
Di lain tempat, tepatnya di Bagaskara Company, Ardan sedang sibuk menggantikan Aby putranya, yang sekarang sedang fokus menjaga Celyn di rumah sakit.
Ardan memeriksa semua kelengkapan dokumen-dokumen dari perusahaan Gilang yang sudah diambil alih oleh Bagaskara Company dan Mahendra group.
"Masuk!" serunya dari dalam ketika mendengar suara ketukan dari pintu.
Suara decitan pintu yang dibuka oleh seseorang, mengalihkan perhatian Ardan dan dia tersenyum ketika melihat sosok yang datang adalah sosok yang sedang dia tunggu, yaitu Kenjo
"Selamat siang, Om!" Kenjo menghampiri Ardan dan langsung mencium punggung tangan calon mertuanya itu.
"Siang, Ken! silahkan duduk!" Ardan menunjuk ke arah sofa.
Kenjo mengayunkan kaki, melangkah ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya, duduk di atas sofa, dan Ardan pun menyusul dengan membawa dokumen yang sudah selesai dia periksa.
"Ken, bagaimana, proyek perusahaan Morgan yang kamu tangani? apa kamu mendapatkan kendala?" tanya Ardan berbasa-basi.
"Sejauh ini, tidak ada kendala, Om. Semuanya berjalan lancar dan sesuai ekpektasi." sahut Kenjo, penuh percaya diri.
Ardan tersenyum sambil mangut-mangut.
"Oh ya, Om mau menyampaikan sesuatu sama kamu, makanya aku panggil kamu ke sini. Dan aku harap kamu tidak menolaknya."
"Apa itu, Om?" alis Kenjo bertaut, penasaran dengan ucapan Ardan yang terasa ambigu baginya.
"Kamu tahu, kalau perusahaan Gilang sudah diambil alih oleh Bagaskara Company dan Mahendra group bukan?"
Kenjo menganggukkan kepala, semakin bingung kemana arah pembicaraan Ardan.
"Begini, aku dan Rio sudah sepakat untuk memberikan perusahaan itu ke tanganmu, karena kami yakin kamu mampu untuk menanganinya. Buktinya projek perusahaan raksasa dari Morgan Company, bisa kamu tangani. Kamu mau kan?"
Kenjo, bergeming dengan mata yang terbuka lebar. "Om, aku rasa ini sangat berlebihan. Apa, karena aku punya hubungan dengan Anin makanya ,Om memberikan perusahaan itu padaku? Om takut kalau dengan perusahaanku yang tidak sebesar Bagaskara Company, tidak bisa menghidupi Anin?" raut wajah Kenjo sedikit mengeras, merasa diremehkan oleh Ardan.
Ardan menghela napasnya dengan sekali hentakan. Dari awal, dia sudah yakin kalau orang seperti Kenjo tidak akan langsung menerima begitu saja. Sejauh penilaian Ardan selama ini, Kenjo adalah tipe orang yang mau berusaha untuk maju, dengan usaha sendiri bukan karena belas kasihan.
"Ken, apa kamu merasa kalau aku berpikiran seperti itu? Anin memang putriku, dan setiap ayah menginginkan yang terbaik buat putrinya. Tapi, dalam hal ini, aku tidak meragukanmu. Karena aku tahu kalau kamu bisa juga memberikan apapun yang putriku mau. Kenapa aku dan Rio memberikan perusahaan Gilang untukmu, bukan karena apa yang kamu pikirkan, tapi karena kami pikir kamu sangat mampu. Dan kami tahu, kalau kamu menyayangi Celyn seperti adikmu sendiri," Ardan berhenti sejenak untuk mengambil jeda. Meraup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kembali ke udara.
__ADS_1
"Anggap sajalah, pemberian dari Rio untuk putra tertuanya. Kamu tahu, sebenarnya kami ingin menonaktifkan aktivitas perusahaan Gilang, tapi kami berpikir kalau kami menonaktifkannya, akan banyak orang yang kehilangan pekerjaannya. Anggaplah kamu menolong orang-orang itu, agar tidak kehilangan pekerjaan," jelas Ardan yang membuat Kenjo bergeming, dan kagum dengan pemikiran seorang Ardan yang memperdulikan orang lain.
Setelah diam untuk sepersekian detik, detik berikutnya, Kenjo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau memang begitu, Om. Aku bersedia. Tapi kalau boleh, biarkan aku dan Calvin yang menanganinya bersama."
Ardan tersenyum tipis. Inilah yang dia kagumi dari Kenjo. Selain pekerja keras dan bertanggung jawab, Kenjo bukan orang yang serakah.
"Itu terserah kamu! nih dokumen-dokumen perusahaan Gilang, sudah aku cek dan semuanya lengkap." Ardan menyerahkan dokumen-dokumen itu ke tangan Kenjo.
"Terima kasih, Om. Aku dan Calvin akan berusaha untuk tidak mengecewakan Om dan Om Rio."
