
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sekarang Ardan disibukkan mengurus resepsi pernikahannya dengan Amanda yang akan di adakan Minggu depan. Ya, menurut Dokter Ridwan, penyakit Anin sudah pulih dengan sempurna dan Minggu depan sudah bisa menikmati dunia luar, seperti biasanya.
Dugaan Ardan juga tidak meleset, Yuda asisten barunya yang masih berusia 25 tahun itu, pun sangat cekatan dan sigap dalam menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia bisa belajar dengan cepat, dan langsung menguasai pekerjaannya dengan baik.
"Mas, setelah ini kita jemput Aby ya?" Ucap Amanda setelah mereka selesai membicarakan konsep resepsi yang akan mereka pakai nantinya dengan WO.
"Hmm, Iya deh. Apa kamu ada hal lagi yang mau diurus? tanya Ardan, melirik singkat pada sang istri.
"Hmmm, kayanya gak ada lagi. Jadi kita langsung ke sekolah Aby aja."
Ardan menganggukkan kepalanya, dan melajukan mobilnya menuju sekolah sang putra.
Tidak berselang lama, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ardan berhenti di sekolah elit itu.
"Aku langsung turun ya, Mas! atau kamu ikut turun juga?" ucap Amanda sambil melepaskan seatbelt atau sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya.
"Hmm, apa nggak sebaiknya kita menunggu saja di dalam mobil?" ujar Ardan dengan raut wajah malas.
"Hmm, ya udah deh!" pungkas Amanda sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi mobil.
"Sayang, untuk mengusir kebosanan bagaimana kalau kita bermain itu sebentar?" Ardan mengerlingkan matanya menggoda.
"Jangan gila, Mas! ini kita tidak lagi di rumah. Jangan aneh-aneh deh!" Amanda mendelik tidak suka, mendengar ucapan Ardan.
"Kamu tenang saja, nggak bakal ada yang melihat kita. Kita bisa melihat keluar, tapi orang yang ada di kuat tidak akan ada yang bisa melihat kita."
"Tetap aja aku nggak mau! Udah ah pikirannya jangan mesum aja!" tolak Amanda dengan bibir yang mengerucut.
Ardan tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung menyergap bibir Amanda dan Melu**matnya dengan lembut. Sesaat kemudian suara decapan terdengar memenuhi mobil itu. Tangan Ardan juga tentu saja tidak mau tinggal diam. Dari tadi tangan itu sudah bergerilya menyentuh setiap daerah-daerah sensitif di tubuh istrinya itu. Amanda yang tadinya menolak, justru kini meminta lebih.
Tok ...tok ...tok
Suara ketukan dari luar sontak mengangetkan mereka berdua dan segera menghentikan aktivitas mereka berdua.
Ardan hampir saja ingin membentak orang yang sudah mengganggu kesenangannya. Akan tetap ketika dia melihat kalau yang sedang mengetok kaca mobil itu Aby, kemarahannya langsung menguap.
"Kenapa lama sekali buka pintunya, Pa?" protes Aby dengan alis bertaut tajam.
__ADS_1
Ardan kebingungan untuk menjawab apa, dia melirik ke arah Amanda untuk meminta bantuan. Tapi, apa yang dia dapat? dia malah mendapat julukan lidah, meledek dari sang istri.
"Rasain! jawab tuh pertanyaan anakmu!" Batin Amanda dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.
karena tidak mendapat bantuan jawaban dari Amanda, Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak usah dijawab lagi, pa. Aby sudah mengerti kok." ucap Aby yang membuat Ardan dan Amanda terkesiap kaget.
"Apa mungkin anak sekecil ini sudah mengerti hal yang begituan?" batin Ardan khawatir.
"Apa yang kamu tahu?" selidik Ardan dengan mata yang memicing.
"Mama sama Papa pasti ketiduran kan di dalam. Mama ileran, jadi pas kaget mama ngelap ilernya, makanya yang merah-merah di bibir mama bisa belepotan begitu, iya kan?" ucap Aby yang terlihat bangga, merasa kalau dugaannya sudah sangat benar.
Amanda sontak menghapus bekas lipstik di sudut bibirnya, sedangkan Ardan menarik napas lega.
"Tapi yang aku heran, kenapa bibir papa juga ada merah-merah yang nempel? apa Papa juga mau seperti mama?"
Ardan kembali syok, dan refleks mengusap bibirnya. Sedangkan Amanda menutup mulutnya, menahan tawa.
"Aby, sekarang masuk ke mobil saja ya? biar kita cepat pulang ke rumah." pungkas Ardan untuk mengakhiri percakapan.
"Tadi, Guru Aby minta papa atau mama untuk menemuinya. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan," sambung Aby kembali.
"Untuk apa?" Ardan mengrenyitkan keningnya.
"Entah," Aby mengangkat bahunya, tidak tahu.
"Ya udah! Sayang kamu ikut atau menunggu saja di dalam mobil?" tanya Ardan.
"Aku ikut aja deh," Amanda membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil.
"Aby mau ikut, Mama sama Papa?" tanya Ardan kembali.
"Aby di dalam mobil saja, Pa." Sahut Aby, mantap.
" Ya udah! kamu baik-baik di dalam mobil. Papa sama Mama berangkat dulu." pungkas Ardan, sambil melihat ke sekeliling dan menggerakkan matanya untuk memerintahkan para anak buahnya, yang berjaga-jaga dari jauh, untuk tetap waspada melindungi putranya itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Eh, Pak Ardan, Bu Amanda, silahkan masuk dulu Pak, Bu!" ucap guru kelas Aby dengan sopan sambil menunjuk ke arah sofa yang ada di ruangan itu.
