
Rio, melirik ke pergelangan tangannya untuk melihat sudah pukul berapa. "Kemana nih Ardan? jadi datang gak sih?" Rio menggerutu di dalam hati. Tiba-tiba dia tersentak kaget, karena ada tangan yang memeluknya dari belakang. Dan dari aroma parfumnya, Rio tahu benar siapa yang tengah memeluknya.
"Mas, maafin aku! aku memang istri yang tidak baik, yang selalu gegabah dalam bertindak tanpa mau berpikir dengan kepala dingin sebelumnya." ucap Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di punggung pria yang dicintainya itu. Air matanya kini sudah membasahi kaos Rio.
Rio melerai tangan Jasmine dan memutar tubuhnya untuk melihat wajah istrinya.
"Emm, kenapa kamu ada di sini? apa kamu tidak marah lagi?" tanya Rio dengan kening yang berkerut, dan Jasmine menganggukkan kepalanya.
"Maaf, Mas. Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Aku memang __" Jasmine berhenti berbicara karena bibirnya tiba-tiba dibungkam Rio dengan jari telunjuknya.
"Aku paham dengan apa yang kamu rasakan sekarang, aku __"
"Mas, paham bagaimana perasaanku, tapi aku yang tidak paham bagaimana perasaanmu? maafkan aku, Mas!" Jasmine hendak berlutut, tapi buru-buru ditahan oleh Rio. Kemudian dia memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Beban hatinya, seakan menguap entah kemana, dengan kehadiran istrinya. Kalau mengikuti ego, Rio sebenarnya kecewa dengan Jasmine, yang selalu bertindak gegabah tanpa mencari tahu terlebih dulu, apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, dia tahu benar, kalau sekarang hati dan pikiran Jasmine sedang kalut, dan dia tidak mau menambahi lagi kekalutan istrinya. Jasmine sekarang sangat butuh dukungan dari dia selaku suami dari wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ratna masuk ke dalam ruangan Johan suaminya, setelah Johan sudah siuman. Sedangkan Ardan dan Amanda memutuskan untuk pulang. Mereka hanya bisa berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.
Johan yang biasa terlihat gagah tidak dapat lagi menahan untuk tidak mengeluarkan air mata, ketika melihat istrinya masuk. Dia melihat kembali ke arah pintu berharap dia bisa melihat Jasmine putrinya.
"Ma, semuanya sudah habis.Kita bangkrut, kita jatuh miskin, Mah." Ucap Johan lirih.
Ratna, yang tadinya merasa jengkel pada suaminya, begitu melihat keadaan suaminya sekarang, rasa jengkel itu seketika langsung menguap entah kemana, berganti dengan rasa kasihan.
"Pah, yang sabar ya, anggap saja ini teguran buat Papa, karena sudah bersikap sombong dan suka merendahkan seseorang." sahut Ratna sambil menggenggam erat tangan,Johan.
"Apa aku salah, Mah? aku hanya ingin yang terbaik buat Jasmine."
__ADS_1
"Kadang apa yang kita pikir itu baik, belum tentu itu yang terbaik, yang kita anggap buruk,justru itulah yang terbaik. Pah kebahagiaan itu tidak diukur oleh harta. Aku tidak menampik, kalau kita memang juga butuh uang atau harta. Tapi, banyaknya harta yang tidak dibarengi dengan rasa cinta dan kasih sayang di dalamnya, kebahagiaan juga akan enggan untuk datang, Pah. Sebenarnya yang papah inginkan bukan yang terbaik buat Jasmine, tapi yang terbaik buat, Papa." Ratna berhenti sejenak untuk mengambil jeda, seraya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sekali hentakan.
"Papa hanya merasa harga diri papa turun karena Jasmine tidak jadi menikah dengan Ardan, padahal Papa sudah berkoar-koar pada kolega papa bahwa papa akan besanan dengan pengusaha terkaya di negara ini. Ternyata semua di luar ekpektasi. Padahal Papah tahu jelas, walaupun Rio hanya seorang asisten, dia juga memiliki pengaruh besar," sambung Ratna kembali menyelesaikan ucapannya.
Johan tercenung. Bibirnya terasa kelu tidak bisa berkata-kata apa lagi. Karena semua yang baru saja keluar dari mulut istrinya adalah benar.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat mengagumi Rio, Mah. Tapi egoku berusaha untuk menyangkalnya. Aku selalu merasa, kalau dia sudah merebut kasih sayang Jasmine ke kita. Aku merasa, karena dia, Jasmine sudah membangkang ke kita. Aku memang egois,Mah.Sebenarnya yang ada di dalam hatiku, hanya rasa takut, Jasmine melupakan kita karena terlalu mencintai, Rio." Johan mengungkapkan semua yang dia tutupi selama ini.
