Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku belum menikah, bagaimana mungkin?


__ADS_3

Pagi kembali datang menyapa. Cahaya mentari kini sudah membias masuk ke dalam kamar Aby. Aby mengerjap-erjapkan matanya , agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang baru masuk ke matanya.


Disaat Aby ingin beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba perutnya serasa diaduk-aduk. Aby berlari ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di sana, sampai rasa asam menggangu indera pengecapnya.


"Ada apa dengan diriku? mungkin aku masuk angin, karena semalaman perutku tidak diisi makanan sedikikitpun, ditambah aku susah tidur tadi malam," bisik Aby pada dirinya sendiri.


Kemudian Aby membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap ingin berangkat kerja. Lagi-lagi di saat Aby hendak keluar dari kamar, perutnya seperti diaduk-aduk lagi dari dalam. Aby kbali berlari ke dalam kamar mandi, dan muntah-muntah kembali, namun tidak ada sesuatu pun yang keluar dari dalam mulutnya.


Setelah dirasa sedikit lega, Aby pun beranjak keluar dari dalam kamarnya untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Pagi semua!" sapa Aby dengan nada yang lemas.


"Pa ... astaga, kenapa denganmu, Nak? kenapa wajahmu pucat? apa kamu sakit?" Amanda berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aby.Tangannya terayun meraba kening Aby, untuk memastikan apakah tubuh Aby panas atau tidak.


"Badanmu tidak panas, tapi kenapa kamu pucat seperti ini?" kembali Amanda bertanya dengan kening yang berkerut.


"Tidak tahu,Ma! bangun-bangun, aku berkali-kali ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutku. Mungkin aku masuk angin, Ma." sahut Aby sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas kursi


Aroma makanan langsung menyeruak ke hindung Aby, membuat perut Aby kembali serasa diaduk-aduk.


"Tolong jauhkan nasi goreng ini dari depanku! aku ingin muntah mencium aromanya." Aby menutup hidungnya dan menahan agar tidak memuntahkan lagi isi perutnya, karena menurutnya tidak akan ada yang keluar dari perutnya, yang ada perutnya akan terasa sakit jika dia paksakan untuk muntah.


Kening semua orang yang ada di ruang makan itu, berkerut dan saling silang pandang, bertanya-tanya ada apa dengan Aby.


"Kamu kenapa sih, By? mama tahu kalau kamu tidak suka makan nasi goreng, tapi yang mama tahu, kamu tidak muntah bila hanya mencium aromanya saja. Tapi kenapa kamu sekarang ingin muntah?"


"Aku tidak tahu, Mi! Aku mencium aroma nasi gorengnya sangat bau. Aku mau makan roti saja pagi ini." Aby buru-buru mengambil sehelai roti tawar dan mengolesinya dengan selai, kemudian dia mengambil sehelai lagi dan menutupi selai tadi dari atas.


"Aby pergi dulu ya Ma, Pa, semua!" Aby meraih tangan Amanda dan mencium punggung tangan mamanya itu, Hal yang samapun dia lakukan pada Ardan papanya. Sebelum dia berangkat Aby tidak lupa mengacak-acak rambut Anin dan Rian adiknya.


"Kakak!" protes Anin dan Rian bersamaan. Tapi Aby hanya terkekeh,tidak peduli dengan protes kedua adiknya. Kemudian diapun menyambar rotinya tadi dan berencana memakannya di dalam mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Celyn, bangun Nak! kamu tidak ke butik hari ini?" tanya Jasmine ketika melihat putrinya itu masih bergelung di bawah selimut.


"Celyn, bangun!" Jasmine mengguncang tubuh putrinya itu dengan lembut, karena panggilannya yang pertama tidak mendapat respon dari sang putri.


Tubuh Celyn akhirnya menggeliat, merespon panggilan mamanya.

__ADS_1


"Ma, hari ini aku tidak ke butik dulu, aku sudah menyerahkan pada Tia, untuk menghandle semua pekerjaan hari ini," sahut Celyn dengan intonasi suara yang lirih.


"Oh, ya udah! Tapi kamu bangun dulu lah, sudah jam segini tidak baik seorang gadis masih tidur. Kamu mandi dan sarapan!" Jasmine membantu Celyn untuk bangun.


"Kepalamu masih pusing, Sayang?" tanya Jasmine, perhatian.


"Iya, Ma. Badanku juga rasanya sangat lemas, gak ada tenaga." ucap Celyn.


"Kalau begitu, apa kamu mau sarapan kamu diantar ke sini atau bagaimana?"


"Nggak usah, Ma! biar nanti aku aja yang turun. Sekarang aku mau mandi dulu ya, Ma." Celyn berucap dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Ya udah, kalau begitu mama tunggu di bawah."


"Ma, papa udah berangkat kerja belum?" tanya Celyn sebelum Jasmine benar-benar menghilang di balik pintu.


"Sudah, Nak! Rico juga sudah berangkat sekolah,"


Celyn mengangguk-anggukan kepalanya, seraya kembali melangkah ke kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eh, Anin pagi-pagi sudah ada di sini aja, Sayang? kamu tidak bekerja ya?" tanya Jasmine basa-basi.


