
"Aku tidak mau tahu, pecat semua yang bekerja di bagian depan sekarang juga! Tidak ada gunanya mempertahankan orang-orang yang tidak bisa bekerja dengan becus!" Intonasi suara Ardan tidak berkurang sedikitpun, dari awal dia menemukan putrinya menghilang. Semua perawat dan karyawan yang bertugas di bagian depan, baik itu resepsionis dan satpam, tidak lepas dari amukan Ardan.
"Pak, kami mohon, jangan pecat kami, Pak." Salah seorang satpam memberanikan diri memohon pada sang penguasa alias pemilik rumah sakit tempat dia bekerja.
"Pah, jangan pecat mereka! ini tidak mutlak kesalahan mereka." Aby buka suara, mencoba melakukan negosiasi, walaupun mungkin keputusan Ardan akan sulit untuk dirubah, seperti sebelum-sebelumnya.
Ardan menatap dengan sorot mata yang sangat tajam ke arah Aby. " Jadi salah siapa? salah kamu? salah kamu yang meninggalkan adik kamu begitu saja?" Ardan kembali menyalahkan Aby.
"Mas, berhenti menyalahkan Aby! dia tidak salah, dia hanya pergi ke luar membeli makanan. Kenapa kamu tidak salahkan dirimu sendiri, Hah?! bukannya dari tadi aku sudah mengajakmu untuk segera ke rumah sakit?! " Amanda yang tidak terima putranya disalahkan, berteriak ke arah Ardan.
Ardan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang, rahangnya juga mengeras, napas memburu serta manik langsung berubah gelap, mendengar Amanda yang berani berteriak kepadanya.
Melihat sorot mata Ardan yang menatapnya sangat tajam dan penuh amarah, tidak membuat Amanda merasa takut kali ini. Dia juga melakukan hal yang sama, balik menatap Ardan dengan tajam.
"Jadi, kamu menyalahkanku?!" bentak Ardan, tidak terima disalahkan.
Amanda tidak langsung menjawab. Dia lebih memilih untuk mengatur napasnya kembali dengan menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskan kembali ke udara untuk, agar perasaannya kembali lega. Kemudian dia meraih tangan Ardan dan menariknya agar menjauh dari orang-orang.
"Mas, maaf kalau aku tadi berteriak padamu, tapi aku tidak suka kamu membentak Aby. Kamu harusnya bisa berpikir 'rasional' sebelum kamu melampiaskan kemarahanmu. Jika kamu marah-marah seperti tadi dan asik menyalahkan orang, apa Anin akan bisa ditemukan? Please jangan dahulukan amarahmu. Aby tidak salah, kita yang salah. Kita seharusnya sudah ada di sini lebih awal, agar Aby bisa makan siang." suara Amanda terdengar lembut, untuk meredakan emosi Ardan. Dia akhirnya menggunakan kata 'kita yang salah' agar Ardan tidak merasa bersalah sendiri.
Mendengar ucapan Amanda, penyesalan datang menghampirinya. Dia sadar kalau ini bukan kesalahan putranya itu. Dia yang terlalu egois, hanya karena ingin bisa berlama-lama bersama dengan Amanda, dia mengabaikan ajakan Amanda untuk segera kembali ke rumah sakit.
"Maafkan,aku! aku tadi terlalu emosi. Aku hanya takut kalau sampai terjadi sesuatu pada putri kita. Dia masih dalam tahap pemulihan, Manda." Dari sudut mata Ardan terlihat ada buliran cairan bening sebening kristal yang merangsak keluar.
Seumur-umur, baru ini Amanda bisa melihat seorang Ardan terlihat lemah. Amanda, begitu terharu melihat rasa sayang Ardan dan besarnya rasa khawatir pria dingin itu pada putri mereka Anin.
