
Adrian sepertinya tidak berniat menggunakan mobilnya. Karena melihat ada restoran yang masih buka, di sebrang jalan.
"Aku kok bodoh banget sih? kan tadi bisa pesan makanan lewat online, ini nih, akibat dari grogi." Adrian berjalan sambil merutuki kebodohannya sendiri.
Sementara itu Reyna sengaja membuntuti Adrian dari jauh, untuk memastikan kemanan pria itu.
Adrian memilih jembatan penyebarangan agar lebih aman menyebrang. Karena dia tidak mau mengambil resiko, bila dia menyebrang di jalan raya, dalam situasi lengang begini, bisa jadi ada pengendara motor yang ugal-ugalan, merasa jalan raya itu seperti hak miliknya sendiri.
Akan tetapi ternyata pilihannya untuk menggunakan jembatan penyebrangan itu, salah. Karena ada bahaya yang menantinya di sana. Ada sekelompok kawanan begal yang berjumlah 4 orang. Mereka sering beraksi di tempat itu, sedang menunggu mangsa, dan Adrian ada sasaran empuk buat mereka.
"Hei, mau kemana bro? mau main lewat-lewat saja. Kalau mau lewat dengan selamat, kamu serahkan semua barang berharga kamu,kalau tidak pisau ini akan melesak masuk ke dalam perutmu," ucap pria berbadan kurus, dan napasnya berbau alkohol dengan pisau kecil yang sudah menempel di perut Adrian.
"Aku tidak punya apa-apa? jadi biarkan aku lewat!" sahut Adrian dengan sedikit takut.
"Apa kamu kira kami percaya? dari tampangmu, terlihat kalau kamu anak orang kaya. salah satu pria yang berbadan sedikit tambun menimpali ucapan Adrian.
Peluh mulai merembes keluar dari pelipis Adrian. Akan tetapi, dia masih berusaha untuk terlihat tidak ketakutan. Sementara Reyna yang melihat dari kejauhan, mulai berpikir bagaimana cara yang tepat untuk menolong Adrian. Dia tidak mau gegabah, karena kalau dia asal bertindak, bisa-bisa Adrian terluka kena tusukan pisau yang menempel di perutnya.
"Ayo, keluarkan yang kamu punya!" terdengar bentakan dari para begal itu.
Adrian menghela napasnya dan merogoh dompetnya dari dalam sakunya. Akan tetapi, belum sempat dia mengeluarkan ponselnya, Pemandangan yang cukup memancing libido, menarik perhatiannya dan para begal. Dan yang paling membuat Adrian geram, itu adalah Reyna yang berjalan hanya memakai tanktop.
Ya, Reyna membuka kaos yang dia pakai dan menyisakan hanya tanktop.
"Hai, cewek! mau kemana nih? ikut sama kita-kita dong!" goda salah satu, begal itu, yang kemungkinan ketua geng, dengan mata yang menatap penuh n4fsu ke tubuh Reyna.
"Abang punya uang gak?" suara Reyna dibuat sesensual mungkin,sehingga Adrian mengepalkan kedua tangannya, dan menatap Reyna dengan rahang yang mengeras.
"Aku tidak menyangka, kalau dia sebinal ini," batin Adrian, kesal.
"Ado dong, Neng. Tenang aja, sebentar lagi kita akan panen," jawab ketua begal itu, sambil menyeringai licik.
__ADS_1
"Sial! kenapa tuh pisau belum menyingkir dari perut itu sih?" umpat Reyna dalam hati.
Reyna mengayunkan kaki melangkah mendekat si pemegang pisau, dan ketika fokus si pemegang pisau mengarah padanya, dengan sigap di langsung mencengkram tangan si pemegang pisau, hingga pisau itu terjatuh. Dia memilintir tangan yang dia cengkram. Ketika sang ketua geng itu, hendak bertindak, secepat kilat dia memberikan tendangan tepat di dada pada pria itu.
Adrian yang menyadari, kalau ternyata Reyna sedang menolongnya, langsung bergerak cepat juga untuk menghindar dan berniat untuk membantu Reyna juga. Akan tetapi, ketika dia hendak melayangkan pukulan ke begal yang lain, orang tersebut sudah terlebih dahulu, memberikan tinju yang amat keras ke wajah Adrian, sehingga Adrian terhuyung ke belakang, dan merasa pusing seketika.
