
Adrian duduk menyendiri di sebuah ayunan di belakang mansion. Hatinya sekarang sedang sedih bercampur marah, begitu tahu kalau Aby akan menikah dengan Celyn, wanita yang dia kagumi selama ini. Adrian merasa kalau kakaknya Aby tidak pantas buat Celyn. Karena yang dia tahu kakak laki-lakinya itu, tidak mencinta Celyn sama sekali.
"Arghhhh, kenapa jadinya begini sih? kenapa tidak aku saja yang menikah dengan, Kak Celyn? Kenapa yang jadi masalah hanya karena usia, usia dan usia?" Adrian menggerutu di dalam hati, sembari mengusap rambutnya dengan kasar.
"Kamu kenapa menyendiri di sini? apa kamu masih kesal, karena Kak Aby akan menikah dengan Celyn?" ucap Anin yang tiba-tiba muncul dan langsung mendaratkan tubuhnya duduk di samping Adrian.
Adrian diam saja, dan tidak ada niat untuk menjawab, karena menurutnya Anin sudah tahu jawabannya.
"Rian, apa kamu merasa kalau kamu benar-benar mennyukai Celyn?"
Lagi-lagi Adrian tidak menjawab. Dia hanya melirik, tidak suka dengan apa yang ditanyakan oleh kakak perempuannya Anin. Dia merasa kalau Anin sekarang sedang meragukannya.
"Rian, sebenarnya, perasaan yang kamu miliki itu bukan cinta, tapi hanya sekedar mengagumi. Kamu itu masih terlalu muda untuk mengatakan kalau kamu mencintai Celyn." Anin tetap saja, berbicara walaupun adik laki-lakinya itu tidak memberikan respon sedikitpun dari semenjak dia datang.
"Kakak jangan sok tahu! yang merasakannya bukan Kakak, tapi aku." kali ini Adrian merespon, merasa tidak suka dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh Anin.
"Kakak tahu, bukan sok tahu. Rian, apakah kamu tahu kalau Celyn itu menyukai Kak, Aby?"
Adrian terkesiap dan sontak menoleh ke arah Anin. "Kakak, jangan mengada-ada!" Adrian menggelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Aku berkata yang sebenarnya, Yan. Celyn sudah sangat lama, mungkin mulai dari kecil sudah menyukai Kak Aby. Selama ini dia berusaha untuk membuat Kak Aby, merasakan rasa yang sama seperti yang dia miliki. Jadi, bisa menikah dengan Kak Aby, sudah menjadi impiannya sejak dulu. Menurut kakak, jika kamu memang benar-benar menyayangi, Celyn, kamu harus mendoakan agar pernikahan kak Aby dan Celyn berjalan lancar dan Kak Aby bisa mencintai Celyn juga," terang Anin, membuat Adrian tercenung.
Keheningan terjeda cukup lama. Anin sengaja tidak berbicara lagi, membiarkan Adrian memikirkan kata-katanya tadi.
"Kak, apa sih kurangnya aku dari kak, Aby? kenapa semua orang- orang menyukainya? tanya Adrian.
"Kamu itu tidak ada kurangnya. Kamu itu sama seperti Aby, karena kalian berdua sama-sama anak papa," tiba-tiba Ardan muncul dan menyahuti pertanyaan Adrian.
"Itu benar sekali! kalian berdua, sama-sama tampan, dan pintar. Buktinya, kamu juga sudah kuliah di usia kamu yang masih 17 tahun." Anin menimpali ucapan Ardan papanya.
__ADS_1
"Setiap orang itu berbeda, Rian, sekalipun itu sedarah. Kalian berdua, itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi satu yang pasti, kalian itu sama-sama anak papa dan mama. Jangan sampai, karena ingin sekali seperti Aby, kamu jadi lupa sama kemampuan dirimu sendiri. Tetaplah jadi diri sendiri,Nak! Jangan memaksakan diri untuk bisa seperti orang lain. Kamu tidak akan bahagia." Ucap Ardan memberikan nasehat, sadar kalau putranya yang masih remaja itu masih labil dan ingin sama persis dengan kakaknya Aby.
Adrian menyunggingkan senyum simpul di bibirnya, menyadari kekeliruan dirinya selama ini, yang mempunyai keinginan untuk bisa sama persis dengan Kakaknya Aby. "Ya, mulai sekarang aku akan menjadi diriku sendiri, Pa. Dan aku tidak akan iri lagi pada Kak Aby." ucap Adrian tegas. Membuat Ardan tersenyum dan langsung memeluk putra bungsunya itu.
