Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Awasi mereka berdua!


__ADS_3

"Ma-maksudnya?" tanya Reyna, berusaha mencerna arah pembicaraan, Aby.


"Kami mau kamu menyusul Adrian ke London besok dan kuliah di sana bersama dengan putraku. Masalah visa kami sudah urus dari kemarin dan hari ini juga selesai. Kamu jangan khawatir, Papamu dan Roni sudah menyetujuinya." jelas Aby, tegas.


Reyna sontak menatap Roni kakaknya, meminta penjelasan. Dan matanya membola, begitu melihat kakaknya itu, menganggukkan kepala.


"Jadi, kemarin kakak memaksaku untuk mengurus pasport, dengan mengatakan kalau kakak ingin membawaku liburan ke Paris itu, hanya alasan kakak saja?" Roni tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


Reyna mendengus, kesal merasa dibohongi.


"Pantas saja! aku juga bingung darimana kakak punya banyak uang, buat bawa aku liburan ke Paris? dan bodohnya, aku bisa percaya." gumam Reyna sangat pelan, tapi masih bisa didengar semua orang, hingga membuat semua yang ada di situ tertawa.


"Jangan meremehkanku! kamu kira aku tidak punya uang? kamu tahukan gajiku sebulan berapa?" bisik Roni yang merasa malu, atas ucapan adiknya.


"Bagaimana Reyna, apa kamu mau berangkat menyusul Adrian besok?" Ardan kembali ke topik pembicaraan.


Reyna diam sejenak, menatap ke arah Ardan dan seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan itu, yang menunggunya memberikan jawaban. Kemudian, Reyna menghela napasnya dengan sekali hentakan lalu menerbitkan seulas senyuman dan menjawab,


"Aku mau, Tu eh Om!" sahut Reyna tegas.


Mendengar jawaban Reyna, semua yang ada di ruangan itu, seketika tersenyum lega.


"Baiklah! Roni kamu juga ikut dengan Reyna besok ke sana!" celetuk Ardan tiba-tiba, hingga membuat Roni dan Reyna terkesiap, kaget.


"A-aku, Tuan? ta-tapi kenapa?" tanya Roni bingung.

__ADS_1


"Kamu mau tanya lagi kenapa? ya menjaga kedua orang ini, agar jangan berbuat macam-macam. Emang kamu mau, sekolah mereka gagal, karena adikmu hamil anaknya Adrian, di luar nikah? kemarin saja sudah berani cium-ciuman. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau mereka dibiarkan berdua di negara Inggris sana. Bisa-bisa dua bulan ke depan, mereka udah pulang ke Indonesia, karena tekdung." ucap Ardan, membuat pipi Reyna memerah, malu.


"Aku juga sudah menyewa apartemen buat kalian berdua di sana. Jadi, kalian tetap tidak tinggal bersama Adrian, tapi tentu saja masih berdekatan." Ardan diam sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk meraup oksigen agar paru-parunya kembali terisi dengan udara.


"Aku juga mau, selagi umurmu masih muda, kamu juga kuliah di sana. Karena aku tahu, kemampuan bahasa Inggrismu juga sangat bagus. Sepulang dari sana, hotel ini, menantimu, agar bisa kamu kelola." sambung Ardan kembali sambil menyarahkan sebuah map ke arah Roni.


Dengan tangan gemetar, Roni menerima map itu dari tangan Ardan, kemudian dia membuka map itu, yang ternyata isinya berisi surat kepemilikan hotel bintang lima, atas namanya.


Roni sontak menatap Ardan dengan tatapan penuh tanya,


"Tu-tuan, apa maksudnya ini?" tanya Roni dengan tangan yang gemetar dan mata yang berembun.


