
"Kenapa kamu tidak mau? apa itu karena Kenjo?" tanya Aby dengan ekor mata yang naik, menyelidik.
Celyn menggeleng sembari menundukkan kepalanya, tidak berani beradu pandang dengan pria yang selama ini sudah mengisi ruang hatinya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Kak Kenjo, tapi __"
"Jadi?" Aby memotong ucapan Celyn, karena tidak sabar mendengar Celyn menyelesaikan ucapannya, yang menurut Aby sangat lambat.
"Tapi, karena aku tahu, kalau keinginan kakak untuk menikahiku, bukan dari hati kakak. Kakak hanya merasa kasihan padaku, dan aku tidak mau menikah karena rasa kasihan." suara Celyn terdengar lirih.
Aby menghela napasnya, merasa bingung dengan jalan pemikiran Celyn.
"Apa kamu, merasa aku seperti itu? baiklah kalau itu menurutmu. Tapi, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan janin yang ada di dalam rahimmu jika nanti mereka terlahir tanpa papa? sakit Celyn! Aku sudah merasakan bagaimana rasanya." ucap Aby dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku dan mata yang menerawang mengingat masa lalu.
Celyn memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Aby.
"Kak, aku tahu dan yakin pasti rasanya sakit. Karena aku juga pernah hidup tanpa papa, walaupun cerita kita berbeda. Tapi, aku hanya tidak ingin kakak hidup bersama dengan orang yang kakak benci. Kakak kan selama ini tidak pernah suka denganku? Aku tidak mau nanti kakak, merasa tidak nyaman denganku."
"Darimana kamu dapat pemikiran seperti itu? __ Ah, sudahlah! terserah kamu mau berpikir seperti apa, tapi intinya sekarang, aku sudah mau menikahimu. Tolong kamu jangan berpikiran terlalu jauh, dan memikirkan bagaimana perasaanku. Jika aku sendiri yang sudah menginginkannya, berarti tidak ada kata tidak nyaman lagi. Sekarang lebih baik kamu, fokus memikirkan janin itu." tegas Aby, mantap.
Celyn tercenung, bergeming tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi dari sorot mata Celyn, Aby tahu kalau gadis itu masih bimbang untuk memutuskan.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja? apa kamu masih ragu? atau kamu berat menerima karena memikirkan perasaan Kenjo? apa kamu dan Kenjo punya hubungan? Kalau iya, aku akan menjelaskan baik-baik dan kalau perlu aku akan meminta dia untuk menikahimu," cecar Aby yang merasa geram dengan diamnya Celyn. Aby berpikir kalau diamnya Celyn karena sedang memikirkan perasaan Kenjo.
"Kenapa kakak membawa-bawa nama Kak Kenjo? aku dan Kak Kenjo sama sekali tidak punya hubungan. Aku hanya__"
"Tapi Kenjo menyukaimu," Aby menyela ucapan Celyn dengan nada suara yang datar.
"Darimana kakak mendapat pemikiran seperti itu? Kenjo itu suka sama ...," Celyn berhenti berbicara tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa berhenti? Kenjo suka siapa? aku bisa tahu, dia menyukaimu dan demikian juga denganmu."tukas Aby, to the point.
Celyn membesarkan bola matanya, tidak menyangka, kalau Aby bisa berpikir seperti itu.
" Kak, Kenjo memang menyukai seorang wanita dan itu bukan aku. Kedekatan kami selama ini tidak lebih dari perasaan kakak beradik, tidak lebih," tegas Celyn.
"Hmm, jadi kalau begitu, kenapa kamu masih berat untuk memutuskan? Sekarang, keputusan ada di tangan kamu dan aku tidak punya hak untuk memaksa. Kalau kamu tetap tidak mau menikah denganku, itu hak kamu. Jujur, aku hanya tidak ingin ada anak yang merasakan, apa yang pernah aku rasakan."
Tiba-tiba dari sudut mata Celyn menetes butiran cairan bening sebening kristal,mendengar ucapan dari Aby, yang menurutnya sedikit menyakitkan. Aby mau menikahinya hanya karena memikirkan janin yang dikandungnya, bukan karena mencintainya. Egois memang bila Celyn menginginkan Aby menikahinya, bukan hanya karena agar janinnya tidak merasakan apa yang dirasakan Aby kecil dulu, tapi dia menginginkan Aby menikahinya karena juga mencintainya. "Tapi, sepertinya itu sangat mustahil," bisik Celyn pada dirinya sendiri.
