Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Tindakan Bagas.


__ADS_3

Calvin melerai pelukannya karena ponselnya berbunyi, pertanda kalau ada yang sedang memanggilnya. Dia menreyitkan alisnya, begitu melihat panggilan yang berasal dari papanya.


"Ya, pa." ucap Calvin begitu menekan tombol jawab.


"Calvin, kamu di mana sekarang? ada polisi yang datang ke rumah untuk mencarimu. Kamu dituduh melakukan penganiayaan pada pemuda bernama Max, dan perusakan benda di kediaman Sumitro," ujar papanya Calvin dari ujung telepon.


"Baik, Pah! Tunggu di sana, aku akan pulang sekarang," Calvin memutuskan panggilan setelah terdengar suara papanya, mengiyakan.


"Aku pulang dulu ya, Cantik. Soalnya ada hal penting yang harus aku selesaikan di rumah," ucap Calvin, lembut sambil mengecup puncak kepala wanita yang sekarang resmi menjadi kekasihnya itu.


"Apa ada masalah di rumah, Kak?" tanya Cantika, dengan kening yang terangkat ke atas, curiga.


"Tidak ada,kok. Hanya masalah kecil, kamu tenang saja ya! aku pergi dulu, sampaikan salamku buat om Bagas dan tante Clara.". Calvin berlalu pergi setelah Cantika menganggukkan kepalanya mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Calvin tiba di rumahnya dan langsung dihampiri oleh tiga orang polisi dan dua pasang pria dan wanita yang sudah berusia setengah baya. Calvin yakin kalau mereka adalah orangtua dari Max dan orang tua Viona.


"Ini dia,Pak yang menganiaya putraku, sampai babak belur, bawa saja dia, Pak dan hukum seberat-beratnya, " seorang wanita yang Calvin yakini adalah mamanya Max itu, mencerocos dengan wajah garangnya.


"Apa anda tahu kenapa aku melakukan hal itu pada putra anda? tidak ada asap kalau tidak ada api. Seharusnya aku yang melaporkan putra anda itu." tanya Calvin, menyeringai sinis.


Kedua pasangan suami istri terdiam, tidak bisa menjawab. Karena sebelum bertindak, mereka tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada anak masing-masing. Mereka sudah terbawa emosi, begitu melihat keadaan Max yang babak belur dan keadaan kamar Viona yang berantakan.


"Ok, kami akui, kalau kami tadi tidak sempat bertanya. Tapi, sesalah-salahnya anakku, kamu tidak pantas untuk memukulinya seperti itu. ucap mamanya Max, melakukan pembelaan diri.


"Bawa saja dia, Pak polisi!" kali ini mamanya Viona yang buka suara.

__ADS_1


"Mau dibawa kemana dia? kalau kalian berani membawa calon menantu saya ke kantor polisi, justru putra dan putri anda yang akan saya jebloskan ke dalam penjara." tiba-tiba Bagas muncul hingga membuat kedua pasangan suami istri itu, terkesiap kaget.


"Om Bagas? kenapa bisa ke sini?" tanya Calvin dengan kening yang berkerut.


"Aku tahu dari Cantika. Karena dia mendengar percakapanmu dengan papamu." terang Bagas.


"P-Pak, Bagas? kenapa anda bisa ke sini, Pak?" papanya Max datang menghampiri Bagas dengan sedikit membungkukkan badannya. Ya, orangtua Max adalah salah satu karyawan yang memiliki jabatan tinggi di perusahaannya Bagas.


"Maaf kalau kami ingin memenjarakan calon menantu anda.Tapi, dia sudah menganiaya putra saya dan melakukan perusakan di rumah dia," sambung pria yang merupakan papanya Max dengan sopan.


"Bukannya tadi aku sudah bilang, kalau kalian berani membawa calon menantu saya ke kantor polisi, aku akan menjebloskan putra dan putri kalian ke dalam penjara? harusnya kalian berpikir kesalahan apa yang sudah anak-anak kalian perbuat, sehingga aku ingin menjebloskan mereka berdua. Tapi, sepertinya otak kalian tidak sampai ke arah sana. Yang kalian pikirkan hanya hal tidak menyenangkan yang telah kalian dapat, tanpa memikirkan kenapa itu bisa terjadi." ujar Bagas dengan datar dan dingin.


"Apa kalian sudah bertanya pada putra dan putri kalian apa yang sebenarnya terjadi? aku bisa pastikan, tidak! Tanpa kalian sadari kalian sendirilah yang merusak mental anak-anak kalian. Kalian selalu membela mereka, tanpa peduli, yang salah anak kalian atau orang lain. Yang ada anak- anak kalian akan menjadi pribadi yang egois nantinya." imbuh Bagas kembali, hingga membuat ke empat orang itu terdiam.


