
"Kak, aku kembali ke butik ya, soalnya ada pelanggan yang minta ingin ketemu aku langsung." ucap Celyn, minta izin.
"Kamu di sini saja, jangan kemana-mana!" larang Aby, tidak mengizinkan.
"Tapi, Kak, costumernya ingin bertemu aku langsung,"
"Aku bilang kamu tetap di sini, ya tetap di sini! jangan membantah!" Aby kekeh untuk melarang.
Celyn menghentakkan kakinya, merasa kesal dengan Aby. Dia merasa belakangan ini, Aby selalu membatasi ruang geraknya dengan alasan untuk kebaikan dirinya dan bayi yang sedang dia kandung. Padahal Celyn sudah berkata kalau dia tidak akan melakukan hal yang berat-berat, tapi tetap saja Aby melarangnya.
"Tapi kenapa aku harus di sini, Kak. Aku bosan tidak ada kerjaan, aku ke butik ya? Celyn masih berusaha membujuk Aby.
"Sekali aku bilang tidak, ya tidak! tolong jangan membangkang lagi." suara Aby mulai sedikit meninggi, karena Celyn yang keras kepala ingin pergi.
Celyn tersentak kaget, mendengar suara Aby. Tiba-tiba matanya mulai berembun karena manik mata itu sudah dipenuhi dengan Cairan bening, dan siap untuk ditumpahkan dari wadahnya.
Aby sontak berdiri, dan menghampiri Celyn, kemudian memeluk wanita itu. Dia tidak mau kalau Celyn sampai menangis, bisa-bisa dia muntah-muntah lagi, seperti yang sudah-sudah.
"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya mau kamu menurut, karena percayalah, Kalau ini semua demi kebaikanmu. Jika, kamu bosan dan merasa tidak punya kerjaan, kamu lebih baik tidur saja!"
Suara lembut dari Aby, mampu menghipnotis Aby dan bisa membuat cairan bening yang hampir saja keluar, balik kanan tidak jadi keluar.
Aby, meraih tangan Celyn dan mengajaknya ke dalam kamar yang ada di ruangannya. Kemudian dia membantu Celyn untuk berbaring. Untuk sesaat Aby menemani Celyn sampai napas wanita itu terdengar teratur, pertanda kalau wanita itu sudah terlelap.
Setelah memastikan kalau istrinya sudah tertidur, Aby melangkah keluar dari kamar. Kemudian dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana, apa orang yang mengaku costumer itu sudah pergi?" tanya Aby to the point.
"Sudah, Tuan!" sahut suara seorang pria dari ujung telepon.
"Apa kamu menanyakan padanya siapa yang menyuruhnya hendak mencelakai istriku?" Kembali Aby bertanya dengan aura yang sangat dingin.
"Sudah, Tuan. Tapi sebenarnya bukan untuk mencelakai. Costumer itu disuruh seseorang untuk berpura-pura untuk bertemu langsung dengan Non Celyn, hanya supaya Non Celyn segera keluar dari kantor Tuan."
"Hmmm, Siapa orangnya? apa dia salah satu karyawan saya?" aura Aby semakin dingin, hingga sampai terasa pada orang yang berada di ujung telepon sana.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Katanya dia disuruh oleh Tia, sekretaris Tuan. Kebetulan orang suruhannya itu, teman sekretaris Tuan sendiri."
Jawaban orang suruhannya itu membuat Aby menggeram dan langsung memutuskan panggilan begitu saja secara sepihak.
Dia langsung menekan wireless intercome yang langsung terhubung ke meja sekretaris.
"Tia, masuk keruangan ku sekarang juga!" titah Aby dengan suara tertahan, berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahannya.
"Masuk!" serunya dari dalam, begitu mendengar suara ketukan dari pintu, dan sangat dia yakini kalau itu pasti Tia sekretarisnya.
Suara decitan pintu terdengar, dan benar saja, Tia masuk dengan memasang senyuman termanisnya. Dia terlihat melirik ke arah sofa dan senyumannya semakin mengembang begitu melihat tidak ada lagi Celyn di ruangan itu.
"Hmm, kemana wanita itu? sejak kapan dia keluar dari ruangan ini? kok aku tidak melihatnya? ahh, bodo amatlah, yang penting aku sudah berhasil nyingkirkannya untuk sementara dari sini," batin Tia, dengan sudut bibir yang teangkat sedikit ke atas, tersenyum licik.
Dari kursi kebesarannya Aby terlihat menatap tajam, ke arah Tia, yang masih setia menatap Sofa.
"Kenapa kamu menatap ke arah sofa itu? aku memanggilmu masuk, bukan untuk menatap sofa." suara dingin Aby terdengar, dan bisa membuat orang yang mendengarnya merinding.
"E-eh, bukan seperti itu, Pak Aby. Aku hanya__"
"Ng-nggak Pak! aku hanya ingin memastikan kalau sofa itu, bersih dari tumpahan bumbu rujak, yang tadi dimakan oleh pak Aby dan Ibu." Tia mencoba memberikan alasan, tapi dia tidak bisa menutupi rasa gugupnya.
