Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Maksudnya apa?


__ADS_3

"BRENGSEK!" Gilang kamu cari mati!" Aby merangsak masuk ke dalam dan secepat kilat melayangkan tendangan maut ke arah perut Gilang. Kemudian secepat kilat membuka Jasnya menutupi tubuh Celyn yang pakaiannya sudah robek di mana-mana.


"K-Kak, Aby tolong Celyn!" rintih Celyn dengan tubuh meringkuk ketakutan.


"Arghhhh! " Aby kembali berdiri dan dengan sigap melibas kepala Gilang dengan keras hingga Gilang tersungkur jatuh ke lantai, merintih kesakitan. Tanpa memberikan jeda, Aby memberikan tendangan keras di perut pria itu dan memberikan pukulan yang bertubi-tubi di wajah Gilang, hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Tak berhenti sampai di situ, Aby yang kesetanan, menjangkau benda yang ada di sekitarnya, berupa lampu tidur dan memukulkannya ke kepala Gilang.


"A-ampun, Aby!" rintih Gilang terseok-seok mundur.


"Aku tidak akan mengampunimu, bajingan! kamu berani menyentuh tubuh istriku, berarti kamu sudah menghinaku!" Kaki Aby kembali melayang, memberikan tendangan keras ke kepala Gilang dan pukulan keras di wajah yang sudah penuh darah itu.


"Aby! Cukup! dia bisa mati dan kamu bisa di penjara," cegah Kenjo dan Calvin menahan tangan Aby.


"K-Kak Aby! panggil Celyn lirih.


Mendengar panggilan Celyn Aby menoleh ke arah Celyn dan buru-buru menghampiri wanita itu dan memeluknya dengan erat.


"Tenang, Sayang, tenang, aku sudah ada di sini, kamu sudah aman dan baik-baik saja!" ucap Aby, Pertama kali memanggil Celyn sayang. Aby melihat lengan Celyn yang memerah, dan bibir Celyn yang berdarah serta pipi Celyn yang memerah bekas tamparan membuat Aby kembali meradang.


Abu kembali bangkit hendak menghajar Gilang yang sudah terkapar tak berdaya. Akan tetapi, dia mengurungkannya ketika mendengar rintihan Celyn.


"K-Kak, sakit!" rintih Celyn sambil memegang perutnya.


"A-apa yang sakit?" tanya Aby, panik dan gugup.


"Perutku sakit Kak!" Aby melihat ke arah perut Celyn dan tiba-tiba melihat ada darah yang mengalir dari paha Celyn.


"Aby, bawa Celyn ke rumah sakit sekarang! buruan! biar bajingan ini aku yang tangani." pekik Kenjo ikut panik.


Aby dengan sigap mengangkat tubuh Celyn dan berlari keluar, disusul oleh Calvin, karena dia tahu tidak mungkin Aby menyetir mobil sendiri.


"Ada apa ini? mana bajingan itu? tiba-tiba Rio muncul bersama Ardan disusul Jasmine dan Amanda yang memaksa untuk ikut.


"Kenapa dengan Celyn?!" pekik Rio melihat Celyn yang lemah di gendongan Aby.


"Pa, kita ketemu di rumah sakit, nanti Aby jelaskan!" Aby kembali berlari menuju mobil.


Sementara itu Ardan, Rio, serta istri mereka masuk ke dalam untuk melihat si pelaku.


Melihat Shasa yang meringkuk ketakutan, Jasmine dan Amanda menghambur dan menarik rambut Shasa dengan kencang dan menampar wajah Shasa berkali-kali, hingga membuat Shasa menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Dasar wanita ja**lang, murahan, tak tau diri!" umpat Amanda dan Jasmine dengan tangan yang tidak lepas dari rambut Shasa.


"A-ampun Tan, s-sakit! please lepaskan!" mohon Shasa dengan sudut bibir yang sudah mengeluarkan darah


"Sakit? sakit? nih, biar tambah sakit lagi!" Jasmine menampar dan mendorong tubuh Shasa hingga terjungkal ke belakang.


"Sudah, sudah, sekarang kita ke rumah sakit nyusul Aby saja, Cepat!" Ucap Ardan menghentikan aksi Amanda dan Jasmine.


"Kalian , bawa dua orang ini ke kantor polisi! dan kalian urus Roni. Interogasi dia, kenapa dia bisa berkhianat!" titah Ardan dengan aura yang menakutkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Buruan, Calvin! istriku sudah kesakitan!" desak Aby dengan suara tinggi, dengan wajah yang sangat panik dan bersimbah air mata.


"Ini sudah cepat, By! jalananan sudah mulai macet soalnya," Calvin tidak kalah paniknya.


"K- Kak, Aby!"


"I- iya, Sayang, tenang kita sebentar lagi akan sampai, kamu akan baik-baik saja, kamu yang kuat ya!" sumpah demi apapun, hari ini adalah hari yang paling menakutkan pada Aby. Seandainya Aby punya sayap ingin segera dia terbang dan membawa Celyn ke rumah sakit.


"K-Kak! tolongin Keluarga Roni. Keluarganya disekap oleh Gilang, dan Ibunya butuh pengobatan," desis Celyn dengan terbata-bata, di sela-sela rasa sakitnya.


Celyn menggelengkan kepalanya, dan dengan wajah memelas dia kembali berkata, "Kak, Roni terpaksa melakukannya demi keluarganya, tolong perintahkan orang-orangmu buat nyelamatin keluarga Roni dan segera membawa ibunya ke rumah sakit," mohon Celyn.


