
Perjalanan ke rumah sakit, kali ini cukup mendebarkan bagi Ardan, walaupun dia setiap hari tetap pergi ke rumah sakit. Tapi kali ini rasanya begitu beda, karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan Amanda, setelah dia tahu kenyataan kalau wanita yang dia cari selama ini adalah Amanda. Ardan tidak menyangka, kalau wanita yang dia cari selama ini sudah berada dekat dengan dirinya.
Ardan memarkirkan mobilnya dengan sempurna di parkiran rumah sakit, disusul oleh mobil Rio dari belakang. Sebelum keluar dari dalam mobil, Ardan mengatur napasnya untuk sejenak. Kemudian dia pun membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
Tidak ada percakapan di antara mereka semua, saat berjalan memasuki rumah sakit. Kedua orang tua Ardan, Rio dan Jasmine pun tidak ada yang berniat mengajak Ardan untuk berbicara, karena mereka semua bisa mengeri bagaimana perasaan Ardan sekarang.
Ardan mempercepat langkahnya, untuk menghampiri Dokter Ridwan,dokter yang menangani Anin selama ini sedang berjalan dan sepertinya hendak menuju ruang PICU tempat Anin berada.
"Dokter Ridwan, tunggu!"
Merasa kalau ada yang sedang memanggil namanya, Dokter Ridwan pun menyurutkan langkahnya, dan memutar badannya, menoleh ke arah suara yang baru saja memanggilnya.
"Eh, Pak Ardan. Ada yang bisa saya bantu, Pak? tanya Dokter Ridwan seraya menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.
"Apa, dokter mau ke ruangan Anin?"
Dokter Ridwan mengangguk. "Iya, Pak! hari ini dia dijadwalkan akan kemoterapi. Ada apa ya Pak?" terlihat kening Dokter Ridwan berkerut menatap Ardan dengan manik mata yang penuh tanda tanya.
"Hmmm, begini Dok, aku mau melakukan test, apa tulang sumsum belakangku cocok dengan Anin atau tidak. Apa setelah Anin selesai kemoterapi, Dokter bisa melakukan test itu?" tanya Ardan, dengan penuh harap.
Raut wajah Dokter Ridwan terlihat berubah-rubah. Awalnya jidatnya yang terangkat ke atas, setelah itu matanya memicing dan diakhiri dengan alis yang bertaut. Tapi inti dari perubahan wajahnya itu, menunjukkan kalau dirinya sedang bingung.
"Aku papanya Anin, jadi aku mau melakukan test itu." Cetus Ardan sedikit dongkol melihat dokter yang menatapnya dengan tatapan heran.
"Hah?" Netra, Dokter Ridwan membesar dengan mulut yang sedikit terbuka.
Melihat Dokter Ridwan yang bergeming dengan ekspresi kagetnya membuat Ardan menggeram kesal. "Dok, kenapa diam saja?!" bentak Ardan membuat, Dokter Ridwan segera tersadar dari kekagetannya.
"Ma-maaf, Pak! aku hanya kaget saja
Kalau anda papanya, tapi kenapa tidak dari awal anda melakukan test? kenapa __"
"Jangan banyak tanya! sekarang anda cukup hanya menjawab pertanyaanku saja." Ardan terlihat sudah mulai kehilangan kesabarannya.
"Sabar, Sayang! jangan marah-marah!" Amara menepuk-nepuk pundak Ardan.
__ADS_1
"Baiklah, Pak Ardan! Tapi seandainya memang cocok, kita tidak bisa melakukan transplantasinya sekarang. Karena __"
"Kenapa tidak bisa?" Ardan yang tidak sabar, langsung menyela penjelasan, Dokter Ridwan.
"Pak Ardan,sabar dulu! saya belum selesai menjelaskan." sebenarnya hati, Dokter Ridwan sudah mulai agak kesal. Tapi dia berusaha untuk menekan kekesalannya, kalau masih mau tetap bekerja di rumah sakit ini.
"Anin baru saja selesai kemoterapi. Dan prosedurnya memang kalau mau melakukan transplantasi sel punca, atau tulang sumsum belakang, Kita harus melakukan proses penyesuaian, yang mana pasien harus dikemoterapi atau radioterapi dulu, dengan tujuan agar Menyiapkan sumsum tulang untuk sel punca baru,menekan sistem kekebalan tubuh dan menghancurkan sel-sel kanker. Tapi proses proses penyesuaian ini memerlukan waktu sekitar 5-10 hari, baru bisa melakukan transplantasi, Pak Ardan." Jelas, Dokter Ridwan dengan lugas dan detail.
Ardan terdiam, dan merasa sedikit kesal dengan prosedurnya. Dia pikir, kalau sudah cocok, bisa melakukannya hari itu ini juga.
"Baiklah! kalau begitu, sekarang kita melakukan test aja dulu, cocok atau tidak," ucap, Ardan pasrah.
"Sebelum melakukan test, ada baiknya kita melakukan pemeriksaan riawat kesehatan anda, Pak.Mulai dari Jantung, paru-paru, test darah dan kesehatan lainnya,baru nanti kita test uji kecocokannya." Kembali dokter menjelaskan.
"Tidak perlu! setiap bulan aku rutin chek kesehatanku, dan itu baru 3 hari yang lalu. Semua rekam medisku, baik adanya. Jadi aku ini sehat. Sekarang mari kita lakukan saja testnya."Titah Ardan tak terbantahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan begitu bahagia begitu mengetahui kalau tulang sum-sum belakangnya cocok dengan Anin. Tadi setelah selesai melakukan uji kecocokan, Dokter Ridwan sudah menjelaskan semua resiko yang kemungkinan akan terjadi, dan Ardan sudah mengerti dengan penjelasan Dokter itu. Ardan hanya berharap, Transplantasinya bisa berjalan dengan lancar, dan tubuh Anin bisa menerima dengan baik donor sumsum tulang belakang darinya.
