Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kabar bahagia


__ADS_3

"Kenapa kamu, Sob, lemas amat? kebanyakan ya tadi malam?" ucap Calvin dengan nada yang meledek, melihat wajah Kenjo yang pucat dan seperti tidak punya semangat.


"Hahaha, iya tuh! makanya jangan buka baju terus, masuk angin kan jadinya." Aby menimpali ledekan Calvin.


"Kalian berdua bisa diam gak sih? kebanyakan apa? yang ada semalaman aku pusing." jawab Kenjo, kesal.


"Pusing kenapa? pusing karena dikasih jatah sama Anin? kasihan, padahal pesawat udah siap mendarat, landasannya yang gak siap. Hahahaha," Calvin semakin gencar meledek.


"Cal, kamu punya nyawa berapa?" tanya Kenjo ambigu.


"Satulah emang kenapa?" Calvin mengrenyitkan keningny, bingung.


"Kamu sangat beruntung. Seandainya nyawamu ada sembilan seperti kucing, delapan kali, aku akan menghilangkan nyawamu."


"Wih, sadis amat sih kamu!"


"Makanya jangan asal ngomong, takutnya aku khilaf, nyawamu yang satu itu, aku cabut setengah. Jadi kamu setengah hidup setengah lagi mati."


"Sialan!" umpat Calvin yang dibalas dengan gelak tawa dari Aby.


"Apaan sih By? kamu belain siapa sebenarnya? tadi bukannya kamu juga ikutan ngeledek dia?" protes Calvin.


"Tentu saja aku belain Kenjo. Kamu lupa kalau dia itu adik iparku?" jawab Aby, yang membuat Calvin ingin membanting pintu, saking kesalnya.


"Tapi, serius deh Ken, kamu kenapa sih sebenarnya? wajah kamu pucat banget soalnya," kali ini, Aby berbicara dengan serius.


"Aku juga bingung. Belakangan ini, bawaannya, aku lemas banget. Dan hanya bisa dekat dengan Anin. Kalau sudah dekat dengan Anin, aku bisa nyaman dan terlihat baik-baik saja." jawab Kenjo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Aby tercenung, merasa seperti pernah mengalami hal yang dialami Kenjo sekarang.


"Tapi, apa ya?" Aby berusaha untuk mengingat.


Tiba-tiba di bibir Aby, terlihat seulas senyuman yang cukup misterius. "Hmm, sepertinya aku tahu apa yang kamu alami sekarang. Karena ini sama persis seperti yang aku alami." cetus Aby, ambigu.


"Maksud kamu apa? kalau kamu tahu, aku sakit apa?" tanya Kenjo antusias.


"Nanti kamu akan tahu juga. Jadi sebaiknya kamu ikut aku ke dokter dan ajak Anin sekalian. Mudah-mudahan apa yang ada di pikiranku benar." tutur Aby yang semakin membuat Kenjo bingung. Bukan hanya Kenjo, Calvin yang mendengar saja ikut merasa bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak, kenapa dengan suamiku? apa dia baik-baik saja?" cecar Anin begitu tiba di rumah sakit. Betapa kagetnya dia ketika tadi Aby memintanya untuk datang ke rumah sakit. Yang membuat dia panik karena kata-kata Aby, kakaknya. "Anin, kamu datang ke rumah sakit, karena Kenjo sedang diperiksa sekarang." ucap Aby, tadi.


"Dia tidak apa-apa. Sebentar lagi juga mungkin akan keluar dari dalam. Kamu sudah siap kan menjadi seorang ibu?" tanya Aby, ambigu.


"Maksud Kakak apa sih?Kenjo di dalam lagi diperiksa, tapi kenapa kakak malah nanyain, aku sudah siap jadi ibu? kan gak nyambung." cetus Anin, kesal.

__ADS_1


"Aku lagi khawatir karena belakangan ini Kenjo terlihat kurang sehat. Jadi, tolong kakak jangan tambahi beban pikiranku!" imbuhnya lagi, masi dengan mode kesal.


Aby tidak menanggapi, Omelan adiknya sama sekali. Dia justru semakin tersenyum misterius.


"By, bisa tidak kamu jangan tersenyum seperti itu? bukannya malah menenangkan, tapi membuatku ingin memilliki ilmu telepati. Aku ingin sekali masuk ke dalam pikiranmu, dan membaca apa yang ada dalam pikiranmu sekarang,"


Aby terkekeh mendengar celetukan Calvin yang terlihat sangat kesal sekarang.


Pintu ruangan poly itu, terbuka dan Kenjo keluar dari sana bersama seorang dokter.


"Apa istri Tuan Kenjo sudah ada di sini?" tanya dokter itu membuat hati Anin semakin was-was.


"Ada apa ini? apa suamiku punya penyakit parah?" batin Anin


"Aku istrinya, Dok? kenapa dengan suamiku, Dok? dia baik-baik saja kan?" cecar Anin dengan raut wajah yang sangat panik.


