
"Celyn, ini bonekanya, Nak. Tadi Tante Amanda sendiri yang memberikannya sama mama. Katanya bonekamu tertinggal di kamar Kak, Aby." Jasmine memberikan boneka yang sama persis dengan miliknya.
"Terima kasih, Mama!" sorak Celyn dengan wajah yang berbinar bahagia, sambil memeluk boneka kesukaannya.
Jasmine tersenyum bahagia melihat putrinya yang bahagia, walaupun sebenarnya di dalam lubuk hatinya dia merasa bersalah karena sudah membohongi putri kecilnya itu.
Celyn melangkah masuk menuju kamarnya. Dia menuju ke dalam lemari dan membuka laci tempat dia menyimpan koleksi-koleksi pakaian barbie.
"Kamu, pasti udah gak betah ya, semalaman nggak ganti baju? kita ganti baju ya? sekarang kamu, aku pakein gaun warna pink. Kamu pasti suka kan?" Celyn mengajak bonekanya berbicara, seperti layaknya benda hidup.
Celyn dengan hati-hati membuka gaun yang melekat di tubuh bonekanya. Ketika dia hendak memakaikan kembali gaun yang baru dia ambil, tiba-tiba Celyn menangis dan berlari menemui Jasmine mamanya.
"Mamaaa! mama bohong! ini bukan boneka Celyn." pekik Celyn, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Jasmine tersentak kaget, dan saling silang pandang dengan suaminya sekilas. Kemudian Jasmine berdiri dan berjongkok di depan putrinya yang menatapnya dengan manik yang berkilat-kilat seperti kristal.
"Ini punya Celyn kok. Tante Amanda sendiri tadi yang ngasih. Kalau kamu tidak percaya, kita telpon tante Amandanya." intonasi suara Jasmine dibuat selembut mungkin.
"Mama bohong! boneka Celyn itu, Celyn ada tulis, 'dari kakak Aby' tapi lihat ini, tulisannya tidak ada, jadi ini bukan punya Celyn." Celyn histeris kembali.
Jasmine menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menyangka kalau kebohongannya yang mengatakan itu boneka dari Aby, akan membuat putrinya merasa sangat kehilangan, ketika boneka itu hilang.
Jasmine akhirnya menarik tubuh putrinya kedalam dekapannya, memeluk Celyn erat seraya mengelus rambut Celyn dengan lembut.
Kemudian dia melerai pelukannya seraya mengusap air mata di pipi putrinya itu.
"Nak, maafin mama ya! mama sudah tanya sama tante Amanda, tapi boneka kamu itu tidak ada di sana. Mungkin bonekamu terjatuh di luar saat papa menggendong kamu dari kamar Anin dan mungkin sudah terbuang sama mbak-mbaknya," jelas Jasmine yang menenangkan putrinya itu.
Cukup lama bisa menenangkan gadis kecilany itu, sampai Rio yang biasanya punya cara untuk menenangkan putrinya, kini tidak mampu. Bahkan kedua kakek dan neneknya juga sekarang ikut turun tangan, juga tidak mampu untuk membujuk Celyn.
"Sayang, jangan sedih dong! nanti mama jadi sedih. Celyn tahu tak, kalau Celyn sedih, mama juga jadi sedih . Itu berarti, adik bayinya juga sedih. Celyn sudah tidak sayang mama sama adim bayi lagi ya?" Jasmine memakai jurus terakhirnya, yaitu memasang raut wajah sedihnya. Karena dia tahu kalau Celyn tidak akan pernah tega membiarkan mamanya bersedih.
__ADS_1
Usaha Jasmine akhirnya membuahkan hasil, tangisan Celyn berangsur-angsur berhenti.
"Maafin Celyn, Ma. Celyn tidak akan nangis lagi. Celyn sudah ikhlas kalau bonekanya hilang. Dedek bayi jangan sedih ya, maafin kakak!" ucap Celyn sambil mengelus perut mamanya yang mulai sedikt membuncit.
Celyn kembali masuk ke dalam kamarnya dan naik ke atas tempat tidur. Dia lalu kembali melanjutkan memakaikan gaun pink barbie itu ke tubuh boneka barunya.
Jasmine merasa lega, melihat putrinya yang sudah tidak menangis lagi, demikian juga Rio dan kedua orang tua Jasmine. Tanpa mereka sadari kalau sekarang, Celyn sedang dirundung rasa bersalah yang sangat besar, merasa gagal menjaga benda pemberian Aby.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senyum di bibir Anin tidak pernah menyurut, pagi ini. Walaupun cuacanya mendung, dan membuat kebanyakan orang malas untuk beranjak dari tempat tidur, Anin tetap menganggap pagi ini pagi yang cerah. Kenapa? ya karena pagi ini hari pertamanya akan bersekolah kembali.
