
Reyna langsung melayangkan tendangannya begitu wanita berpakaian perawat itu, hendak menggapai baby Arend.
Wanita berpakaian perawat itu, bangkit kembali dan mulai menyerang Reyna. Ternyata, wanita itu cukup tangguh dalam bela diri.
Pria yang diyakini ayah dari Gilang itu, memanfaatkan kesempatan untuk mengambil baby Arend, ketika mereka sedang sibuk bertarung. Untungnya mata Reyna cukup awas dan dengan gerakan yang cepat dia berlari dan memukul tengkuk pria itu, hingga jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Akan tetapi, sebagai akibatnya, dia harus terkena tendangan dari wanita yang menjadi lawannya tadi.
Dengan menahan rasa sakit, Reyna kembali bangkit berdiri, dan menyeringai sinis ke arah wanita itu. Kemudian dia memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menerima serangan dari wanita itu. Matanya dengan tajam mengarah ke satu titik yaitu bagian dada. Begitu wanita itu, menyerang Reyna, dengan tangkas Reyna menghindar, akan tetapi dengan gerakan cepat dia melompat dan memberi tendangan tepat di dada wanita itu. Ketika wanita itu tersungkur sambil memegang dadanya, dengan sigap, Reyna juga lansung memukul keras tengkuk wanita itu, hingga tidak sadarkan diri.
"Jangan coba-coba mendekat ke arah bayi itu, kalau kalian tidak mau terluka!" pekik Reyna ketika dua wanita ular yang sudah berumur itu, hendak mendekati baby Arend. Siapa lagi mereka kalau bukan, mamanya Gilang dan Shasa.
Kedua wanita itu, langsung beringsut mundur ketakutan, ketika melihat manik mata Reyna yang menghunus tajam.
Ekor mata Reyna, bergerak, melirik ke arah papa dan kakaknya yang sedikit kewalahan, menghadapi delapan orang itu. Dia menjadi dilema antara membantu atau tidak. Kalau dia membantu, otomatis fokusnya untuk mengawasi baby Arend akan berkurang, dan kedua wanita ular itu, bisa saja membawa baby Arend, kabur. Akan tetapi, kalau tidak dibantu, papa dan kakaknya bisa-bisa akan terpukul mundur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di lain tempat terjadi perdebatan antara Aby dan papanya Ardan. Ardan dengan tegas menolak, untuk membebaskan Gilang dan Shasa, lalu memberikan permintaan dari orang tua Gilang dan Shasa.
"Pah, ini menyangkut keselamatan anakku. Dan Arend itu, cucu Papa." pekik Aby, kesal.
"Aku tahu. Tapi kita tidak boleh, gegabah dalam bertindak. Kamu harus berpikir secara nalar dulu. Jika kamu melepaskan, Gilang dan Shasa, apakah akan ada jaminan, kalau semuanya akan baik-baik saja? Itu sama saja, kamu memberikan merek ruang atau kesempatan untuk melakukan perbuatan licik, lagi. Kita harus memikirkan cara lain. Perbuatan licik harus dihadapi dengan cara licik tapi cerdik." ucap Ardan, yang terkesan santai. Padahal, sebenarnya hatinya sekarang juga tidak tenang. Ardan cukup maklum dengan Aby yang sudah susah untuk berpikir rasional lagi, dan Ardan menyadari, kalau dia bersikap seperti Aby, semuanya akan semakin kacau, dan solusi tidak akan didapat.
"Benar kata papa kamu, Aby. Kita harus mencari jalan penyelesaian lain." Rio menimpali ucapan Ardan, untuk meyakinkan,Aby.
"Apa kamu sudah bisa menghubungi Roni, dan bertanya, apakah dia sudah bisa mengejar si penculik itu?" tanya Ardan dan Aby hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hmm, begini saja, ada baiknya kita ajak para polisi untuk bekerja sama. Mereka mengintai kita dari jauh. Kita berpura-berpura sudah membawa Gilang dan Shasa dan mengatakan kalau keduanya ada di dalam mobil. Lalu kita, mengajukan yang namanya barter, bagaimana?" usul Ardan.
"Tapi, bagaimana kalau mereka tidak percaya, kalau Gilang dan Shasa ada di dalam mobil, Pa?" tanya Aby, yang terlihat tidak bisa berpikir, logis lagi.
__ADS_1
"Kita tetap bawa mereka, tapi tetap dalam pengawasan polisi,"
Aby terdiam, mencerna rencana papanya, dan dia kemudian menganggukkan kepalanya.
Dia merasa, ucapan papanya, ada benarnya. Kalau dia melepaskan Gilang dan Shasa, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kejahatan-kejahatan lainnya, karena yang namanya sial, walaupun ada penjagaan ketat, tetap aja tidak bisa dihindari, contohnya kejadian penculikan Arend.
"Baik, Pah! aku setuju! dengan kata lain, untuk bisa menangkap pelaku lainnya, kita harus memberikan umpan, sesuai dengan yang merek minta dulu."
"Pintar! itu, maksud, Papa," Ardan akhirnya lega, mendengar kalau Aby akhirnya mengerti rencananya.
