
"Dimana Celyn, Mah?" tanya Aby begitu dia sampai di rumah. Ya, tadi Celyn pulang bersama Rio dan Ardan terlebih dulu, untuk membawa baby Arend karena takut kemalaman. Sedangkan dirinya tetap tinggal di rumah sakit untuk menunggu Roni sadar.
"Dia di atas, Nak. Bagaiman dengan Roni? apa dia sudah siuman?" tanya Amanda.
"Sudah, Mah. Sekarang dia tinggal pemulihan saja." jawab Aby.
"Syukurlah. Jadi siapa yang menjaganya di sana? Kemungkinan dia akan susah bergerak jika butuh sesuatu,"
"Oh, ada Reyna adiknya yang akan menjaganya. Dan kebetulan aku juga minta Adrian untuk menemani Reyna."
Amanda membesarkan matanya dengan sempurna, mendengar penuturan Aby.
"Adrian? kamu serius nyuruh dia? emang dia mau?" tanya Amanda, dengan alis yang bertaut.
"Bukan hanya mau, tapi mau banget. Bahkan dia yang nyuruh aku balik cepat-cepat. Katanya kasihan lihat aku kelelahan. Tapi menurutku bukan karena itu," sahut Aby, tersenyum misterius dan terasa ambigu di telinga Amanda.
"Jadi gara-gara apa?"
"Apalagi kalau bukan karena Reyna,"
"Reyna? apa hubungannya dengan Reyna?" Amanda semakin terlihat bingung.
"Mah, sepertinya anak bungsumu itu suka sama Reyna. Aku sangat yakin itu. Tapi dia tidak mau mengaku." ucap Aby, yang membuat Amanda terkekeh.
"Emang ya, kalian semua tidak ada bedanya dengan papa kalian. Gengsinya besar,"
"Udah ah, Mah! aku mau ke atas dulu. Kangen sama istri dan anak-anak," Aby berlari ke atas untuk menghindari ocehan mamanya.
"Ingat! masih masa nifas, Belu boleh!" masih terdengar suara teriakan Amanda, sehingga Aby, tersenyum kecut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby masuk ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Celyn. Akan tetapi, dia tidak menemukan istrinya itu, baik di dalam kamar mandi maupun di balkon.
"Mungkin dia ada di dalam kamar anak-anak. Baiknya aku mandi dulu, baru ke sana," ucap Aby pada telinganya sendiri. Kemudian, dia mengayunkan kaki, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama, Aby sudah selesai mandi, karena dia memang tidak berendam di dalam bathtub.
Dia mengayunkan kakinya melangkah menuju ke kamar si kecil setelah berpakaian rumahan.
Sayup-sayup dia dengar suara merdu seorang wanita yang sedang bernyanyi.
Rock-a-bye baby, on the treetops,
__ADS_1
When the wind blows, the cradle will rock,
When the bough breaks, the cradle will fall,
And down will come baby, cradle and all.
Aby tersenyum dan menyenderkan tubuhnya di daun pintu, mendengar istrinya bernyanyi sambil mengayun-ayunkan kedua putranya yang tampak, masih belum memejamkan mata, dan kaki yang menendang-nendang dan tangan yang tidak berhenti bergerak serta tersenyum-senyum ke arah mamanya.
"Belum mau bobo ya, Nak? mau berapa lagu lagi yang harus mama nyanyikan biar kalian berdua mau bobo? kalau dihitung-hitung, lagu yang mama nyanyikan sudah bisa sekaset." Celyn mengajak baby Arick dan baby Arend bercerita.
"Hmm, kok cuma senyum-senyum sih, Nak? apa kalian kira, semua masalah bisa selesai dengan senyuman? oh tidak! buat mama, itu belum selesai."
Aby, hampir saja tergelak mendengar ucapan istrinya.
Dia mengayunkan kakinya melangkah mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu sang istri.
"Lagi ngomongin apa sih, Sayang?" apa mereka udah bisa mengerti apa yang kamu bicarakan?"
"Eh, Sayang, kamu sudah pulang? bagaimana dengan Roni?"
"Ih, kok langsung Roni sih yang ditanya? aku marah nih," Aby, pura-pura memasang wajah cemberut.
Celyn terkekeh dan langsung mengecup bibir Aby. "Papa, jangan marah-marah, nanti lekas tua, mama cerewet orangnya, tapi mama setia," Celyn bernyanyi lagu yang viral di toktik.
"Lagu apaan tuh? baru dengar." tanya Aby dengan alis yang bertaut.
"Jiah, nungguin papanya ternyata. Capek-capek mamanya nyanyi gak tidur-tidur. Eh, giliran papanya datang, tidur sendiri." Celyn mengerucutkan bibirnya.
