Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Di kantor polisi


__ADS_3

"Permisi, Bu. Ini benar rumahnya Bapak Radit Suhendra bukan?" tanya seorang pria berseragam polisi ketika mamanya Radit membukakan pintu.


"Iya, benar, Pak. Ada apa mencari anak saya?" raut wajah Mamanya Radit, terlihat panik.


"Boleh Pak Raditnya dipanggil ke sini sebentar Bu? nanti ibu akan tahu sendiri." kembali polisi itu menyahut dengan senyuman di bibirnya.


"Siapa, Ma?" tiba-tiba Radit muncul dari dalam. Alangkah kagetnya dia melihat ada dua orang polisi di rumahnya.


"Oh, Anda Bapak Radit bukan? kami dari kepolisian ingin membawa anda ke kantor polisi karena Tuan Ardan melaporkan anda dengan pencemaran nama baik dan kasus peretasan dengan tujuan untuk melakukan pencurian data dari Bagaskara Company. Ini surat perintah penangkapan anda." ucap polisi itu sambil memberikan surat penangkapan.


"Bapak pasti salah, tidak mungkin anak saya bisa melakukan hal seperti itu. Anak saya ini baik, Pak!" suara yang meninggi berteman dengan rasa panik terdengar dari mulut mamanya Radit.


"Iya, Pak. Aku tidak bersalah. Bukan aku pelakunya." Radit terlihat sudah diserang 'panic attack' sekarang.


"Maaf,Pak Radit. Tapi Tuan Ardan sudah menyerahkan semua bukti-buktinya. Jadi tolong kerja samanya untuk ikut kami dulu ke kantor polisi. Masalah anda akan ditahan nantinya tergantung dari hasil mediasi anda bersama dengan pihak yang melaporkan." ucap polisi itu dengan sabar.


"Radit! apa yang mereka tuduhkan itu benar?!" bentak mamanya Radit dan pria itu sama sekali tidak menjawab.


"Radit, kenapa diam saja? ayo jawab mama!"


"Maaf, Ma. Aku khilaf." Radit menundukkan kepalanya.


"Radiiit, bukanya mama sudah bilang, hentikan rasa dendammu. Lora juga tidak akan bisa kembali hidup kalau kamu bisa berhasil membalas dendam." suara mamanya Radit sudah mulai bergetar karena disertai dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya."


"Radit sudah ikhlas dengan itu, Ma. Radit hanya tidak terima saja, Ardan sudah mengakuisisi perusahaanku. Aku hanya mau dia juga merasakan kehancuran, seperti yang aku rasakan. Terang Radit dengan wajah penuh penyesalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ardan datang ke kantor polisi bersama dengan Amanda serta putra mereka Aby. Mereka bertiga masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah terlihat Radit. Mereka dipertemukan Untuk melakukan prosedur awal yaitu 'mediasi', apakah pihak pelapor yang dalam hal ini Ardan, memaafkan pihak terlapor atau Radit.


Begitu melihat kedatangan Ardan dan Amanda, Radit langsung berdiri dari tempat duduknya. Dengan suara lirih Radit memohon maaf atas semua yang dia perbuat khususnya pada Amanda.


"Pak Radit, aku sudah pernah memberikan kesempatan pada anda. Keuntungan dari perusahaan anda masih masuk ke rekening pribadi anda, akan tetapi sepertinya Anda tidak cukup puas dengan hal itu, dan anda berniat ingin mengusik saya lagi. Dan aku juga sudah memperingatkan kamu untuk tidak berbuat macam-macam lagi. Sekarang ini, dengan sangat menyesal, aku sudah tidak mau memberikan anda maaf lagi. Orang seperti anda memang harus diberikan efek jera. Sekarang sisa saham yang anda miliki, sudah mutlak jadi milik Bagaskara Company, dan anda sudah tidak memiliki apa-apa lagi." Ujar Ardan lugas dan tegas.

__ADS_1


"Ayo, Amanda, Aby kita pulang!" Ardan berdiri dan mengayunkan kakinya untuk melangkah ke luar.


Radit sontak berdiri dan berlari mengejar Amanda. Kemudian meraih tangan wanita itu. Hal ini membuat Ardan meradang dan langsung menghunuskan tatapan ingin membunuh pada Radit.


"Lepaskan tanganmu dari istriku! Kalau tidak jangan salahkan aku, kalau aku membuat kamu hidup tanpa tangan lagi," suara Ardan terdengar datar, tapi sanggup membuat suasana di ruangan itu, seperti berada di kawasan pemakaman, dalam kondisi di malam hari.


Radit bergidik ngeri begitu merasakan aura yang menakutkan dari Ardan.


"Maaf!" Radit mengangkat kedua tangannya.


"Manda, aku mohon, bantulah aku kali ini. Tolong pertimbangkan sebentar. Kita pernah memiliki hubungan selama 5 tahun, apakah itu tidak bisa kamu jadikan pertimbangan?" mohon Radit dengan wajah memelas.


Ardan nyaris membuka mulutnya untuk menyahut, tapi Amanda buru-buru mengangkat tangannya, agar Ardan membiarkan dirinya yang menjawab Radit.