"Bukannya kamu bisa baca dengan jelas apa yang tertulis di kertas itu? hotel itu milik kamu sekarang. Itu tidak bisa dibandingkan dengan jasamu yang telah menyelamatkan cucuku. Makanya kamu belajar yang benar di sana, bagaimana cara berbisnis yang benar, agar kamu bisa mengelola hotel itu. Kalau kamu tekun, aku yakin kalau suatu saat kamu akan memiliki banyak cabang hotel bahkan usaha-usaha lainya. Kamu tenang saja, biaya kuliah dan hidupmu di sana, adalah hasil keuntungan dari hotel kamu. Jadi kamu tidak harus berutang budi pada kami. Karena sesungguhnya kamilah yang berutang nyawa padamu." jelas Ardan yang membuat Roni, speechless dan tanpa terasa, cairan bening yang berusaha dia tahan, berhasil lolos keluar dari sudut matanya dan buru-buru dia seka.


"Ta-tapi, Tuan. Ini sangat berlebihan. Aku tidak bisa menerimanya." Roni berniat memberikan kembali map itu ke tangan Ardan. Akan tetapi, Ardan menepis map yang terulur kepadanya.


Roni tercenung, bergeming untuk beberapa detik. Detik berikutnya, Roni mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan dan menganggukkan kepalanya.


"Baik, Tuan, aku mau! terima kasih banyak, Tuan! aku akan berjuang untuk membuktikan kalau aku mampu." ucap Roni tegas dan yakin.


"Bagus! itu yang aku mau lihat dari kamu. Dan satu lagi, jangan panggil aku Tuan! Panggil aku Om dan istriku Tante!" ucap Ardan seraya menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.


"Emm ... iya, Tu eh Om!" ucap Roni, merasa sedikit janggal, karena belum terbiasa dengan panggilan baru itu.


Suasana kembali terlihat hening, karena merasa apa yang hendak dibicarakan sudah selesai.

__ADS_1


Tiba-tiba raut wajah Roni berubah murung. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Roni? kenapa kamu diam dan terlihat murung?" tanya Amanda yang menyadari perubahan raut wajah, pria berusia 22 tahun itu.


"Tidak apa-apa, Bu eh Tan. Aku hanya memikirkan, kalau aku dan Reyna pergi, bagaimana dengan papa kami? dia akan sendiri nantinya." ujar Roni, mengungkapkan kerisauannya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan papa. selama kalian berdua di sana, papa bisa menjaga diri. Yang penting kalian berdua baik-baik di sana. Kamu lupa siapa papa? papa bukan orang lemah, kan?" ucap Jodi, papanya Roni dan Reyna yang muncul tiba-tiba.


"Apa Papa yakin?" tanya Roni, memastikan.


"Apa kamu meragukan, papamu ini, hah?!" Jodi, menghunuskan tatapan tajamnya ke arah, Roni.


"Tidak, Pah!" sahut Roni, cepat.


"Bagus!" Jodi, menepuk-nepuk pundak putranya itu dengan lembut, seraya memaksakan diri untuk tersenyum. Karena sejujurnya, ada rasa sedih di dalam hatinya karena hari ini adalah hari terakhir, dirinya bisa bersama dengan kedua buah hatinya. Akan tetapi,dia berusaha menunjukkan. pada kedua anaknya kalau dia baik-baik saja demi masa depan keduanya.


"Oh,ya Roni. Kamu harus tetap ingat untuk terus mengawasi Adrian dan adikmu. Jangan sampai kamu kecolongan. Karena aku tahu, bagaimana pria keturunan Bagaskara, licik dan punya banyak seribu cara untuk mengelabui." celetuk Amanda tiba-tiba, membuat Ardan dan Aby menggaruk-garuk kepala mereka yang sama sekali tidak gatal.


"Betul sekali!" celetuk Celyn menimpali, membuat gelak tawa pecah seketika. Sedangkan wajah Reyna, seketika berubah merah, merasa malu mendengar ucapan Amanda.


Sedangkan seorang pemuda yang masih berada di dalam pesawat, berkali-kali menggosok kupingnya yang berdengung dan juga berkali-kali bersin. Siapa lagi dia kalau bukan Adrian.


"Sepertinya ada orang yang sedang membicarakanku. Aku sumpahin kalau orang itu sedang minum, dia akan tersedak." umpat Adrian dalam hati dengan nada yang kesal.


"Uhuk, uhuk! Amanda yang kebetulan sedang minum, terbatuk-batuk karena tiba-tiba tersedak.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2