"Kamu tidak apa-apa, Tuan?" teriak Reyna, yang menghambur mendekati Adrian.
"Tidak apa-apa! dimana baju kamu tadi? kenapa kamu pakai pakaian seperti itu?" Adrian masih sempat-sempatnya membahas tentang pakaian.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang, Tuan mundur dulu, biar aku hadapin mereka."
"Tidak usah! kamu itu wanita, biar aku saja yang menghadapi mereka! " Adrian, sok-sokan menawarkan diri, hanya untuk menjaga imagenya sebagai laki-laki di depan Reyna.
"Tidak perlu Tuan, biarkan aku saja. Aku sudah biasa menangani hal seperti ini." tolak Reyna.
"Hey, apa kalian berdua sudah selesai mengobrol, hah?! hahahaha ternyata kalian itu, saling kenal rupanya." bentak ketua begal itu, sambil menyeringai sinis.
Ketika ketiga anak buahnya itu hendak menyerang, terdengar suara sirine polisi, hingga membuat ke empat orang itu, kalang kabut dan lari tunggang langgang, menyelamatkan diri.
"Ayo, lari!" Reyna, menarik tangan Adrian dan berlari ke arah yang berbeda dari ke empat begal tadi.
"Kenapa harus lari! polisi sudah datang, dan mereka sudah kabur," tanya, Adrian bingung.
"Itu hanya bunyi dari ponselku. Makanya kita harus cepat-cepat pergi sebelum mereka menyadari kalau mereka sudah dibohongi. Buruan!"
"Pakai dulu, pakaianmu! aku tidak mau ada yang melihat tubuhmu dengan pakaian seperti itu!"
Reyna mencari kaos yang dia gantung begitu saja. Ternyata sudah tidak ada, dan kemungkinan sudah jatuh ke bawah.
"Arghh, nih pakai ini dulu!" Adrian membuka kaosnya dan memberikannya pada Reyna.
__ADS_1
"Woi!" terdengar teriakan begal, yang sudah menyadari kalau mereka tertipu.
Adrian dan Reyna sontak berlari, menuruni tangga dan masuk ke area rumah sakit.
Setelah dirasa aman, mereka berhenti dengan napas yang ngos-ngosan.
"Kenapa kita harus kabur sih? Aku bisa kok melawan mereka tadi," ucap Adrian, untuk membangun imagenya lagi.
"Iya kah? padahal sebenarnya, tadi aku justru melindungi, Tuan. Karena mereka punya senjata tajam, aku takut ketika aku sibuk bertarung, mereka malah mendekati Anda dan melukai Tuan dengan pisau mereka." terang, Reyna yang membuat Adrian merasa makin malu
"Makanya, lain kali kamu tidak boleh begitu. Kamu itu perempuan, jadi biarlah laki-laki yang melindungimu." tegas Adrian, tegas untuk menutupi rasa malunya.
"Iya, iya." ucap, Reyna mengalah sambil mengelus perutnya yang kembali merasakan lapar.
"Emm, maaf ya, makanannya, tidak jadi aku beli. Kita pesan online saja ya?" tanya Adrian dengan tidak enak hati.
"Terserah, Tuan deh!" sahut Reyna.
"Kalau bisa seperti itu, kenapa tidak dari tadi?" imbuhnya kembali, dalam hati.
Adrian, langsung meraih ponselnya dan memesan makanan setelah menanyakan lebih dulu, makanan apa yang hendak dipesan pada, Reyna. Setelah itu, dia terlihat hendak melakukan panggilan lagi pada seseorang.
"Tolong kamu antarkan, pakaianku ke rumah sakit, sekarang!" Adrian memutuskan panggilan dan memasukkan kembali ponselnya, ke dalam saku celananya setelah, mendengar suara yang menjawab, 'siap, Tuan' dari ujung telepon.
Reyna melirik ke arah Adrian, merasa sungkan karena pemuda itu, sekarang hanya memakai singlet putih.
"Emm, apa anda kedinginan, Tuan?" tanya Reyna, tidak enak hati.
"Tidak, Kok. Kamu tenang saja!" sahut Adrian sembari menerbitkan senyuman manis di bibinya, yang seketika menimbulkan detakan jantung yang sangat cepat di dalam hati Reyna.
"Oh ya, jangan panggil aku Tuan. Aku bukan tuanmu, panggil saja aku Adrian! imbuhnya lagi.
__ADS_1
Tbc