"Kerja sih, Tan. Tapi, aku mau jenguk Celyn dulu. Kata Rico dia sakit. Celyn ada di atas kan Tan?"


"Ada, Nin. Tapi dia lagi mandi dan sebentar lagi juga turun. Kamu temui aja dia ke kamarnya!"


"Tidak usah, Tan. Aku tunggu Celynnya di sini aja. Toh dia juga akan turun sebentar lagi." sahut Anin sembari menghempaskan tubuhnya


di atas sofa. Sementara itu Jasmine berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


15 menit berselang, Celyn turun dengan tubuh yang sudah segar, tapi tidak dengan wajahnya. Wajah Celyn masih terlihat pucat seperti tidak dialiri oleh darah sama sekali.


"Eh, Anin. Pagi-pagi kok sudah ada di sini? kamu tidak ke galeri ya hari ini?" tanya Celyn ketika melihat Anin yang dengan santainya tiduran di atas sofa.


Anin bangun dari tidurnya dan langsung beranjak menghampiri Celyn. Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya itu, Anin justru meletakkan tangannya di kening Celyn.


"Badanmu tidak panas, tapi kenapa kata Rico kamu sakit? kamu sakit apa sih? mukamu juga sangat pucat," selidik Anin dengan alis bertaut dan kepala yang sedikit miring ke samping.

__ADS_1


"Aku nggak sakit apa-apa. Cuma pusing aja. Mungkin tekanan darahku sangat rendah, akibat dari kecapean selama ini." sahut Celyn sembari melangkah menuju ruang makan dan Anin mengekor dari belakang.


"Kamu sama kaya, Kak Aby. Kak Aby juga tadi pagi, muntah-muntah dan bayangin dia ingin muntah juga ketika mencium aroma nasi goreng."


Celyn menghentikan langkahnya dan sontak menoleh ke belakang, mendengar kabar kalau Aby sakit.


"Sekarang bagaimana keadaan Kak Aby? apakah parah?" cecar Celyn dengan wajah khawatir.


"Kak Aby baik-baik saja, kok, cuma tadi pagi dia tidak mau makan apa-apa, cuma makan roti saja. Dia kok kaya orang yang lagi ngidam ya? hahahahaha!" Anin tergelak, merasa lucu membayangkan kakaknya itu lagi ngidam. Sementara itu, Celyn tidak fokus pada candaan Anin, dia justru lebih fokus pada keadaan Aby sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jasmine dan Celyn kini sedang duduk di sebuah kursi besi di rumah sakit, menunggu panggilan dari dokter. Ya, karena melihat wajah Celyn yang pucat, Jasmine memutuskan untuk membawa Celyn ke rumah sakit, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Celyn, walaupun pada awalnya Celyn selalu menolak untuk dibawa ke rumah sakit.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya nama Celyn pun dipanggil dan kedua wanita berbeda usia itu langsung masuk, dan duduk di kursi setelah dipersilahkan oleh sang dokter.


Dokter pun mulai menanyakan semua keluhan-keluhan Celyn. Dan Celyn menjawab jujur apa adanya.


Kemudian dokter itu menyuruh Celyn berbaring dan memeriksa tekanan darah terlebih dulu.


"Tekanan darah,Mbak sedikit rendah." Kemudian dokter itu memeriksa jantung Celyn memakai stetoskop, dan ada keryitan yang timbul di kening dokter itu.


"Mba, apa kamu sudah terlambat menstruasi?" tanya dokter sambil menurunkan alat stetoskopnya dari telinga.


Celyn tercenung dan menyadari kalau dirinya memang sudah dua minggu ini tidak datang bulan.


"Iya, Dok. Apa ada masalah, Dok?" tanya Celyn khawatir.


"Hmm, menurut dugaan saya, kalau anda sedang hamil, Mba. Tapi __"


"Hamil? itu tidak mungkin Dok! aku sama sekali belum menikah dan tidak pernah melakukan hal itu dengan siapapun." Celyn menyela ucapan dokter itu,menggelengkan kepala tidak percaya.


"Iya, Dok. Putriku belum menikah, jadi tidak mungkin dia bisa hamil. Anda salah diagnosa mungkin!" Jasmine ikut bersuara menimpali ucapan putrinya.


"Bu, Mbak, aku mengatakan hanya dugaan saja, karena aku bukan dokter kandungan. Tapi walaupun aku dokter umum, kami bisa tahu kalau wanita itu hamil atau tidak, melalui 'auskultasi' tidak langsung melalui stetoskop. Kami bisa membedakan detak jantung wanita yang tidak hamil dan yang sedang hamil. Tapi, untuk lebih jelasnya Mbak bisa periksa ke dokter kandungan." terang dokter itu dengan senyuman di bibirnya.


"Tapi, kalau kalian masih ragu, coba mbak test dulu memakai, alat test kehamilan ini." dokter itu, memberikan sebuah benda pipih yaitu tespeck, karena melihat keraguan yang tercetak jelas di wajah Celyn.


Tbc

__ADS_1


Please untuk tetap meninggalkan jejaknya ya Gais. Like, Vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh😁


__ADS_2