"Wah, putri mama bahagia banget pagi ini, sudah siap mau berangkat sekolah ya?" tanya Amanda yang juga sudah tampil rapi. Wajah Amanda tetap terlihat bahagia, walaupun tadi malam Ardan menyerangnya, sehingga membuat dia kurang tidur.
"Iya dong, Mah! sahut Anin dengan binar yang terpancar jelas di manik matanya.
Amanda tersenyum dan turut bahagia melihat kebahagiaan putrinya.
"Ayo kita berangkat!" ucap Ardan menghentikan interaksi istri dan putrinya itu.
"Ayo, Pah!" ucap Anin dengan mantap.
Amanda dan Ardan serta kedua anaknya itu pun, akhirnya meninggalkan rumah setelah pamit pada Rudi dan Amara terlebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ken, Vin, kita ke kelas adikku, yuk!" ajak Aby pada Kenjo dan Calvin. Dia ingin melihat keadaan Anin, apakah baik-baik saja atau tidak, sesuai amanat papanya tadi.
"Ya udah ayo, kami juga ingin menyapa adik kamu." sahut Kenjo yang diangguki kepala oleh Calvin.
Sesampainya di depan kelas adiknya, Aby berdiri di ambang pintu, dengan mata yang mengedar mencari keberadaan adiknya itu. Pandangannya langsung berhenti ketika dia melihat adiknya duduk satu meja dengan Celyn.
__ADS_1
Kemudian, Aby mengayunkan kakinya melangkah masuk menghampiri kedua gadis kecil itu. Sementara itu, Celyn langsung menundukkan kepalanya, begitu melihat Aby dan kedua temannya menghampiri mejanya.
"Anin, bekalnya sudah kamu makan?" tanya Aby lembut.
"Sudah, Kak!" sahut Anin, dengan senyum manisnya. Kemudian dia mengalihkan tatapannya pada, Kenjo dan Calvin.
"Hai, Kenjo, hai, Calvin." sapanya sambil melambaikan tangan, pada dua orang yang sempat menjadi teman sekelasnya dulu, sebelum dia divonis sakit.
"Hai juga! welcome back to our school!" seru Kenjo, dengan senyum yang mengembang. Demikian juga Calvin mengucapkan hal yang sama. Kenjo dan Calvin juga tidak lupa untuk menyapa Celyn, dan gadis kecil itu menanggapi hanya dengan senyuman tipis.
Ekor mata Aby bergerak melirik ke arah Celyn yang hanya menunduk saja. Biasanya gadis kecil itu pasti menyapa kalau bertemu dengannya, tapi kali ini Celyn terlihat diam saja dan bahkan tidak mau melihatnya.
"Hei, cengeng! boneka kamu sudah ketemu belum?" tanya Aby, untuk memastikan kalau mamanya sudah membelikan yang baru buat Celyn.
"Su-sudah, Kak!" sahut Celyn gugup, merasa bersalah sudah berbohong pada Aby. Celyn merasa kalau Aby akan kecewa nantinya jika barang yang dia kasih, sudah benar-benar hilang.
"Bagus deh!" ucap Aby, yang merasa lega dan mengurangi rasa bersalahnya yang menyembunyikan boneka Celyn.
"Syukurlah, akhirnya aku aman." bisik Aby pada dirinya sendiri.
"Nin, kakak kembali ke kelas dulu ya, kamu baik-baik di sini!" ucap Aby, lembut, dan Anin menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
"Nin, kamu enak ya punya kakak yang perhatian seperti kak Aby? dia sayang banget sama kamu dan perhatian." ucap Celyn, setelah Aby dan kedua sahabatnya itu sudah keluar dari dalam kelas mereka.
"Iya, dia memang kakak yang terbaik!" sahut Anin.
"Aku ingin deh dianggap adik juga sama, Kak Aby. Soalnya aku ingin punya seorang kakak, biar ada yang perhatiin sama sepertimu. Tapi, Kak Aby kayanya gak mau punya adik seperti aku. Padahal aku sudah berusaha untuk sama seperti kamu, tidak cengeng. Kalau jatuh, aku sudah tidak mau menangis lagi, walaupun sakit. Tapi, Kak Aby tetap gak suka sama aku. Dia tetap nggak mau, punya adik seperti aku," ujar Celyn dengan wajah sendu.
"Hmm, maafin Kak Aby ya. Dia memang seperti itu, tapi dia baik kok, dan dia benar-benar tidak membencimu." ucap Anin sambil menepuk-nepuk pundak Celyn dengan lembut.
Tbc
__ADS_1
likenya dikencengin dong gais, please.🙏 Jangan lupa buat vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh😍