
Semua yang ada di ruangan itu terkesiap kaget dan langsung menatap ke arah tangan Celyn yang ditunjuk oleh Rico. Akan tetapi, tangan Celyn sama sekali tidak ada pergerakan.
"Rico, mana? kamu hanya salah lihat mungkin." ucap Rio.
"Aku tidak salah lihat, Pa. Tadi tangan Kak Celyn benar-benar bergerak. Aku berani sumpah!" Rico kekeh pada apa yang dia lihat.
"Tapi, buktinya tidak ada. Kamu membuat hati orang senang, tapi kami hempaskan tiba-tiba, karena tidak sesuai dengan kenyataan. Lain kali, jangan begitu!"
"Terserah, Papa! mau percaya atau tidak. Yang jelas aku percaya, kalau aku tidak salah lihat." ucap Rico, kesal.
"Sudah, sudah! mudah-mudahan apa yang dikatakan Rico benar." Ardan menimpali, menengahi perdebatan ayah dan anak itu.
Tiba-tiba ponsel Ardan berbunyi, dan melihat ada nomor yang tidak dikenal memanggilnya. Ardan menjawab dan terdengar seperti berbicara serius dengan orang yang menelepon.
"Baiklah! terima kasih, Pak. Kami akan ke sana besok!" pungkas Ardan mengakhiri percakapan dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Rio, kamu temani aku ke kantor polisi besok pagi untuk memberikan kesaksian.__ Aby apa kamu mau ikut?"
Aby menggelengkan kepalanya dengan tangan yang tetap menggenggam erat tangan sang istri.
"Aku mau di sini, Pa, menunggu sampai Celyn bangun dan menjaganya." jawab Aby.
Ardan menghela napasnya, mengerti bagaimana dengan perasaan putranya sekarang.
"Baiklah, kalau begitu! papa sama papa mertuamu saja yang pergi besok!" pungkas Ardan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di dalam ruangan Celyn, kini sudah terlihat sepi. Yang sisa hanya Aby, karena yang lainnya, sudah beranjak pergi untuk makan malam.
Aby juga bahkan sudah berganti pakaian, yang diantarkan oleh salah seorang bodyguardnya.
"Sayang, kenapa kamu belum juga bangun? kamu tidak kasihan pada kedua putra kita? mereka sangat membutuhkanmu, sekarang." Aby tidak bosan-bosan mengajak Celyn untuk bercerita, sesuai dari saran Dokter Sinta.
"Kamu tahu, mereka sangat tampan sama sepertiku. Sebenarnya aku kasihan sama kamu, karena kamu yang mengandung, tapi wajah mereka sepertiku. Kamu mau protes? kalau mau, kamu bangun! aku siap menerima kata-kata protesmu. Yaaa, walaupun kamu protes sampai ke pengadilan, tetap aku yang menang sih!" Aby mencoba mengajak Celyn bercanda. Dan candaan Aby memberikan respon senyum tipis di bibir Celyn. Hal itu, membuat Aby semakin bersemangat untuk membuat Celyn, bangun dari komanya.
"Sayang, kamu tersenyum? kamu tidak marah, karena anak-anak kita mirip aku? Yaaa, berarti aku gagal dong lihat kamu cemberut? padahal aku suka lihat wajahmu, cemberut." Aby memasang, wajah kecut, walaupun Celyn tidak melihat raut wajah cemberutnya..
"Tapi, kamu tenang saja! walaupun mereka mirip denganku, tapi sepertinya mereka lebih menyayangimu daripada aku. Buktinya mereka selalu menyiksa, aku setiap hari. Aku mereka buat muntah-muntah, dan berhenti ketika bersamamu. Kalau kamu menangis karena aku, mereka berdua langsung menghajar aku dengan menyiksa perutku lagi. Tidak kah kamu pikir kalau mereka pilih kasih?" Celyn yang mendengar semua celotehan Aby, di bawah alam sadarnya, tersenyum, mendengar cerita Aby. Ingin rasanya dia bangun dan membalas semua ucapan Aby, tapi entah kenapa, matanya seakan berat untuk bisa terbuka.
"Hmm, kamu tahu tidak, kenapa mereka bisa mirip denganku? itu karena mereka benar-benar anakku. Mereka benih dariku yang dimasukkan ke dalam rahimmu. Kamu tahu, betapa bahagianya aku, mengetahui hal itu. Aku sangat bahagia, karena Tuhan memberikan tempat buat anak-anakku bertumbuh di dalam rahim wanita kuat sepertimu." Ucapan Aby, seketika mendapat respon dengan keluarnya butiran cairan bening dari sudut matanya, dan Aby buru-buru menyeka air mata itu.
