Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kekagetan Bagas.


__ADS_3

Bagas dan Clara kini sudah dalam perjalanan mengantarkan wanita itu pulang. Di bibir Bagas, terulas, senyuman yang tidak henti-henti di sepanjang jalan. Masih terekam jelas, di benak Bagas, bagaimana ekspresi kedua sahabatnya, Ardan dan Rio, begitu mendengar kabar pernikahannya dengan Clara.


Ardan dan Rio yang tidak henti bertanya kenapa bisa itu terjadi, dan dirinya yang tidak memberikan jawaban apapun, membuat kedua sahabatnya itu kesal.


"Kenapa kamu senyum-senyum? kamu lagi mikir yang aneh-aneh ya?" celetuk Clara yang melihat aneh senyuman di bibir Bagas.


"Aku tidak kenapa-napa. Cuma aku merasa malam ini Dewi fortuna lagi berbaik hati padaku. Kamu bisa melihat dengan jelas tadikan kalau si Ardan dan Rio bisa aku bungkam dengan berita pernikahanku denganmu?" terang Bagas dengan senyum yang tidak pernah tertanggal dari bibirnya.


Clara tidak terlalu menanggapi apa yang membuat Bagas bahagia. Dia hanya mangut-mangut saja sebagai tanggapan.


Dengan ekor matanya, Bagas melirik sekilas ke arah Clara yang diam saja, dan sepertinya tidak punya niat untuk memulai obrolan.


"Hmm, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Bagas, untuk menghentikan keheningan di antara mereka berdua.


"Emm," sahut Clara singkat.


"Apa kamu ikhlas untuk menikah denganku?" tanya Bagas, dengan perasaan was-was.


"Seharusnya aku yang mau menanyakan itu padamu. Karena aku tahu jelas kalau aku bukan tipe kamu, dan aku juga tidak sederajat dengan keluargamu." sahut Clara dengan tetap fokus menatap ke depan


Bagas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali. Jauh di dalam lubuk hatinya ingin dia membantah pemikiran Clara, yang mengatakan kalau Clara bukan tipenya. Akan tetapi, bibirnya terasa kelu untuk mengucapkannya.


"Kamu jangan terlalu jauh berpikiran seperti itu. Keluargaku tidak pernah membeda-bedakan orang." ucap Bagas, lugas.


"Maaf kalau aku salah menduga!" desis Clara, lirih.


Keheningan kembali terjeda cukup panjang, tidak ada yang bersuara. Pandangan Clara, terus melihat ke arah luar, yang sudah mulai terlihat sepi.


"Clara, apa kamu sudah tahu kalau aku sudah pernah menikah?"

__ADS_1


Clara menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Bagas.


"Apa kamu tidak keberatan soal itu?"


Clara mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa Bagas tiba-tiba menanyakan soal itu.


"Apa, kamu masih ada hubungan dengan mantan istri kamu? kalau iya, mending kita batalkan pernikahan kita." ucap Clara tegas


"Aku sama sekali tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Karena sebenarnya, aku tidak pernah mencintainya sama sekali."


Alis Clara saling bertaut, dan sontak menatap Bagas dengan tatapan penuh tanda tanya.Merasa bingung kenapa bisa Bagas menikah dengan wanita yang tidak dicintainya.


"Tapi, bisa jadi sih. Sekarang saja, dia mau menikahiku, walaupun dia tidak mencintaiku sama sekali. Atau jangan-jangan aku akan bernasib sama dengan mantan istrinya itu?" Clara membatin dengan hati yang tiba-tiba bimbang.


"Apa yang kamu pikirkan? apa kamu berpikir kalau kamu akan bernasib sama dengan mantan istriku? kalau itu yang kamu pikirkan, kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi. Karena kalian itu berbeda." celetuk Bagas, yang seperti bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran Clara.


"Berbeda? apanya yang berbeda?" Kening Clara lagi-lagi berkerut, karena merasa ambigu dengan ucapan Bagas.


"Jadi kamu langsung menceraikannya, ketika kamu mendapat semua bukti perselingkuhannya?"


Bagas menganggukkan kepalanya, membenarkan .


"Jadi, apa kamu trauma terhadap wanita makanya kamu tidak nikah lagi sampai sekarang?" tanya Clara.


