
"Lupakan! aku tidak mengenalmu." Clara berdiri sendiri, sambil menepis uluran tangan Bagas.
Bagas, memperbaiki cara berdirinya menjadi tegak serta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Apa kamu butuh dibawa ke dokter?" tanya Bagas dengan mata yang melirik ke arah luka di lutut Clara.
"Tidak usah sok baik. Aku bisa pergi sendiri. Cuma, aku mau peringatkan kamu, supaya fokus dan hati-hati bawa mobil." ketus Clara.
"Hey, yang tidak hati-hati itu kamu. Makanya kalau menyebrang itu harus lihat samping kiri kanan." Bagas tidak mau kalah.
Clara memutar matanya jengah, menghadapi pria yang menurutnya sombong dari awal bertemu.
"Terserah kamu deh. Aku mau pergi dulu! lama-lama di sini, darahku bisa naik menghadapi kamu." Clara beranjak dengan kaki yang sedikit pincang meninggalkan Bagas setelah selesai mengucapkan kata-katanya.
"Dasar gadis aneh!" umpat Bagas seraya memperhatikan Clara dari belakang. Setelah itu dia melihat jalanan tempat dia berdiri sekarang, tepat di bawah telapak kakinya tampak garis putih dan hitam, yang sering disebut orang dengan 'zebra cross'.
"Ternyata aku yang salah. Dia menyebrang di tempat yang benar. Ah ... bodo amatlah. Toh dia gak pa-pa juga," Bagas memutar badannya dan melangkah kembali masuk ke dalam mobilnya.
Dari dalam mobil dia melihat, wanita itu duduk di sebuah halte, dan sepertinya sedang menunggu bus datang.
"Apa aku tawarkan aja ya, buat ngantar dia pulang?" gumam Bagas, dengan mata yang tidak lepas menatap Clara yang terlihat sesekali meniup luka di lututnya.
"Aku antar aja deh," Bagas baru saja akan melajukan mobilnya untuk menghampiri Clara, akan tetapi, dia sudah keduluan oleh bus yang sudah berhenti tepat di depan Clara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan terlihat menggaruk-garuk dagunya memikirkan bidak apa yang akan dia jalankan saat sedang bermain catur dengan Aby. Ini sudah kali keempat mereka main, dan skor yang mereka dapat, Aby dua dan Ardan satu. Ardan berharap permainan kali ini bisa dimenangkan olehnya, agar imagenya sebagai raja catur ketika kecil dulu, tidak luntur, khususnya di depan papanya yang sedang menonton permainan mereka, seakan berperan sebagai wasit
Aby terlihat santai demikian juga Ardan. Satu-satunya yang tidak santai dan gregetan adalah Rudi sang wasit.
"Cepat, Dan! kamu lama banget sih bergeraknya!" seru Rudi tidak sabaran.
"Sabar, Pah! semuanya harus pakai strategi. Pantasan aja papa kalah terus. Mainnya asal-asalan sih." sahut Ardan.
"Halah, bilang saja kamu sudah kalah strategi. Dilihat dari sudut manapun, Aby sudah lebih unggul dan kamu sudah akan kalah." sindir Rudi dengan menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum sinis.
"Pah, udah deh! kalau papa masih berisik, aku gak bisa konsentrasi nih." Ardan sudah mulai terlihat kesal.
Rudi pun menutup mulutnya, tidak mau membuat Ardan kesal. Karena yang rugi dia sendiri. Nantinya dia tidak ada lagi tontonan seru baginya, jika Ardan menghentikan permainannya.
__ADS_1
Ardan mengangkat bidak catur kuda dan langsung memakan yang bidak yang namanya gajah, sehingga posisi Raja Aby benar-benar terancam.
Tanpa berpikir lama, Aby dengan sigap menyelamatkan raja miliknya dengan bersembunyi di samping bidak catur yang namanya benteng.
Pertandingan mereka berdua berlangsung cukup alot, sampai tiba-tiba Ardan benar-benar mati langkah. Kali ini ternyata Aby tidak memakai strategi 'skakmat 4 langkah'. Kali ini Aby bermain strategi 'mempersempit gerakan lawan'.
"Kayanya mama memanggil, papa. Papa ke kamar dulu ya," Ardan berdiri dengan sigap, dan langsung melangkah dengan sedikit berlari menaiki anak tangga, sebelum dia benar-benar kalah dari Aby, yang otomatis mempermalukan dirinya di depan Rudi, papanya.
"Hei, mana ada Amanda memanggilmu! kamu takut kalah ya?!" teriak Rudi, kesal.
"Ya udahlah, Opa. Mungkin mama memang memanggil papa. Kalau gitu Opa aja yang main sama Aby yuk!" tawar Aby dengan manik mata yang berbinar.
"Oh, maaf By. Sepertinya Oma kamu juga memanggil, opa. Opa ke kamar dulu ya," Rudi dengan langkah panjang, segera menghindari Aby, dan buru-buru naik ke atas.
