
Kenjo meraba-raba ranjang di sebelahnya. Dia sontak terbangun begitu mendapati ranjang itu kosong. Dia beranjak dari atas tempat tidur dan mencari keberadaan Anin istrinya mulai dari kamar mandi, beranjak ke walk in closet, tapi dia tidak menemukan sang istri dimanapun.
"Sayang, kamu di mana?" tidak ada jawaban sama sekali.
Kenjo mengayunkan kakinya melangkah hendak keluar. Akan tetapi sebelum dia mencapai pintu, Anin terlihat masuk masih lengkap dengan piyama tidurnya.
Kenjo refleks memeluk sang istri, dengan erat seakan takut kehilangan, hingga menimbulkan kerutan di kening wanita itu.
"Ada apa ini? kamu kenapa?" tanya Anin berusaha melepaskan pelukan sang suami.
"Kamu dari mana aja? aku mencarimu kemana-mana," sahut Kenjo semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu kenapa sih? emang aku mau kemana, malam-malam begini? dasar aneh kamu. Lepasin pelukannya dulu akh, aku nyesak tahu!"
Kenjo akhirnya melerai pelukannya tapi tidak melepaskan tangannya dari pundak sang istri.
"Jadi kamu dari mana?"
"Aku tadi haus, jadi turun ke bawah buat ambil minum. Kamu kenapa seperti ini sih? gak biasanya," alis Anin bertaut, heran.
"Emang gak boleh? kan sama istri sendiri," protes Kenjo.
"Bukannya tidak boleh, cuma kan aneh. Tadi kamu habis mimpi aku tinggalin ya?" alis Anin sedikit naik ke atas, menyelidik.
Kenjo menggelengkan kepalanya, "Tidak! "
"Jadi kenapa?" desak Anin semakin bingung.
"Nggak papa, aku cuma ingin tidur memelukmu aja." sahut Kenjo sambil menarik tangan Anin, mengajak kembali ke tempat tidur.
Anin mengikuti suaminya, seraya menghela napas dengan sekali hentakan.
"Sini, Sayang baring di sampingku!" Kenjo merebahkan tubuhnya dan menepuk-nepuk ranjang kosong di sampingnya, meminta sang istri untuk ikut berbaring juga di sampingnya.
Anin tersenyum tipis dan merebahkan tubuhnya di sisi suaminya yang belakangan ini sangat manja.
"Baringnya jangan jauh-jauh!" Kenjo menarik tubuh Anin dan memeluknya dengan posesif.
"Kamu ke__"
"Aku mau tidur, kamu jangan kemana-mana lagi ya," Kenjo menyela ucapan istrinya, dan menyelusupkan kepalanya di dada sang istri.
Perasaan nyaman yang dia peroleh, membuat dia langsung terlelap dengan begitu nyenyaknya.
__ADS_1
"Kenapa sih dia, belakangan ini sangat manja? ini kan bukan karakter dia?" bisik Anin bertanya pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cantika berjalan mengitari mall dengan kedua sahabatnya Dion dan Debi.
Di tangan Dion sudah penuh belanjaan dari dua wanita yang memiliki status yang berbeda. Yang satu kekasih dan yang satu lagi sahabat.
Kalau dirinya membawa barang belanjaan sang kekasih, oke-oke saja. Lah, si Cantika yang hanya sahabat kok malah ikut-ikutan menitipkan barang belanjaan padanya. Dan sialnya, dia tidak mampu untuk menolak.
"Kita makan dulu yuk!" celetuk Debi sambil mengelus-elus perutnya yang sudah berbunyi dari tadi.
"Boleh! aku juga sudah lapar soalnya." sahut Cantika sambil menggantungkan kembali, gaun yang baru saja dia lihat.
Sementara itu, Dion mengembuskan napas lega, karena hal ini yang dia tunggu-tunggu dimana sedikitnya dia bisa mengistirahatkan tubuhnya walaupun hanya sebentar.
Mereka bertiga memasuki sebuah restauran yang berada di mall itu juga dan langsung mencari meja yang posisinya di sudut.
Dion mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Mereka bertiga langsung menyebutkan menu makanan yang akan mereka pesan pada sang pelayan.
"Silahkan ditunggu ya, mbak, Mas!" ucap pelayan itu sambil membungkukkan sedikit badannya, kemudian berlalu pergi.
Sepuluh menit kemudian, pesanan Meraka datang dan dengan tidak sabar mereka langsung menyantap hidangan sesuai dengan pesanan masing-masing.
"Makanya, punya pasangan itu seumuran, biar bisa kaya kita. Lah kamu, pasangannya udah dewasa, kalau jam segini, ya pasti kerjalah, hahahaha," Debi tertawa meledek.
"Mendingan aku lah, kalian hanya bisa romatisan sebatas ini saja. Kalau aku, sudah lebih bahkan sudah menikmati surga dunia," giliran Debi yang mencebikkan bibirnya, mendengar ledekan Cantika, yang sialnya sangat benar.
