
"Hei, jadi aku benar-benar ditinggal nih?!" seru Calvin, kesal.
"Sama aku aja Kak," suara cempreng seorang wanita, mengagetkan Calvin.
Calvin menoleh ke arah suara yang baru saja menyapanya itu. Dia mengembuskan napasnya, melihat gadis remaja yang sedang tersenyum manis padanya.
"Cantika! kamu ngagetin kakak aja? kenapa kamu ke sini? Kamu gak punya teman ya?" Ya, yang menyapanya adalah Cantika, putri Bagas yang masih berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA.
"Enak aja bilang kalau aku nggak punya teman, yang ada, kakak yang nggak punya teman," Cantika, menggerutu dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Aku tuh cuma kasihan lihat kakak ditinggal sendiri, makanya aku berbaik hati mau nemenin Kakak, tapi sekarang aku berubah pikiran, kakak kayanya gak butuh teman. Aku pergi, Bye!" Cantika melambaikan tangannya, dan beranjak pergi.
"Hei ... Cantika, tunggu! kakak mau kok ditemenin!" Calvin memanggil kembali gadis remaja itu.
"Ogah! biar nyamuk aja yang nemenin, Kakak!" ucap Cantika sembari menjulurkan lidahnya.
"Dasar cewek, rese!" umpat Calvin, kesal.
"Siapa yang kamu maksud cewek rese?"
Calvin tersentak kaget mendengar suara bariton yang terdengar datar dan mengintimidasi dari arah belakangnya. Calvin dengan perlahan memutar kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berbicara dengannya itu.
"Eh, Om Bagas, i- itu Om, tadi ada gadis rese entah siapa, aku pun nggak kenal." sahut Calvin dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa yang nggak kenal? bukannya yang kamu maksud Cantika?" Aura Bagas semakin mengintimidasi. Ada kesenangan tersendiri baginya melihat wajah pucat Calvin.
"Bu-bukan, Om. Om salah lihat! Aku pergi dulu ya,Om!" Calvin mengayunkan langkahnya dengan cepat menghindari Bagas.
"Aku kok jadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya sih? terlantar di tengah keramaian." Calvin menggerutu di dalam hati.
"Atau aku gabung sama mereka, nggak papa kali ya," Calvin menatap ke arah tiga remaja laki-laki yang tidak lain, Adrian, Rico dan Brian.
"Ah, mending aku pulang aja lah! Dasar sahabat tidak ahklak mereka berdua." Calvin merutuki Aby dan Kenjo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Celyn mengrenyitkan keningnya mendengar ada yang menekan bel rumahnya.
"Siapa itu? kalau mama sama papa, kenapa mereka harus memencet bel segala?" batin Celyn.
Di tengah kebingungannya, dia dikagetkan oleh bunyi ponselnya yang berdering. Celyn meraih ponselnya dan melihat ada panggilan dari Kenjo.
"Iya, Kak," ucap Celyn.
"Aku ada di bawah, jadi tolong buka pintunya sebentar!" sahut Kenjo dari ujung telepon.
"Iya,Kak, tunggu aja di bawah!" Celyn segera mematikan panggilan dan segera beranjak turun untuk membukakan pintu.
"Lho, Kakak kok datang kemari? bukannya seharusnya kakak ada di rumah Om Ardan?" tanya Celyn ketika dia membukakan pintu.
"Kakak dengar kamu sakit, jadi kakak buru-buru datang ke sini, kamu sakit apa?" Kenji menyentuh kening Celyn.
"Badanmu tidak panas, jadi kamu sakit apa? raut wajah Kenjo terlihat khawatir, hingga membuat Celyn terkekeh geli.
"Aku hanya pusing saja Kak, jadi tidak perlu khawatir. Oh ya kakak mau masuk, atau mau di luar saja?"
"Kakak, kesini tiba-tiba, apa tidak takut kalau Anin salah paham? Celyn kembali buka suara setelah dia menyusul Kenjo, duduk.
"Salah paham kenapa?" alis Kenjo bertaut, kurang mengerti dengan ucapan Celyn yang menurutnya ambigu.
"Kakak tidak takut kalau Anin berpikir, kakak suka sama aku?"
