Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Boleh aku ikut membantu, Pa?


__ADS_3

Keheningan terjeda cukup lama di antara Ardan dan Amanda. Perasaan Ardan campur aduk saat ini. Kesal pada Rio dan malu pada Amanda. Dia bahkan berbaring sambil memunggungi, Amanda, tidak berani sedikitpun untuk melihat wanita itu.


Sementara itu, Amanda yang dari tadi tidak berhenti tertawa, kini benar-benar merasa bersalah. Berkali-kali dia melirik ke arah Ardan. Sekarang dia merasa bingung mau melakukan apa.


"Mas," Amanda memanggil dengan lembut, sembari mengguncang pelan punggung Ardan.


Sepi, tidak ada respon sama sekali dari Ardan.


"Mas, kamu sudah tidur?" Amanda mencoba memanggil kembali. Tapi tetap tidak ada respon.


Dengan memberanikan diri, Amanda memeluk Ardan dari belakang. "Mas, aku tahu, kalau kamu belum tidur. Terima kasih ya, buat usahanya. Gombalan kamu ___"


"Nggak usah dibahas lagi! kalau kamu masih bahas, aku lebih baik tidur di kamar lain." ketus Ardan, menyela ucapan Amanda.


"Kamu marah sama aku ya? Maaf tadi aku nggak bermaksud buat ngetawain ka__"


"Bukannya tadi aku sudah bilang, jangan dibahas lagi? kenapa kamu masih bahas saja?" suara Ardan terdengar semakin dingin.


"Ma- maaf, Mas. Aku cuma mau ngomong, kamu tidak perlu lagi belajar untuk ngungkapin perasaanmu, karena usaha kamu hari ini, sudah bisa meyakinkanku, kalau kamu memang mencintaiku. Jadi, aku akan bersedia kalau kamu memang mau meminta hak kamu malam ini."


Ardan sontak memutar badannya dengan wajah berbinar begitu mendengar ucapan Amanda. "Kamu serius?" antusias, Ardan bertanya, yang langsung diangguki kepala oleh Amanda dengan raut wajah malu-malu.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ardan langsung menyergap bibir Amanda, dan bermain di bibir itu untuk beberapa saat. Perang bibir dan lidah mereka berhenti ketika merasa pasokan udara yang masuk ke dalam paru-paru mereka mulai menipis. Setelah mereka selesai mengisi udara ke rongga paru-paru masing-masing, mereka berdua kembali menyatukan bibir mereka dan mulai lagi saling menyesap. Tangan Ardan juga tidak mau tinggal diam. Dengan lembut dan penuh perasaan dia meraba semua area-area sensitif di tubuh sang istri, sehingga Amanda mengeluarkan, suara de**han, menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh Ardan.


Lenguhan Amanda seperti pemantik yang membuat libido Ardan semakin memuncak. Setelah melakukan pemanasan yang cukup lama, akhirnya kedua insan itu pun mulai melakukan penyatuan. Kini, kamar itu sudah dipenuhi dengan suara-suara khas manusia yang lagi memadu kasih dan udara di kamar itu, berangsur-angsur mulai panas, mengalahkan dinginnya, pendingin udara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana hati Ardan hari ini lagi sangat bahagia. Bagaimana tidak, semalaman dia memadu kasih dengan sang istri sampai berkali-kali dan berhenti ketika Amanda menyilangkan tangannya, sebagai sign 'menyerah'.


Karena terlalu bahagia, dia sampai melupakan kekesalannya pada Rio. Ruangannya yang biasanya selalu dingin, kini Ardan terdengar musik-musik romantis di ruangan itu sambil sekali-sekali bersiul. Hingga membuat Rio, sedikit bergidik ngeri melihat perubahan atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Dan, apa kamu Ardan benaran?" tanya Rio dengan manik mata penuh tanda tanya.


"Kamu gila ya?! pertanyaan apa seperti itu? ya jelas ini aku lah." sahut Ardan, santai sambil tetap bersenandung mengikuti alunan lagu. Walaupun yang terdengar hanya ' um um um' dari mulutnya.


"Kamu sehat kan, Dan?" Rio kembali bertanya, dengan mimik wajah yang tidak berubah dari awal bertemu Ardan.

