
"Tuan, Nona Reyna sudah ada di sini," lapor salah satu bodyguard suruhan Ardan.
"Suruh dia masuk!" titah Ardan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Baik, Tuan!" bodyguard itu membukukan sedikit badannya dan berlalu keluar untuk memanggil Reyna.
Reyna terlihat melangkah masuk dengan sangat hati-hati dan jantung yang berdetak lebih kencang dari detak jantung normal. Kening Reyna berkerut bingung, melihat sosok siapa saja yang ada di ruangan itu. Bukan hanya Ardan yang ada di ruangan itu, tapi ada Amanda, Aby, Celyn, Kenjo dan Anin juga. Bahkan Roni kakaknya juga ada di sana. Seketika perasaannya semakin was-was.
"Kenapa berdiri saja di sana Reyna. Silahkan duduk di samping kakak kamu!" Reyna menggigit bibirnya, melangkah dengan gugup menghampiri Roni kakaknya. Ardan sangat jarang tersenyum, tapi entah kenapa kali ini Ardan yang tersenyum justru terasa menyeramkan buat Reyna.
"Ayo, silahkan duduk!" ucap Ardan, yang melihat Reyna yang seperti masih ragu-ragu untuk duduk.
Reyna mendaratkan tubuhnya, duduk di atas sofa, setelah Roni mengangguk kecil ke arahnya.
"Reyna, apa kamu tahu maksudku, memanggilmu ke sini?" Ardan memulai pembicaraan.
Reyna menggelengkan kepalanya, "Sama sekali tidak tahu, Tuan." sahut Reyna jujur dengan suara yang gemetar.
"Tapi aku yakin, dalam hati kamu, sedikitnya kamu sudah bisa sedikit menebak ke arah mana. Betulkan?" ucap Ardan, yang membuat Reyna sedikit belingsatan dan diam tidak menjawab.
"Kamu diam, kami anggap, berarti iya. Kami di sini mau menanyakan padamu, kenapa kamu menolak putra bungsuku, Adrian?"
Reyna seketika terkesiap dan menoleh ke arah Roni kakaknya. Sesuai dengan dugaannya, kalau Ardan pasti sudah mengetahuinya.
"Kalau mereka sudah tahu, kenapa keluarga ini harus memanggilku? bukannya harusnya mereka senang, kalau putra mereka aku tolak?" Reyna membatin dengan alis yang bertaut.
"Ma-maaf, Tuan! itu karena aku sama sekali benar-benar tidak mencintai Tuan Adrian. Aku serius! Tapi, aku berani bersumpah, Tuan kalau aku tidak pernah menggoda Tuan muda Ardian, sehingga dia bisa menyukaiku. Jadi, tolong jangan pecat kakakku. Aku berjanji, tidak akan datang ke sini lagi." cerocos Reyna, tanpa henti. Dia mengira, keluarga ini akan memecat kakaknya.
Semua yang ada di ruangan itu, saling silang pandang dan berusaha menahan tawa.
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikiran terlalu jauh, Reyna? buat apa kami ingin memecat, Roni? Kami tidak akan melakukannya," Aby buka suara, dengan senyuman tipisnya.
"Ja-jadi?"
"Kami memanggil kamu, justru mau bertanya, apa kamu benar-benar sedikitpun tidak menyukai Adrian?" Ardan kembali buka suara, dengan ekspresi datar.
"Benar, Tuan!" jawab Reyna sembari menundukkan wajahnya tidak berani menatap manik mata Ardan.
"Apa kamu yakin, dan berani bersumpah atas perkataanmu?" Reyna semakin terasa tersudut, dengan ucapan Ardan yang menantangnya untuk bersumpah.
"Ya-yakin, Tuan!
"Kalau ada yang sedang berbicara padamu, lihat orangnya!" Reyna sontak mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Ardan. Tapi hanya beberapa detik dirinya sanggup membalas tatapan itu. Detik berikutnya dia langsung menundukkan kepalanya.
"Kalau kamu yakin, coba sekarang tatap mataku, dan bilang dengan tegas kalau kamu sama sekali tidak menyukai, Adrian!" tegas Ardan.
Reyna bergeming untuk sepersekian detik. Detik berikutnya dia menghela napasnya dengan berat, lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"Stop, jangan lanjutkan lagi! karena kalau kamu lanjutkan, kamu akan semakin berdosa, karena sudah berbohong." Ardan segera memotong ucapan Reyna, sebelum gadis itu, menyelesaikan ucapannya.
"Kami sudah tahu, kalau kamu sedang berbohong, Reyna. Kamu juga menyukai putraku, tapi kamu menolaknya karena kamu merasa tidak pantas, iya kan?"
Reyna terhenyak, karena ucapan Ardan yang sangat tepat sasaran.
"Aku sudah mendengar semuanya dari kakakmu Roni. Dia sudah menjelaskan semuanya." sambung Ardan, yang membuat Reyna sontak menatap, meminta penjelasan dari sang kakak. Reyna benar-benar bingung sekarang.
"Bukannya, dia yang berkali-kali, memintaku untuk menolak, Adrian? tapi kenapa dia memberitahukan yang sebenarnya?" Reyna membatin.
"Jangan menyalahkan, kakakmu! Aku sendiri yang mendatangi kakakmu," ucap Ardan yang mengerti arti tatapan Reyna, pada Roni.
