
Mentari kini terlihat mengintip dari peraduannya, seakan ingin memastikan apakah bayangan rekan kerjanya, sang bulan sudah benar-benar menghilang atau belum. Setelah memastikan sang rembulan sudah tidak terlihat lagi, akhirnya sang raja tata Surya itu, mulai menampakkan kuasanya untuk menerangi bumi, hingga mampu mengalahkan Cahaya bintang-bintang yang sebenarnya masih 'exis' mengitari sang mentari
Cahaya sang raja tata Surya yang membias masuk ke dalam kamar Ardan, melalui celah-celah gorden tipis berwarna putih itu, berhasil membangunkan Ardan dari tidur lelapnya.
Ardan, duduk di tengah ranjang besarnya, kemudian membuka mulut lebar-lebar, lalu melakukan peregangan otot leher dan badan di atas tempat tidur juga. Setelah merasa badannya sudah enakan, Ardan beranjak turun dari ranjang dan mengayunkan kakinya melangkah ke arah kamar mandi.
Setelah rutinitas mandi paginya selesai, Ardanpun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian santai, karena hari ini dia akan ke rumah sakit untuk melakukan tranplantasi sumsum tulang belakangnya pada putri kecilnya.
Dengan semangat juang 45, Ardan keluar dari kamarnya dan memilih langsung berangkat ke rumah sakit tanpa sarapan terlebih dahulu. Sedangkan orangtuanya dan Aby akan menyusul sebentar lagi, karena menurut mereka ini masih terlalu pagi.
Disinilah dia sekarang, berdiri dengan kaki yang menapak di lantai rumah sakit yang masih terlihat sepi.
Suara Ardan, terdengar membentak para resepsionis dan para perawat, dengan wajah yang sangat dingin dan rahang yang sudah mengeras.
"Apa-apaan ini? di mana Dokter Ridwan? kenapa belum juga datang, hah?!"
Tidak ada yang berani menjawab, mereka semua menundukkan kepala dengan raut wajah yang ketakutan.
"Kenapa semua diam?kalian tidak bisa mendengar apa yang saya tanyakan, atau mulut kalian semua sudah tidak ada fungsinya?" Demi Tuhan, ucapan Ardan kali ini sangat pedas, dan menyakitkan bagi orang yang mendengar. Akan tetapi, tidak ada yang berani menjawab, karena takut kehilangan pekerjaan. Bisa bekerja di rumah sakit besar dengan fasilitas terlengkap yang hampir menyamai rumah sakit di luar negri ini, merupakan kebanggaan buat mereka.
"Apa kalian masih tidak ada yang mau menjawab? baiklah, jangan salahkan aku, kalau aku memecat kalian semua!"
"Jangan, Tuan! Kami semua butuh pekerjaan ini. Kami akan menelepon Dokter Ridwan agar beliau secepatnya datang ke sini." salah satu resepsionis memberanikan diri untuk membuka suara.
Ardan yang tidak merasa puas, ingin membuka kembali mulutnya. Akan tetapi suaranya tercekat di tenggorokan begitu mendengar suara merdu dari wanita yang telah memberikan anak buatnya. Siapa lagi dia lalu bukan Amanda
"Mas, Ardan. Kenapa pagi sekali datangnya? dan kenapa kamu marah-marah?" tanya wanita itu dengan alis yang bertaut tajam.
Ardan, dengan santai mengayunkan langkahnya menghampiri Amanda.
"Bagaimana aku tidak marah, jam segini Dokter Ridwan belum juga datang! Dia kan tahu kalau hari ini jadwal transplantasi Anin." cetus Ardan, kesal.
Amanda terlihat memutar matanya, merasa jengah dengan sikap Ardan yang menurutnya berlebihan.
"Yang salah itu kamu, Mas. Ini masih terlalu pagi. Jadwal Transplantasi Anin kan nanti jam 10. Coba kamu lihat jam berapa sekarang? belum juga pukul 8 kan? Anin juga masih tidur." jelas Amanda, lugas
"Aahhh, tetap aja salah.Harusnya dia sudah datang sebelum aku datang." Ardan tidak mau disalahkan.
__ADS_1
"Dokter Ridwan, mana tahu kalu kamu bisa datang sepagi ini. kamu yang ___" ucapan Amanda terhenti di udara, melihat sorot mata Ardan yang menatapnya dengan sangat tajam, seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Kenapa berhenti? kamu mau tetap menyalahkan ku?" suara Ardan yang dingin, membuat Amanda merasa atmosfer di sekelilingnya, terasa menyeramkan.
"Ng- nggak! k -kamu benar!" sahut Amanda dengan lirih.
"Bagus!" Ardan tersenyum sambil menggusak rambut Amanda.
"Cih dasar psikopat!" umpat Amanda di dalam hati.
Ardan, mengalihkan kembali tatapannya ke arah para resepsionis dan perawat-perawat yang masih berdiri di tempatnya masing-masing. "Kalian semua boleh bubar sekarang!" titahnya, tanpa mengucapkan kata maaf dan tentunya tanpa senyuman.
"Jadi kamu mau kemana sekarang?" suara Ardan sudah kembali lembut,menatap kembali ke arah Amanda, setelah para perawat itu membubarkan diri.
"Aku mau keluar, beli sarapan." Amanda menjawab
"Kenapa kamu tidak meneleponku, supaya aku membawa sarapan untukmu?" nada suara Ardan terdengar tidak senang, karena merasa tidak dibutuhkan oleh Amanda.
"Aku kan tidak tahu, kalau Mas Ardan akan datang sepagi ini." jawab Amanda dengan jujur. Tapi bukan Ardan namanya kalau bisa puas dengan alasan yang diberikan oleh Amanda.
