Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Laki-laki itu adalah aku.


__ADS_3

Kelopak mata Anin terlihat bergerak-gerak. Sepertinya gadis kecil itu, akan bangun dari tidur lelapnya. Benar saja, perlahan-lahan tampak mata Anin mulai terbuka. Di saat dia bangun, biasanya wajah yang pertama kali dia lihat adalah wajah sang mama. Tapi, kali ini yang dia lihat bukanlah Amanda, melainkan, Ardan.


"Papa? Papa ada di sini?" desis, Anin yang masih merasakan sedikit pusing, karena pengaruh Kemoterapi.


"Iya, Sayang? Papa udah di sini? Anin kok sudah bangun?" Ardan membelai kepala gadis kecilnya itu dengan lembut.


"Mama dimana?" Anin mengedarkan tatapannya, mengitari ruangan, dan sebelum Ardan menjawab, Anin sudah menemukan jawabannya. Dia dengan jelas bisa melihat Amanda yang masih tertidur di atas sofa.


"Kenapa, mama ada di sana? bukannya mama tadi tidur di kursi itu?"


"Tadi mamamu tidur berjalan, pindah sendiri ke sana?" sahut Ardan.


"Mama tidak pernah tidur berjalan. Pasti, Papa yang sudah menggendong mama ke sana."


Seulas senyuman yang mengembang sempurna, bertengger di bibir Ardan. " Putri papa ini tahu aja." Ardan memberikan cubitan pelan di hidung Anin.


"Tapi nanti Anin jangan ngomong sama mama ya. Nanti mama Amanda bisa marah-marah sama papa. Anin tidak mau kan mama Amanda marah sama papa?"


Anin dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Pa, apa Anin boleh tanya sesuatu?" manik mata Anin, menatap Ardan dengan tatapan sendu, dan seperti ada rasa khawatir yang terlihat di manik mata berwarna hitam pekat itu.


"Tentu boleh dong! Anin mau tanya apa, hem?" suara Ardan yang biasanya sangat dingin pada orang-orang, tidak berlaku pada Anin.


"Apa nanti kalau Anin sudah sembuh masih boleh memanggilmu, Papa?"


"Kenapa tidak boleh? Selamanya Anin boleh memanggilku, Papa. Karena aku memang papamu." Ujar Ardan, lembut tapi tegas.


"Benarkah? tapi kata mama, nanti kalau papa Ardan menikah, Anin tidak boleh lagi, memanggilmu, Papa. Padahal, asal papa tahu, hadiah terbesar yang pernah aku terima dari Tuhan, ketika aku bisa memanggilmu 'papa'. Kalau nanti Anin tidak bisa lagi memanggilmu papa, Anin pasti akan sangat sedih," raut wajah Anin, terlihat sangat sedih saat melontarkan ucapannya.


"Tidak akan! Anin akan selalu memanggil aku Papa. Bukannya tadi, Papa sudah bilang kalau, aku papamu. Kamu itu benaran anak papa, Nak! Ini Papa __"


"Eh, Mas Ardan! ka-kamu kok bisa ada di sini?" tiba-tiba Amanda terbangun, begitu mendengar suara Ardan yang terdengar sedikit kencang.


"D-Dan kenapa aku bisa ada di sofa? bukannya tadi aku,tertidur di situ?" Amanda menunjuk ke arah kursi yang diduduki oleh Ardan, dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Kamu tadi bermimpi, berjalan sambil tidur." sahut Ardan, yang membuat Amanda melongo, merasa kurang percaya


Sedangkan Ardan mengerlingkan matanya ke arah Anin, yang membalasnya dengan tersenyum, geli.


"T-tapi itu tidak mungkin, aku tidak mungkin berjalan sambil tidur. Selama ini aku sama sekali belum pernah mengalaminya. Aku ___"


"Berarti, ini pengalaman pertamamu." Ardan dengan cepat memotong ucapan Amanda.


"Permisi! apa ini Amanda sudah bangun?" suara berat, seorang pria mengalihkan tatapan Amanda, Ardan dan Anin ke arah pintu


"Kenapa, anda datang ke sini? bukannya tadi aku bilang kalau dia sudah bangun, aku akan memanggilmu?" Suara Ardan terdengar datar, tapi siapapun bisa tahu, dari penekanan suaranya, sudah mendeskripsikan kalau Ardan tengah kesal sekarang.


"Maaf, Pak Ardan! tadinya aku berpikir, kalau Ibu Amanda, sudah bangun dari tadi dan anda lupa untuk menginformasikan pada saya," Dokter Ridwan menundukkan kepala, tidak berani untuk membalas tatapan Ardan.


"Ada apa Dok, mencari saya? apa ada masalah dengan anak saya?" tiba-tiba raut wajah bingung Amanda berubah menjadi wajah panik.


Dokter Ridwan tersenyum ke arah Amanda, dan sumpah demi apapun, Ardan sangat membenci senyuman itu. Senyum Dokter Ridwan, langsung menyurut begitu melihat sorotan tajam dari tatapan Ardan.


