
Roni segera dilarikan ke rumah sakit, dan sekarang sedang dalam penanganan dokter.
Aby terlihat mondar-mandir di depan ruang IGD, karena bagaimanapun Roni terluka karena menyelamatkan anaknya.
Aby tidak bisa membayangkan seandainya yang terkena tembakan adalah anaknya, bisa dipastikan, baby Arend tidaklah akan selamat.
Suara benturan sepatu yang beradu dengan lantai mengalihkan perhatian semua orang, ke arah datangnya suara itu.
Terlihat Celyn dengan mata yang sembab, mendekat dengan sedikit berlari.
"Sayang, bagaimana keadaan Roni? kenapa kakak tidak memberitahukanku yang sebenarnya?" cecar Celyn sambil menguncang-guncang tubuh Aby.
"Haish, ini pasti mama tidak bisa menjaga rahasia. Sudah dibilang jangan dikasihtahu dulu, tetap saja dikasihtahu." bisik Aby pada dirinya sendiri.
"Kamu jangan salahkan mama. Walaupun mama tidak memberitahukanku, aku mamanya, jadi feelingku sangat kuat dan bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres," ucap Celyn, seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Aby.
"Maaf, Sayang! aku hanya tidak ingin kamu khawatir dan nekad untuk ikut menyelamatkan baby Arend. Sekarang Roni sedang ditangani, mudah-mudahan dia baik-baik saja ya," terang Aby dengan wajah sendu.
Aby langsung menghambur begitu pintu IGD sudah terbuka. Bukan hanya Aby, semuanya juga mendekat ke arah dokter itu.
"Bagaimana keadaan Roni, Dok?" tanya, Aby dengan tidak sabar.
" Peluru sudah berhasil kami keluarkan. Beruntung pelurunya tidak terlalu berbahaya dan tidak mengenai jantung, dan sebelum dibawa ke sini, pertolongan pertama untuk menghindari pendarahan dilakukan dengan baik. Kalau boleh tahu, siapa orangnya yang sudah melakukan pertolongan pertama pada korban?" tanya dokter sambil memutar mata menatap semua orang satu persatu.
"Itu, saya dan dibantu oleh Reyna adiknya," sahut Aby.
"Syukurlah kalian berdua bertindak cepat dan melakukan penanganan dengan cara yang benar. Walaupun, Pak Roni mengeluarkan banyak darah tapi tidak sampai mengalami pendarahan dan juga tidak sampai mengalami Kerusakan pada jaringan dan organ tubuh. Sehingga Pak Roni tidak akan mengalami kelumpuhan. Akan tetapi, pak Roni kemungkinan akan sedikit mengalami trauma dan itu wajar." jelas dokter itu dengan detail.
"Apa Roni akan mengalami koma, Dok?" tanya Aby lagi lagi.
"Hmm, menurut perkiraanku, dia tidak akan koma. Mudah-mudahan sebentar lagi dia akan siuman."
Semua yang ada di sana seketika menghela napas lega.
"Terima kasih, Dok!" ucap Aby dan diikuti dengan yang lainnya.
"Sama-sama, Pak Aby. Justru aku juga sangat berterima kasih karena dengan tindakan kalian yang cepat dan tepat, mempermudah saya dalam menolong pasien." dokter itu tersenyum tulus.
"Kalau begitu aku pamit dulu! kalau kalian mau melihat pasien, boleh saja. Tapi kalau boleh setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan ya,"
__ADS_1
"Iya, Dok. Aku mau Roni di rawat diruang VVIP," tegas Aby.
"Baik, Pak!" dokter itu pun berlalu pergi setelah berpamitan kembali, dan Aby dan yang lainnya mengiyakan.
"Bagaimana keadaan Roni? dia baik-baik saja kan?" Ardan dan Rio yang baru saja datang, karena baru kembali dari kantor polisi, langsung mencecar Aby, menanyakan keadaan Roni
"Roni, baik-baik saja, Pa. Kita tinggal menunggu dia sadar kembali,"
Ardan dan Rio, mengembuskan napas lega, mendengan jawaban Aby.
"Syukurlah, kalau begitu." gumam Ardan.
"Bagaimana dengan mereka semua, Pa?" tanya Aby yang dari sorot matanya masih terlihat kemarahan yang amat sangat.
" Kamu tenang saja, Mereka kami tuntut, dihukum yang seberat-beratnya." sahut Ardan sambil menepuk-nepuk pundak putranya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Shasa bersama mamanya keluar dari dalam sel, dengan secercah harapan. Karena kata polisi, kalau papanya datang untuk menjenguk. Mereka berharap, pria yang masih berstatus suaminya mamanya Shasa itu, datang untuk memberikan jaminan, sehingga mereka bisa bebas.
"Papaaah!" Shasa sedikit menghambur ingin memeluk papanya. Demikian juga dengan mamanya yang memasang senyum termanis. Wanita setengah baya itu, sangat yakin kalau suaminya itu masih sangat mencintainya.
"Mas, terima kasih sudah mau menjenguk kami ke sini. Mas datang ke sini untuk membebaskan kami kan?" Ningsih, mamanya Shasa hendak meraih tangan suaminya, akan tetapi, pria itu langsung menghindar dengan menarik tangannya dari atas meja, dan meletakkan di atas pahanya.
"Sebenarnya aku datang ke sini, karena sangat terpaksa. Aku membutuhkan tanda tanganmu di surat cerai ini. Karena kelakuan burukmu, Pengadilan mengabulkan permohonan ceraiku,"
Ningsih dan Shasa, kaget bagai mendengar petir di siang bolong. Ningsih bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya.