"Pah, anggapan kamu salah! Rio tidak pernah berniat merebut kasih sayang Jasmine pada kita. Asal kamu tahu, sebenarnya semenjak kamu memutuskan hubungan kerja sama dengan Bagaskara company, perusahaan kita sudah diambang kebangkrutan saat itu. Akan tetapi, Rio, menantu yang tidak kamu anggap itulah, yang diam-diam membantumu."
Kedua netra Johan terbeliak kaget mendengar penuturan istrinya. "Bagaimana bisa?" gumamnya, lirih.
Kemudian Ratna pun menceritakan semua yang dia dengar dari Jasmine, putri mereka. Hingga membuat Johan semakin terpukul dan merasa lebih rendah dari Rio.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berganti pagi.Di sebuah sekolah swasta, berstandard internasional, yang diisi oleh siswa -siswa yang bukan dari kalangan biasa, dan pintar-pintar, tampak Aby bersama dengan dua orang temannya sedang berjalan menuju kelas dengan raut wajah seperti biasa, datar tanpa senyum.
"By, coba kamu lihat, sepertinya Shasa dan teman-temannya berulah lagi. Sepertinya mereka membuat seseorang menangis di sana?" Kenjo menunjuk ke arah Shasa, anak dari seorang pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi, sedang tertawa terbahak-bahak bersama dengan dua temannya. Di depan mereka terlihat ada gadis kecil yang menangis karena diganggu oleh ketiga orang itu.
"Biarin ajalah, bukan urusan kita ini. Mending kita masuk ke kelas saja." Sahut Aby, cuek. Hanya melirik sekilas, setelah itu kembali fokus ke depan.
"Eh, tunggu dulu! bukannya yang nangis itu Celyn ya?!" seru Calvin dengan mata yang memicing memastikan.
Mendengar Calvin menyebut nama Celyn, Aby sontak menatap ke arah gadis kecil yang masih tetap menangis. Dan benar saja, kalau itu benar-benar Celyn.
Dengan sedikit berlari Aby menghampiri Shasa dan kedua temannya.
__ADS_1
"Hei, apa yang kalian lakukan pada Celyn?" Suara Aby terdengar datar, tapi terselip aura mengintimidasi pada ucapannya.
"Kami tidak melakukan apa-apa pada dia.Dia saja yang nggak lihat-lihat jalan, makanya terjatuh," sahut Shasa dengan angkuh.
"Bukan,Kak Aby! Tadi kaki Celyn dijegal sama kaki Shasa. Dia bilang, Celyn sok cantik, dan gak cocok temenan sama, Kak Aby! seru Celyn menyangkal ucapan Shasa.
"Bohong! Jangan percaya By! dia pasti bohong, aku kan tidak mungkin melakukan itu." Bantah Shasa dengan bibir yang mengerucut dan mendelik ke arah Celyn.
"Tapi, sayangnya aku percaya pada Celyn. Karena aku bisa lihat sendiri kalau kalian sedang menertawakan dia, bukan malah menolongnya." cetus Aby, dingin.
"Kami tertawa karena jatuhnya lucu, aja." Shasa masih berusaha menyangkal.
"Sudahlah, kalian tidak perlu menyangkal lagi! kalian lebih baik pergi dari tempat ini. Kalau tidak nanti aku akan adukan kalian sama guru." ancam Aby, yang membuat ketiga bocah kecil itu merungut dan pergi meninggalkan Aby.
"Mereka sudah pergi. Sekarang kamu bangun dan masuk ke kelasmu!" titah Aby.
"Kakiku telkilil, Kak. Celyn susah beljalan," rengek Celyn.
Aby mengembuskan napasnya dengan kesal. Dia lalu menatap ke atas Kenjo. "Ken, kamu bisa kan gendong dia?" tanya Aby, dengan manik mata yang memohon.
"Siap!" Kenjo mengangkat tangannya, membentuk gerakan menghormat.
"Celyn tidak mau! Celyn maunya digendong sama, Kak Aby." Celyn mulai mengeluarkan jurus andalannya, yaitu menangis dengan kencang.
"Ya udah, aku yang gendong," Aby membelakangi Celyn dan berjongkok di depan anak itu, menepuk pundaknya sendiri, sebagai isyarat, menyuruh Celyn naik ke punggungnya.
Dengan wajah yang berbinar, Celyn pun naik ke punggung Aby. Setelah Celyn sudah tepat berada di punggung Aby, Celyn menjulurkan lidahnya ke arah Kenjo dan Kenjo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Aby pun berjalan dengan hati-hati, membawa Celyn ke kelasnya, dan mengantar Celyn sampai di tempat duduknya.
__ADS_1
Tbc.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya, Gais! Like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh🤗🙏😍