"Mas, aku tahu kamu sangat menyayangi, Anin. Tapi jangan sampai kamu mengabaikan perasaan, Aby. Jangan biarkan dia merasa kalau kamu hanya menyayangi, Anin, sehingga demi Anin kamu membentaknya dengan keras, dan asik menyalahkannya. Kamu tahu, baru kali ini dia merasakan dibentak oleh orang, dan kenapa itu harus dia dapatkan dari kamu, papanya sendiri? apakah kamu tidak berpikir kalau itu bisa merusak mental anak kita? beruntunglah kamu, mempunyai anak yang bermental baja seperti Aby. Kalau tidak, kemungkinan bentakanmu, akan meninggalkan trauma dan membekas di dalam hatinya. Amarahmu tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan semakin membuat masalah itu semakin besar. Sekarang yang harus kita pikirkan itu, siapa orang yang tega, menculik anak kita, dan kemana dia membawa Anin."
"Pah, maafin Aby!" Aby tiba-tiba muncul dan meraih tangan Ardan. Kedua netra Aby, terlihat berkilat-kilat karena sudah dipenuhi dengan cairan bening yang sudah siap menerobos bendungan yang dibangun Aby di kedua matanya.
Ucapan maaf yang keluar dari mulut Aby, membuat hati Ardan terasa sangat sakit, seperti ada batu besar yang menghimpitnya. Dia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tubuh Aby, lalu mendekap Aby dengan sangat erat.
__ADS_1
"Maafin, papa ya, Nak! papa yang salah. Aby tidak salah, kok!" Ucap Ardan, tulus.
"Dan, lihat ini! Ini hasil rekaman CCTV yang aku minta tadi. Ternyata penculiknya seorang wanita. Tapi, wajahnya tidak jelas karena ketutup sama masker." Jelas, Rio yang muncul tiba-tiba dengan napas yang tersengal- sengal sambil menunjukkan video rekaman CCTV di ruangan Anin.
"Apakah dia salah satu wanita yang pernah kamu tolak?" Ardan menggelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Rio.
"Tunggu! sepertinya aku mengenalnya? dia seperti ...," Amanda menggantung ucapannya karena merasa ragu dengan pemikirannya.
"Dia itu pasti tante Lora." celetuk Aby tiba-tiba, hingga membuat 3 pasang mata, sontak menatapnya, dengan tatapan penuh tanya.
"Lora? siapa dia?" Kening Ardan berkerut, karena dia benar-benar tidak memiliki kenalan wanita bernama Lora.
"Lora, wanita yang sama dengan orang yang menjebak mama dulu." terang Aby, lugas. Ardan langsung menatap Amanda, meminta penjelasan, dan Amanda langsung menganggukkan kepalanya, membenarkan
"Darimana kamu tahu itu, dia?" tanya Ardan.
"Karena ....."
Flashback On
Di luar pintu toilet Aby berpapasan dengan seorang wanita, yang masih terbilang cantik, di usianya yang tidak muda lagi.
"Hei, bukannya kamu anak genius yang pernah masuk TV bersama adikmu?" tanya wanita itu, merasa surprise melihat Aby.
"Iya, Nek." sahut Aby dengan nada seperti biasa, datar dan singkat.
" Kita sambil jalan saja. berarti kamu anaknya, Amanda ya?" Aby hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Manda itu, calon menantu mama dulu! tapi sayang tidak jadi dengan anak saya. Tapi, sudahlah, semuanya sudah terjadi.
Dari penjelasan wanita itu, Aby sudah bisa menarik kesimpulan kalau wanita ini,adalah ibunya laki-laki bernama Radit.
__ADS_1
"Nenek ngapain ke rumah sakit? apa ada yang sakit?" tanya Aby, berbasa -basi untuk menunjukkan kesopanan.
"Oh, tidak! aku kesini sama menantuku untuk memeriksa apakah ada yang salah di rahim menantuku. Setelah keguguran dulu, menantuku belum juga, bisa memberikan saya cucu. Kalau kamu? ada yang sakit ya?"
