Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku tidak takut.


__ADS_3

Hari berganti hari, semua masalah sudah bisa teratasi dengan baik. Jason sang pemilik JLK group, sudah datang secara resmi ke Indonesia untuk menemui Aby secara langsung dan meminta maaf atas hal yang tidak menyenangkan, yang dilakukan oleh Emma wakilnya. Jason juga berkata kalau Emma sudah dipecat. Bahkan sebagai permintaan maaf, Jason malah berinvestasi, dua kali lipat dari yang ditawarkan sebelumnya.


Sore ini Aby pulang dari kantor lebih cepat dari sebelumnya. Dia melihat Celyn istrinya sedang memandikan baby Arick sambil mengajak bayi itu berbicara. Karena kata Celyn, walaupun anak-anaknya masih bayi dan belum bisa bicara, bila kita sering mengajaknya berbicara, itu sangat berguna bagi perkembangan kedua anaknya. Misalnya mengasah kemampuan, memahami dan merespon, mengasah kemampuan berbicara dan mengasah kemampuan lainnya.


"Kamu pasti capek ya, Sayang? ucap Aby sambil mengecup kening Celyn istrinya.


"Nggak kok. Justru aku senang ngurusin mereka. Kamu kenapa sudah pulang?" tanya Celyn sambil melirik ke arah jam yang menempel di dinding.


"Pekerjaanku sudah selesai dan kebetulan aku merindukan anak-anakku," ucap Aby yang membuat tangan Celyn berhenti sejenak, dan menatap dingin ke arah Aby.


"Jadi, yang kamu rindukan hanya anak-anakmu?"


"Emmm," sahut Aby, singkat


"Jadi kamu nggak rindu aku?"


"Aku merindukanmu, pas ketemu malam saja," sahut Aby lagi, sambil menahan tawa melihat wajah sang istri yang sudah berubah merah karena kesal.


"Kalau begitu, nanti malam tidak ada jatah buatmu," tegas Celyn, membuat wajah Aby seketika panik. Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh istrinya itu lebih horor daripada dia mendengar laporan kerja sama yang batal.


"Kok begitu?" protes Aby.


"Pokoknya tidak ada!" Celyn semakin menekan kata tidak ada, hingga membuat Aby frustasi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Celyn mengangkat baby Arick dari dalam air, dan meletakkan nya di atas handuk untuk mengeringkan tubuh bayi yang makin hari makin tampak sehat itu.


Ketika Celyn sedang memakaikan pakaian buat baby Arick, Aby langsung berinisiatif untuk membuka pakaian baby Arend dan langsung memandikan putra keduanya itu.


Celyn tersenyum dan bersyukur memiliki seorang suami seperti Aby yang luarnya terlihat dingin, tapi dalamnya sangat hangat dan penyayang. Orang luar yang melihat Aby, pasti berpikir, kalau keseharian pria itu, pasti semua kebutuhannya selalu disediakan oleh orang lain, dan mereka pasti tidak percaya, kalau ternyata seorang Aby, seorang pria yang kalau bisa melakukan sendiri, pasti melakukan sendiri, tanpa mau menyusahkan orang lain.


Setelah baby Arick sudah selesai berpakaian, Celyn langsung menyusuinya, sedangkan Aby memakaikan pakaian buat putra keduanya menunggu baby Arick selesai mendapatkan nutrisi dari ibunya, dan akan berganti ke baby Arend setelahnya. Benar-benar kerja sama yang baik di antara suami istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lain halnya dengan Aby, Kenjo dan Anin juga sekarang disibukkan dengan persiapan pernikahan mereka yang akan dilangsungkan 2 minggu mendatang.

__ADS_1


Sore ini mereka berdua, baru bisa melakukan fitting pakaian pengantin, karena beberapa hari ini mereka sangat sibuk.


Sebenarnya Amanda dan mamanya Kenjo ingin sekali membantu, akan tetapi Anin dan Kenjo ingin melakukannya sendiri, karena tidak ingin menyusahkan mama dan calon mama mertuanya itu.


"Ini, gaunnya, Nona Anin. Anda bisa mencobanya di sana." Sang designer,menunjuk ke arah fitting room dan Anin langsung beranjak masuk, sambil membawa serta gaunnya. Sementara itu, Kenjo juga diarahkan untuk mencoba tuxedonya di ruang fitting yang lain.


Gaun Anin, kini sudah terbalut sempurna di tubuhnya. Dia mematut dirinya di depan cermin. Anin menerbitkan seulas senyuman di bibirnya karena menurutnya dia sudah sangat cantik menggunakan gaun itu.


"Hmm, bagaimana ya pendapat Kenjo? apa dia menyukai gaunku?" batin Anin merasa sedikit ragu.


"Apa sudah anda sudah selesai, Nona Anin?" tiba-tiba sang designer bersuara hingga membuat Anin terjengkit kaget.


"Wah anda sangat cantik sekali, Nona!" Designer itu berdecak kagum. Bukan karena gaun itu dia yang design, tapi karena memang menurutnya Anin terlihat sangat cantik dengan gaun itu.