"Cantika, lihat! bukankah itu, suamimu?" bisik Debi seraya menunjuk ke arah pintu masuk.
Cantika menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh jari Debi, dan bertapa kagetnya dia melihat Calvin suaminya, masuk ke dalam restoran dengan seorang wanita cantik yang sangat seksi.
Wanita itu dengan manja menggelayut di lengan suaminya dan Calvin seperti tidak merasa keberatan dan bahkan sangat menikmati.
Wanita itu terlihat menunjuk ke arah meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Sayang, kamu pesanin makanan yang sama dengan kamu ya," ucap wanita itu dengan sangat manja, dan terdengar jelas di telinga Cantika.
"Iya, apa sih yang nggak buatmu," Calvin dengan mesranya, mencubit gemas hidung wanita itu.
Cantika mengepalkan tangannya dengan kencang, dengan napas yang memburu. Wajahnya sudah sangat memerah menahan emosi. Cantika sontak berdiri dari kursinya, tida tidak tahan lagi, ketika dia melihat wanita itu mengecup pipi Calvin dan Calvin juga mencium pipi sang wanita dengan sangat mesra.
Cantika dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun, mendekati pasangan itu dengan membawa gelas yang berisi jus jeruk di tangannya.
__ADS_1
"Brengsek!" makinya sambil menyiram wajah wanita itu, dan dia meraih gelas yang berisi strawberry juice dari meja lain, kemudian menyiram ke wajah Calvin.
"Hei, apa-apaan ini? kenapa kamu menyiramku? dasar perempuan gila!" bentak wanita itu sambil mengusap wajahnya dengan tissue.
"Kamu yang gila! asal kamu tahu, pria yang bersamamu ini, suamiku! bentak Cantika, yang tidak sadar telah menimbulkan bisik-bisik mencibirnya.
"Dasar perempuan yang suka ngehalu. Masih remaja, berani ngaku-ngaku, suami orang suaminya." bisik seseorang, tapi masih bisa terdengar jelas di telinganya.
"Hooh, lagian wanita itu lebih cocok disebut istri dari pria itu, dibandingkan dia." sahut temannya sambil berbisik juga.
"Kamu apa-apaan sih, main siram-siram!" bentak Calvin sambil membersihkan jasnya dengan tissue.
"Siapa dia, Kak? kenapa kakak selingkuh di belakangku?" Cantika sudah mulai menangis.
"Apaan sih kamu! selingkuh apaan?" sangkal Calvin dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Mending kamu pulang sekarang, karena tidak akan ada yang percaya kalau kamu itu istriku," bisik Calvin, dengan bibir yang menyeringai sinis.
"Sayang, jangan dekat-dekat dengan dia!" wanita itu menarik lengan Calvin dengan bibir yang mengerucut, cemburu.
"Kak, kamu tega! aku akan adukan perbuatan kamu sama papa. Biar perusahaan kamu dibuat bangkrut." ancam Cantika dengan pipi yang sudah banjir air mata.
"Inilah yang tidak ku suka dari kamu. Kamu sangat kekanak-kanakan, dan selalu mengancam akan mengadu ke papamu, setiap kamu marah padaku. Aku capek dengan sikapmu," bisik Calvin sembari menarik tangan wanita itu, dan pergi meninggalkan Cantika.
" Arghhhh! Kak Calvinnnnn!" teriaknya
Cantika sontak terduduk, bangun dari tidurnya. Dia melihat ke samping dan melihat Calvin masih terlelap dengan tidurnya.
Plakkk
"Aduh, sakit!" pekik Calvin, sontak terbangun dari tidurnya.
"Ada apa sih? kenapa kamu menamparku?" tanya Calvin sambil mengelus-elus pipinya yang sudah memerah.
"Kamu tega, Kak. Kamu selingkuh di belakangku," Cantika menangis sesenggukan, hingga membuat Calvin mengrenyitkan keningnya.
"Selingkuh apaan? aku nggak ada selingkuh. Kamu jangan asal menuduh!" ucap Calvin dengan raut wajah yang semakin bingung.
"Tapi tadi ...."
"Tadi apaan? kita dari tadi ada di sini, Sayang. Kamu pasti mimpi tadi. Sudah ya, kita tidur lagi, jangan berpikiran yang macam-macam, aku tidak akan selingkuh darimu." Calvin meraih bahu istrinya dengan lembut, dan membaringkannya sambil memeluk wanita itu.
"Kak, kalau kita berantem, aku janji tidak akan mengancam akan mengadu lagi sama papa, aku tidak akan bertingkah kekanakan lagi. Aku janji!" celetuk Cantika yang membuat kening Calvin berkerut untuk beberapa saat. Kemudian dia mengulum senyumnya, tahu kenapa istrinya berkata seperti itu.
__ADS_1
Tbc