"Radit, apakah waktu kamu berniat menjatuhkanku, kamu mempertimbangkan hubungan kita dulu? tidak bukan? jadi, kamu jangan berharap aku mempertimbangkan hubungan kita dulu, untuk bisa memaafkan semua kesalahanmu. Radit, aku bukan Amanda yang dulu, yang lemah. Pengalaman hidup telah membuatku belajar, agar sesekali, bisa berbuat sedikit kejam untuk orang seperti kamu. Dan ingat Radit, lebih mudah memaafkan musuh daripada memaafkan seorang teman, ataupun kekasih yang mengkhianati kita." ucap Amanda yang membuat Radit terperangah melihat perubahan Amanda.


Amanda memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Radit yang terpaku di tempatnya.


Aby menatap dengan sorot mata yang sangat tajam ke arah Radit. Sebelum menyusul kedua orang tuanya, Aby melangkah mendekat ke arah Radit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana hening tercipta cukup lama di dalam mobil yang dikemudikan oleh Ardan. Wajah pria itu terlihat tidak bersahabat selama perjalanan pulang dari kantor polisi menuju rumah.


Ardan hanya menjawab seperlunya dengan singkat tanpa senyum, jika Aby sedang bertanya. Hal ini menimbulkan kebingungan pada Amanda.


Sesampainya di rumah, Ardan yang biasanya membuka pintu untuk Amanda, kali ini tidak sama sekali. Dia hanya membuka pintu belakang dan mengangkat tubuh putra sulungnya itu yang ternyata ketiduran di belakang.


Amanda menghela napasnya dengan sekali hentakan, dan dengan bibir yang mengerucut ke depan dia menatap punggung suaminya dari belakang yang melangkah membawa Aby serta. Amanda menghentakkan kakinya dan dengan kesal dia, melangkah dengan cepat, bahkan sampai melewati Ardan, tanpa menyapa sama sekali.


"Mas, kamu kenapa? kenapa mendiamkanku? emang aku ada buat salah?" cecar Amanda beruntun, ketika Ardan masuk ke dalam kamar mereka.


"Kamu pacaran dengan Radit selama 5 tahun, kalian berdua ngapain aja selama itu?" tanya Ardan datar tanpa menatap ke arah Amanda. Dia malah sibuk membuka jam tangan, melonggarkan dasinya.

__ADS_1


Gelak tawa Amanda seketika pecah, begitu menyadari kalau Ardan sekarang tengah dilanda cemburu. "Mas, jadi dari tadi kamu diam saja, karena cemburu sama Radit?" ledek Amanda di sela-sela tawanya.


"Siapa yang cemburu? aku sama sekali tidak cemburu. Asal kamu tahu, aku tidak mengenal istilah kata 'cemburu'." Sangkal Ardan.


"Jadi, kamu marah-marah tidak jelas, kalau tidak cemburu apa namanya coba?" Amanda masih tetap meledek suaminya.


"Itu namanya tidak cemburu. Aku hanya tidak suka saja, hubungan kalian yang katanya 5 tahun itu, diungkit-ungkit lagi." Ardan masih kekeh dengan pendapatnya, kalau dia bukan cemburu hanya tidak suka saja.


"Yang waras mengalah," batin Amanda disertai dengan helaan napas yang cukup panjang.


"Mas, aku dan Radit itu tidak pernah ngapa-ngapain. Ya, paling gandengan tangan, jalan ke mall, nonton bioskop, __"


"Cukup! tidak usah diteruskan!" Ardan semakin panas, mendengar penuturan Amanda. Bayangan Amanda yang bergandengan tangan dengan mesra, Amanda yang tersenyum pada Radit, lalu bergelayut manja di pundak Radit ketika nonton bioskop seketika berkelebat di kepalanya, hingga membuat kepalanya terasa sakit.


"Apa dia pernah menciummu?" Walaupun jawaban Amanda bisa membuat kepalanya bertambah sakit, entah kenapa, Ardan tidak bisa melawan rasa penasarannya.


"Hmm, pernah!" Jawab Amanda, jujur. Membuat Ardan mengepalkan tangannya, menggeram kesal.


"Tapi, hanya sebatas cium di pipi sih. Kalau di bibir tidak pernah." Ada sedikit kelegaan yang terlihat di wajah Ardan.


"Eh, pernah deh sekali. Itupun karena dia tiba-tiba nyosor duluan," celetuk Amanda, mematahkan kelegaan di wajah Ardan.


Ardan sontak membungkam bibir Amanda dengan bibirnya dan menyesapnya dengan begitu liar dan ganas, sampai Amanda hampir kehabisan napas.


"Mas, kok main nyosor aja sih?" Amanda memberengut kesal.


"Aku lagi membersihkan bekas ciuman bajingan itu!" ucap Ardan yang sama sekali tidak masuk akal bagi Amanda.


"Membersihkan bagaimana? kamu sudah menciumku berkali-kali bahkan susah untuk aku hitung sudah berapa kali. Bukannya itu sudah lebih dari cukup untuk membersihkan bekas __"


Ardan dengan sigap kembali meraup bibir Amanda sebelum Amanda menyebutkan nama pria yang sangat dibencinya itu sekarang.


Ciuman mereka berlangsung cukup lama, sampai mereka berdua pun menginginkan lebih dari ciuman. Tanpa menunggu lama, tubuh pasangan itupun sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Dan beberapa saat setelah pergumulan panas, terdengar teriakan baik dari bibir Ardan maupun Amanda, ketika mereka berdua mencapai pelepasan.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat tetap like, vote dan komen ya gais. Pleaseeee🙏


__ADS_2