"Aku tidak mau,Mas! kamu tidak boleh seperti itu. Setelah aku begini, kamu mau menceraikanku begitu saja. Harusnya, kamu berusaha untuk membebaskan kami,"
"Apa kamu kira, aku bisa membebaskan kalian hanya dengan memberikan jaminan, setelah perbuatan jahat yang sudah kalian lakukan? Apalagi kalian melakukan tindakan kejahatan pada keluarga Ardan Bagaskara. Itu sangat mustahil. Sekarang kamu tanda tangani surat cerai ini, karena aku akan menikah lagi!"
Brakk
Ningsih berdiri sambil menggebrak meja denga keras.
"Kamu jangan seenaknya ingin bercerai ya, Mas. Sampai kapanpun aku tidak akan menandatanganinya." tolak Ningsih dengan suara yang meninggi dan menatap suaminya itu dengan sengit.
"Iya, Pah! jangan ceraikan mama, setidaknya papa melihat aku, sebagai anak kalian berdua." Shasa menimpali ucapan mamanya, memohon pada papanya.
__ADS_1
Papanya Shasa tersenyum miring, kemudian terkekeh dengan aura wajah yang sangat sinis.
"Demi kamu? Apa kamu kira kalau kamu itu darah dagingku? asal kamu tahu, kamu itu sama sekali bukan darah dagingku."
Ucapan yang baru saja dilontarkan oleh pria itu, membuat netra Shasa membesar dengan sempurna. Dia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya.
"Apa maksudmu, dia bukan anakmu, hah? dia itu anakmu, anak kita." protes Ningsih tidak terima.
"Apa kamu bisa membuktikan kalau dia itu anakku?"
Ningsih terdiam, dengan raut wajah yang sangat pucat, kesulitan untuk menjawab.
"Tidak bisa kan? kalau aku, aku bisa membuktikan yang dia bukan darah dagingku. Ini hasil test DNA yang sebenarnya sudah aku lakukan 5 tahun yang lalu. Tapi, karena aku tidak ingin reputasiku hancur, aku terpaksa pura-pura tidak tahu. Apa kamu mau melakukan pembelaan lagi?"
"Ini tidak benar? katakan, Ma! ini tidak benar kan? papa lagi bercanda kan?" Shasa mulai histeris dan mengguncang-guncang tubuh Ningsih mamanya, meminta penjelasan.
"Kenapa kamu, baru membongkarnya sekarang? apa kamu tidak takut reputasi kamu hancur juga?" Ningsih tidak menjawab, desakan Shasa, justru dia menatap suaminya yang mungkin sebentar lagi akan jadi mantan dengan tatapan memelas.
"Justru sekarang, aku sedang memperbaiki reputasiku. Dengan kalian di penjara, aku sudah sangat malu. Akan tetapi dengan menunjukkan bukti-bukti ini, aku mau membuktikan pada masyarakat, bahwa sebenarnya kamu itu wanita jahat, dan aku memberitahukan pada masyarakat, kalau sebenarnya selama ini aku juga sudah ditipu olehmu. Aku yakin, masyarakat akan bersimpati denganku, dan akan menghujat kalian berdua." jelas, pria itu dengan santai, bahkan terkesan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kamu ...!" Ningsih kembali berdiri, dengan napas yang memburu. Raut wajahnya sudah terlihat memerah, pertanda kalau dirinya sudah. sangat marah.
"Sekarang, tanda tangani ini! aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan kalian berdua!"
Ningsih tersenyum sinis, dan terkesan mengejek. "Baiklah aku akan tanda tangani. Tapi, aku kasihan denganmu. Kamu itu akan sendirian di masa tuamu, karena kamu tidak punya anak sama sekali, hahahaha!" ejek Ningsih.
"Tidak usah banyak bicara! sekarang cepat tanda tangani!"
Ningsih meraih surat cerai itu, dan tanpa ragu langsung membubuhkan tanda tangannya. Sedangkan Shasa tidak berhenti menangis seraya tetap menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar.
"Akhirnya! aku lega sekarang." pria yang sekarang berstatus mantan suami Ningsih itu berdiri dan hendak beranjak pergi. Akan tetapi, dia kembali berbalik dan menatap sinis ke arah Ningsih.
"Oh ya, tadi kamu mengatakan kalau aku akan hidup sendiri tanpa anak dan istri? Asal kamu tahu, kalau sebenarnya aku sudah lama menikah untuk kedua kalinya dan bahkan sudah memiliki dua anak dari istriku itu. Ingat! mereka berdua benar-benar anak kandungku. Sekarang dengan adanya surat cerai ini, aku akan meresmikan pernikahanku, dan hidup tentram. Sedangkan kamu, bersiap-siaplah untuk hidup membusuk di dalam penjara, karena selain kasus penculikan anaknya Aby, aku juga sudah melaporkan bahkan sudah memberikan bukti, kalau kamu sudah menghilangkan nyawa, pria yang merupakan papa kandung Shasa." ucap pria itu sambil berlalu pergi.
" Sandyyyyy brengsek! kurang ajar! aku doakan kamu tidak akan bahagia, brengsek!" Ningsih berteriak, seperti kesetanan. Sehingga para polisi segera turun tangan, membawa kembali wanita setengah baya itu kedalam sel dan bahkan membentaknya agar berhenti berteriak. Sedangkan Shasa, hanya bisa menangis meratapi nasib dan mulai tertawa sambil menangis.
Tbc
Maaf ya, hari ini aku slow up, karena seharian ini aku mengunjungi istri adik ipar saya yang baru melahirkan.
__ADS_1