"Tidak! aku mempunyai alasanku sendiri kenapa aku tidak menikah sampai sekarang. Karena aku ingin menikah dengan gadis kecilku. Aku sudah mencari dia kemana-kemana tapi belum juga bertemu." Wajah Bagas terlihat sangat sendu.


"Jadi kenapa kamu memutuskan untuk menikah sekarang?" Clara kembali bertanya.


"Apa hanya Demi ibumu?" sambungnya kembali. Entah kenapa ada rasa kecewa yang muncul di dalam hatinya, mengingat Bagas berniat menikahinya hanya untuk demi ibunya bahagia.

__ADS_1


"Hmm, kita sudah sampai di rumahmu. Ayo kita turun!" Bagas menarik napas lega, mereka tiba di rumah Clara di waktu yang tepat. Karena dia merasa kesulitan untuk menjawab pertanyaan wanita yang tidak disadarinya, sudah sedikit mampu, mengalihkan dirinya dari bayangan gadis kecilnya itu.


Dengan tersenyum kecut, Clara melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu, lalu keluar dari dalam mobil itu. Dia nyaris melangkahkan kakinya, meninggalkan Bagas begitu saja. Akan tetapi, dia tiba-tiba mengurungkan langkahnya mendengar Bagas yang memanggil namanya.


"Apa kamu tidak memintaku untuk singgah sebentar ke dalam rumahmu?" celetuk Bagas tiba-tiba, dengan wajah penuh harap.


"Maaf, mungkin lain kali saja, karena ini sudah sangat malam." tolak Clara dengan sopan.


"Kenapa kamu tidak mengizinkanku? aku hanya ingin bertemu dengan mama kamu dan mau minta maaf, karena aku mengantarkanmu pulang sudah larut malam begini." Bagas menyampaikan maksudnya, membuat Clara, menggigit bibirnya sendiri dan sepertinya merasa berat untuk mengizinkan Bagas masuk.


Karena sejujurnya, Clara belum memberitahukan pada mamanya mengenai rencananya dengan Bagas.Dia melakukannya bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena dia tidak ingin mamanya kecewa. Clara sebenarnya masih merasa ragu dan takut seandainya Bagas, tidak serius dan tiba-tiba membatalkan niat untuk menikahinya


"Kenapa kamu diam saja? aku serius hanya ingin meminta maaf dan berkenalan dengan mama kamu." Ucap Bagas, lugas dan menatap Clara dengan penuh harap.


"Hmm, bukannya aku tidak mau, tapi ini sudah larut malam dan mama juga pasti sudah tidur." sahut Clara memberikan alasan, berharap kalau Bagas bisa terima dengan alasannya.


"Kenapa kamu sepertinya tidak ingin aku menemui mamamu? Tadi juga aku ingin menjemputmu, kamu menolak dan memilih untuk berangkat bersama dengan adik kamu." kening Bagas sedikit terangkat ke atas, menatap Clara penuh selidik.


"Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Toh Yuda juga akan ke sana, jadi aku berpikir tidak ada salahnya aku berangkat bersama Yuda."


"Tapi kenapa aku merasa kalau itu hanya alibimu saja ya? sepertinya kamu masih ragu padaku. Kamu tahu kenapa aku bersikeras untuk mengantarkanmu pulang? ya, karena aku ingin bertemu dengan mama kamu. Aku ingin memperkenalkan diriku sebagai calon suamimu, dan mengatakan niat kalau aku dan keluargaku akan datang melamarmu secara resmi minggu depan."


Kedua netra Clara membesar dengan sempurna, merasa tidak percaya pada pendengarannya. Keraguannya yang ada di hatinya, tiba-tiba menguap entah kemana, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bagas, yang dari matanya terlihat tulus saat mengatakannya.


"Ara! kenapa kamu dari tadi belum masuk-masuk ke rumah, Nak?" Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar memanggil Clara dari arah pintu yang terbuka tiba- tiba


Kedua netra Bagas, terbeliak kaget begitu mendengar wanita itu memanggil nama Ara. Dan kekagetannya semakin bertambah begitu dia melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu itu.


" Bukannya ibu itu, Tante Nining, mamanya gadis kecilku? dan apa tadi? dia memanggil Clara, Ara kan?" gumam Bagas, dengan jantung yang berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2