Tiba-tiba dari arah dapur terlihat Oma Amara, dan Amanda, berjalan beriringan dengan membawa gelas berisi minuman untuk suami masing-masing.
"Lho, By, kamu kok sendiri, papa sama opa mana?" tanya Amanda dengan mata yang mengedar mencari keberadaan suami dan ayah mertuanya itu.
"Kok nanya sama Aby? bukannya tadi mama panggil, papa dan Oma manggil opa?" tanya Aby dengan kening yang berkerut.
Amara melihat papan catur yang permainan masih nanggung.
"Yang putih, Oma. Ada apa?" tanya Aby, dengan raut wajah bingung.
Senyum Amara sontak terbit dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh, pantas dua orang itu tiba-tiba menghilang." ujarnya yang semakin terasa ambigu buat Amanda dan Aby.
"Apa hubungannya coba, dengan tidak adanya papa sama Mas, Ardan dengan bidak warna putih?" batin Amanda.
"Mereka berdua, gak mau malu kalau kalah sama Aby," bisik Amara di telinga. Amanda.
Amanda sontak melihat ke arah papan catur. Kemudian saling silang pandang dengan ibu mertuanya. Tanpa saling berkata sepatah katapun, tawa mereka seketika pecah. Lalu melangkah menuju kamar masing-masing. Sekarang tersisa hanya satu orang yang kebingungan. Siapa lagi dia kalau bukan Aby.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan ternyata tidak benar-benar masuk ke dalam kamarnya dan Amanda. Dia lebih memutuskan untuk melihat keadaan Anin putrinya.
"Putri papa lagi ngapain, hem?" tanya Ardan sambil mengelus lembut kepala sang anak, yang sudah mulai ditumbuhi dengan rambut-rambut pendek.
__ADS_1
"Biasa, Pah. Anin lagi menggambar." sahut Anin tersenyum bahagia melihat kehadiran papanya.
"Wah, gambaran kamu semakin hari semakin bagus, Sayang." Ardan mencium puncak kepala Anin dengan lembut.
"Terima kasih, Pah!" ucap Anin tulus tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
"Oh ya, Pah, sebenarnya berapa lama lagi Anin harus tetap berada di kamar ini? Anin sudah sangat bosan dan ingin bermain di luar." Ucap Anin mulai mengungkapkan keinginannya.
"Sabar ya, Sayang. Kata Dokter Ridwan, sebentar lagi kamu pasti sudah bisa main di luar." ucap Ardan sambil, meyakinkan putrinya itu.
"Tapi, sebentarnya itu kapan,Pah? dari kemarin-kemarin setiap aku tanya, selalu jawabnya sebentar saja. Apa Anin masih sakit dan belum sembuh, Pah?" tanya Anin dengan wajah yang terlihat seperti ingin menangis.
Ardan kembali tersenyum dan mengangkat Anin ke pangkuannya.
" Anin sudah sembuh. Tapi Anin butuh yang namanya pemulihan, supaya sakit Anin tidak datang lagi. Anin tidak mau sakit lagi kan?" tanya Ardan dengan lembut dan Anin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Pah, apa papa dan mama sudah memberikan adik bayi buat Anin?"
"Hmm, belum. Tapi papa dan mama akan memberikannya segera. Kamu sabar saja ya." Anin menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Ardan
"Oh ya, Pah, bolehkah Anin bertanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh. Anin mau nanya apa, hem?" intonasi suara Ardan benar-benar lembut, sangat jauh berbeda dengan dia yang biasa.
"Pah, kenapa adik bayi itu harus di dalam perut lebih dulu? siapa yang memasukkannya ke dalam perut mama? dan dari mana bayinya dimasukkan?" tanya Anin beruntun, membuat wajah Ardan kemerahan bingung mau menjawab apa.
" Kapan-kapan saja Papa menjawabnya ya, soalnya jawabannya panjang sekali. Padahal sekarang, sudah waktunya Anin tidur, biar cepat sembuh dan bisa main di luar. Sini papa bacain dongeng buat Anin." Ardan langsung mengalihkan pembicaraan, dan untungnya Anin tidak membantah sama sekali.
"Mudah-mudahan besok kamu lupa dengan apa yang kamu tanyakan,Nak." batin Ardan penuh harap.
TBC
Pertanyaan Anin adalah pertanyaan yang ditanyakan oleh, anak sulung saya yang berusia 7 tahun. Ada lagi tambahannya. "Darimana bunda bisa tahu, kalau di perut bunda sudah ada adek bayi? apakah dengan muntah-muntah, itu berarti sudah ada adek bayi di dalam perut? soalnya tadi Jhojo muntah, apakah di dalam perut Jhojo ada adek bayinya? "
Pusing gais, mikir mau jawab apa. Ada yang bisa membantuku untuk kasih jawaban?😁🤣😌😌
Oh ya, jangan lupa buat ninggalin jejak jempolnya ya gais, kalau berkenan vote, dan komen serta kasih hadiah.
Readers: Banyak maunya loe Thor.
__ADS_1
Author: maap😒😒😒