Sesuai dengan rencana akhirnya mereka menghubungi pihak kepolisian dan membeberkan rencana yang baru saja mereka rancang. Laporan dan rencana mereka akhirnya diterima baik oleh polisi dan mereka langsung melakukan perjanjian untuk bertemu di tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aby, Ardan dan Rio serta beberapa anak buah mereka akhirnya bergerak menuju TKP, yang mereka tahu dari hasil melacak posisi Roni dan dari pesan yang dikirimkan oleh pria, yang diyakini Aby adalah papanya Gilang. Aby sengaja tidak mengabari apa yang terjadi pada kedua sahabatnya Kenjo dan Calvin. Karena dia tidak mau menyusahkan kedua sahabatnya itu lagi.
"Aby, hati-hati bawa mobilnya!" pekik Ardan, karena Aby melesatkan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Cepat, mengahadap Ilahi maksudmu? Tidak ada gunanya juga kamu cepat ke sana, kalau belum ada polisi yang membawa Gilang dan Shasa di sana." celetuk Ardan, ketus.
Satu jam kemudian, Aby dan rombongan sudah sampai di tempat, di mana baby Arend dibawa.
"Jangan ada yang menimbulkan kecurigaan. Kalian semua stanby di sini, dan bergerak, begitu ada aba-aba dari kami!" titah Ardan pada para anak buahnya.
Aby, Ardan dan Rio, mengayunkan langkah untuk masuk dan betapa kagetnya mereka begitu mendengar suara pertempuran dari arah dalam. Apalagi melihat 3 orang pria yang tergeletak di depan pintu. Mereka bertiga buru-buru masuk ke dalam dan bola mata Aby membesar begitu melihat Roni yang dibantu dengan seorang pria setengah baya yang sangat dia kenal, dan seorang gadis yang Aby kenal adiknya Roni.
"Om, Jodi?" gumam Aby. Ya, papanya Roni adalah Jodi, mantan bodyguard Aby sewaktu kecil dulu.
Melihat Reyna yang sudah menggendong baby Arend dan melihat Roni dan Om Jody yang kewalahan menghadapi pria-pria bertubuh besar itu, membuat darah Aby mendidih dan secepat kilat dia menghambur ikut berbaur dengan Roni dan Om Jodi, menyerang para pria itu. Sedangkan Ardan langsung memberikan isyarat pada para anak buahnya dan para polisi untuk segera ikut masuk.
__ADS_1
Gilang dan Shasa yang tadinya merasa senang akan dibebaskan, kembali tersenyum kecut, merasa kalau rencana orang tua mereka berindikasi 'gagal'.
Akhirnya semuanya berhasil dilumpuhkan. Orang tua Gilang dan Shasa akhirnya ditangkap beserta semua orang suruhannya.
"Om Jody, kenapa Om bisa ada di sini?" tanya Aby, mengungkapkan kebingungannya.
Pria yang dipanggil Om Jodi itu, tersenyum dan membungkukkan badannya.
" Apa kabar, Tuan muda? Roni dan Reyna adalah anak-anakku."
Aby terkesiap kaget dan menatap ketiga orang itu bergantian.
"Tapi, kenapa Roni tidak pernah bercerita, kalau dia putranya, Om?"
"Aku yang menyuruhnya untuk tidak memberitahukan Anda, karena aku ingin kalian menerimanya, murni karena keahliannya, bukan karena dia anakku. Dulu, Pak Ardan memberikan aku pekerjaan, sehingga aku bisa menghidupi keluargaku menjadi lebih baik. Dan ketika Roni bertekad untuk mengikuti jejakku untuk menjadi bodyguard di keluarga anda, aku sangat mendukung. Tapi, aku sedikit kecewa ketika dia pernah hampir menghianati anda karena ingin menyelamatkan kami."
"Itu dia, kenapa saat itu, Om sekeluarga bisa disekap? padahal Om bisa bela diri dan Reyna juga. Kenapa kalian tidak melawan?" Aby, menyela ucapan, Jody papanya Roni.
Pada saat itu, kami tidak bisa berkutik karena mereka terlebih dahulu, menyekap istriku yang kebetulan sedang sakit parah. Alhasil aku dan Reyna tidak bisa melawan, dan akhirnya ikut disekap juga." jawab Jody, dan Aby mangut-mangut, mengerti.
"Tuan, ini anak anda," Reyna menghampiri Aby dan hendak menyerahkan baby Arend ke tangan Aby.
"Awas! teriak Roni dan secepat kilat bergerak menghalangi tembakan dari tangan mamanya Gilang, yang terarah ke baby Arend. Alhasil peluru menembus dada Roni dan pria itu tersungkur jatuh.
"Kak Roniii!" pekik Reyna menghambur ke arah kakaknya, demikian juga dengan Jody dan yang lainnya.
Sedangkan polisi langsung mengamankan mamanya Gilang. Polisi lengah, dan tidak menyadari, kalau ternyata wanita itu memiliki pistol di dalam tasnya.
Tbc
__ADS_1
Doakan agar Roni baik-baik saja ya gais. Di sini aku sengaja membuat part yang menunjukkan kesetiaan Roni dalam menebus kesalahan yang sempat dia perbuat. Sekian dan terima gaji, eh terima kasih😁🙏