
Ruangan Celyn kembali sepi. Kini yang sisa hanyalah Aby dan Celyn. Celyn merasa dadanya sudah membengkak dan terasa nyeri.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aby, ketika melihat wajah wanitanya itu meringis seperti menahan sakit.
"Hmm, yang ini sakit, Kak. Sudah membengkak begini, tapi kenapa asinya belum banyak yang keluar ya?" tanya Celyn tiba-tiba murung. Ada buliran cairan bening yang keluar matanya.
"Sayang, kamu tenang saja, nanti juga akan keluar sendiri, Kok." ucap Aby menenangkan.
"Tapi, sampai kapan? kalau begini, Arick sama Arend kapan bisa minum Asi yang banyak? aku memang , ibu yang tidak berguna." Celyn mencengkram kuat celana yang dia pakai, kemudian memukul-mukul pahanya itu, dengan air mata yang merembes keluar.
"Sayang, sayang, lihat aku! siapa bilang kamu tidak berguna. Kamu itu sangat berguna." ucap Aby, yang merasa bingung dengan perubahan mood Celyn yang tiba-tiba.
Aby pun menekan bel yang ada di atas ranjang Celyn untuk memanggil dokter. Sementara sambil menunggu Dokter Sinta, Aby berusaha untuk menenangkan, Celyn.
Tidak berselang lama Dokter Sinta terlihat masuk ke dalam ruangan
"Ada apa Pak Aby? kenapa ibu Celyn menangis?"
"Aku tidak tahu,Dok. Dia tiba-tiba menangis dan mengatakan kalau dirinya tidak berguna , karena Asinya belum keluar banyak." jelas Aby dengan wajah panik.
Dokter Sinta menganggukkan kepala, melengkungkan bibirnya ke atas, tersenyum karena dia sudah mengerti apa yang sudah terjadi.
"Ibu Celyn, Ibu yang tenang ya. Jangan terlalu dipikirkan. Kalau Ibu mau Asinya banyak keluar, justru ibu harus rileks dan tidak terlalu banyak pikiran. Nanti, Asi ibu akan keluar banyak dengan sendirinya," Dokter Sinta mencoba, menenangkan wanita yang baru saja menjadi ibu itu.
Apa yang diucapkan oleh Dokter Sinta, akhirnya bisa membuat Celyn berhenti menangis.
"Hal ini biasa kok,Bu terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Apalagi, Ibu melahirkan secara prematur, kehilangan banyak darah saat melahirkan dan mendapat cairan infus selama persalinan.Jadi, ibu jangan terlalu stress ya." sambung Dokter Sinta lagi.
"Ibu bisa memberikan pijatan-pijatan di area payu**dara ibu dengan lembut. Ibu juga harus rajin memompa Asinya, karena memang ibu belum bisa sering-sering menyusui si kembar secara langsung. Dan buat Pak Aby, anda juga bisa membantu memijat dada istri anda dan bahkan anda bisa membantu menggantikan si kecil untuk menghisap Asinya."
Wajah Aby berbinar ketika mendengar penjelasan Dokter Sinta. "Serius, Dok?" tanya Aby, antusias
"Iya, Pak. Tapi ingat, hanya untuk membuat asi lancar, bukan untuk yang lain-lain. Pak Aby harus bersabar sampai masa nifas selesai," pungkas Dokter Sinta.
Aby menghela napasnya dengan sekali hentakan, lemas mendengar ucapan sang Dokter.
"Ini mah, sama aja siksaan buat aku. Hanya menghisap tanpa melakukan yang lain, sama aja aku harus menuntaskannya di kamar mandi lagi." batin Aby.
Dokter Sinta tersenyum samar, mengerti arti helaan napas dari Aby. Kemudian, dia berlalu pergi setelah pamit terlebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas kepergian Dokter Sinta, Aby pun mulai melakukan sesuai yang disarankan oleh Dokter Sinta tadi. Dengan susah payah Aby berusaha menahan hasratnya.
Disaat dia sedang asik melakukan hal yang biasa dilakukan seorang bayi, tiba-tiba ada orang yang membuka pintu, membuat Aby sontak menutupi dada Celyn yang masih terbuka dengan selimut.
__ADS_1
"Kak, Aby ngapain?" tanya sosok yang baru muncul itu, yang ternyata Adrian disusul oleh Rico.
"Kenapa kalian masuk sembarangan tanpa mengetuk pintu dulu, hah?!" bukannya menjawab, Aby malah membentak kedua pemuda itu.
"Maaf, Kak! kami__"
"Kami apa, hah? mau ngapain kalian berdua ke sini?"
"Aku adiknya, jadi aku mau melihat keadaan kakakku lah," jawab Rico, kesal.
"Ya sudah! kalian balik badan dulu! jangan berbalik sebelum aku suruh!"
Adrian dan Rico membalikkan tubuh mereka dengan tersenyum penuh makna.
"Gila, Yan! Kakak kamu ternyata ganas juga ya?" bisik Rico persis di telinga Adrian.
"Sttt, nanti kakak Aby dengar, bisa bahaya." Adrian menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Apa yang kalian berdua bisik-bisik di sana?" tanya Aby, datar.
"Tidak ada, Kak." sambar Adrian, cepat. "Kami sudah bisa mutar badan lagi gak nih?" tanyanya kembali.