__ADS_1


"Aku sehat,Rio. Kamu kan bisa lihat sendiri kalau aku baik-baik saja," jawab Ardan tersenyum manis, yang justru bagi Rio terlihat mengerikan.


"Ya, mungkin tubuhmu memang sehat, tapi tidak dengan otakmu. Mungkin otakmu sudah bergeser sedikit," gumam Rio, pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa kamu bilang? otak siapa yang geser? kamu lagi ngomongin kalau otakku yang geser ya?!" Ardan menghunuskan tatapannya ke arah Rio.


"Tidak ada. Kamu salah dengar, Dan. Aku tadi bilang otak Bagas yang geser, kelamaan menduda." sahut Rio, asal, berharap Ardan tidak lanjut mencecar dia dengan pertanyaan lain.


"Oh, kalau dia memang udah dari dulu otaknya geser." sahut Ardan kembali fokus ke arah layar monitor laptop yang ada di depannya.


Rio menghela napas lega dan memutuskan untuk tidak bertanya apal-apa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Mahendra Group


"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan celahnya?" tanya Johan pada Radit yang masih sibuk mengutak-atik laptop di depannya.


"Belum! aku sudah mencoba berulangkali tapi belum bisa membobol keamanan perusahaan Ardan. Sistem keamanan mereka sangat kuat," Sahut Radit dengan wajah lelahnya. Semalaman dia mencari celah bagaimana menerobos sistem keamanan Bagaskara' company, tapi sampai sekarang belum juga bisa.


"Hmmm, apa tidak ada cara lain lagi?" tanya Johan, yang wajahnya mulai terlihat tidak sabaran.


"Yes, aku sudah mulai bisa masuk, Pak Johan. Aku sudah bilang pasti bisa." Radit bersorak bahagia. Sementara itu, sudut bibir Johan tertarik ke atas, tersenyum sinis.


Johan melihat dengan jelas, semua data-data perusahaan yang bekerja sama dengan Bagaskara Company. Kepalanya kini, sudah dipenuhi dengan muslihat untuk menjatuhkan perusahaan mantan sahabatnya itu.


Johan mengalihkan tatapannya pada asisiten pribadinya. "Hendra, buat penawaran kita, pada semua perusahaan-perusahaan ini, dan ajukan proposal dengan harga yang melibihi dari harga dari Bagaskara company. Kita harus merebut semua klien, Bagaskara Company, dan lambat laun perusahaan itu akan hancur, Hahahaha!" Tawa Johan menggelegar, tertawa kemenangan.


Sementara itu, Radit juga tidak kalah bahagia. Dia berharap jika Ardan benar-benar jatuh miskin, pria penguasa itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Bersiaplah untuk bangkrut, pria sombong."Radit merutuki Ardan di dalam hatinya dengan senyuman sinis yang bertengger di sudut bibirnya.


Radit memang mendengar dari polisi kalau Lora istrinya, telah menculik anak perempuan Amanda, dari mulut para polisi itu. Radit juga mendengar kalau istrinya itu, tewas karena bunuh diri. Tapi, Radit tidak percaya sama sekali. Dia merasa kalau Ardanlah yang membunuh istrinya, karena murka terhadap Lora, yang berani mengusik ketenangan Amanda, yang dia tahu sudah dinikahinya. Dia menduga kalau Ardan mengunakan kuasanya, untuk membungkam mulut para polisi itu, dan memutarbalikkan fakta, dengan mengatakan kalau Lora bunuh diri


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Masuk!" teriak Ardan dari dalam, ketika ada sedang mengetuk pintu dari luar.

__ADS_1


" Maaf, Pak Ardan boleh saya masuk?" tanya laki-laki yang merupakan IT di perusahaannya.


" Masuk saja! Apa apa, Frans?" tanya Ardan dengan wajah yang seperti biasa, tanpa senyuman.


"Begini, Pak! sistem keamanan perusahaan kita ada yang berani meretasnya. Aku sudah berhasil meningkatkan keamanannya kembali. Akan tetapi, sepertinya beberapa data sudah berhasil didapatkan si peretas itu."


Brakk ...