"Teman saya aja yang sakit, Nek." jawab Aby, tidak berterus terang.
"Ooo," wanita itu menganggukkan kepalanya, tanda sudah mengerti.
"Oh, iya, itu menantu nenek." Wanita itu menunjuk ke arah wanita yang sepertinya sedang menatap tajam,sesuatu. Aby melihat kemana arah pandangan Lora yang ternyata mengarah ke arang Mamanya Amanda.
"Lora, ayo kita pulang!" wanita yang dipanggil Lora itu, terlihat terjengkit kaget dan buru-buru menghampiri mertuanya. Untuk sejenak tatapannya dan Aby saling menatap dengan makna tatapan yang berbeda. Lora yang menatap Aby, dengan tatapan kebencian dan Aby menatap Lora dengan tatapan curiga.
"Hmm, sepertinya wanita ini mempunyai rencana licik untuk mama dan kemungkinan ke orang terdekat mama. Aku harus memikirkan cara untuk melindungi Anin dan mama." gumam Aby, sambil berjalan kembali menghampiri tempat keluarganya berkumpul
Flashback Off
"Begitu ceritanya, Pah." ucap Aby, setelah menyelesaikan ceritanya.
" Kenapa kamu tidak membicarakan ini dengan papa atau Om Rio? kenapa kamu selalu suka bertindak sendiri Aby?" Ucap Ardan dengan nada rendah berusaha menahan amarahnya.
"Maafkan Aby, Pah. Aby salah. Tapi Aby, tadi memberikan gelang yang sudah Aby sisipkan alat pendeteksi, yang bisa melacak dimana keberadaan Anin. Bukan hanya di gelangnya saja, Abi juga memasangnya di bagian dalam penutup kepala Anin, untuk berjaga-jaga, kalau wanita itu curiga dan membuang gelang Anin di tengah jalan." terang Aby, yang membuat Ardan dan Rio, terkesiap kaget mendengar antisipasi Aby yang cepat.
"Karena itulah, Aby meminta uang pada Papa 3 hari yang lalu. Aby menggunakannya untuk membeli gelang dan merakit alat pelacak itu. Maafin Aby yang sudah bertindak sendiri, Pah! sambung Aby lagi sambil menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
Ardan dengan cepat meraih kembali tubuh Aby ke dalam pelukannya. "Aby tidak salah, justru papa yang kurang cepat tanggap. Harusnya papa menyadari, kalau selain karena wanita itu, masih banyak bahaya yang mengintai kalian. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah bisa memikirkan cara melindungi adik dan mamamu." ucap Ardan, tulus sembari memberikan kecupan di puncak kepala putranya itu.
Setelah itu, mereka semua pun berhasil melacak kemana Lora membawa Anin melalui alat pendeteksi yang dimasukkan Aby ke dalam penutup kepala Anin. Benar dugaan Aby, kalau wanita itu, membuang semua aksesoris di tubuh Anin, kecuali pelindung di kepala. Lora tidak berpikir jauh ke arah sana. Dia berpikir kalau tidak mungkin Ardan atau siapapun itu, berpikir untuk meletakkan alat pelacak di tempat lain, kecuali di aksesoris yang menempel di tubuh bocah kecil itu, seperti film-film yang dia tonton selama ini.
"Please bawa putri kita kembali, Mas! Lora itu wanita yang nekad." Amanda mulai menangis, membayangkan putri mereka berada di tangan wanita licik seperti, Lora.
"Kamu tenang saja, aku janji, akan membawa putri kita dengan keadaan baik-baik saja. Dan aku tidak akan melepaskan orang yang berani mengusik keluargaku, " tekad Ardan dengan mata yang merah dan sorot yang sangat tajam.
__ADS_1
Tbc
Please jangan lupa buat ninggalin jejaknya. Tekan like, vote dan komen. Karena satu like, vote dan komen dari kalian semua, merupakan penambah imun dan semangat bagi author seperti saya. Terima kasih🙏🤗