Dengan memakai pakaian pelindung yang tentu saja sudah dijamin kesterilannya, Ardan masuk ke ruangan Anin bersama dengan Dokter Ridwan. Kedua netra Ardan langsung menangkap pemandangan yang menyejukkan. Dimana dia bisa melihat dua wajah wanita yang disayanginya selain mama Amara, sedang terlelap dengan tangan yang saling bertaut.
"Pak Ardan, anda harus bersyukur,memiliki Istri yang selain cantik, juga lembut,sabar dan kuat seperti ibu Amanda." terdengar suara Dokter Ridwan yang juga tengah menatap intens ke arah Amanda.
Ardan sontak menoleh ke arah Dokter Ridwan dengan sorot tatapan yang tajam dan dingin, membuat dokter itu bergidik ngeri sekaligus bingung dan bertanya dalam hati, ' dimana letak kesalahannya'.
"Turunkan tatapan anda, Dokter Ridwan! anda tidak boleh menatap Amanda, lebih dari 5 detik. Dan anda jangan sekali-kali memujinya, Aku tidak suka!" suara Ardan terdengar datar, tapi tidak bisa menyembunyikan aura yang 'mengintimidasi' dari ucapan Ardan.
"Ma-maaf, Pak Ardan! Aku tidak akan melakukannya lagi." Dokter Ridwan berucap dengan kepala tertunduk.
"Kali ini aku maafkan. Karena kamu menyebut Amanda itu istriku." Senyum Ardan mengembang dengan sempurna, dan baru kali ini Dokter Ridwan melihat Ardan tersenyum tulus seperti itu. Biasanya senyumannya akan selalu terkesan terpaksa.
"Hah, kenapa dia sesenang itu, hanya karena aku bilang Ibu Amanda istrinya? kan ibu Amanda,memang istrinya kan? Tapi aneh juga sih, aku tidak pernah mendengar kalau Pak Ardan sudah menikah, tapi kok tahu-tahu sudah punya anak aja. Atau jangan-jangan ...."
"Berhenti berpikiran aneh-aneh, Dok! Amanda wanita baik-baik! " bisik Ardan, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dokter Ridwan.
__ADS_1
Dokter Ridwan merasa tenggorokannya seperti tercekat, sehingga dia merasa sedikit kesulitan untuk bernapas. Dia merasa berdiri bersama Ardan di ruangan yang sama, membuatnya tidak leluasa untuk menghirup udara.
"Oh, Pak Ardan, aku akan membangunkan Ibu Amanda untuk anda," Dokter Ridwan bergerak dengan cepat, berinisiatif untuk menepuk punggung Amanda, agar wanita itu bangun, dengan tujuan untuk mengurangi rasa tegangnya, bersama dengan Ardan.
"Berani kamu menyentuhnya, bersiaplah tanganmu akan tidak berada di tempatnya lagi."
Glekk ....
Dokter Ridwan menelan ludahnya sendiri dengan tangan yang terhenti di udara, tidak jadi menepuk pundak Amanda, begitu mendengar suara dingin dan ancaman dari Ardan.
Ardan mengayunkan langkahnya mendekati Amanda, yang sepertinya tidak terganggu dengan suara-suara di sekitarnya. Ardan memakluminya, karena Amanda pasti sangat kelelahan mengurus putri mereka.
Sebelum mengangkat tubuh Amanda, Ardan berjongkok dan menatap wajah Amanda dengan sorot mata penuh kekaguman. Wajah Amanda yang terlelap, terlihat seperti malaikat baginya.
Dengan hati-hati, dia pun mengangkat tubuh Amanda dan memindahkannya ke atas sofa. Lagi-lagi Amanda tidak merasa terganggu. Mungkin Amanda merasa kalau sekarang dirinya sedang terbang di atas awan.
Lagi-lagi Ardan, berjongkok dekat dengan wajah Amanda. Rasanya Ardan tidak akan pernah bosan untuk menatap wajah damai wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya.
Dengan perlahan, seakan ada dorongan Ardan, mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman yang cukup lama di puncak kepala Amanda. "Terima kasih ... terima kasih sudah mempertahankan mereka." bisiknya Ardan dengan lembut, dan tulus.
Ardan berdiri dan memutar badannya, dan menatap Dokter Ridwan dengan tajam.
"Kenapa anda masih berdiri di sana?"
"Hmm, aku kan harus memberitahukan kabar gembira ini, pada ibu Amanda, kalau sudah menemukan donor yang cocok, Pak Ardan," suara Dokter Ridwan terdengar gugup.
"Apakah kamu tidak melihat kalau istri saya sedang tidur?" kalau nanti dia sudah bangun, aku akan memanggilmu. Jadi sekarang kamu boleh keluar!" titah Ardan tegas.
Dokter Ridwan dengan sigap langsung melenggang pergi, begitu mendengar perintah Ardan
"Hmm, istri? kenapa kata itu sangat menyenangkan ya?" gumam Ardan dengan bibir yang tersenyum-senyum sendiri.
Tbc
Ada yang komen, setiap dia baca cerita ini, kenapa masih selalu bersambung?
__ADS_1
Maaf ya Kak, novel ini memang masih 'on going' artinya masih berlanjut dan belum tamat. Jadi mohon bersabar ya Kak🙏😁😍
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kakak-kakak. Please like, vote dan komen. Thank you🙏😍🥰🥰