Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Pelukan pertama antara ayah dan anak.


__ADS_3

Kedua netra Ardan membesar melihat bukti rekaman CCTV yang ditunjukkan oleh Aby. Penyesalan karena telah mengabaikan rekaman CCTV yang tersimpan di flashdisknya selama ini mencuat. Dengan manik mata yang sudah berkilat-kilat karena sudah dipenuhi cairan bening, Ardan menoleh ke arah Aby, yang kini juga sepertinya tengah menahan tangis.


"Ja-jadi kalian berdua adalah anakku?" ucap Ardan terbata-bata, karena menahan tangis.


Aby tidak menjawab, karena tidak sanggup juga untuk bersuara. Aby hanya bisa menggerakkan kepalanya, mengangguk.


Ardan berdiri dari tempat dia duduk dan dengan kaki yang gemetar, Ardan menghampiri Aby yang merasa tidak punya tenaga untuk menghampiri balik Ardan.


Ardan berjongkok di depan Aby, yang pandangannya tidak pernah lepas menatap manik mata Ardan.


"A-apa kamu tidak mau memeluk, Papa?" tanya Ardan dengan tatapan sendu. Bendungan yang dibangun oleh Ardan untuk menahan air matanya tidak keluar, akhirnya tidak kuat untuk menahan cairan bening itu, untuk tidak keluar, karena sudah terlalu penuh.


"Bolehkah?" tanya Aby dengan lirih. Dan Ardan menganggukkan kepalanya, yang membuat Aby sontak menghambur memeluk, Ardan yang langsung menyambut pelukan pertama dari putranya.


"Maafin, papa! maafin papa yang terlambat mengetahui keberadaan kalian bertiga," Ucap Ardan sembari memeluk erat putranya. Ardan yang sangat jarang terlihat menangis, bahkan hampir tidak pernah. Kali ini, cairan bening yang keluar dari kedua matanya, benar-benar menunjukkan kalau dirinya masih seorang manusia, bukan 'beruang kutub'.


Sementara itu, Rudi dan Amara hanya bisa diam memperhatikan interaksi kedua pria berbeda usia itu. Bukannya mereka tidak bahagia, justru sekarang mereka sangatlah bahagia.


"Bolehkan aku memanggilmu, Papa?" tanya Aby setelah mereka berdua melerai pelukan masing-masing.


"Tentu saja boleh. Sebenarnya, semenjak mengenalmu, aku sudah sangat ingin kamu memanggilku 'papa', seperti Anin. Tapi, aku terlalu gengsi untuk meminta. Kamu seperti membangun tembok dariku." Ardan akhirnya mengungkapkan keinginan hatinya selama ini.

__ADS_1


"Benarkah?" wajah polos khas anak kecil menatap manik mata Ardan, untuk mencari ketulusan ucapan Ardan. Ardan memberikan seulas senyuman pada Aby seraya menganggukkan kepalanya.


"Papa!" panggil Aby dengan suara yang bergetar. Bahkan air mata yang dari tadi berusaha dia tahan, sudah keluar dari sudut matanya. Tapi, buru-buru dia seka, karena dia tidak mau dianggap cengeng. Ini adalah kali kedua Aby memanggil Ardan dengan sebutan 'papa', setelah yang pertama ketika dia masuk ke dalam rumah.


"Sejujurnya, Aby juga merasa iri sama Anin, yang bisa dengan leluasa memanggilmu 'Papa', sedangkan aku hanya punya keberanian untuk memanggil sebatas om saja. Bukannya aku tidak ingin, Pah. Aku ingin juga menghabiskan waktuku bersamamu. Aku ingin tertawa seperti Anin tertawa dengan Papa. Aku ingin sekali! Tapi, aku tidak melakukannya, hanya karena ingin melindungi hatiku sendiri. Aku Tidak ingin merasakan rasa sakit, ketika suatu saat nanti, papa menikah dan aku tidak punya hak lagi untuk memanggilmu papa."


Jawaban Aby membuat Ardan terharu sekaligus merasa bersalah. Karena Ardan menyadari, kalau sikap Aby yang sudah dewasa belum waktunya, itu karena dorongan rasa tanggung jawab sebagai seorang laki-laki yang harus melindungi mama dan adiknya.


"By, apa kamu membenci papa?" tanya Ardan, hati-hati dan perasaan was-was.


