
"Jasmine, maafkan papa. Papa terlalu egois mengatur hidupmu. Papa ingin kamu menjadi sesuai seperti yang papa inginkan, tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu selama ini," ujar Johan dengan lirih.
"Jasmine sudah maafin kok, Pah. Jasmine juga minta maaf, sudah jadi anak yang selalu membangkang selama ini, yang tidak bisa membuat papa bangga." Jasmine menggenggam tangan papanya dengan erat. Dari sudut matanya sudah terlihat butiran cairan bening seperti kristal yang menetes membasahi pipinya.
Sejurus kemudian, kedua orang papah dan anak itu, terlihat saling berpelukan, menangis melepas rindu yang selama ini mereka pendam.
"Dimana Rio suamimu, Nak? Apa dia tidak mau melihat papa? kalau dia tidak mau, papa sangat maklum dengan hal itu. Papah sudah berkali-kali membuat dia sakit hati," desis Johan dengan wajah sendu.
"Pah, Rio tidak seperti itu, dia sebenarnya ada di luar. Dia tidak masuk, karena takut kalau papah nanti marah-marah, dan jantung papa jadi semakin parah," terang Jasmine.
"Apa bisa kamu memanggil suamimu untuk masuk? papah mau minta maaf sekaligus ingin mengatakan sesuatu." pinta Johan dengan manik mata yang penuh harap.
Jasmine bergeming tidak langsung beranjak untuk memenuhi apa yang diminta oleh papahnya, karena selain ragu kalau papahnya sudah berubah, dia takut nanti dengan kehadiran Rio semakin memperparah, jantung papahnya
"Kenapa, Nak? kenapa kamu masih diam di sini? apa kamu masih ragu sama papah?" tanya Johan masih tetap dengan kesenduan di wajahnya.
"Apa, Papa bisa janji tidak akan marah-marah lagi sama, Mas Rio?" kening Jasmine terangkat ke atas, memastikan.
"Iya, papa yakin. Kamu tenang saja!"
Jasmine akhirnya dengan langkah gontai, dan perasaan yang tidak nyaman memberanikan diri untuk memanggil Rio yang duduk bersama dengan ibu mertuanya di kursi besi depan ruangan tempat Johan dirawat.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Rio, terima kasih sudah mau datang ke sini untuk menemuiku. Bila mengingat semua kesalahanku, rasanya aku tidak punya muka untuk melihatmu. Tapi aku tidak bisa tenang kalau tidak meminta maaf padamu," suara Johan terdengar sangat lirih, dan agak sedikit tersendat-sendat karena sedang menahan air matanya agar tidak keluar.
__ADS_1
"Pak Johan, sebagai manusia biasa, sebenarnya aku tidak menampik kalau aku masih sakit hati kalau mengingat semua penghinaan anda. Tapi, aku mau hidup bahagia, Pak dan aku tahu, kalau aku masih mengingat masa lalu, kebahagiaan yang aku inginkan itu tidak akan datang, justru akan menimbulkan rasa sesak, benci yang tidak berkesudahan. Jadi, jujur, aku tidak mau mengingat masa lalu, demi kebahagiaan yang akan ku raih," jawab Rio dengan tegas dan diplomatis.
"Nak, Rio ... ehm, terima kasih sudah mau memaafkanku. Tapi, boleh gak kamu memanggilku, papa sama seperti Jasmine memanggilku?" pinta Johan dengan tatapan yang penuh harap.
Rio bergeming, untuk beberapa detik. Detik berikutnya dia membuka mulutnya, "Bolehkah? apakah anda benar-benar mengizinkannya?" tanya Rio, memastikan.
"Tentu saja boleh. Kamu itu satu-satunya menantuku. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan selama ini benar-benar salah." Ucap Johan dengan tulus.
Rio menghela napasnya dengan sekali hentakan. Detik berikutnya dia pun tersenyum menatap Johan. "Terima kasih, Pah!"
Johan terlihat bergerak dan ingin duduk. Rio dengan sigap membantu pria setengah baya itu .
"Rio, tolong kamu ambilkan map itu!" Johan menunjuk ke arah map hijau yang tergeletak di atas nakas.
Johan terlihat membuka map itu dengan perlahan dan membaca isinya. Setelah itu dia meraih tangan Rio dan meletakkan map hijau itu ke tangan Rio. Sehingga Rio semakin bingung dengan apa tujuan Johan.
