
Brak ....
Pintu terbuka dengan keras, akibat tendangan dari arah luar.
Ponsel dan pisau yang ada di tangan Lora sontak terjatuh, karena kaget akibat bunyi keras dari arah pintu. Tapi sejurus kemudian dia langsung kembali meraih pisau yang terjatuh itu.
Papaaa!" teriak Anin yang membuat rasa kaget Lora semakin bertambah.
Tampak Ardan dengan mata merahnya serta rahang yang mengeras, menatap Lora dengan aura ingin membunuh. Sedangkan Rio segera menghambur ke arah Anin sebelum wanita culas itu yang lebih dulu menghampiri Anin. Lalu menggendong bocah kecil itu, keluar dari kamar, supaya Anin tidak melihat kekerasan yang dipastikan akan terjadi sebentar lagi.
"Bangsat! mau kamu apakan anakku, hah?!" suara menggelegar keluar dari mulut Ardan, melihat putrinya yang beringsut ketakutan dan pisau yang ada di tangan Lora.
"Papa? anakku?" batinnya dengan rasa bingung dan takut yang bercampur menjadi satu. Ya, dia tahu kalau Ardan akan menikahi Amanda, yang dia tidak tahu adalah kalau Ardan adalah papa dari anak-anak Amanda. Selama ini dia mengira kalau Amanda hanya beruntung saja, yang walaupun dirinya seorang janda, seorang Ardan tetap mau mempersuntingnya.
"Ah, mungkin karena sudah mau menikah, makanya bocah itu memanggil papa," bisik Lora padi dirinya sendiri.
"Tuan Ardan, kebetulan anda ada di sini. Aku cuma mau memberitahukan informasi penting pada anda. Asal Anda tahu, Amanda bukan wanita baik-baik, dia dulu suka bergonta-ganti pacar. Dan asal Anda tahu juga, dia itu sering melakukan tindakan asusila sebelum dia menikah. Aku bahkan yakin kalau kedua anaknya itu anak hasil perbuatannya dengan laki-laki lain, makanya suaminya menceraikannya. Jadi, lebih baik anda berpikir ulang untuk menikahinya." Lora, berpikir untuk menghasut Ardan. Berharap pria itu, murka pada Amanda dan membatalkan pernikahannya.
Sementara itu, Ardan yang mendengar celotehan Lora, yang menjelek-jelek'kan Amanda, mengepalkan tangannya dengan kencang. Rahangnya pun semakin mengeras disertai dengan manik mata yang memerah.
__ADS_1
Dengan amarah yang memuncak hingga sampai ke ubun-ubun, Ardan mengayunkan kakinya mendekati wanita ular di depannya. Tadinya dia berusaha untuk menahan diri agar tidak menyentuh wanita itu menunggu sampai polisi datang. Karena prinsip hidupnya, dia tidak mau main tangan pada seorang wanita. Akan tetapi, kali ini dia tidak bisa mentolerir lagi, begitu mendengar fitnah wanita itu pada wanita yang dia cintai.
"Apa kamu bilang? berani sekali mulut kotormu ini menyebut Amanda seperti itu, apa kamu sudah bosan hidup, hah?! Ardan mencengkram pipi, Lora dengan kuat lalu menghentak nya dengan keras, hingga tersungkur jatuh membentur tembok. Cengkraman Ardan, meninggalkan bekas yang membiru di wajah putih, Lora.
"Tuan, kenapa anda kasar sama saya? aku hanya ingin melepaskan tuan dari wanita ular itu. Harusnya anda berterima kasih, bukannya ___"
"DIAM!" suara Ardan menggelegar, membentak Lora.
"Wanita ular itu kamu! Dan asal kamu tahu, aku tahu betul, kalau kamu yang dulu menjebak Amanda. Ya, anak Amanda itu, memang hasil perbuatannya dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Tapi apakah kamu tahu, kalau laki-laki itu adalah 'aku'. Lihat jelas dengan matamu, Aku adalah laki-laki yang membuat Amanda 'hamil' dan Amanda tidak pernah menikah sama sekali." Ardan berbicara dengan penuh penekanan pada kata 'aku'.
Kedua netra Lora seketika membesar dengan sempurna, terkesiap kaget sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya. "T-tidak mungkin!" desisnya dengan wajah yang berubah pucat.
