Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Jangan mendekati calon istriku!


__ADS_3

Calvin berkali-kali melirik ke arah sekolah Sekolah Menengah Atas, dimana Cantika, gadis yang membuatnya kesal belakangan ini sedang menimba ilmu dan tempat dimana dia, Kenjo dan Aby juga pernah menjadi siswa.


"Lama banget sih, mereka keluar dari kelas? batin Calvin kesal, sambil sesekali, melirik ke arah jam di tangannya.


"Hmm kayanya bukan mereka yang lama keluar, tapi aku yang kecepatan datangnya. Cantika memang benar-benar bikin susah hidupku," gumam Calvin yang tidak menyadari kalau dirinyalah yang membuat dirinya sendiri susah


30 menit berselang, bell panjang berbunyi, pertanda kalau kegiatan belajar-mengajar sudah selesai, itu berarti sebentar lagi para siswa dan siswi akan menghambur keluar dari kelas masing-masing.


Benar dugaan Calvin, para siswa dan siswi mulai terlihat keluar satu persatu dan bergerombol menuju parkiran.


Calvin dengan mata yang setajam elang, memicing untuk mencari keberadaan Cantika. Dia tidak mau, dirinya kecolongan kali ini.


Sementara itu, Cantika tidak langsung keluar dari dalam kelas. Dia mencoba melihat dari kaca jendela ruangan kelasnya yang kebetulan berada di lantai 3 dan langsung bisa melihat ke arah parkiran.


"Itu, Kak Calvin. Aku harus bagaimana?" Cantika benar-benar panik. Kenapa? karena helm Dion diletak di atas motor besarnya. Dan motor besar itu, terparkir tidak jauh dari tempat mobil Calvin terparkir.


"Cantika, ayo kita keluar! loe mau di dalam kelas aja?" ajak Dion yang sudah berdiri dari kursinya bersama Deby kekasihnya.


"Tunggu,Yon! benar dugaan gue, kalau Kak Calvin pasti datang jemput gue. Sekarang dia ada di parkiran dan kabar buruknya, dia parkir tidak jauh dari motor loe. Sekarang, gue lagi mikir, bagaimana caranya loe dan gue bisa sampai ke motor loe, tanpa Kak Calvin lihat wajah, loe."


"Loe, benar-benar setan memang ya! emang kenapa dengan wajah gue? gue jelek banget ya? sampai muka gue harus loe tutupin dari dia?" umpat Dion, benar-benar kesal.


"Bu-bukan gitu maksud gue, Yon." Cantika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi apa?" kali ini bukan Dion yang berbicara, tapi Deby kekasihnya yang buka suara.


"Deb, loe kesini deh! gue mau nunjukin loe sesuatu." Cantika mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan photo Calvin pada Deby yabg sudah berada di sampingnya, bersama dengan Dion.


"Nih, Kak Calvin. Dia cakep kan?"



Deby menganggukkan kepalanya, tidak bisa memungkiri kalau pria yang ada dalam photo itu, sangat tampan.


"Itu dia, Deb. Gue bukannya mau bilang, kalau Dion jelek. Tapi, masalahnya, gue sudah bilang, ke dia, kalau cowok gue itu, lebih tampan dari dia. Menurut loe, Kak Calvin masih lebih cakep kan dari Dion?"

__ADS_1


"Hooh," Deby menganggukkan kepalanya tanpa sadar dengan mata yang masih melekat menatap photo Calvin.


"Beby!" protes Dion, kesal.


"Eh, nggak! Dion tetap yang paling cakep buat gue," sanggah Deby cepat, sebelum Dion semakin marah.


"Tapi, dia memang cakep sih!" gumam Deby lagi, hingga membuat Dion tersenyum kecut.


"Hmm, gini aja deh, nanti kita keluar sama-sama, dan loe berjalan menunduk sampai ke parkiran. Dan begitu sampai di motor loe, loe langsung membelakangi dia, dan langsung pasang helm. Kalau untuk bentuk tubuh, ciri-ciri loe sesuai dengan yang gue sebutkan sama dia, kekurangannya hanya di wajah," ucap Cantika.


"Terus aja, ngejeknya. Lagian dosa apa sih gue bisa temenan sama loe. Loe yang butuh, gue yang tersiksa. Apes banget hidup gue tahu nggak," Dion menggerutu, yang ditanggapi dengan kekehan dari Cantika.


Kemudian mereka bertiga melangkah keluar, dan ketika hendak berjalan ke parkiran, Deby langsung mundur ke belakang. Sedangkan Cantika dan Dion berjalan beriringan.


"Menunduk, Yon! jangan pernah angkat wajahmu!" bisik Cantika.


"Diam loe, setan! kepala gue capek nunduk terus, bego! umpat, Dion.


"Ya, Tuhan! gue memang udah jadi orang yang terbodoh gara-gara loe. Bisa-bisanya gue nyembuyiin wajah gue sendiri." Dion masih tetap menggerutu.


