
"Gampang! si Clara kamu kirim saja menjadi sekretarisku, dan kamu cari lagi sekretaris lain." usul Bagas tiba-tiba.
"Heh?" Ardan dan Rio sontak menatap Bagas dengan raut wajah bingung.
"Hei, kenapa kalian berdua liatin aku sampai segitunya? ada yang aneh ya?" tanya Bagas dengan alis yang bertaut.
"Ya anehlah, ada angin apa kamu meminta Clara jadi sekretarismu?" tanya Ardan dengan kening terangkat ke atas, menyelidik.
"Aku tidak punya alasan apa-apa, hanya mau membatu kamu saja, Dan. Tidak ada tujuan lain." tegas Bagas, berusaha meyakinkan.
"Alah, bilang aja kalau kamu modus." Rio menimpali.
"Lah, kenapa sih kalian mikirnya begitu, aku jujur lho, mau bantuin Kamu, Dan. Nih ya, tadi kan kamu bilang, kasihan kalau Clara jadi bahan gunjingan, jadi ya aku ambil jalan tengahnya aja, Clara jadi sekretarisku dan adiknya itu jadi asisten kamu. Kurang baik apa aku coba?" terang Bagas
"Kenapa harus jadi sekretaris kamu? kenapa kamu nggak usulin, jadi sekretarisku aja?" tantang Rio.
"Lha, ngapain? kan kamu udah punya sekretaris." Bagas tidak mau kalah.
"Kamu juga kan sudah punya sekretaris? kalau Clara jadi sekretarismu, jadi sekretarismu yang sekarang mau kamu kemanakan? kamu pecat dia gitu?" tanya Rio.
"Ya, nggaklah! Dia kan bisa jadi sekretarisnya Ardan. Sekretarisku kan laki-laki jadi, bagi Ardan yang sudah ber'istri kan lebih aman."
Ardan, bergeming dan seperti menimbang sesuatu, mendengar penuturan Bagas.
"Kamu benar juga sih, Gas. Boleh deh, nanti aku akan bicarakan dengan Clara." pungkas Ardan, akhirnya
"Ya udah kita balik ke kantor aja sekarang! Ayo Rio!" Ardan berdiri disusul oleh Rio.
"Hei, kok balik? kerja samanya gimana?" Celetuk Bagas, sebelum kedua orang itu beranjak pergi.
"Besok aja deh kita bicarakan! aku lagi banyak kerjaan hari ini." Dengan tanpa rasa bersalah Ardan mengayunkan kakinya, melangkah keluar dari restoran. Tiba-tiba dia berbalik badan lagi dan berkata,
"Oh ya, Yo. Tolong nanti kamu cari tahu siapa pemilik restoran ini, dan suruh dia memecat manager tadi!" titah Ardan, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Makanan kita , kamu yang bayar ya, Sob!" dengan sedikit berlari, Rio menyusul Ardan keluar dari restoran.
"Sial! dasar teman-teman laknat. Udah waktuku habis terbuang sia-sia, dibully sekarang disuruh bayar makanan mereka lagi." umpat Bagas, sekaligus menggerutu di dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Berdasarkan hasil kesepakatan, walaupun dengan berat hati, akhirnya Clara bersedia dimutasikan ke perusahaan Bagas, supaya adiknya itu bisa bekerja di Bagaskara Company.
Clara melangkah dengan langkah anggun di lobby perusahaan milik Bagas yang tidak kalah besarnya dengan perusahaan Ardan.
"Maaf, Mba. Ruangan Pak, Bagas dimana ya?" tanya Clara, dengan sopan.
Dua orang wanita yang menjabat sebagai resepsionis itu, memandang Clara dengan pandangan curiga. Bukannya merendahkan, mereka hanya tidak mau, kalau mereka kena murka Bagas lagi, ketika mengizinkan wanita yang ingin menggoda CEO mereka itu masuk sembarangan ke ruang CEO.
"Maaf Mba! apa mba ini sudah memiliki janji dengan Pak Bagas?" tanya salah satu dari wanita itu.
"Oh iya, saya sekretarisnya yang baru, Mba! Apa Pak Bagas tidak menginformasikan apa-apa pada kalian." ucap Clara sedikit kesal. Bukan kesal pada dua resepsionis itu, tapi kesal pada Bagas.
"Belum sama sekali,Mba. Pak Bagas juga belum datang. Mba tunggu saja dulu di sana, mungkin sebentar lagi beliau akan datang." Resepsionis itu menunjuk ke arah sofa.
Clara nyaris saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa, tapi tiba-tiba dia mengurungkannya ketika suara tegas Bagas terdengar di belakangnya.
"Tidak usah duduk lagi! kamu ikut aku sekarang!" Ucap Bagas tegas, tanpa menatap ke arah Clara.
"Baik, Pak!" sahut Clara sopan sambil membungkukkan tubuhnya.
Bagas berjalan mendahului Clara dengan tersenyum samar. Senyuman yang sama sekali tidak bisa orang lihat sekaligus senyuman yang penuh tanda tanya pada Bagas. Bingung kenapa bisa dia sesenang itu, ketika dia mendengar Clara menyetujui pemindahannya.
