
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan sudah sebulan lamanya waktu berlalu. Celyn begitu bahagia hari ini. Bagaimana tidak, hari ini kedua anaknya sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Baby Arick dan baby Arend perkembangannya sangat baik, dan berat badan keduanya juga sangat naik secara signifikan.
"Sayang, aku ikut jemput anak-anak ke rumah sakit ya?" rengek Celyn pada Aby. Sudah dua minggu ini, Celyn memanggil Aby, sayang atas permintaan Aby tentunya.
"Tidak usah, Sayang! kamu di rumah saja, biar aku dan mama yang jemput si kembar." tolak Aby, dengan nada yang sangat lembut.
"Tapi, Kak __"
"Stttt, tidak ada tapi-tapi. Kamu tolong patuh pada suami." sambar Aby cepat, sebelum Celyn melanjutkan protesannya.
"Iya, deh!" sahut Celyn pasrah sambil mengerucutkan bibirnya.
Aby, menghampiri Celyn yang merengut dan duduk di samping wanita yang sudah menjadi dunianya sekarang.
Dia menyugar surai Celyn yang hitam dan panjang, serta mendaratkan kecupan di puncak kepala wanita itu.
"Kamu tenang saja, nanti begitu Arick dan Arend di rumah, kamu bisa menggendongnya sepuasnya. Tapi dengan satu syarat, kamu jangan sampai melupakanku!" ucap Aby, dengan nada yang mengintimidasi.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Anggap saja aku sekarang punya 3 bayi. Dua bayi kecil dan satu bayi Besar."
Celyn memberikan kecupan di bibir suaminya untuk sekilas. Akan tetapi, begitu dia hendak memundurkan wajahnya, Aby langsung menahan tengkuk Celyn dan malah memperdalam ciumannya.
Celyn yang sudah terbiasa mendapat perlakuan Aby yang seperti itu, kini sudah ikut terhanyut dengan ciuman Aby, yang menurutnya sangat memabukkan.
"Aku sudah tidak sabar lagi, menunggu 10 hari lagi, Sayang. Kamu harus persiapkan diri kamu," bisik Aby, setelah dia melepaskan ciumannya, dan seperti biasa, pipi Celyn akan bersemu, mendengar ucapan vul*gar suaminya, yang makin ke sini, tingkat kemesuman ya semakin tinggi.
"Ka-kamu menghitungnya?" desis Celyn,lirih.
"Tentu saja! setiap hari, aku pasti tidak pernah lupa, untuk menyilang tanggal yang ada di kalender itu." Aby menunjuk ke arah kalender kecil yang ada di atas nakas. Benar saja, kalender itu, kini sudah penuh dengan coretan Aby.
Bibir Celyn yang kini sudah menjadi candu buat Aby, bagaikan memiliki magnet, menarik kembali bibirnya untuk mendarat di bibir merah, istrinya itu.
Kali ini, ciumannya lebih panas dari yang tadi, bahkan tangannya sudah ikut beraksi, untuk meraba semua area-area sensitif di tubuh istrinya itu. Celyn mende**sah, ketika ciuman Aby, sudah mulai turun ke leher dan mengangkat kaus yang dipakai oleh Celyn ke atas, hingga menampakkan buah apel kembar yang sekarang sudah sedikit mulai membesar. Untuk beberapa saat Aby bermain di daerah da*da, meremas, memilin bahkan sesekali memainkan mulutnya di sana, yang membuat Celyn rasanya melayang.
"Aby! ayo, Nak, kita ke rumas sakit sekarang!" suara Amanda terdengar dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu.
__ADS_1
Aby berdecak, kesal sambil menurunkan kembali kaos Celyn yang dia angkat ke atas tadi.
"Iya, Ma, sebentar!" sahut Aby dari dalam, tidak menyadari kalau Amanda tidak akan mendengar sahutannya, karena kamarnya sudah dirancang kedap suara. Alhasil Amanda masih tetap menggedor-gedor pintu.
"Sayang, udahan ih, nanti kalau kebablasan gimana? ingat, belum bisa lho. Lagian mama mana bisa dengar teriakan mu tadi,kamar ini kan kedap suara." ujar Celyn, mengingatkan.
"Eh, iya ya!" Aby bagun dari atas tubuh Celyn seraya cengengesan.
"Sayang, kamu tolong bukain pintu, aku mau ke kamar mandi, sebentar. Tidak mungkin aku membuka pintu, dengan celana yang sudah sesak begini." Aby menunjuk ke arah juniornya yang sudah sesak di dalam celananya.
Celyn terkekeh dan beranjak turun dari ranjang, merapikan pakaian dan rambutnya, kemudian mengayunkan kakinya melangkah untuk membukakan pintu.
"Apa yang kalian berdua lakukan? dimana Aby?" cecar Amanda begitu pintu terbuka, seraya mengedarkan matanya ke dalam kamar.