"Aku percaya!" Ardan tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Kenjo dengan lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke rumah sakit, dimana Roni dan Reyna adiknya sudah keluar dari ruangan perawatan Celyn.
"Kenapa kalian berdua tidak jadi pulang? apa kalian benar-benar menunggu aku usir? lagian vitamin mata untuk kalian juga sudah keluar kan?" sindir Aby dengan nada meledek.
"Cih, kamu yakin tidak tahu maksud, kakak? Bukannya dari tadi mata kamu, cerah terang benderang setelah melihat Reyna? bukannya Reyna pantas disebut vitamin mata?"
"Kakak jangan sembarangan ngomong, aku tidak ada melihat dia." Adrian masih saja menyangkal.
"Cih, masih juga menyangkal!" Aby berdecih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku serius, Kak! asal kakak tahu, penghuni hatiku, masih tetap, kakak Celyn seorang," goda Adrian.
"Brengsek! kamu mau cari mati ya?!" Aby hendak menimpuk kepala Adrian. Akan tetapi, Adrian keburu menghindar sambil menarik tangan Rico keluar dari ruangan Celyn.
"Bye, Kak! Kak Celyn I love you, muachh," teriak Adrian dari pintu, memberikan kiss jauh, yang membuat Aby semakin meradang dan hendak mengejar Adrian. Sementara itu, tawa Celyn pecah melihat interaksi kedua kakak beradik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Calvin benar-benar tidak jadi pergi kemana-mana. Dia terpaksa makan siang bersama dengan Cantika. Sedangkan Bagas, sudah pergi ke kantornya kembali.
__ADS_1
"Kak, sebagai calon suami yang baik, nanti kakak ngerjain tugas sekolahku ya? soalnya tugasnya banyak, dan susah."
"Maaf, aku tidak bisa! aku harus kembali ke kantor karena aku masih punya banyak pekerjaan," tolak Calvin mentah-mentah dengan nada yang sangat datar.
Cantika merengut, kesal dan langsung memukul tangan Calvin dengan sendok yang sedang dia pegang.
"Aw, sakit, Cantika! belum jadi istri saja , kamu sudah seperti ini. Bagaimana nantinya kalau kamu sudah jadi istriku? bisa mati berdiri aku, kamu buat." Calvin mengerutu kesal.
"Kenapa,Kakak mau-mau aja jadi calon suamiku?
"Kamu kira aku beneran mau? aku hanya bercanda, tapi Om Bagas menganggapnya serius." cetus Calvin, masih dengan raut wajah kesalnya
"Kan kakak bisa menolaknya kembali,"
"Sayangnya aku tidak bisa!"
"Kenapa?apa karena aku cantik? dan kakak susah untuk menolak kecantikanku?" ujar Cantika, penuh percaya diri sambil mengerlingkan matanya ke arah Calvin.
Bibir Calvin, sedikit naik ke atas, tersenyum sinis. "Kamu terlalu percaya diri, Cantika. Ok, kamu memang cantik, tapi kalau boleh milih aku tidak mau punya jodoh galak seperti kamu,"
Cantika menggeram, mengepalkan tangannya, merasa kesal dengan ucapan Calvin yang seakan-akan merasa anti padanya.
"Jadi, kenapa kakak tidak bersikeras menolak, hah?!"
"Hmm, kamu mau tahu kenapa? itu karena papa kamu, mengancam kalau aku tidak mau menikahimu, perusahaanku akan dia buat bangkrut, dan aku tidak mau perusahaanku bangkrut. Kalau tidak, aku lebih baik memilih hidup melajang daripada hidup bersama wanita seperti kamu." ucap Calvin panjang lebar, tanpa memperdulikan, kalau kata-katanya sudah menyakiti hati Cantika.
"Emang aku wanita seperti apa? apa aku wanita yang sangat buruk, sehingga kamu lebih memilih hidup melajang daripada memiliki istri seperti aku? Ok, baiklah. Kakak tidak perlu khawatir. Aku yang buruk ini, akan bicara pada papa nanti untuk menolak kamu, menjadi calon suamiku. Kakak tidak perlu khawatir, aku akan meminta pada papa, agar tidak membuat perusahaan kamu bangkrut. Asal kamu tahu, masih banyak laki-laki di luar sana, yang ingin menjadikan wanita buruk ini menjadi istrinya," suara Cantika terdengar sangat dingin. Manik matanya kini sudah berembun, tapi, dia tetap berusaha agar air matanya tidak keluar.
Calvin terhenyak, dan seketika merasa bersalah dengan ucapan yang baru saja dia lontarkan.
"Bu- bukan seperti itu maksudku, aku __"
"Tidak perlu dijelaskan, Kak. Lagian aku juga tidak mau suatu saat menikah dengan orang yang hanya takut perusahaannya bangkrut, bukan karena atas dasar cinta. Itu sama aja, aku menikah karena bisnis. Jadi, kakak sekarang boleh pergi!" Cantika beranjak dari kursinya dan melangkah meninggalkan Calvin yang terpaku di tempatnya.
Tbc
__ADS_1