Bagas menekan tombol lift khusus untuk dia dan asistennya. Ketika pintu lift itu terbuka, Bagas langsung masuk dan menunggu Clara untuk masuk. Akan tetapi, Clara sama sekali tidak ikut masuk. Gadis itu justru menunggu pintu lift khusus karyawan. Hal itu membuat Bagas menggeram menahan kesal.
"Kenapa kamu tidak masuk? cepat masuk!" Suara Bagas terdengar datar tapi terselip nada penuh intimidasi di dalam ucapannya.
"Maaf, Pak! aku naik ini saja. Bapak kasih tahu aja, ruangan bapak di lantai berapa?" tolak Clara, dengan sopan yang dibuat-buat.
"Aku bilang masuk ya masuk!" kali ini bukan hanya ucapan saja yang mengintimidasi, tapi sorot mata juga tak kalah mengintimidasinya.
Dengan mengembuskan napas dengan kesal, akhirnya Clara melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
Kening Clara mengrenyit bingung ketika Bagas melepaskan tangannya dari tombol open, ketika dia menunggu Clara masuk tadi, tapi tidak langsung menekan tombol close.
"Apa kamu tidak punya inisiatif untuk menekan tombol close itu? apa kamu mau melakukannya untuk mu?" ucap Bagas dengan nada menyindir.
"Dasar gila, psikopat. Apa salahnya dia menekan sendiri tadi? toh itu tombol persis di depannya kan? Sabar Clara, sabar!" umpat Clara sekaligus menggerutu di dalam hati, dengan kedua tangan yang terayun menekan tombol yang dimaksud oleh Bagas.
Pintu lift sudah tertutup dengan sempurna, akan tetapi lift itu tidak bergerak naik.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah naik lift? kalau lift ya tidak bergerak, berarti kamu belum menekan lantai berapa yang akan kita tuju, kamu tahu itu kan?"
Dada Clara, terlihat kembang kempis menahan marah. Clara sontak menoleh ke arah Bagas dengan tatapan horor.
"Pak Bagas, aku tahu semua hal yang anda sebutkan tadi. Tapi bukannya aku tadi sudah bilang, kalau aku tidak tahu di lantai berapa ruangan Bapak." ucap Clara pelan sambil menggigit giginya sendiri menahan kesal.
"Oh, bilang dong! Lantai 59." Ucap Bagas santai, merasa tidak bersalah. Hingga membuat Clara meradang.
"Seandainya nih orang bukan atasanku, aku pastikan, kalau dia sudah aku jadikan perkedel sekarang." Gerutu Clara, sambil menekan angka 59.
Ting ...
pintu lift terbuka dan Bagas langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, disusul oleh Clara dari belakang.
"Makannya, jadi orang itu harus punya inisiatif. Kamu kan bisa bertanya sebelumnya sama Ardan, ruanganku ada di lantai berapa." Ucap Bagas, tanpa mau menoleh ke belakang.
"Ya, Tuhan! baru hari pertama aja udah buat aku pusing. Sabarkan aku di sini Tuhan." Mohon Clara sambil menghela napasnya dengan cukup panjang.
"Ini ruanganku, dan kamu di sana! Sekarang sebelum kamu melaporkan apa saja jadwalku hari ini, kamu buatkan aku dulu kopi." Titah Bagas, sambil masuk ke dalam ruangannya sendiri. Tiba-tiba dia memutar badan kembali, dan menatap Clara dengan kening yang berkerut.
"Apa kamu tidak mau tanya, takaran kopi yang aku inginkan?" tanya Bagas, datar.
"Pak Bagas, kan bisa bilang tanpa menunggu harus aku tanya? Karena aku kan orang baru." Ucap Clara santai, tidak takut dengan sorot mata Bagas.
"Harusnya kamu punya inisiatif buat bertanya?"
"Harusnya Bapakpun, harus punya inisiatif untuk memberitahukannya tanpa harus ditanya. Apa salah sih kalau mau memerintahkan orang itu langsung-langsung saja, jangan setengah-setengah. Kan Bapak bisa bilang, 'Clara, tolong buatkan aku kopi yang gulanya satu sendok, bubuk kopi dua sendok, pakai air panas, jangan air dingin. Kopinya kamu seduh di gelas jangan di mangkok'. Kan lengkap tuh Pak, mempersingkat waktu lagi. Ujar Clara, santai yang membuat Bagas meradang.
"Kamu udah berani mendikteku ya?" Manik mata Bagas menatap semakin tajam.
"Maaf, Pak!" Clara menundukkan kepalanya.
" Sekarang buatkan aku kopi, seperti yang kamu bilang tadi. Buruan!"
"Baik, Pak!" Clara mengayunkan kakinya, tapi tiba-tiba dia berhenti lagi, dan menoleh ke arah Bagas. "Pak, pantrynya arah mana?"
"Makanya jangan sok pintar! pantrynya di sana," Bagas menunjuk ke arah ruangan yang pintunya terlihat masih tertutup.
TBC
__ADS_1
Hari Senin saatnya buat Vote. Bagi votenya dang gais!🙏