"Ta-tapi, Pak Bagas, putra saya babak belur. Sebagai orangtua pasti tidak terima kalau mendapati keadaan anaknya seperti itu,"


"Justru apa yang dilakukan sama calon menantu saya itu masih kurang. Aku justru ingin menambahinya, sampai tangan anak kamu itu patah. Dan terongnya yang hendak menghancurkan masa depan putriku, aku potong-potong dan jadikan terong balado."


"Ma-maksudnya Pak Bagas?" tanya papanya Max, dengan suara yang bergetar.


"Apa kamu masih belum bisa menarik kesimpulan, hah?! putramu yang bajingan itu, hampir menodai putriku dan yang menjebaknya adalah putri temanmu ini," suara Bagas mulai meninggi, dengan tangan yang menunjuk ke arah orangtua Viona.


Wajah ke empat orang itu langsung berubah pucat, seperti tidak pernah dialiri darah sama sekali, mendengar apa yang yang sebenarnya terjadi. Mereka bahkan sampai seperti patung tidak berkutik.


Sebuah mobil tiba-tiba masuk ke pekarangan rumah Calvin dan tiga orang laki-laki keluar dari dalam mobil itu. Mereka adalah Aby, Kenjo dan Dion.


Ya,tadi sewaktu di perjalan pulang menuju rumahnya, Calvin yang mendapat pesan dari Dion, yang menginformasikan kalau dirinya, di kantor polisi. Dia langsung menghubungi Aby untuk meminta bantuan agar membebaskan Dion dari kantor polisi.

__ADS_1


"Pak, Bagas. Kalau begitu kami meminta maaf atas nama anakku. Nanti aku akan memberikan pelajaran buatnya di rumah." papahnya Max kembali buka suara dengan lirih, memohon.


"Apa anda kira semudah itu? bagaimana dengan trauma yang putriku dapatkan? hah?!" ucap Bagas sengaja melebih-lebihkan.


"Lagian aku juga tidak yakin kalau anda nanti akan memberikan pelajaran buat anak anda," imbuhnya kembali dengan nada yang menyindir.


"Ka-kami minta maaf, Pak. Kalau anda tidak percaya, saya nanti akan membuat video yang dia kami kasih pelajaran." kembali orang tua Calvin memohon.


"Aku tidak mau itu. Yang aku mau, kamu berhenti bekerja di perusahaanku, dan putramu itu harus pindah sekolah," tegas Bagas.


"Pak Bagas, please jangan pecat saya! masa hanya gara-gara masalah anak-anak, anda menyangkut-pautkannya dengan pekerjaan? ini tidak adil ,pak."


Bagas, terkekeh dengan sudut bibir yang menyeringai sinis ke arah pria yang tidak lain adalah papanya Max.


"Bukan hanya karena masalah ini, tapi juga karena uang perusahaan yang sudah kamu korupsi selama ini."


Bagai petir di siang bolong, papahnya Max, terkaget dengan mulut yang terbuka dan pikiran yang langsung nge- blank


"Jangan menyangkalnya!" potong Bagas tiba-tiba, ketika papanya Max hendak ingin buka suara.


"Aku sudah tahu, beberapa bulan ini, anda suka menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi," sambung Bagas kembali, hingga membuat wajah orangtua Max semakin pucat.


"Ampuni saya Tuan! aku akan mengembalikan semua yang aku ambil dengan cara memotong gajiku." mohon pria itu sambil berlutut di depan Bagas.


"Maaf, aku tidak bisa mentolerir apa yang sudah kamu dan anak kamu perbuat. Sekarang sebaiknya kamu pergi dan sini. Mulai besok semua aset milikmu, akan ditarik dan dikembalikan ke pada perusahaan. Aku juga mau, hari Senin mendatang, putramu tidak ada di sekolah lagi." tegas Bagas hingga membuat papanya Max tersungkur jatuh sambil memegang dadanya.


Bagas juga melakukan hal yang sama pada orangtua Viona. Bahkan Bagas menarik semua investasi di perusahaan kecil milik orang tua Viona.

__ADS_1


Sebenarnya Bagas ingin menjebloskan ke dua remaja itu ke dalam penjara. Akan tetapi mengingat mereka masih remaja, Bagas yang masih memiliki hati, tidak melakukannya. Akan tetapi, Bagas berencana akan menyebarkan perbuatan Max dan Viona ke semua sekolah di Jakarta. Jadi, secara tidak langsung tidak akan ada sekolah yang akan menerima Max dan Viona.


Tbc


__ADS_2