"Mbak, tenang dulu! Sekarang Mbak masuk dulu, karena ada sesuatu yang harus aku pastikan. Biarkan suami ibu di luar dulu sekarang."


Perasaan Anin semakin tidak karuan, mendengar ucapan dokter yang menyuruhnya masuk tanpa suami.


"Tebakanku sudah benar ini. Pasti Dokter ini mau membicarakan sesuatu yang sangat penting tentang penyakit suamiku. Oh Tuhan, apakah aku akan cepat menjadi seorang janda?" batin Anin, dengan kaki yang terasa kaku, seperti tidak bisa melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


"Ayo masuk, Mbak!" dokter itu mengulangi permintaannya.


"Silahkan duduk dulu, Mbak!" ucap dokter itu dengan ramah.


"Dok, bagaimana keadaan suamiku? dia baik-baik saja kan?" Anin langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Tenang, Mbak. Suami anda tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Justru sekarang yang harus diperiksa itu anda."


Anin mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Yang sakit suamiku, kenapa aku yang diperiksa?" tanya Anin dengan alis yang bertaut.


Dokter itu tidak menjawab. Dia justru tersenyum kecil ke arah Anin. "Mbak, apa bulan ini anda sudah telat datang bulan?"


"Hmm, aku gak tahu, Dok. Karena memang jadwal datang bulanku tidak teratur ( sama seperti author)" sahut Anin, seadanya.


"Maksudnya?"


"Aku tuh, kadang bulan ini pertengahan bulan. Eh, bulan berikutnya bisa tidak dapet dan dapet di awal bulan berikutnya. Seperti itu, Dok. Jadi tidak menentu. Karena itulah aku tidak pernah, menghitung jadwal kapan aku harus datang bulan."


Dokter itu mangut-mangut, mengerti.


"Tapi, kenapa Dokter menanyakan jadwal datang bulanku, Dok?"

__ADS_1


"Begini, Mbak. Aku curiga penyebab keadaan suami anda sekarang itu, karena Mbaknya sedang hamil. Mbak yang hamil, tapi suami anda yang mengalami mual, pusing dan ngidam. Sekarang, Coba, Mbak ke kamar mandi, dan cek pakai alat ini." Dokter itu memberikan sebuah benda, berupa alat tes kehamilan.


"Ha-hamil, Dok?" tangan Anin bergetar saat menerima testpack itu.


"Itu menurut dugaanku, Mbak. Sebaiknya anda cek dulu. Setelah hasil menunjukkan anda benar-benar hamil, anda dan suami anda, bisa langsung ke poli kandungan, untuk USG, berapa usia kandungan dan perkembangannya bagaimana."


Anin, berjalan ke kamar mandi dan segera melakukan test. Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi tanpa mau melihat hasil testnya, karena takut kecewa.


Anin meremas tangannya serta menggigit bibirnya, cemas mendengar hasilnya. Ani menatap tidak sabar ke arah Dokter yang sekarang terlihat tersenyum.


"Selamat ya,Mbak. Sesuai dugaanku. Anda benar-benar hamil."


Anin membesarkan matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Ha-hamil Dok?" Dokter itu mengangguk dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Sekali lagi selamat ya, Mbak! sekarang Mbak bisa keluar dan sampaikan berita bahagia ini pada suamimu. Dan aku sarankan, supaya periksa ke dokter kandungan,"


"Te-terima kasih, Dok!" Anin berdiri dan beranjak keluar dengan senyuman yang tidak tanggal dari bibirnya.


"Ada apa, Sayang?" Kenjo langsung menghambur ke arah Anin, begitu istrinya itu keluar dari dalam ruangan.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Aku justru---"


"Kamu hamil!" celetuk Aby menyela ucapan Anin.


"Apaan sih, Kak. Kenapa jadi kamu yang ngasih tahu?" protes Anin, sewot.


"Ha-hamil? kamu hamil?" Kenjo tidak peduli dengan siapa yang lebih dulu yang memberikannya kabar mengenai kehamilan Anin, yang jelas sekarang dia benar-benar ingin memastikan kebenaran kabar itu.


"I-iya, Sayang. Aku hamil!" ucap Anin, membuat Kenjo seketika speechless. Detik berikutnya dia memeluk erat sang istri dengan setitik butiran cairan bening keluar dari sudut matanya.


"Selamat ya, Sob!" ucap Calvin sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


"Terima kasih, Sob!" jawab Kenjo.


"Anin sudah hamil, Sob. Cantika kapan?"


"Tunggu tiga bulan lagi, Sob," bukan Calvin yang menjawab, tapi Aby yang menjawab dengan nada meledek.


"Sialan, kalian berdua!" umpat Calvin,kesal.


Tbc


Sambil menunggu ini up, boleh dong mampir ke karyaku yang lain. Ada You are my destiny, Cinta terhalang janji, dosenku kekasihku, dan yang baru Indonesia I'm in love. Atau klik aja profileku, semua karyaku akan langsung terlihat. Terima kasih🙏🏻😍

__ADS_1


__ADS_2