"Kata Aby, ibu ada perlu dengan kami berdua, ada apa ya?" tanya Ardan to the point tanpa basa-basi setelah mendaratkan tubuhnya duduk di sofa yang ditunjuk oleh guru Aby.
"Hmm, begini, Pak, Bu. Aby rencananya akan dinaikkan ke kelas 4, soalnya untuk di kelas dua, Aby sudah sangat tidak cocok lagi, dia terlalu pintar untuk menjadi kelas dua. Sebenarnya untuk jadi anak kelas empatpun sangat tidak cocok. Setelah kami test semua pelajaran,dia bisa mengerjakan dengan baik dan benar, bahkan untuk pelajaran kelas 6 sekalipun. Bagaimana Pak, Bu?" jelas ibu guru itu dengan lugas.
"Begini Ibu, bukannya kami tidak mau kalau Aby melompat kelas. Tapi yang aku permasalahkan, bagaimana dengan mentalnya? Karena sebagai orang tua, kami tidak mau egois. Bisa saja dia mampu di akademik, tapi bagaimana dengan mentalnya, mengetahui usia anak saya masih sangat belia. Aku takut, karena dia terlalu muda, di kelas empat nanti, banyak yang ngebully anak saya." Amanda mengungkapkan kekhawatirannya.
Ibu guru itu tersenyum, paham dengan ke khawatiran Amanda. "Bu Amanda, aku paham dengan apa yang ibu takutkan.Aby itu justru sikapnya sangat tidak sesuai dengan usiannya. Kalau dia tetap dipaksakan tetap di kelas dua, itu malah akan mengganggu mentalnya. Anak-anak lain tidak bisa menyesuaikan diri dengan karakter Aby yang cukup dewasa. Jadi dia seperti orang dewasa yang dikelilingi oleh anak-anak. Ibu tenang saja, Aby akan dipindahkan kelasnya bersama Kenjo dan Calvin. Jadi, Aby tidak akan merasa paling muda nanti di kelasnya. Dan kebetulan orang tua kedua anak itu sudah setuju. Bagaimana Ibu,Pak?"
Amanda diam sejenak, seperti tengah berpikir. Kemudian dia menatap Ardan untuk meminta persetujuan, dan Ardan pun menganggukkan kepalanya, menyetujui.
"Baiklah, Bu. Kalau memang itu yang terbaik, kami setuju saja." Pungkas Amanda akhirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ardan sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, sedangkan Amanda memilih untuk pergi ke toilet terlebih dulu.
"Hai, Ibu Amanda! baru kelihatan lagi nih." Sapa ibu-ibu sosialita setelah melihat Amanda keluar dari toilet.
"Eh, nggak sih, Bu. Tiap hari saya jemput Aby kok. Cuma memang aku tidak keluar dari dalam mobil." sahut Amanda jujur.
Semua wanita-wanita sosialita itu, mengangguk-anggukan kepala, dengan senyum yang dibuat-buat.
"Bu, Manda. Gini ... Ibu mau gabung tidak dengan arisan kita-kita? arisan berlian gitu, Bu. Dan kita juga nantinya setiap Minggunya ada mengadakan pertemuan-pertemuan, untuk mengeratkan silaturahmi." Ucap wanita yang dikenal orang dengan mamanya Shasa dengan mulut manisnya.
"Hmm, maaf Ibu-ibu, sepertinya aku tidak cocok bergabung dengan ibu-ibu. Jadi, dengan berat hati aku tidak bisa, Ibu-ibu," tolak Amanda dengan sopan, mengingat kalau wanita-wanita di depannya itu hanya pura-pura baik di depannya.
Berbagai reaksi mulai timbul dari wanita-wanita sosialita itu, Tapi yang jelas, mereka tersenyum di bibir tapi mengumpati Amanda di dalam hati.
Mama Shasa yang terkenal dengan mulut manisnya kembali berusaha membujuk Amanda untuk ikut, tapi Amanda tetap saja menolak.
"Anda kenapa begitu sombong, Ibu Amanda? anda seharusnya bersyukur bisa bergabung dengan kita-kita. Kalau berteman dengan kita, anda akan terlihat lebih keren." ketus mamanya Shasa, dengan sinis.
Amanda hanya tersenyum menanggapi ucapan mamanya shasa "Maaf, Bu, sebenarnya aku hanya tidak terbiasa Bu, untuk hidup dalam kebohongan, berbohong dengan mengatakan memiliki segalanya, demi untuk bisa pamer. Aku suka bergabung dengan orang-orang yang menginspirasi. Aku juga tidak mau terjebak dalam circle pertemanan yang dianggap ketika sedang dibutuhkan saja. Perkumpulan yang suka merendahkan orang lain itu, menurut saya bukan perkumpulan yang menimbulkan dampak positif justru sebaliknya. Ibu-ibu coba deh baca Quote dari 'Robert Half', Orang yang selalu melihat rendah orang lain ,tidak akan pernah berakhir menjadi orang yang dipandang tinggi.” sindir Amanda dengan seulas senyum di bibirnya. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan wanita-wanita sosialita itu, setelah pamit terlebih dulu, walaupun tidak mendapatkan tanggapan sama sekali.
__ADS_1
TBC
Kencengin Like, vote dan komennya dong gais.🙏😁😍🤗