa berubah menjadi masalah yang besar," ujar Calvin, memberikan nasehat.
"Iya, aku ngerti, Cal. Kamu tenang saja, aku pasti akan menyelesaikan masalahku secepatnya. Aku justru mau tanya sama kamu, bagaimana, kamu dan Cantika sekarang? apa sudah ada kemajuan?" Kenjo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kemajuan apa? emang aku pernah mengejarnya? aku cuma tidak mau disepelekan sama dia."
"Oh, begitu? berarti, dia aman dong dengan laki-laki itu," Kenjo menatap ke arah Cantika yang sedang main pukul-pukulan dengan Dion.
Calvin mengikuti arah pandangan Kenji, dan dia hanya tersenyum smirk, melihat pemandangan itu.
"Itu hanya sahabatnya, dan pria itu sudah punya pacar."
Kenjo menganggukkan kepalanya, dengan mulut membentuk huruf 'o'.
"Lihat! sepertinya si Cantika lagi dikenalin cowok tampan sama sahabatnya itu."
Calvin sontak menatap ke arah Cantika kembali. Tangannya terkepal dengan keras, begitu melihat Cantika yang sedang berjabat tangan dengan seorang pemuda yang tampan, dan pemuda itu tampak sangat tertarik pada Cantika.
Calvin meletakkan gelas minumnya dengan kasar ke atas meja, kemudian bangkit berdiri, dan beranjak meninggalkan Kenjo begitu saja.
__ADS_1
"Cih, katanya gak suka, giliran lihat sama pria lain, kebakaran jenggot juga." Kenjo berbisik pada hatinya sembari tersenyum miring.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi nama kamu Cantika? cocok banget sama orangnya, cantik." Puji pria yang baru saja berkenalan dengan Cantika, berusaha untuk merayu.
"Terima kasih! Karena mama sama papaku tahu, kalau aku cantik, makanya aku dinamai Cantika." sahut Cantika, santai, menunjukkan kalau dia sama sekali tidak tersanjung.
"Cewek,unik! kayanya dia gak tertarik sama sekali samaku. Tapi, aku jadi merasa tertantang untuk menaklukkan hatinya. Tidak ada yang bisa menolak pesonaku." batin pria itu, dengan senyum licik.
"Boleh aku minta nomor kamu? Jadi nanti kita bisa berkomunikasi lewat telepon,"
"Maaf, aku tidak bisa memberimu nomor teleponku," tolak Cantika, yang sebenarnya merasa jengah dengan sikap pria di depannya itu.
"Kenapa? padahal aku hanya mau menambah teman lho," pria itu pura-pura memasang wajah sedih dan kecewa.
"Itu karena aku yang melarangnya!" celetuk Calvin sambil menatap tajam ke arah pria itu.
"Apa hak anda melarangnya? apa anda ini, kakaknya atau bagaimana? setahuku, dia ini anak pertama dari Om Bagas." ujar pria itu, menatap tidak suka pada Calvin.
Pria itu terkesiap kaget dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa anda mau mengajak saya bercanda? ini tidak lucu. Bagaimana mungkin, Cantika mempunyai calon suami yang bila aku lihat, usia anda sangat jauh dengannya."
"Tapi, dia memang calon suamiku," celetuk Cantika tiba-tiba, yang membuat pria itu bertambah kaget.
"Are you telling me a joke? (apa kamu sedang bercanda?)"
"Kenapa kamu berulangkali menanyakan itu? dia memang calon istriku. Dan masalah usia, apa undang-undang yang melarang seorang wanita, berjodoh dengan pria yang usianya jauh di atas? kalau ada, coba jelaskan pasal berapa?" tantang Calvin mulai kesal.
"Sudah, sudah! dia memang calon suami Cantika, bro!" Dion menengahi perdebatan kedua pria berbeda usia itu.
Pria itu mendengus kesal, dan menatap marah pada Dion. "Kalau kamu tahu dia sudah punya calon suami, kenapa kamu kenalin ke aku?"
"Kan cuma kenalan. Mana aku tahu, kalau kamu ada maksud lain. Bukannya kamu bilang hanya ingin kenal saja?" Dion merasa tidak terima disalahkan oleh pria yang hanya merupakan anak dari kolega papanya.
Pria itu, mengayunkan kaki, pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi dengan perasaan dongkol. Dia merasa, kesempatannya untuk dekat dengan putri pengusaha Bagas Prasetyo Wijaya itu, gagal.
__ADS_1
"Kamu juga, kenapa masih di sini?" sindir Calvin, yang ditujukan pada Dion.
"Kenapa Kakak jadi marah sama Dion? emangnya apa masalah Dion ada di sini? harusnya kakak yang pergi, kan dari tadi kami yang di sini, dan Kakak yang datang sendiri, jadi __" suara Cantika yang memprotes menggantung di udara begitu melihat, sorot tatapan Calvin yang sangat tajam.
"Baiklah, aku pergi dari sini!" Calvin memutar badannya, hendak melangkah pergi. Akan tetapi, dia kembali memutar badannya dan meraih tangan Cantika.
"Tapi, kamu harus ikut aku!" imbuhnya kembali, sambil menarik gadis itu, meninggalkan Dion yang terpaku di tempatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, masih di lokasi yang sama, tampak seorang anak kecil, yang berasal dari salah satu panti asuhan datang menghampiri, Anin dengan setangkai bunga mawar di tangannya.
"Tante, ini ada bunga buat, Tante," Anin, menerima bunga itu, dengan hati yang penuh tanda tanya. Namun, dia tetap memberikan senyuman pada anak itu, walaupun dia bingung.
"Hmm, makasih ya, Sayang! kamu imut banget deh!" Anin mencubit pipi anak kecil itu dengan gemas.
"Itu bukan dari saya, Tante. Tapi dari Om itu,". anak kecil itu, mengangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah seorang pria.
Anin mengikuti ke arah mana jari anak itu menunjuk, dan dia sontak tersenyum kecut, begitu melihat Kenjo yang melambaikan tangannya dan tersenyum manis ke arahnya.
Dia sontak mengalihkan tatapannya tidak mau melihat ke arah Kenjo.
"Apa kamu masih marah padaku?" tiba-tiba Kenjo sudah berdiri di dekatnya, hingga membuat dirinya terjengkit kaget.
"Mau ngapain kamu datang mendekatiku? bukanya aku sudah bilang, kalau aku tidak mau berbicara lagi padamu, kalau kamu belum juga memberikan aku kepastian?" ujar Anin, sembari memalingkan wajahnya.
"Hmm, begitu ya? kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi sekarang. Maaf kalau aku sudah membuat hari-harimu terbuang percuma," Kenjo memutar badannya, dan mengayunkan langkahnya, meninggalkan Anin yang terpaku sambil meneteskan air mata. Dia memandang punggung Kenjo, sampai menghilang dari pandangannya.
Seketika, Anin sedikit berlari untuk mengejar Kenjo sebelum pria itu benar-benar pergi.
"Kenapa mereka, Kak?" tanya Cantika yang kebetulan melihat peristiwa yang terjadi di antara Kenjo dan Anin.
"Oh, mereka lagi latihan drama," sahut Calvin, santai.
Tbc
Kencengin, like, vote dan komennya dong, Gais. Thank you🙏
__ADS_1