"Kan kamu bisa telepon, nanya aku datang Jam berapa. Makanya ada handphone tuh dimanfaatin, jangan dianggurin!" sarkas Ardan.
"Eits, gak ada bantahan! pokoknya lain kali kamu harus menggunakan handphonemu dengan baik."Ardan segera menyela, sebelum Amanda membantah.
"Ayo, kita beli sarapan bersama-sama! kebetulan aku juga belum sarapan!" Ardan menarik tangan Amanda dan menakutkan jari-jari Amanda ke sela-sela jari-jarinya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri, jadi tidak perlu menggandeng tanganku!" seru Amanda, merasa risih dengan perlakuan Ardan.
Bukannya melepaskan, Ardan malah semakin mengeratkan genggamannya, membuat Amanda, menghela napas, pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Proses tranplantasi sumsum tulang belakang dari Ardan ke Anin, sudah berjalan sekitar 30 menit yang lalu. Itu artinya, sekitar 30 menit lagi, proses transplantasi akan selesai, karena pada umumnya proses transplantasi berlangsung sekitar Satu jam.
Amanda dan yang lainnya, tak ketinggalan Jasmine dan Rio yang membawa serta Celyn, menunggu di depan ruangan Anin dengan hati yang harap-harap cemas, berharap semuanya berjalan dengan lancar, dan tidak ada penolakan dari tubuh Anin, terhadap sumsum yang didonorkan oleh Ardan papanya. Akan tetapi, Aby tidak terlihat di antara mereka, karena tadi, bocah kecil itu, izin mau ke toilet.
"Tenang, Manda! percayalah semua pasti akan berjalan dengan lancar." ucap Amara, seraya merangkul pundak Amanda dengan tujuan agar Amanda bisa rileks.
__ADS_1
"Terima kasih, Tan!" Amanda menerbitkan seulas senyuman di bibirnya, berusaha untuk tenang.
"Lho, kamu kok masih panggil Tante? harusnya kamu sudah memanggil aku mama, sebentar lagi kan kami akan jadi menantu, mama."
"Menantu? sebentar lagi?" Amanda mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Lho, apa Ardan belum memberitahukanmu, kalau nanti setelah dia selesai melakukan transplantasi sumsum tulang belakangnya, dan dinyatakan berhasil, dia akan menikahimu minggu depan. Dan resepsinya, setelah masa pemulihan Anin benar- benar selesai," jelas Amara dengan lugas.
"T-tapi bagaimana mungkin, Tan? aku kan belum melamar, Mas Ardan." ujar Amanda.
Jawaban Amanda tidak hanya membuat kening Amara terangkat ke atas, merasa bingung dengan ucapan wanita yang akan menjadi menantunya itu.
"Maksud kamu apa? siapa yang melamar siapa?"
"Kata, Mas Ardan aku harus melamar dia segera." jawab Amanda, jujur.
"Arghhh, anak itu ya ... benar-benar ...." geram Amara, yang disambut dengan gelak tawa dari yang lainnya.
Disaat bersamaan pintu ruangan, tempat Anin melakukan transplantasi terbuka, pertanda kalau prosesnya sudah selesai. Wajah semuanya berbinar bahagia, begitu mendengar kalau untuk saat ini, semua berjalan sesuai dengan harapan.
"Tapi, ananda Anin belum bisa langsung dibawa pulang. Setelah proses transplantasi sumsum tulang selesai, aku akan memantau kondisi Anin dulu. Jika terjadi infeksi atau komplikasi lain, Anin harus menjalani rawat inap di rumah sakit, sampai kondisi Anin dipastikan membaik. Selama beberapa minggu pertama setelah transplantasi, Aku akan melakukan transfusi sel darah merah dan sel keping darah secara berkala, sampai sumsum tulang baru dapat memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup." terang, Dokter Ridwan menerangkan dengan detail.
"Butuh berapa lama, pemulihannya, Dok?" tanya Amanda.
"Hmm, tergantung kondisi Anin, sel darahnya biasa berfungsi normal setelah 2- 6 minggu. Dan proses pemulihan setidaknya bisa sampai 3 bulan.Tapi aku yakin, kalau tubuh Anin merespon baik donor sumsum dari Pak Ardan, dan proses pemulihan Anin akan lebih cepat. Aku akan terus memantau beberapa hari ini.Kalau dia tidak demam selama 48 jam ini, berarti semua baik-baik saja." Dokter Ridwan, kembali menjelaskan, dan semuanya menganggukkan kepala, mengerti.
Amara memeluk Amanda dan mengelus lembut kepala calon menantunya itu. Disaat bersamaan Ardan terlihat keluar menggunakan kursi roda, karena masih belum terlalu kuat untuk berdiri. Akan tetapi, bukannya bertanya bagaimana keadaan Ardan, Amara malah, menarik telinga putranya itu dengan kencang.
"Kamu ya, bagaimana bisa kamu meminta Amanda yang melamar kamu, hah!"
"Aw ... aw, sakit mah!" Ardan mengusap-usap telinganya yang sudah terlihat memerah.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap ke arah Amanda, dengan tatapan penuh kebencian.
Tbc
Semua informasi mengenai transplantasi sum-sum tulang belakang aku peroleh dari alodokter.com
__ADS_1
Maaf pada dokter- dokter onkologi jika ada menemukan kesalahan dari yang aku tuliskan🙏.
Btw, jangan lupa buat tetap ninggalin jejak ya gais. Seperti biasa hari ini hari Senin, aku meminta, jika berkenan vote rekomendasi yang secara otomatis diberikan oleh sistem setiap hari Senin, diberikan ke novel ini. Karena itu sangat membantu, agar Novel ini bisa direkomendasikan oleh sistem. Terima kasih dan send hug virtual buat kalian semua. Semoga sehat selalu.