"Baik ... baiklah!" Aby meraih ponselnya dan menghubungi Kenjo untuk melakukan permintaan Celyn.


"K-Kak, sakit!" rintih Celyn yang membuat Aby semakin panik.


"Cal, masih jauh lagi kah?" tanya Aby dengan wajah panik, bingung bercampur menjadi satu. Seandainya ada landasan helikopter di TKP, mungkin dari awal Aby sudah memakai helikopter pribadi mereka.


"Tidak jauh lagi, By, tapi di depan macet, kamu tahu sendiri, ini jamnya pulang kerja," Calvin terlihat frustasi.


Aby melihat barisan mobil di depan, dan melihat rumah sakit yang mereka tuju sudah tidak terlalu jauh lagi. Dengan sigap, tanpa berpikir lagi, Aby membuka pintu mobilnya dan membawa Celyn yang sudah lemas di gendongannya, berlari menerobos kerumunan kendaraan di jalan raya.


Dia tidak perduli lagi, jadi tontonan umum. Yang paling utama sekarang dia bisa sampai di rumah sakit dan Celyn segera mendapat pertolongan.


Sekitar 15 menit Aby berlari dan entah kekuatan yang datang dari mana, Aby tidak merasa lelah dan akhirnya bisa sampai di depan rumah sakit.


Di depan rumah sakit sudah berdiri Dokter Sinta, dan para perawat yang sudah dihubungi sebelumnya. Mereka semua langsung menghambur menghampiri Aby dan membantu Aby membaringkan Celyn ke atas brankar. Kemudian dengan sigap mereka mendorong brankar itu menuju IGD atau instalasi gawat darurat.

__ADS_1


"Yang kuat, Sayang, yang kuat!" Aby menggenggam erat tangan Celyn dan wanita itu tersenyum di tengah rasa sakitnya.


"Maaf, Pak Aby, anda menunggu di luar saja dulu! biarkan kami menangani Ibu Celyn." Dokter Sinta menahan tubuh Aby yang hendak ikut menerobos ke dalam.


"Dok, selamatkan istri dan anak-anakku!" Baru kali ini Aby terlihat lemah.


"Baik, Pak Aby, akan aku usahakan yang terbaik! bantu dalam doa ya!" ucap, Dokter Sinta, sambil menutup pintu.


"Kak, Aby! bagaimana Kak celyn?" tiba-tiba Rico adik, Celyn sudah muncul bersama dengan Adrian dan Anin.


Aby tidak menjawab sama sekali, karena dia tidak tahu bagaimana menjelaskan. Perasaannya sangat kalut sekarang. Penampilannya yang biasanya rapi, sekarang sungguh sangat berantakan.


"Kak, kenapa diam saja? tolong jawab! Kak Celyn baik-baik saja kan?" desak Rico sambil mengguncang-guncang bahu Aby.


"Tenang Rico! Ka Aby sedang kalut sekarang, jadi tidak bisa ditanyain. Mending kita tunggu saja ya!" Anin, menarik tubuh Rico, agar menjauh dari Aby yang dari tadi menatap ke arah pintu IGD yang tertutup. Ingin sekali dia mendobrak pintu itu, dan melihat keadaan istrinya di dalam.


Suara benturan sepatu yang beradu dengan lantai, terdengar bersahut-sahutan menghampiri di mana Aby dan yang lainnya berada. Siapa lagi mereka kalau bukan Ardan dan yang lainnya.


"Bagaimana dengan Celyn?" Rio langsung bertanya sambil mengguncang bahu Aby. Akan tetapi, Aby tidak memberikan respon apa-apa.


Aby langsung menghambur ke arah Dokter Sinta, begitu pintu itu terbuka.


"Bagaimana keadaan istri dan anak-anakku? mereka baik-baik saja kan?" cecar Aby, tidak sabar.


"Ibu Celyn kehilangan banyak darah, dan bayinya terpaksa harus dikeluarkan sekarang! Ibu Celyn membutuhkan golongan darah A resus negatif sekitar 3 kantong, jadi __"


"Aku papanya, darahku sama dengan putriku, jadi aku akan mendonorkan darahku." Rio dengan cepat menyela ucapan Dokter Sinta.


"Aku adiknya, dan golongan darahku juga sama. Aku juga akan menyumbangkan darahku pada kakak." Rico menimpali, mengajukan dirinya.


"Baiklah, kalau begitu. Silahkan kalian berdua, ikut dia untuk mengambil darah secepatnya." ucap, Dokter Sinta.


"Masalahnya sekarang, Ibu Celyn harus operasi Cesar, karena jalan lahirnya tidak terbuka sama sekali, dan sepertinya selaput daranya masih utuh dan belum pernah berhubungan intim," terang, Dokter Sinta lagi.


Rio yang hendak berlalu pergi, memutar badannya kembali sambil mengrenyitkan keningnya.


"Maksudnya apa?" bukan hanya Rio yang bingung, yang lainnya juga ikut bingung. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Bukannya Celyn sedang hamil?" pertanyaan yang timbul di hati semua orang, kecuali Calvin dan Kenjo, yang sudah tahu alasannya.


"Nanti aku akan jelaskan alasannya, tapi setelah keadaan kondusif," ucap Aby, lirih

__ADS_1


Tbc


__ADS_2