"Kak Aby, lagi di kamar mandi, Ma. Lagi buang air." Sahut Celyn sembari menggigit bibirnya, berharap ibu mertuanya itu percaya.
"Hmm, sepertinya bukan deh! kalian berdua tadi pasti, lagi ... makanya lama bukain mama pintu, iya kan?" Amanda, mengangkat kedua alisnya, curiga.
"Nggak kok, Ma!" sahut Celyn dengan cepat.
Celyn menganggukkan kepalanya dan menunduk malu.
"Kalau kamu mau, kamu juga bisa melayani suamimu, dan membuatnya puas tanpa harus melakukannya." sambung Amanda, sangat pelan, bahkan hampir mirip bisikan.
"Serius, Ma? bagaimana caranya?" tanya Celyn, antusias.
"Coba kamu tanya sama om, atau mba Google. Pasti ada caranya di sana."
Celyn merengut, mendengar jawaban mertuanya. Dia mengira, mertuanya itu akan menjelaskan, tapi ternyata disuruh mencari sendiri.
"Katanya, Aby lagi buang air, tapi kok lama ya?" tanya Amanda, sambil celingukan ke arah dalam.
"Emm, mu-mungkin, kotorannya banyak sekali yang harus dikeluarkan, Mah." jawab Celyn, asal.
"Hush, kamu gak boleh sembarangan ngomong! yang dikeluarkannya itu, bukan kotoran tapi mayonise, asal kamu tahu."
__ADS_1
Celyn membesarkan bola matanya, mendengar ucapan, mama mertuanya yang jelas-jelas sedang meledek.
"Ya udah, kalau Aby sudah selesai, bilangin ke dia, mama menunggu di bawah. Ingat jangan diulangi lagi, takutnya kalau kalian ulangi lagi, gak jadi-jadi nanti jemput si kembar," sindir Amanda, sambil berlalu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mau dibawa kemana babynya, Mbak? tanya Roni, pada salah satu wanita berpakaian perawat, yang terlihat menggendong salah satu si kembar. Entah itu, baby Arick atau Arend, Roni tidak tahu jelas.
"Oh, hari ini, babynya kan sudah bisa dibawa pulang, Pak. Jadi, mau diobservasi dulu, sebelum dibawa pulang nanti," sahut perawat itu, yang terlihat santai itu.
"Kalau mau diobservasi, kenapa tidak keduanya? tanya Roni lagi, yang merasa sedikit curiga dengan gerak-gerik si perawat.
"Hmm, be-begini, Pak. Kan tidak mungkin aku bisa menggendong dua-duanya, jadi harus bawa satu-satu."
kegugupan, perawat itu, membuat Roni semakin curiga.
"Kan ada banyak perawat di sini? lagian kenapa observasinya tidak langsung dilakukan di ruang NICU? biasanya, Dokter Susan atau dokter anak di sini, selalu melakukan observasi di ruang NICU, dan setahu saya semua alat di sana lengkap."
Perawat itu, terlihat semakin gugup, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan yang menjebak dari bodyguard yang diperintahkan untuk menjaga si kembar itu.
"Em, begini, Pak, ada satu alat yang tidak ada di ruangan NICU, dan adanya hanya di ruangan dokter anak. Jadi, mau tidak mau aku harus tetap bawa ke sana. Please jangan halangi pekerjaan saya!" ucap wanita muda yang berpakaian perawat itu, berpura-pura memasang wajah kesal.
"Saya bukan menghalangi pekerjaan anda. Tapi aku juga pantas untuk bertanya, karena keamanan dua bayi ini adalah tanggung jawab saya. Kalau __
"Hmm begini saja, Pak, kalau anda tidak percaya, anda boleh mengikuti saya! pungkas wanita itu, memotong ucapan, Roni. Berharap dengan begitu, Roni akan percaya pada kata-katanya dan membiarkannya membawa bayi itu.
"Hmm, baiklah! aku akan ikut dengan anda! tunggu sebentar!" Roni meraih ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi seseorang.
"Tolong kamu awasin ketat baby yang satu lagi ya! aku mau mengikuti perawat yang membawa, baby yang satu ini." Roni, memutuskan panggilan setelah rekannya mengatakan siap dari ujung telepon. Roni memutar badannya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"****! aku dikelabui! kemana dia membawa bayinya?" umpat Roni, sambil berlari keluar.
"Hey, tunggu!" Roni berlari mengejar wanita berpakaian perawat itu, yang kini sudah masuk ke dalam sebuah mobil dengan membawa salah satu si kembar.
Tbc
__ADS_1
Kita kembali tegang dulu ya, gais. Please jangan timpuk aku!, kalau mau timpuk dengan like dan komen, serta hadiah, aku terima dengan senang hati 😁😁