"Sudah! berbaliklah! ucap Aby, masih dengan nada yang sama.
Rico dan Adrian memutar badan dan melangkah mendekati ranjang dimana Celyn sedang duduk. Sisa rona di wajahnya, masih terlihat walaupun sudah sedikit samar.
"Seperti yang kamu lihat, kalau kakak sudah baik-baik saja," sahut Celyn dengan seulas senyum manis di bibirnya
"Kakak tahu, kemarin aku begitu takut, kalau kakak tidak sanggup lagi bertahan. Tapi, kakak benar-benar wanita hebat dan kuat." ucap Rico, berusaha agar air matanya tidak keluar.
"Itu berkat kamu dan papa juga, makanya kakak bisa bertahan hidup. Terima kasih ya, Dek." ucap Celyn, menahan harunya juga.
"Apa aku boleh peluk, Kakak?"
"Kenapa tidak boleh? sini peluk kakak!" Celyn merentangkan kedua tangannya dan dengan senyuman Rico pun masuk kedalam pelukan kakaknya.
"Apa aku juga bisa memeluk, Kak Celyn?" Adrian buka suara.
"Tidak boleh! tegas Aby sambil mendelik ke arah Adrian adiknya, membuat pemuda 18 tahun itu berdecih dan mencebikkan bibirnya.
Sudah 15 menit berlalu, Adrian dan Rico ada di ruangan Celyn. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda keduanya mau beranjak pergi.
"Mau berapa lama lagi kalian berdua ada di sini?" apa kalian berdua menunggu aku usir?" sindir Aby, ketus.
Adrian dan Rick saling silang pandang, dan sama-sama menghela napas.
__ADS_1
"Baiklah, Kak, kami pulang sekarang," Adrian berdiri dari sofa disusul oleh Rico. Kemudian, mereka berpamitan dan melangkah keluar setelah mendapat izin.
Ketika mereka membuka pintu, mereka terkesiap kaget melihat keberadaan laki-laki tinggi, dan tegap berdiri di dapan pintu.
"Kak, Roni?" desis Adrian, memicingkan matanya. Mata yang memicing itu, tiba-tiba membesar, begitu melihat sosok wanita yang berdiri di belakang Roni.
"Cantik!" gumamnya, terpesona melihat gadis itu,
Roni melangkah masuk disusul oleh wanita dibelakangnya, yang dari raut wajahnya terlihat seperti ketakutan.
Aby yang melihat ke arah pintu, terkesiap kaget melihat keberadaan bodyguard yang sempat menghianatinya itu.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Aby, dingin.
Roni sontak menjatuhkan dirinya berlutut di lantai. "Aku ke sini hanya mau meminta maaf yang sebesar-besarnya ,Tuan. Aku melakukannya karena aku benar-benar merasa terpaksa. Saat itu, aku berada dalam bawah tekanan, makanya aku bisa berbuat seperti itu. Jadi, aku mohon maafkan aku, Tuan." ucap Roni, sambil menundukkan kepalanya.
Aby menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kembali ke luar. Kemudian dia mencengkram bahu Roni dengan lembut, membantunya untuk berdiri.
"Istriku sudah mengatakan semuanya. Kalau aku dalam posisimu, kemungkinan aku pun akan melakukan hal yang sama. Jadi, kamu tenang saja, aku sudah memaafkan kesalahanmu."
"Terima kasih, Tuan! terima kasih!". Roni berulang kali membungkukkan badannya di depan Aby.
"Bagaimana dengan ibumu sekarang?"
Wajah Roni yang tadinya sudah berbinar kini kembali murung. Buka. hanya Roni, gadis yang bersamanya pun sekarang sudah meneteskan air mata.
"Ibu Kami sudah tidak ada lagi, Tuan. Dia tidak bisa lagi diselamatkan, ketika dibawa ke rumah sakit. Karena itulah aku baru bisa meminta maaf sekarang, karena aku harus mengurus pemakaman ibu dulu." jelas Roni, berusaha tegar dan tidak menangis.
" Maaf, sudah membuat kamu sedih. Apakah dia istrimu? bukannya kamu belum menikah?" Aby menunjuk ke arah gadis yang menangis sesunggukan.
"Dia Reyna adikku, Tuan. Aku benar-benar belum menikah." Sahut Roni.
Aby menggerakkan ekor matanya, melirik ke arah Adrian yang tatapannya tidak pernah lepas dari gadis yang katanya adik Roni itu.
"Hmm, sepertinya dia menyukai gadis ini." Aby membatin sembari tersenyum tipis.
"Hmm, Roni, apa kamu masih mau bekerja untukku? sepertinya adik kamu ini masih sekolah, dan kamu pasti memerlukan banyak biaya kan?" Aby memberikan penawaran.
"Apa, aku masih pantas Tuan? dan apa anda tidak sedang bercanda?"
"Tentu saja aku sungguh-sungguh! karena menurutku kamu itu orang yang bertanggung jawab. Kalau kamu bersedia kamu bisa kembali bekerja untukku."
"Terima kasih, Tuan, terima kasih! aku bersedia, Tuan!" ucap Roni, dengan wajah yang berbinar.
"Terima kasih, Tuan!" untuk pertama kali Reyna buka suara, dan suaranya benar-benar bisa menghipnotis Adrian.
__ADS_1
Tbc