"Tenang, Ibu Amanda! Anin tidak apa-apa. Semuanya aman seperti biasa. Justru, saya datang kesini, mau menyampaikan kalau 5 hari atau 7 hari lagi, kita sudah bisa melakukan transplantasi Sumsum tulang belakang. Karena sudah ada yang cocok dengan Anin." terang, dokter Ridwan dengan wajah tanpa senyuman.


"T-tapi bagaimana bisa, Dok? s- siapa orang yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada, putri saya?"


Kening, Dokter Ridwan mengrenyit, bingung, melihat respon Amanda yang terlihat bingung juga. " Lho, bagaimana ibu Amanda bisa tidak tahu? Yang donor itu ya suami, Ibu."


Penuturan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, membuat Amanda semakin dilanda kebingungan. "Suami? siapa suamiku?" bisik Amanda pada dirinya sendiri.


"Dokter, Anda baiknya keluar saja! biar aku dan Amanda yang membicarakannya." Ardan buka suara, dengan aura yang sangat dingin.


"Baik, Pa Ardan!" Dokter Ridwan, membungkukkan tubuhnya, kemudian mengayunkan kakinya melangkah keluar, dengan kepala yang penuh dengan tanya.


Keheningan terjeda cukup lama di dalam ruangan itu. Hanya ekor mata keduanya yang sesekali saling melirik.


"Ma, Pa, kenapa kalian jadi diam-diaman?" Anin yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara memecah keheningan dan rasa canggung yang sempat tercipta di antara Ardan dan Amada.


"Hmmm, Anin, sekarang Anin tidur lagi ya, Sayang. Papa sama Mama keluar dulu Soalnya ada yang mau papa bicarakan sama mama."

__ADS_1


Ada perasaan hangat yang menyelinap masuk kedalam hati Amanda, begitu mendengar ucapan Ardan yang menyebut kata 'mama dan papa'. Seakan saat ini, mereka berdua seperti pasangan suami istri yang sebenarnya.


Amanda sontak menggeleng-gelengkan kepalanya begitu, merasa apa yang dia pikiran tidak masuk akal, dan berlebihan. "Mikir apa sih aku? jangan terlalu tinggi berharap Amanda. Ingat, siapa dirimu! Amanda membatin.


"Kamu kenapa geleng-geleng kepala? kamu lagi memikirkan yang aneh-aneh ya?" tanya Ardan dengan tatapan menyelidik, sekaligus meledek.


"Tidak! aku tidak berpikir yang aneh-aneh kok!" sangkal Amanda, memalingkan wajahnya ke tempat lain, agar Ardan tidak bisa melihat semburat merah di pipinya


"Amanda, boleh kita bicara di luar sebentar?" Suara Ardan yang biasanya dingin, kali ini terasa lembut di telinga Amanda.


Amanda tidak menjawab secara lisan, tapi dia menjawab secara tersirat lewat anggukan kepalanya. Setelah pamit dengan Anin, Ardan pun Amanda, mengayunkan kaki, melangkah ke luar.


Sesampainya di luar ruangan Ardan, tidak menemukan lagi kedua orang tuanya dan Aby ada di sana. Demikian juga dengan Rio dan Jasmine, yang kemungkinan sudah pulang karena proses transplantasinya tidak bisa dilakukan hari ini.


Ardan mendaratkan tubuhnya,duduk di kursi besi dan disusul oleh Amanda. Jantung Ardan kini berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal. Ardan berusaha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya kembali ke luar dengan cukup panjang, berusaha untuk menetralkan setang jantungnya.


"Ada apa, Mas Ardan? apa yang ingin kamu bicarakan?" Amanda menghentikan situasi 'awkward' yang tercipta di antara mereka berdua.


"Amanda, aku sudah tahu, kalau kamu tidak pernah menikah. Aby dan Anin adalah anak hasil kesalahan, di 7 tahun yang lalu. Dan aku__"


"D-dari mana kamu bisa tahu?!" seru Amanda, dengan netra yang membola, dan tenggorokan yang seperti tercekat.


"Apa laki-laki itu, muncul dan sudah menceritakannya pada Mas Ardan?" batinnya, takut.


"Aku akan memberitahukanmu dari siapa aku bisa tahu. Tapi aku mau tahu dulu, bagaimana perasaanmu sekarang. Apa kamu membenci laki-laki itu?" tanya Ardan was-was. Amanda menggelengkan kepalanya dengan pelan, membuat Ardan tersenyum tipis dan tidak terlihat oleh Amanda.


"Kenapa kamu tidak membencinya?"


"Karena dia tidak bersalah. Yang bersalah itu justru aku,Mas. Apa laki-laki itu yang mengatakan semuanya padamu? dimana dia sekarang?" tanya Amanda dengan mata yang mengedar mencari keberadaan laki-laki yang dimaksud oleh Ardan.


Dengan tangan gemetar, Ardan meraih tangan Amanda dan meletakkan secarik kertas di telapak tangan Amanda. Secarik kertas yang bertuliskan kata 'maaf' yang pernah ditinggalkan Amanda untuknya.


"Laki-laki itu adalah 'aku'." tegas Ardan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2