"Mereka kan anak papanya. Waktu masih di dalam rahim, papanya yang disiksa. Setelah lahir, gantian mamanya dong."
Celyn berdecih, kemudian kembali mengerucutkan bibirnya.
"Nah, sekarang, anak-anak udah tidur, gantian papanya sekarang yang ditidurin, ayo!" Aby sontak mengangkat, Celyn ala bridal style, sehingga celyn sedikit berteriak. Beruntungnya baby Arick dan Arend tidak merasa terganggu sama sekali.
"Sayang turunkan dulu! bantu aku, dorong tempat tidur mereka ke kamar kita!"
"Kenapa harus dibawa ke kamar kita?" tanya Aby, bingung.
"Mereka masih terlalu kecil, Sayang. Kalau tengah malam mereka terbangun, aku harus tetap memberikan mereka asi. Kalau popok mereka penuh,kan harus diganti." papar Celyn dengan sabar.
"Jadi kamu ngurus aku kapan? apa aku bakal kamu lupakan karena mereka?" tanya Aby dengan wajah yang memelas.
"Astaga, tidak mungkin aku melupakanmu. Kalian itu sama-sama berharga bagiku. Jangan cemburu sama anak sendiri, akh!"
__ADS_1
"Iya, mama! atau bagaimana kalau kita sewa babysitter aja,. Aku takut kamu kecapean, Sayang." ujar Aby
"Aku mau ngurus anak-anak sendiri, Sayang. Kalau untuk sekedar bantu-bantu tidak apa-apa. Aku tidak mau menyerahkan semuanya pada babysitter. Kalau malam hari, mereka tetap harus bersama kita. Kita kan bisa gantian nanti."
"Iya, Sayang. Aku mengerti. Kalau cari babysitter, aku mau kamu cari yang sudah berumur, karena aku tidak mau ada wanita-wanita muda lain yang berkeliaran di sekitarku," pungkas Aby , sambil mendorong tempat tidur si kembar menuju kamar mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit, tepatnya di ruangan perawatan Roni, kecanggungan terjadi di antara Reyna dan Adrian.
Reyna yang merasa segan untuk memulai pembicaraan, dan Adrian yang merasa canggung untuk berbicara.
Adrian berpura-pura menyibukkan diri bermain dengan ponselnya, demikian juga dengan Reyna.
"Reyna, apa kamu udah makan malam?" terdengar suara yang lirih dari bibir Roni.
"Hmm, belum, Kak!" sahut Reyna sambil menggigit bibirnya, dengan ekor mata yang melirik ke arah Adrian.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa sih, kalau kamu belum makan malam." batin Adrian, merutuki kebodohannya.
Tanpa berbicara sama sekali, Adrian berdiri, memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia nyaris saja melangkah, menuju pintu, tapi seketika berhenti, karena terdengar suara Reyna yang memanggilnya.
"Tuan, anda mau kemana?"
"Hmm, aku mau beli makan malam buat kita. Kamu tunggu saja di sini!" sahut Adrian tanpa menoleh ke arah Reyna.
"Emm, tidak perlu, Tuan. Ini sudah sangat malam. Biarkan aku saja yang keluar untuk membelinya." Reyna menawarkan dirinya.
"Tidak perlu! kamu itu seorang wanita, tidak baik jalan sendirian di malam hari." jawab Adrian dan kali ini dia sudah menoleh ke arah Reyna.
"Mm, tapi ... Tuan izinkan aku saja yang pergi." Reyna tetap bersikeras.
"Kamu di sini saja, jagain Kakak kamu. Aku pergi dulu ya!"
Reyna hendak mencegah kembali, tapi Adrian sudah menutup pintu, sehingga wanita itu hanya bisa mengembuskan napasnya, pasrah.
"Reyna, kamu ikuti Tuan muda Adrian. Aku takut kalau nanti dia akan mendapat gangguan dari para preman di sekitar sini." titah Roni, dengan suara yang masih terdengar sangat pelan.
"Tapi bagaimana dengan kakak?" tanya Reyna, enggan meninggalkan Roni, kakaknya.
"Kamu tenang saja, Kakak bisa jaga diri sendiri."
"Baiklah kalau begitu!" Reyna mengayunkan kakinya, melangkah ke luar.
__ADS_1
Tbc
Akhirnya bisa up juga. Maaf ya! harap maklum dengan keadaanku. Mertua dari kampung datang, udah dua tahun tidak ketemu karena pandemi. Jadi, tidak enak kalau aku meninggalkan mereka karena menulis.😁