Aby tersenyum miring dan menatap Tia semakin tajam, sehingga gadis itu menundukkan kepalanya, tidak berani membalas tatapan Aby.
"Tia, sekarang kamu kemasi barang-barang kamu, dan keluar dari kantor saya! Kamu aku pecat!" tidak ada suara tinggi yang keluar dari mulut Aby, bahkan terkesan datar dan dingin. Namun tidak bisa menutupi ketegasan yang ada di dalam ucapan itu.
"M-maksudnya, Pak?" Tia masih berpikir kalau tadi dia sedang salah dengar.
"Apa ucapanku kurang jelas? kamu aku pe-cat!" Aby menekan kata pecat pada ucapannya.
"Ta-tapi kenapa, Pak? A-aku salah apa?" tanya Tia mulai bingung, dan wajahnya berubah pucat.
" Kamu masih berani menanyakan salah kamu apa? bukannya kamu menyuruh temanmu untuk datang ke butik istriku dan menyamar sebagai costumer yang hanya ingin bertemu dengan istriku, hah?!" Suara Aby yang awalnya masih tertahan, kini sudah berubah tinggi.
Netra Tia membesar dengan sempurna mendengar Aby yang ternyata mengetahui rencananya. Raut wajahnya kini berubah pucat, melihat sorot mata Aby yang sangat tajam ,seperti ingin membunuhnya.
__ADS_1
"A-aku tidak__"
"Tidak apa, Hah? kamu tidak bisa mengelak lagi, apa kamu kira aku bisa dibodohi? aku tahu dari tatapanmu kalau kamu tidak menyukai kehadiran istriku dan aku tahu kalau kamu ingin menggodaku. Tapi maaf, kamu tidak akan berhasil, menggodaku. Jadi mulai sekarang kamu angkat kaki dari kantorku dan jangan muncul lagi di depanku. Tapi aku sarankan, jangan berbuat macam-macam lagi pada istriku, kalau tidak kamu tahu akibatnya. Kamu bisa saja memasukkan kamu ke dalam daftar hitam, sehingga kamu tidak diterima bekerja di manapun." ucap Aby dengan tegas dan penuh intimidasi.
"Please jangan pecat saya, Pak. Aku janji tidak akan mengganggu ibu Celyn lagi, dan aku tidak akan menggoda, Pak Aby lagi." mohon Tia dengan nada yang sangat memelas.
"Aku tidak akan berubah pikiran, cepat keluar dari sini!_ dan untuk pesangon kamu, kamu bisa meminta ke bagian keuangan." pungkas Aby, tidak mau mendengar permohonan Tia lagi.
"Kak, ini ada apa? kenapa kamu teriak-teriak?" tiba-tiba Celyn muncul dari dalam kamar, karena merasa terganggu dengan keributan yang terjadi di ruangan Aby.
Netra Tia, semakin membesar merasa kaget, kalau ternyata istri dari atasannya masih ada di kantor Aby.
"Ibu, tolong bilangin, Pak Aby agar tidak memecatku. Aku janji tidak akan mengganggu ibu lagi." Mohon Tia.
Celyn mengrenyitkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang telah terjadi.
"Tia, keluar dari sini! sekalipun istriku memaafkanmu, aku yang tidak akan pernah memaafkanmu. Sekarang kamu keluar dari sini!" bentak Aby, sudah tidak sabar lagi.
Dengan terisak-isak, Tia akhirnya keluar dari ruangan Aby, dengan penuh penyesalan dan merutuki kebodohannya.
"Ini, apa sih yang sebenarnya terjadi?" tanya Celyn yang masih belum mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
Aby akhirnya menceritakan semuanya, apa rencana Tia, yang menyuruh temannya sebagai costumer gadungan, agar Celyn keluar dari kantornya, dan Tia bisa menggodanya.
Netra Celyn membulat dengan sempurna dan berdecak, merasa heran kalau ternyata ada wanita licik seperti Tia.
"Hmm, tapi bagaimana, Kakak bisa tahu? kakak saja ada di sini?" tanya Celyn penasaran.
"Aku mendapat bisikan dari angin!" ucap Aby santai, yang membuat Celyn mencebikkan bibirnya.
Ya, semenjak Celyn jadi istrinya, belajar dari masa lalu, Aby tidak mau kecolongan seperti papanya dulu. Diam-diam Aby menyuruh beberapa bodyguard untuk mengawasi Celyn dari jauh dan mengawasi setiap gerak-gerik orang yang mencurigakan, yang berniat mencelakai istrinya itu.
Celyn tidak tahu, kalau selama ini sudah beberapa kali ada orang yang berniat mencelakainya, dan selalu berhasil digagalkan oleh anak buahnya. Aby sengaja tidak memberitahukan pada Celyn, agar Celyn tetap merasa kalau dirinya aman-aman saja.
Tbc
__ADS_1