Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Bagaimana istriku, Dok?


__ADS_3

Rio dan Rico akhirnya kembali bergabung dengan yang lainnya setelah selesai mendonorkan darah mereka. Tanpa basa-basi lagi, Rio langsung menghampiri Aby dan menatap menantunya itu dengan tatapan meminta penjelasan.


Aby yang mengerti arti dari tatapan Rio, menghela napas dengan cukup panjang.


"Pa, aku sedang bingung, bisa tidak aku menjelaskannya nanti?" mohon Aby dengan wajah memelas, karena jujur untuk saat ini pikirannya masih pada istrinya yang berjuang di dalam sana.


"Biar aku yang bercerita, karena aku dan Calvin, tahu apa yang sebenarnya terjadi." Kenjo memberanikan diri membuka suara, dan menatap Aby untuk meminta izin. Aby akhirnya menganggukkan kepalanya, memberikan izin.


"Sebenarnya, anak yang dikandung Celyn, benar-benar anak Aby,"


Semua netra yang ada di sana membesar dengan sempurna, dan sontak menatap ke arah Aby.


Rio mengepalkan tangannya dan mengayunkan tangannya menampar Aby. Semuanya terkesiap kaget, termasuk Aby melihat reaksi Rio yang marah tiba-tiba.


"Ternyata kamu hanya pura-pura baik, mau menikahi anakku. Kamu hanya menutupi kelakuan bejatmu."


"Tenang, Om! aku belum selesai cerita. Bukannya, Om dengar sendiri tadi, kata dokter, kalau Celyn belum pernah berhubungan intim? berarti Aby tidak pernah berbuat yang tidak-tidak." Kenjo menarik tubuh Rio agar menjauh dari Aby. Sedangkan Rio terhenyak menyadari kesalahannya.


"Maafkan, Papa, By! Papa kalut, sehingga tidak berpikir jernih." desis Rio dengan mimik menyesal sambil memeluk Aby.


"Tapi bagaimana Celyn bisa hamil anaknya Aby?" kali ini Ardan yang buka suara, dan diangguki yang lainnya.


Kenjo kemudian menjelaskan semua yang terjadi, sejelas mungkin tanpa menambah dan mengurangi sedikitpun. Dan Kenjo juga menunjukkan video percakapan Gilang dan Shasa serta rekaman CCTV yang kebetulan sudah dia pindahkan ke ponselnya.


Semuanya, bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan tubuh yang gemetar. Antara bersyukur, bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahkan dua bulir cairan bening sebening kristal menetes dari mata Rio dan Jasmine. Demikian juga dengan Amanda dan Anin. Sedangkan Ardan hanya bisa tercenung, dan terpaku pada tempatnya.


"Jadi, benar kata putriku yang membantah kalau dia tidak pernah melakukan hal itu?" ada rasa syukur sekaligus terharu yang timbul di dalam hati Rio. Rasa menyesal seketika muncul di dalam hatinya, ketika mengingat kemarahannya pada Celyn, sampai membuat putrinya itu bersumpah dan menangis.


"Maafkan aku,Pa. Ini semua karena aku. Seandainya, aku tidak mengajukan syarat akan menikahi Shasa ,kalau dia tidak terbukti hamil, kemungkinan hal ini tidak akan terjadi." ucap Aby lirih sambil berlutut di depan Rio.

__ADS_1


Rio menggelengkan kepalanya dan membantu Aby untuk berdiri dan memeluk menantunya itu."Ini bukan kesalahanmu. Kamu juga tidak mau hal ini terjadi." ucap Rio sembari menepuk-nepuk pundak Aby.


"Iya, By. Di balik hal ini, kami tetap bersyukur karena Tuhan mengizinkan Celyn berada di tangan yang tepat. Mama justru bersyukur dan berterimakasih, saat kamu mau menikahi Celyn, walaupun kamu belum tahu bahwa yang dikandung Celyn itu benar-benar anakmu." Jasmine menimpali ucapan Rio suaminya.


"Jadi, yang dikandung Celyn benar-benar cucuku?" ucap Amanda dengan wajah yang berbinar. Amanda memang sudah menganggap bayi yang dikandung Celyn itu cucunya, tapi dia tidak bisa memungkiri ketika mengetahui kenyataan ini, Amanda benar-benar bersyukur dan sangat bahagia.


"Walaupun Aby dan Celyn menikah, perbuatan Shasa dan Gilang tetap tidak bisa dimaafkan. Mereka harus tetap diberi hukuman yang seberat-seberatnya." Celetuk Ardan dengan nada yang sangat datar tapi tidak bisa menutupi ketegasan dalam ucapannya


Pintu terbuka kembali dan Dokter Sinta kembali keluar dengan wajah yang sukar untuk dibaca.