Kenjo tersentak kaget tidak sempat berpikir ke arah situ. Yang dia pikirkan dia ingin cepat-cepat ingin melihat keadaan Celyn yang sudah dianggapnya adik sendiri.
Kenjo akhirnya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, sejujurnya mendengar ucapan Celyn, hatinya sekarang merasa gusar, dan takut kalau Anin salah paham.
"Hmm, kenapa dia mesti salah paham? aku rasa dia akan biasa aja, karena dia kan tidak memiliki perasaan sedikitpun untukku," ujar Kenjo lirih, apalagi mengingat interaksi antara Anin dan Calvin, menambah keyakinan pada dirinya kalau Anin tidak memiliki perasaan cinta secuil pun untuk dirinya.
"Tapi kenapa yang rasa dan yakini, kok beda ya? Aku merasa dan sangat yakin kalau Anin juga menyukai kakak, percaya deh, Kak!" ujar Celyn dengan sangat yakin.
Kenjo tercenung, bergeming, ada perasaan senang sekaligus sedih mendengar perkataan Celyn. Kemudian dia menghela napasnya dan tersenyum tipis ke arah Celyn.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Sudahlah kita jangan bahas dia di sini. Aku datang ke sini bukan mau bahas Anin, aku ke sini mau melihat keadaanmu."
"Kenapa sih Kak Kenjo tidak ngungkapin aja perasaan kakak yang sebenarnya? setidaknya Kak Kenjo tahu bagaimana perasaan Anin ke kakak." Celyn masih tetap kekeh membicarakan Anin.
"Tidak segampang itu, banyak yang harus aku pertimbangkan," raut wajah Kenjo berubah sendu.
"Apa yang harus dipertimbangkan? Kakak jangan terlalu banyak pertimbangan. Nanti kalau terlalu banyak pertimbangan, Anin keburu sama orang lain, apa kakak mau seperti itu? perempuan itu butuh kepastian kak, "
Kenjo kembali bergeming, tidak berpikir ke arah sana.
"Ah, sudahlah! kalau dia bersama orang lain, berarti dia bukan jodohku. Kalau kami memang ditakdirkan berjodoh pasti kami akan bersatu juga, jadi biarkanlah berjalan sebagaimana mestinya." Kenjo menyunggingkan senyum tipisnya.
"Tapi,Kak __"
"Celyn, bukannya kakak sudah bilang, kalau kakak datang ke sini bukan untuk membahas Anin? Kakak ke sini mau melihat keadaanmu," ucap Kenjo dengan melakukan penekanan pada kata keadaanmu.
"Iya deh kak, maaf. Aku baik-baik saja Kak. cuma sedikit pusing saja. Dibawa tidur nanti juga bakal baik-baik saja." Celyn tersenyum dengan begitu manisnya, menenangkan Kenjo.
Kenjo, balas tersenyum. Kemudian dia mengacak-acak rambut Celyn dengan sayang.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap interaksi mereka dari dalam mobil. Tangan pemilik sepasang mata itu, mencengkram kemudi dengan kencang dengan rahang yang mengeras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi menyusuri jalanan kota Jakarta yang mulai sepi.
Entah setan mana yang berbisik padanya untuk meninggalkan perayaan aniversary orangtuanya. Dan entah setan mana yang menuntunnya membawa mobil menuju rumah wanita yang dia abaikan selama ini, dan entah setan mana yang merasukinya, merasa kesal, sesak dan khawatir bercampur aduk melihat pemandangan interaksi sepasang insan yang menurutnya bisa dikatakan romantis.
Aby memasuki pekarangan rumahnya. Dia melihat tidak ada lagi mobil-mobil para tamu yang terparkir di sana, pertanda kalau para tamu sudah pulang dan pesta telah usai.
"Kamu darimana Aby? kenapa kamu tidak terlihat di acara? mama mencarimu kemana-mana," Amanda langsung mencecar Aby, begitu melihat kepulangan putranya itu.
"Aby capek, Ma. Aby masuk ke kamar dulu!" bukannya menjawab pertanyaan Amanda, dengan sedikit berlari Aby langsung naik ke atas menuju kamarnya.
Tbc
__ADS_1
kencengin like,vote dan komennya dong gais🙏😍🤗