"Apa yang tidak mungkin? apa kamu mengira, Amanda berhasil digagahi sama 3 pria yang kamu bayar, Hah?!" intonasi suara Ardan tidak berubah sedikitpun.
"Kenapa? kenapa kamu diam saja, Hah?! apa kamu bilang lagi, kalau belum tentu anak-anak itu bukan anakku? Apa kamu pikir aku sebodoh yang kamu kira, hah? bersiap-siaplah kamu, menerima akibat dari perbuatanmu. Sebentar lagi polisi akan datang menjemputmu."
Ucapan Ardan semakin membuat, Lora diselimuti ketakutan. Dia mencoba untuk berdiri dan mencari celah untuk kabur. Akan tetapi, ketika dia hendak mencapai pintu, di depannya sudah berdiri beberapa polisi yang sudah siap meringkusnya.
Dengan wajah panik, Lora beringsut mundur ke tempatnya semula, dan berulangkali berteriak, "Jangan tangkap saya! aku tidak bersalah, aku tidak mau di penjara!"
__ADS_1
"Kalian urus dia! aku mau dia dihukum seberat-beratnya," Ardan mengayunkan langkah, untuk keluar dan menyerahkan semua ke tangan polisi.
Tiba-tiba Lora memungut pisau yang dia buat untuk menakut-nakuti, Anin dari lantai. Kemudian dengan cepat dia berlari menuju Ardan, dan hendak menusuk pisau itu ke punggung pria tampan itu.
Dor ....
suara tembakan terdengar, yang mengarah ke arah pisau di tangan Lora, sehingga pisau yang dia pegang, terjatuh kembali ke lantai. Dengan cepat dua orang polisi langsung berlari dan meringkus Lora yang sudah berhasil kembali meraih pisau yang terjatuh dekat dengan kakinya. Sedangkan Ardan langsung segera bergerak menjauh dari Lora.
Lora berusaha meronta, untuk melepaskan diri. Tapi tenaga yang dia punya tidak cukup. Kedua polisi itu tidak menyadari kalau pisau kecil itu masih berada di tangan Lora. Karena Lora tidak punya cukup tenaga, akhirnya dia tenang dan tidak berusaha untuk melepaskan diri lagi. Kedua matanya tampak kosong, dan terlihat seakan pasrah digelandang oleh polisi menuju Polsek.
"Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku pasti akan di penjara seumur hidup dan Radit pasti akan benar-benar menceraikanku, orangtuaku juga pasti tidak akan menganggapku anak lagi. Jadi lebih baik aku mati saja." Lora mengajak hatinya untuk berbicara. Dari raut wajahnya terlihat kalau dirinya sekarang terlihat frustasi.
Karena Lora, sudah tidak melakukan perlawanan lagi, kedua polisi yang menggelandang Lora, melonggarkan cekalan tangan mereka, dan Lora mengambil kesempatan ini, untuk melepaskan tangan kanannya dari tangan polisi, lalu menusukkan pisau yang ada di tangannya tepat ke arah jantungnya sendiri, hingga dia tersungkur jatuh, dan merintih kesakitan.
Kedua polisi dan rekannya yang lain segera, melakukan pertolongan pertama memberi tekanan langsung pada luka tusuk sambil mengangkat area yang luka hingga posisinya di atas jantung. Akan tetapi, mungkin tusukan pisau Lora tepat mengenai jantung, sehingga tanpa menunggu lama wanita itupun menghembuskan napasnya, dan meninggal di saat itu juga.
Melihat tidak ada lagi pergerakan dari tubuh Lora, salah satu polisi itu mencoba, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan leher, dan dia tidak menemukan lagi, ada detak nadi wanita itu. Dia pun mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, seraya menggelengkan kepalanya pertanda kalau wanita itu sudah tewas.
Merekapun melaporkan hal yang terjadi pada Ardan, dan Ardan meminta para polisi untuk mengurus sendiri jenazah, Lora tak terkecuali menyerahkan jenazah itu ke pihak keluarganya.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam mobil, Rio berusaha menghibur Anin, untuk membuat Anin sedikit melupakan kejadian yang baru saja menimpanya.
Tbc