"Ketika kamu mengatakan kalau kamu tidak tahu, kenapa kamu bisa hamil, entah kenapa jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa kalau kamu jujur mengatakan hal yang sebenarnya dan aku tidak pernah memandang rendah dirimu." Cairan bening semakin mengalir deras keluar dari sudut mata Celyn, memberi semangat dan harapan buat Aby untuk bisa membuat Celyn bangun dari tidurnya.
"Sayang, aku belum memberikan nama pada kedua putra kita. Aku mau menunggumu untuk memberikan nama buat mereka. Karena kalau aku memberi nama, aku takut kamu akan berubah menjadi singa, dan menerkamku serta mencabik-cabik tubuhku." Aby berhenti sejenak untuk menarik napas dan mengembuskannya kembali.
"Kamu tidak suka ya? kalau kamu tidak suka, ayo bangun dan kasih nama buat mereka!"ucap Aby. Tapi, lagi-lagj mata Celyn tidak memperlihatkan tanda-tanda akan terbuka.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Tapi sekarang aku mau mengancammu. Aku akan menghitung satu sampai sepuluh. Kalau dalam hitungan ke sepuluh kamu tidak bangun-bangun, mau tidak mau aku akan mencari ibu buat anak-anak kita," ancam Aby dengan tegas.
Aby mulai menghitung mulai dari angka satu. Aby mulai khawatir ketika di hitungan ke 8, belum ada tanda-tanda Celyn akan membuka matanya. Aby pun mulai memperlambat hitungannya.
Dan benar saja, tangan Celyn benar-benar bergerak dan kelopak matanya juga ikut bergerak, pertanda kalau Celyn benar-benar memberikan respon pada ancaman Aby.
"Sayang ... Sayang, apa kamu dengar aku? bangun sayang, bangun!" pekik Aby terlihat tidak sabaran.
__ADS_1
Perlahan-lahan kedua mata Celyn terbuka, dan kembali tertutup karena silau akan sinar yang tertangkap oleh pupil matanya. Kemudian dia membuka kembali matanya dengan napas yang memburu, seakan sedang kelelahan dalam melakukan sesuatu. Ya, Celyn sangat lelah dalam berusaha membuka matanya.
"Terima kasih Tuhan! Sayang, kamu sudah bangun?!" Aby sontak memeluk Celyn dan menciumi puncak kepala Celyn bertubi-tubi karena terlalu bahagia, dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kak, kenapa menangis?aku kenapa?" Celyn mencoba untuk bergerak, tapi tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya.
"Ma-mana anak-anakku?" pekik Celyn tiba-tiba sambil meraba perutnya yang rata dan luka yang masih basah.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu! anak-anak kita baik-baik saja, sekarang mereka ada di ruang NICU," Sahut Aby dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Tadi, aku mendengar semua yang kakak ucapkan? apakah itu semua benar? apa mereka benar-benar anakmu?" tanya Celyn, dengan lirih, memastikan.
Aby menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Ta-tapi bagaimana bisa?" tanya Celyn bingung.
Aby menarik napas dengan cukup panjang, kemudian, dia mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup panjang. Lalu Aby pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, semua rencana licik Shasa dan Gilang.
Tiba-tiba ingatan Celyn berkelebat, ketika dia pernah merasakan pusing yang amat sangat dan dia asal masuk ke dalam sebuah ruangan poly dokter, yang dia kira Poly dokter umum dan ketika dia masuk, dia langsung pingsan pada saat itu. Tanpa permisi, cairan bening sebening kristal, mulai merembes turun membasahi pipinya. Celyn merasa bersyukur karena dia bisa membuktikan kalau dia benar-benar tidak pernah melakukan perbuatan kotor itu.
"Maafkan, aku Sayang! aku terlalu bodoh untuk bisa menyadarinya." ucap Aby tulus dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Sayang? kakak memanggilku, sayang?" Celyn seakan tidak percaya pada pendengarannya.
"Kenapa kamu baru menyadarinya? aku bahkan sudah berulangkali memanggilmu, Sayang." ucap Aby, kesal.
"Oh, ya? Aku juga mendengar, kakak mengatakan, kalau kakak mencintaiku, apa itu benar?"
__ADS_1
"Lupakan! kamu mungkin salah dengar," sangkal Aby, sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak mau Celyn mengetahui,kalau sekarang dia sedang malu.
Tbc