__ADS_1
"Sebenarnya, Om sangat kecewa, karena kalian sempat-sempatnya berpikir kalau, keluarga Om, memandang orang dari statusnya. Om ini bukan orangtua yang egois yang memaksakan kehendak buat anak. Apa yang membuat anak bahagia itu adalah yang utama. Jika Adrian bahagia dengan kamu, Om tidak mungkin tidak merestui." tutur Ardan panjang lebar membuat Roni dan Reyna menundukkan kepala.
"Asal kamu tahu, ketika pertama kali kamu menolak Adrian, aku sudah tahu. Karena tanpa Adrian sadari, selama ini aku memerintahkan beberapa bodyguard, untuk mengawasinya dari jauh. Jadi, ketika Adrian memutuskan untuk pergi ke pantai, para bodyguardku memantaunya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Aku juga mendapat laporan ketika kamu tiba-tiba datang, karena kamu mengira kalau dia akan bunuh diri. Dari situ aku tahu, kalau sebenarnya kamu juga menyukai putraku. Aku kira malam itu, kamu berubah pikiran dan menerima putraku, karena dia pulang ke rumah dengan bahagia. Ditambah dengan laporan para bodyguard yang melaporkan kalau mereka melihat kalian berdua ...." Ardan menghentikan ucapannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan wajah Reyna sudah memerah, karena dia tahu apa yang dimaksud oleh Ardan.
"Tapi ternyata dugaanku salah. Kamu malah tetap menolak Adrian, dan bahkan membuat dia patah hati,lebih parah dari sebelumnya. Asal kamu tahu, dua hari ini, kami kehilangan senyumannya. Awalnya aku heran kenapa tiba-tiba dia minta untuk melanjutkan kuliah di London, padahal sebelumnya dia menolak keras untuk ke sana. Tapi akhirnya aku tahu jawabannya dari laporan bodyguard. Ternyata ittu karena kamu yang mengatakan membencinya dan tidak ingin melihat wajahnya lagi."
Reyna semakin menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah.
"Maafkan saya, Tuan! aku hanya tidak tahu bagaimana lagi caranya, agar Tuan Adrian berhenti mendekatiku. Makanya aku mengeluarkan kata-kata itu." ucap Reyna dengan lirih
"Jangan panggil aku dan Adrian tuan! Panggil aku Om, dan Adrian dengan namanya, sesuai dengan yang dia minta selama ini."
Reyna semakin terhenyak. Dia merasa kaget, kalau ternyata selama ini Ardan sudah tahu segalanya.
"Kamu tahu, aku mendapat laporan kalau setelah kamu mengucapkan kata-kata yang menyakiti Adrian, kamu menangis sesunggukan dan sibuk menyalahkan diri sendiri bodoh. Dari situ aku yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres dan aku yakin pasti mengarah ke arah 'tidak pantasnya keluarga kalian dibanding dengan keluarga kami', Karena itulah aku mendatangi kakakmu. Karena aku juga yakin kalau hal ini pasti dari arahan kakak kamu juga. Ternyata dugaanku benar." jelas Ardan kembali.
Roni dan Reyna bergeming tidak tahu mau mengatakan apalagi. Mereka berdua bahkan hanya menundukkan kepala tidak berani untuk menatap wajah orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana, Reyna? apa kamu masih mau menolak putraku lagi, setelah mengetahui, kalau kami sudah tahu dari awal dan merestuinya?" kali ini Amanda yang buka suara.
Reyna mengangkat wajahnya dan menatap Amanda, sambil menggigit bibirnya.
"Ta-tapi, Bu, Adrian sudah membenciku dan dia sudah pergi jauh!" ucap Reyna dengan cairan bening yang keluar dari matanya tanpa permisi.
"Kami yakin kalau dia tidak akan membencimu," Aby buka suara. "Kamu pasti bertanya-tanya, kalau kami sudah tahu, kenapa kami malah tetap membiarkan dia tetap pergi dan tidak memberitahukannya yang sebenarnya. Iya kan? itu karena hanya inilah cara, agar dia mau melanjutkan kuliah ke sana. Anggaplah kami sedang mengambil kesempatan atas masalah kalian berdua. imbuh Aby, menjelaskan.
"Reyna, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan yang punya rasa percaya diri tinggi sekalipun, pasti memiliki rasa insecure. Tapi jangan biarkan rasa insecure itu, mempengaruhimu. Justru kamu harus menjadikan rasa insecure itu menjadi suatu motivasi untuk bisa mencapai hal yang kamu insecure tadi. Misalnya, kamu merasa insecure pada seseorang yang sangat pintar darimu. Ya, dengan begitu, kamu harus belajar dengan giat agar bisa pintar seperti orang itu. Jangan malah makin patah semangat. Itu malah membuat kamu, tidak akan berpikir maju dan stuck di situ-situ saja." tutu Aby, dengan bijak.
"Nah sama halnya seperti sekarang, kamu merasa insecure karena tidak pantas dengan Adrian, padahal kamu tahu, kalau adikku itu, menyukaimu. Kamu harusnya berusaha bagaimana biar lebih pantas. Bukan maksud kakak, kamu harus memiliki perusahaan sendiri, bukan! Tapi kamu bisa berusaha memantaskan diri dengan cara yang lain. Misalnya setidaknya, kamu memiliki jenjang pendidikan yang sama dengannya. Jadi sekarang, kami mau, kamu menyusul Adrian ke London, dan lanjutkan sekolah kamu bersama dengannya di sana." ucap Aby panjang lebar.
__ADS_1
"Ma-maksudnya?" tanya Reyna, berusaha mencerna arah pembicaraan, Aby.
Tbc