"Bagaimana, Dok? istri dan anak-anakku baik-baik saja kan?" cecar Aby tidak sabaran.


"Begini, Pak Aby. Dengan berat hati aku harus meminta Pak Aby untuk menandatangani surat persetujuan ini."


"Persetujuan apa?" desak Aby dengan perasaan was-was.


Dia tersungkur jatuh ke belakang dan menangis sesunggukan.


"Anda harus memilih sekarang, Pak Aby. Karena waktunya sudah sangat mepet. Kalau tidak, anda bisa kehilangan ketiga-tiganya." desak Dokter Sinta.


"Apa tidak bisa menyelamatkan ketiganya, Dok?" tanya Rio.


"Tidak bisa,Pak. Itu sangat mustahil. Ayo Pak Aby, cepat, beri keputusan! aku tahu ini sangat berat, tapi mau tidak mau kamu harus memutuskannya.


"Selamatkan Ibunya ,Dok!" akhirnya Aby memutuskan.


"Apa anda sudah yakin, Pak Aby?" tanya dokter itu memastikan, dan Aby hanya menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Baiklah, kalau begitu!" ucap Dokter itu sambil berlalu kembali ke dalam ruangan setelah Aby membubuhkan tanda tangannya.

__ADS_1


"Nak?" Amanda menghampiri Aby yang tergugu, dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


"Apa aku bukan ayah yang baik, ma? apa aku sudah membunuh anak-anakku? tapi aku juga tidak mau kehilangan Celyn, ma. Aku belum sempat membahagiakannya." Aby menangis sambil membenturkan kepalanya dan meninju tembok dengan sangat keras hingga punggung tangannya itu mengeluarkan darah segar. Kemudian dia tersungkur dengan perlahan bersandar di tembok dengan kedua kaki yang ditekuk dan tangan berada di kepala.


"Aby, jangan begitu, Nak. Kamu bukan membunuh anak-anakmu. Kamu hanya tidak punya pilihan lain lagi," ucap Amanda, menenangkan putranya dengan pipi yang sudah bersimbah air mata.


"Ma, apa Celyn nanti akan memaafkanku, kalau tahu aku sudah membunuh anak-anak kami? Dia akan membenciku, Ma." Aby memeluk erat mamanya. Semua yang ada di sana tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka lagi, melihat keadaan Aby yang seperti orang putus asa. Kenjo dan Calvin bahkan ikut tersungkur menyender di tembok dengan air mata yang keluar dari mata mereka, dan berkali-kali mereka seka.


"Aku jahat, Ma, aku jahat. Aku benar-benar tidak berguna." Aby memukul-mukul kepalanya sendiri. Ardan segera menghampiri Aby dan menahan tangan Aby untuk tidak melukai dirinya sendiri.


"Aby, Tenanglah!" bentak Ardan sambil mengguncang tubuh putranya yang sekarang terlihat sangat lemah itu.


"Kalau kamu mau berguna, buktikan! jangan melukai dirimu sendiri! jika kamu seperti ini, kamu bahkan akan terlihat seperti pecundang, tahu tidak?! jika kamu lemah seperti ini, bagaimana kamu bisa melindungi Celyn, Hah?! Papa tahu kamu sedih, tapi kamu harus kuat demi istrimu." suara Ardan meninggi dan berapi-api.


Aby tidak menjawab sama sekali, dia hanya bisa menangis sesunggukan dan terlihat tidak berdaya. Dia membayangkan wajah kecewa Celyn nantinya ketika mengetahui, anak-anak yang dikandungnya selama 7 bulan ini sudah tidak ada.


Sedangkan Rio dan Jasmine serta Rico tidak bisa berkata apa lagi. Mereka tidak menyangka kalau Aby lebih memilih menyelamatkan Celyn dari pada bayi kembarnya.


Di saat kesedihan sedang menyelimuti semua orang, tiba-tiba terdengar tangisan bayi yang tidak terlalu nyaring, tapi sanggup membuat semua orang yang ada di sana bangkit dari tempat mereka duduk dan mendekat ke arah pintu yang tertutup. Kemudian sekitar 2 menit berselang, terdengar suara bayi lagi yang walaupun tidak terlalu nyaring, tapi sanggup membuat orang-orang yang ada di sana merinding. ( Bahkan authornya merinding juga pas menulis ini).


Tidak berselang lama, lampu yang berada di atas pintu ruang operasi itu, padam, pertanda kalau operasi sudah selesai.


Aby dan yang lainya tidak sabar menunggu pintu terbuka. Dan ketika pintu terbuka, Aby langsung menghambur, menghampiri Dokter Sinta.


"Bagaimana istriku, Dok?"


Tbc


Maaf ya, kalau upnya lama. Pekerjaan di real lifeku juga banyak soalnya. Harap maklum ya gais. Thank you, 🙏

__ADS_1


__ADS_2