"Loe, bisa diam gak sih, Yon? Cepat jalannya, Yon, Jangan kaya siput ah! Kak Calvin udah keluar dari dalam mobilnya dan sepertinya mau menghampiri kita. Cepat! takutnya nanti loe gak sempat pakai helmnya dia udah keburu dekat sama kita." Cantik menarik tangan Dion agar Dion mempercepat langkahnya.


"Ihh, low bisa diam gak sih?, buruan!" Akhirnya mereka berdua tiba di motor Dion, sedangkan Calvin sudah semakin dekat.


"Buruan, pakai helmmu! udah belum?!"


"Loe bisa diam gak sih? gue jadi gugup nih. penguncinya pake macet lagi, setan." Dion menggerutu tidak jelas, dan amat sangat kesal pada Cantika, tapi bodohnya dia tetap saja nurutin kemauan sahabatnya itu.


"Ayo, masuk ke mobil!" ucap Calvin yang ternyata sudah berada di belakang Cantika dan Dion. Beruntungnya Dion sudah selesai memasang helm di kepalanya, hingga yang terlihat hanya matanya saja.


"Aku nggak mau! aku mau pulang sama pacarku." tolak Cantika dengan wajah yang menantang.


"Tidak boleh! kamu harus ikut aku! ayo buruan!" Calvin meraih tangan Cantika dan menariknya. Akan tetapi, dengan sigap tangan Dion langsung menahan dengan memegang erat tangan Cantika yang satu lagi.


" Hei, lepaskan tangan pacarku. Siapa kamu, berani sekali memaksa pacar aku, pulang bersamamu!" Dion, memberanikan diri membentak dari balik helmnya. Padahal kalau helm itu dibuka, akan terlihat jelas wajahnya yang pucat, apalagi melihat sorot mata yang menghunus tajam padanya.

__ADS_1


Calvin tersenyum miring dan menatap Dion dengan tatapan sinis. "Dia pacar kamu? asal kamu tahu, dia itu calon istriku," tegas Calvin, yang entah kenapa, ada keseriusan pada ucapannya.


"Calon istri? eh, Pak sadar dong. Anda itu terlalu tua buat Cantika!"


"Heh, kok bisa nyampe nyinggung kata tua-tua segala sih? ini kan gak ada di dalam skenario. Kampret nih si Dion. Udah gak iya lagi ini." Cantika merutuki Dion di dalam hatinya.


"Usiaku memang lebih tua, tapi wajahku masih pantas untuk memakai seragam SMA. Dan lagian kenapa kamu tidak berani membuka helmmu? apa wajahmu, sebenarnya tidak setampan aku? Coba kamu buka helmmu, aku rasa wajahku tidak kalah muda dengan dirimu. Ayo buka! "


"Mampus loe kan? nyinggung-nyingung tua sih,"


umpat Cantika, memalingkan mukanya, tidak mau menatap Dion yang terlihat meminta bantuan darinya.


"Nih anak, kenapa nggak bantuin aku sih? cari cara kek, biar helm aku nggak dibuka." batin Dion, kesal.


"Hayo, kenapa belum dibuka?" desak Calvin, menantang.


"Aku yang melarangnya membuka helmnya, Kak. Karena aku tidak mau ada cewek lain yang menatap wajah pacar aku, yang sangat tampan ini." akhirnya Cantika, buka suara dan hal ini membuat Dion lega.


"Oh ya, entah kenapa aku sama sekali tidak yakin." Calvin mencondongkan wajahnya, menatap intens mata Dion di balik kaca helmnya, hingga membuat Dion, sedikit gemetar dan berkeringat dingin.


"Dion, kenapa kamu membiarkan pacarmu Deby, menunggu sendirian di sana?" tiba-tiba seorang teman sekelas mereka, dan menegur, Dion. Hingga membuat Cantika meringis malu.


"Pacar? oh jadi kamu udah punya pacar, dan kamu masih mau mendekati calon istriku ya? dasar buaya!" Calvin hendak melayangkan pukulannya ke arah Dion, untungnya langsung ditahan oleh Cantika. Hal ini, menimbulkan tanda tanya pada Cantika.


"Harusnya dia tertawa mengejekku kan? tapi kenapa dia jadi seperti terlihat benar-benar marah?" bisik Cantika pada dirinya sendiri.


"Kamu jangan sesekali, mendekati calon istriku lagi ya! kalau nggak, aku patahkan lehermu, mengerti!"


"I-iya, Kak! Dion beringsut ketakutan.


"Ayo pulang!" Calvin menarik tangan Cantika, yang kali ini tidak bisa menolak lagi.


Cantika menoleh ke belakang, menatap Dion yang sudah membuat gerakan hendak memukulnya dari belakang dan Cantika hanya bisa tersenyum cengengesan.


Tbc

__ADS_1


Aku ada karya baru, dan masih dua episode. Kalau berkenan silahkan mampir ya, gais.



__ADS_2