"Sebelum aku tahu kenyataannya, ya! tapi kalau boleh jujur, aku benci tapi sekaligus merindukan pelukan seorang papa. Aku selalu berusaha membohongi hatiku dengan berkata kalau aku benci papa. Padahal,ada rindu yang tak pernah habis, pada seorang papa," Aby kembali menitikkan air mata dan kali ini dia biarkan tanpa ada niat untuk menyekanya.


"Pah, Apa Aby, sudah bisa menangis sekarang? Aby tidak terlihat buruk kan kalau menangis?" ucap Aby, dengan air mata yang berderai.


"Sering,Pa! tapi sembunyi-sembunyi. Bahkan ketika pertama kali Anin memanggilmu Papa, aku menangis, dan ketika mendapat kabar kalau Anin sakit parah, aku juga menangis. Aku merasa gagal jadi seorang kakak, yang tidak bisa menolong adik sendiri. Aku tidak mau menangis di depan orang hanya karena aku tidak mau, kalau Mama, melihat Aby menangis. Aby hanya mau menunjukkan kalau Aby anak yang kuat di depan mama, dan di depan orang-orang. Sekarang Aby senang, Aby bisa menangis di depan papa, tapi bukan menangis karena sedih, justru Aby menangis karena bahagia." Air mata Aby, bagaikan hujan deras yang turun, dengan sangat derasnya. Seakan air mata itu, berasa bahagia bisa lepas dari penjara yang dibangun oleh Aby selama ini.


Tanpa Aba-aba lagi, Ardan kembali mendekap Aby dengan erat, melampiaskan keinginannya selama ini yang ingin memeluk bocah laki-laki dingin itu.


"Sekarang, Aby sudah bisa menangis! menangis lah sepuasnya, Nak!" Ardan memberikan ciuman yang banyak di puncak kepala Aby, berulang-ulang.


"Selamat ulang tahun, Pah! Terima kasih, sudah bertahan untuk mencari keberadaan mama selama ini." ucap Aby di sela-sela Isak tangisnya, membuat Ardan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Terima kasih,Nak! terima kasih, Sayang! Kalian adalah kado terindah yang pernah papa dapatkan di ulang tahun papa." ucap Ardan tulus.


"Apakah kalian berdua sudah selesai tangis-tangisannya? dari tadi mama juga ingin memeluk Aby." celetuk Amara, membuat Ardan dan Aby segera melepas pelukannya.


"Papa juga!" Rudi menimpali ucapan Amara, sambil menarik masuk kembali, cairan bening yang keluar dari hidungnya. Hal yang sangat langka juga terlihat dari seorang Rudi.


"Kamu menangis, pa?" tanya Amara, heran di sela-sela rasa terharunya.


"Bukan! papa lagi flu!" bantah Rudi. Padahal dari matanya yang bengkak, sudah bisa memberikan bukti kalau dia tadi menangis.


Amara berdecih, mendengar bantahan suaminya. Kemudian, dia mengayunkan langkahnya mendekati Aby. Setelah dekat, Amarapun berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi bocah laki-laki yang selama ini dia anggap sebagai cucu sendiri, dan ternyata memang cucunya sendiri.


"Aby, sekarang boleh, Oma memelukmu?" Aby menganggukkan kepala, dan menghambur sendiri ke pelukan Amara.


"Terima kasih Oma! terima kasih sudah membawa kami ke rumah ini. Rumah yang bisa membuat Aby dan Anin, bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh. Walaupun sebelumnya Aby tidak tahu kalau kalian ternyata keluarga Aby yang sebenarnya!" seru Aby dengan air mata yang tidak pernah berhenti menetes.


Mendengar ucapan terima kasih dari Aby, membuat Amara terharu dan pipi yang sempat mengering Kini kembali basah oleh air mata, yang kembali menetes.


Rudi yang melihat itu pun, tidak mau tinggal diam. Diapun menghampiri ketiga orang yang sedang berpelukan itu, dan ikut bergabung bersama dengan mereka.


"Ardaaannnn! Aku sudah mengetahui siapa wanita itu!" teriak seseorang yang muncul dengan hebohnya.

__ADS_1


Tbc


Maaf ya, up-nya ini dulu. Aku lagi diare soalnya. Nanti kalau udah baikan aku akan usahakan untuk menulis lagi. Mohon dukungannya kembali ya Kakak2. Please like, vote dan komen. Kalau berkenan kasih hadiah juga bolehπŸ™πŸ˜πŸ˜πŸ€—


__ADS_2