"Kak, aku berterima kasih dengan ketulusan kakak untuk menikahiku. Tapi, ada satu yang mengganjal di hatiku? apa setelah janin ini lahir? apa Kakak akan benar-benar menganggap mereka anak kakak sendiri? bagaimana kalau kakak nantinya menemukan wanita yang kakak cintai? mungkin saja kakak akan menceraikanku, dan menikah dengan gadis yang kakak cintai itu. Tentu saja nanti, kakak akan punya anak sendiri. Apa kakak bisa menjamin, kalau istri dan anak kakak itu bisa menerima anak-anakku sebagai anakmu juga? itu pasti akan lebih menyakitkan kalau nantinya, anak-anakku ini tahu, kebenarannya kalau ternyata mereka bukan anak kandungmu. Kalau seperti itu akhirnya, lebih baik mereka, tidak merasakan punya ayah dari awal, daripada nantinya mereka akan merasakan kesedihan yang mungkin akan membuat mereka down," Celyn berucap panjang lebar tanpa jeda, mengungkapkan apa yang sebenarnya paling memberatkan hatinya untuk menerima pernikahan ini.
Aby memicingkan matanya, merasa kesal dengan jalan pikiran Celyn dan anggapan Celyn tentang dirinya.
__ADS_1
"Apa kamu menganggap, kalau aku laki-laki yang suka mempermainkan pernikahan? Kamu terlalu jauh berpikir Celyn. Aku sudah berani memutuskan untuk menikahimu, berarti aku sudah siap berkomitmen untuk menjadikanmu istriku seumur hidupku. Untuk masalah perasaan yang kamu katakan, bukannya kita akan punya banyak waktu untuk menumbuhkan perasaan cinta itu? Mungkin sekarang kita berdua belum memiliki perasaan cinta, tapi apa salahnya kita berdua belajar untuk membuka hati?" ucap Aby dengan manik mata yang memperlihatkan keseriusan
"Bukan kita, tapi kakak yang belum memiliki perasaan cinta untukku. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Kak." Ucap Celyn yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Kenapa kamu hanya diam? apa kamu benar- benar tidak mau? kalau itu maumu, ya udah akau tidak akan memaksamu." Aby mengembuskan napasnya ke udara dengan sekali hentakan. Ada rasa kecewa yang muncul dalam hatinya, kecewa dan kesal karena ketulusannya diragukan.
"Kalau begitu, aku sudah tidak punya keperluan lagi untuk ada di sini. Aku pamit dulu!" pungkas Aby, mengakhiri pembicaraan dengan Celyn. Kemudian dia memutar tubuhnya untuk beranjak pergi meninggalkan Celyn.
"Aku bersedia, Kak!" langkah Aby terhenti seketika ketika mendengar suara Celyn yang menyatakan kesediaannya untuk menikah dengannya.
Aby mengulum senyumnya, dan kembali memutar tubuhnya dan menatap Celyn yang kini juga tengah menatapnya dengan manik mata yang sudah dipenuhi oleh cairan bening.
Keheningan terjeda cukup lama, dan situasi canggung menghampiri kedua insan yang akhirnya memutuskan untuk menikah itu. Celyn bahkan mengalihkan tatapannya ke tempat lain, karena tidak sanggup untuk menatap manik mata milik Aby.
"Baiklah! nanti aku akan membicarakan hal ini dengan mama dan papa. Sekarang aku mau pamit pulang dulu!" Aby akhirnya buka suara, untuk menghentikan situasi Awkward yang sempat tercipta di antara mereka.
Aby nyaris melangkah, meninggikan Celyn. Akan tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar suara Celyn yang memanggil.
"Apa kakak tidak muntah-muntah lagi? apa kakak sudah makan?"
Aby tersentak kaget, merasa heran dengan keadaan dirinya sendiri. Dia baru menyadari, kalau dia tidak merasakan mual-mual, sepanjang berbicara dengan Celyn. Padahal sewaktu berbicara dengan kedua orangtua Celyn tadi, perasaan itu masih ada dan dia berusaha mati-matian untuk menahan agar tidak muntah dan justru sekarang, perutnya meronta meminta diisi.
__ADS_1
Tbc
Kencengin like dan komennya dong Gais. Kalau berkenan kasih hadiah 🌹🌹🌹 dong buat Celyn.