Ardan menggebrak meja dengan sangat keras, bersamaan dengan masuknya Rio yang baru saja pulang menjemput Aby dari sekolahnya. Karena tadi pagi Aby meminta untuk mengunjungi perusahaan papanya itu.


"Bagaimana bisa itu terjadi, Hah?!" bentak Ardan dengan tatapan membunuh, membuat Frans gemetar takut.


"Ada apa ini? tahan amarahmu,Dan. Ada putramu di sini. Jangan buat dia ketakutan." Tegur Rio.


Mendengar ucapan Rio, Ardan mengembuskan napasnya berulang-ulang, untuk bisa sedikit tenang. Dia lalu melangkah mendekati Aby,lalu mendekap putra sulungnya itu. "Maafin, papa ya." ucapnya dengan tulus.


" Tidak apa-apa, Pah. Papa kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aby dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, Nak. Hanya masalah kecil saja kok. Kamu duduk di sana aja dulu ya, papa mau menyelesaikan urusan papa dulu." Ardan menunjuk ke arah sofa. Aby menganggukkan kepalanya, mematuhi perintah Ardan.


"Frans, kamu boleh keluar sekarang.Biarkan hal ini menjadi urusanku dengan, Pak Rio." titah Ardan, ya g langsung dipatuhi oleh pria bernama Frans itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Rio yang dari tadi belum mendapatkan jawaban dari rasa bingungnya, bertanya kembali.


Akhirnya Ardan pun menceritakan semua yang terjadi, tanpa menambahi dan tanpa mengurangi. Bersamaan dengan itu, Ardan menerima beberapa telepon, yang membatalkan kontrak kerja sama. Dan bahkan siap membayar ganti rugi pada Bagaskara Company karena sudah melanggar perjanjian.


"Hmmm, kita harus cari siapa orang yang berani mengusikku.Dengan mereka yang sanggup membayar ganti rugi dengan jumlah yang banyak, berarti dalangnya bukan orang sembarangan. Dan sekali saja aku menemukan siapa orangnya, aku tidak akan tinggal diam" Ardan mengepalkan tangannya dengan sangat keras.


Setelah melakukan penyelidikan yang memakan waktu cukup lama, tapi tetap tidak membuahkan hasil.


"Sepertinya yang berhasil meretas keamanan perusaan ini, sangatlah pintar. Dia hampir tidak meninggalkan jejak sama sekali." keluh Rio.


"Kenapa, Papa dan Om, tidak melacak ISP, 'internet service provider' yang dipakai oleh peretas itu? Walaupun tidak ada identitas yang bisa kalian temukan, tapi dengan mengetahui ISP yang mereka pakai, Papa sama Om kan bisa bertanya pada perusahaan ISP yang bersangkutan siapa nama pengguna yang baru saja memakai jasa perusahaan mereka. Karena Aby yakin, peretas itu pasti tidak akan menggunakan ISP yang biasa mereka gunakan agar tidak bisa dilacak. Mereka pasti mengunakan ISP baru. Jadi intinya sekarang, papa sama Om harus mengetahui perusahaan ISP itu dulu." Aby buka suara, memberikan usul.


"Aby, benar.Mereka juga tidak mungkin memakai identitas orang lain, untuk bisa menghired ISP itu. Tapi kuat dugaanku, kalau mereka membayar perusahaan ISP itu, untuk merahasiakan identitas mereka. Sekarang kita selidiki, ISP apa yang mereka pakai lewat nomor IP mereka. Setelah kita tahu, ISP yang mereka gunakan, secepatnya kita datangi perusahaan itu, dan memaksa mereka untuk memberitahukan siapa yang membayar mereka." Ardan menimpali ucapan Aby.


"Boleh aku ikut membantu, Papa?" tanya Aby.

__ADS_1


Tbc


Wah, sudah hari Senin saja. Seperti biasa aku mohon pengertiannya, agar Sudi memberikan vote rekomendasi yang diberikan oleh sistem secara otomatis,buat karya saya yang satu ini. Supaya aku semakin semangat dalam berkarya. Sekalian Jangan lupa juga buat tetap like dan komen ya, gais. Thank you🙏


__ADS_2