"Rio, ini adalah surat kepemilikan perusahaan. Semua sudah aku alihkan atas namamu tadi malam bersama dengan pengacaraku. __Tunggu jangan potong dulu! biarkan dulu papa menyelesaikan ucapan papa." Ujar Johan, dengan cepat ketika dia melihat Rio hendak menyela ucapannya.
"Papa tahu kalau perusahaan itu sudah bangkrut. Tapi, papa percaya, kalau kamu akan bisa membangkitkannya kembali. Ini aku lakukan bukan karena perusahaan itu sudah bangkrut dan memanfaatkan dirimu untuk membuatnya bangkit. Bukan, kamu jangan berpikiran ke arah sana. Ini murni keinginanku dari dalam hatiku. Aku hanya memiliki satu putri dan kamu menantuku. Aku tidak peduli seandainya kamu mau mengganti nama perusahaan sesuai dengan keinginanmu, papa tidak pa-pa. Yang jelas sekarang itu sudah menjadi milikmu. Aku tidak sedang merendahkanmu sekarang, karena aku tahu apa yang kumiliki sekarang tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kamu miliki. Tapi, papa berharap kamu mau menerimanya." ucap Johan panjang lebar.
"Tapi, papa tidak harus berbuat seperti ini. Aku janji, aku akan mengembalikan semua seperti dulu, dan papa yang akan tetap mengelolanya. Aku tidak butuh semua ini, Pah. Yang aku butuhkan hanya pengakuan, sehingga aku bisa bahagia melihat Jasmine yang bahagia bisa berdamai dengan Papa," tolak Rio sambil meletakkan kembali map itu ke pangkuan Johan.
Johan kembali meletakkan map itu ke tangan Rio. "Tidak, Nak Rio! aku sekarang sudah tua. Aku ingin seperti Rudi yang bisa menikmati hidup, menghabiskan waktu bersama istri, anak dan cucunya. Kamu tenang saja, aku tidak melarang kamu untuk tetap bekerja dengan Ardan mau kamu merger pun dengan Bagaskara Company aku tidak masalah.Karena itu sekarang murni milikmu." ucap Johan dengan yakin.
"Tapi, Pah. Ini adalah hasil kerja keras papa. Bagaimana mungkin papa, bisa memberikannya padaku?" Rio benar-benar merasa tidak bisa menerima, pemberian Johan.
__ADS_1
"Sudahlah. Seandainya aku tidak kasih ke kamu pun, perusahaan itu juga akan hilangkan? anggap saja aku sudah menjualnya dan kamu yang membelinya. Aku tidak mau mendengar penolakan lagi, aku mau, Nak Rio benar-benar menerimanya." pungkas Johan, mengakhiri pembicaraan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia bersenandung ringan mengikuti alunan lagu 'perfect' by Ed Sheeran menyusuri jalan untuk kembali ke rumahnya.
Dia melirik sekilas ke arah ponselnya yang berbunyi untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya. Ketika Bagas hendak menjawab panggilan yang ternyata dari mamanya, Bagas tiba-tiba me'rem mendadak mobilnya, karena melihat ada seorang wanita yang menyebrang jalan.
"Gawat! wanita itu benar-benar tertabrak gak ya?" batin, Bagas dengan perasaan takut.
Dia segera membuka pintu dan menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat apakah wanita itu benar-benar dia tabrak atau tidak. Seketika dia mengelus dadanya dengan lega, ketika melihat wanita itu, terduduk, dengan raut wajah meringis menahan sakit, sambil memegang lututnya yang sepertinya tergores ke aspal.
Bagas keluar dari dalam mobil dan menghampiri wanita itu. "Makannya, Nona, lain kali kalau mau nyebrang itu lihat-lihat samping kiri kanan!" seru Bagas, Tapi tangannya tetap terulur untuk menolong wanita itu berdiri.
Wanita itu sontak mengangkat wajahnya dengan kesal, karena merasa dirinya tidak salah, justru orang yang hendak menabraknya itu lah yang salah.
"Kamu?" seru gadis itu, sengit.
"Hei, kenapa? apa kamu mengenalku?" tanya Bagas dengan alis yang bertaut, berusaha mengingat wanita yang masih belum mau menerima uluran tangannya itu.
"Sial! dia benar-benar tidak mengenalku." umpat wanita yang ternyata Clara, karyawan di Bagaskara Company. Yang sekarang posisinya, sekretaris Ardan menggantikan Amanda.
TBC
Jangan lupa, buat tetap ninggalin jejak jempolnya ya gais. Please tinggalin komen juga dan kalau berkenan kasih vote dan hadiah juga, author terima dengan senang hati.😁😍
__ADS_1