"Kakak juga yakin, kalau suatu saat kamu pasti akan menemukan wanita yang benar-benar kamu cintai, bukan hanya sekedar mengagumi." celetuk Anin, yang membuat Adrian mencebikkan bibirnya.
"Jangan cuma asal bicara, kamu juga harus ingat umur! umurmu sudah 25 tahun, sudah pantas untuk menikah," gantian Anin yang mengerucutkan bibirnya, mendengar sindiran Ardan papanya. Sedangkan Adrian tergelak menertawakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby kembali merasakan perutnya bergejolak seperti diaduk-aduk. Aby berlari ke dalam kamar mandi, untuk memuntahkan isi perutnya.
Sudah beberapa hari ini, Aby selalu merasakan hal yang sama dan hal itu benar-benar sangat menyiksa.
Aby meraih ponselnya dan mencari kontak Celyn di ponselnya tersebut. Dia melihat kalau kontak itu masih dia beri nama si pengganggu.
"Cel, kamu bisa datang ke kantorku? aku muntah-muntah lagi. Tolong kamu bawakan makanan yang kamu masak sendiri ya, bisa kan?" ucap Aby tanpa berbasa-basi terlebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby terlihat sangat lahap memakan makanan yang dibawa oleh Celyn setelah hampir dua jam lebih menunggu. Sedangkan Celyn, dia minta wanita itu untuk duduk di sampingnya, dan dilarang untuk pergi kemana-mana.
Perubahan yang terjadi pada Aby membuat Celyn bahagia, tapi dia tidak bisa menutupi kemungkinan kalau dia juga merasa bingung dengan keanehan yang terjadi pada pria yang dalam hitungan hari akan menjadi suaminya itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa kamu mau makan juga?" tanya Aby, yang ternyata menyadari kalau wanita itu dari tadi selalu menatapnya.
"Ti-tidak, Kak!" Celyn gelagapan karena tersentak kaget, ketangkap basah kalau dia sedang menatap Aby.
Aby mengangkat bahunya, dan kembali menyantap makanan yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Apa makanannya sangat enak? sampai kakak makan begitu lahap?" akhirnya Celyn memberanikan diri untuk bertanya, sekaligus ingin mendengar Aby memuji masakannya.
"Hmm, sebenarnya sih biasa saja. Tapi lumayanlah. Setidaknya masih pantas untuk dijadikan makanan manusia." sahut Aby, santai. Benar-benar tidak sesuai ucapan dengan tindakannya, yang tampak sangat menikmati makanan itu.
Celyn menghela napasnya dengan sekali hentakan untuk menutupi kekesalannya, atas jawaban Aby, yang secara tidak langsung menyebut masakannya biasa saja.
Ekor mata Aby bergerak, melirik ke arah Celyn yang kini dalam posisi mencebik. Aby tersenyum samar, nyaris tidak terlihat, merasa lucu dengan sikap Celyn.
Aby menyendok makanan yang ada di depannya, dan menyodorkannya ke mulut Celyn, membuat wanita itu gelagapan, dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Aaa, buka mulutmu! biar kamu merasakan dan menilai sendiri masakanmu." ucap Aby.
"Ayo, buka mulutmu!" desak Aby, karena saking gugupnya, Celyn seakan lumpuh, dan bahkan untuk membuka mulut saja dia tidak mampu.
"Kenapa diam sih? apa susahnya buka mulut? apa kamu merasa jijik makan dari sendok yang sama denganku?
Celyn sontak membuka mulutnya dan langsung menyambut sendok yang berisi makanan yang disodorkan oleh Aby.
"Bagaimana? enak atau tidak?" tanya Aby dengan senyuman tipisnya. Celyn tidak menjawab karena mulutnya sedang mengunyah. Tapi dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Makanan yang ada di hadapan Aby akhirnya ludes tak bersisa. Celyn merasa senang karena melihat Aby sangat menikmati makanan yang dia masak sendiri. Bahkan Aby, sesekali menyuapkan makanan itu ke mulut Celyn menggunakan sendok yang sama, tanpa merasa jijik sama sekali.
"Kak, apa tidak lebih baik, kakak ke dokter saja, konsultasi kenapa, kakak bisa muntah-muntah terus?" tanya Celyn sambil membereskan tempat makanan mereka.
"Tidak perlu! sepertinya ini karena anak yang ada di dalam perutmu itu, benar-benar menginginkan aku jadi papanya." sahut Aby santai, tapi sangat menyentuh buat Celyn.
"Oh ya, boleh aku mengelus perutmu?" tanya Aby yang merasa tiba-tiba ingin mengelus perut Celyn.
Tbc
__ADS_1
Seperti biasa, aku mohon dukungannya dong gais, please like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh, 😁😁😁