"Benarkah?" tanya Anin, dengan wajah yang tersipu.


"Benar sekali, Nona. Ini bukan karena saya yang design. Seandainya ini didesign oleh orang lainpun pasti akan saya akan tetap, mengaguminya. Kalau anda tidak percaya, kita keluar, dan tanyakan pada calon suami anda."


"Tidak usah, Mbak! Kamu coba ambil photo saya dulu! Aku mau kirim ke kakak ipar dan mama saya aja dulu. Aku mau minta pendapat mereka." Anin memberikan ponselnya ke tangan sang designer dan designer itu pun melakukan sesuai dengan yang diminta oleh Anin.


"Mbak, kata mereka gaun ini sangat bagus. Aku mau pakai yang ini saja. Sekarang, Mbak bisa keluar, karena aku mau berganti pakaian lagi." ucap Anin dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Apa anda tidak mau bertanya pada calon suami anda?" designer itu mengrenyitkan kening, bingung.


"Saya rasa tidak perlu, Mbak. Biar kejutan buat dia nanti."


Designer itu mangut-mangut dengan mulut yang membentuk huruf 'o'.


Anin keluar dari kamar ganti, dan tubuh Kenjo langsung berbalik untuk melihat penampilan calon istrinya itu. Tatapan keduanya beradu dengan makna tatapan yang berbeda. Anin dengan kekagumannya melihat Kenjo yang terlihat sangat gagah dengan tuxedo, Kenjo dengan tatapan yang penuh tanda tanya, melihat Anin yang berpenampilan sama sebelum masuk ke ruang ganti.


"Dimana gaunmu? kenapa kamu tidak memakainya? apakah tidak sesuai atau bagaimana?" cecar Kenjo, dengan alis yang bertaut.


Anin tidak langsung menjawab. Dia malah terkekeh melihat ekspresi bingung sang calon suami.


"Aku sudah mencobanya kok, Sayang. Dan sesuai dengan yang ku mau, "

__ADS_1


"Jadi kenapa kamu tidak memakainya sekarang?" kening Kenjo, berkerut menuntut penjelasan, hingga membuat Anin semakin terkekeh


"Aku tidak mau kamu melihatnya sekarang. Aku mau itu merupakan kejutan buat kamu nanti," sahut Anin, sambil mengulum senyumnya.


"Jadi, buat apa aku berpakaian seperti ini sekarang?" Kenjo menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku kan tidak menyuruh kamu untuk memakainya di depanku sekarang, Sayang," ucap Anin dengan nada yang sangat lembut di kata 'sayang'.


"Arghhh, kamu mah curang! tahu gitu, lebih baik aku juga tadi mengganti setelah selesai mencobanya." ucap Kenjo dengan raut wajah kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di lain tempat, tepatnya di sebuah bioskop. Tampak seorang pemuda yang wajahnya terlihat frustasi menemani kekasihnya menonton film bergenre horor. Siapa lagi mereka kalau bukan, Calvin dan Cantika. Bagaimana tidak, segagah-gagahnya Calvin, dia paling takut jika dihadapkan dengan hal-hal yang berbau horor.


"Tangan Kakak kenapa dingin sekali?" tanya Cantika, ketika meraba telapak tangan Calvin.


"Apa kakak takut menonton film horor? kalau takut kita menonton film lain aja," sambung Cantika lagi.


"Ti-tidak! siapa yang takut? gak mungkinkan seorang Calvin takut sama film begituan, yang jelas-jelas hanya setingan." sangkal Calvin, pura-pura terlihat berani, karena tidak mau dianggap lemah oleh Cantika.


"Oh, jadi kenapa tangan Kakak dingin? kakak sakit?" Cantika kembali bertanya, memberikan perhatiannya.


"Tidak! mungkin karena udara AC nya yang terlalu dingin," ujar Calvin memberikan alibi yang menurut Cantika tidak masuk akal. Akan tetapi, walau tidak masuk akal, Cantika tetap mengangguk-anggukan kepalanya.


Calvin memejamkan matanya dengan tangan yang memegang erat pegangan kursi, begitu suara musik terdengar, pertanda film akan dimulai.


Ketika terdengar suara dentuman keras dan suara teriakan dari arah layar, disertai dengan suara alunan musik yang menyeramkan, sebagai tanda, kalau setannya sedang menampakkan diri, tanpa sadar Calvin menggenggam tangan Cantika dengan erat. Hingga membuat Cantika menoleh ke samping dan terkekeh melihat mata Calvin yang terpejam.


Cantika merogoh tasnya dan mengambil tisu. Kemudian dia melap peluh yang menetes dari pelipis pria itu.


"Apa yang kamu lap itu? kan aku sudah bilang kalau aku tidak takut," ucap Calvin dengan suara yang sedikit bergetar, masih berusaha mempertahankan image gagahnya.


"Cih, udah gemetaran begitu, masih aja sok berani." Cantika berdecih di dalam hati.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2