
"Kamu mau kemana?" tanya Calvin, begitu Kenjo hendak beranjak pergi.
"Mau ke studionya Aninlah. Aku ada janji makan siang dengannya. Emangnya kamu, sibuk ngurusin ABG," ledek, Kenjo sambil beranjak keluar.
"Sialan, Kamu!" umpat Calvin, yang dibalas kekehan dari Kenjo.
"Aku juga harus buru-buru keluar nih, biar bisa cepat jemput si bocil. Jadi nanti pas tuh pacarnya jemput, aku bisa langsung bilang, kalau dia calon istriku. Pasti cowok itu nanti akan putusin si bocil, dan dia nangis-nangis deh. hahahaha!" gumam Calvin dengan seringaian sinis, kemudian tertawa puas.
Calvin hendak melangkah keluar, akan tetapi, dia tiba-tiba menyurutkan langkahnya.
"Dia kan pulangnya, 3 jam lagi, selama itu aku ngapain di sana coba? buang-buang waktu saja," Calvin kembali lagi duduk ke kursinya.
"Tapi, kalau nanti aku perginya, bisa-bisa aku telat dan keduluan lagi," Calvin kembali berdiri dan hendak keluar kembali.
"Arghhh! nanti aku pasti bosan nungguin, aku perginya sejaman lagi deh," Calvin duduk kembali. Kemudian membuka laptopnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin berkali-kali melirik jam di dinding ruang kerjanya, tidak sabaran menunggu kedatangan Kenjo kekasihnya. Karena kesibukan Kenjo yang banyak belakangan ini, mereka berdua jarang menghabiskan waktu berdua. Jadi, ketika Kenjo mengajak untuk makan siang hari ini, dia begitu bahagia.
Tok ... tok ...
"Masuk!" seru Anin dari dalam.
Anin langsung tersenyum sumringah begitu melihat kehadiran sang kekasih Kenjo.
"Kamu masih banyak pekerjaan, Sayang?" tanya Kenjo, menghampiri Anin dan mengecup kening kekasihnya itu.
"Nggak kok, Yang. Nih, udah selesai dan aku udah siap pergi," Anin menerbitkan seulas senyuman yang sangat manis di bibirnya, tersenyum ke arah Kenjo.
"Ya udah, Ayo!" Kenjo meraih tangan Anin dan menggenggamnya sangat erat. Kemudian mereka berdua melangkah keluar dengan bergandengan tangan.
"Pasangan yang serasi," bisik karyawan Anin, menatap kagum pada pasangan itu.
"Kapan ya, kau bisa punya pasangan seperti itu?" celetuk yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu, harus cantik dulu seperti, Mba Anin," jawab yang lainnya, yang langsung menimbulkan gelak tawa.
"Sebenarnya tidak juga, karena cantik itu relatif, tergantung orang yang memandangnya. Jadi, jangan pernah memandang rendah diri sendiri. Bisa jadi, nanti ada orang yang melihat kamu lebih cantik dan Mba Anin. Intinya harus tetap percaya diri." salah satu karyawan Anin, yang terkenal paling bijaksana, menimpali ucapan teman-temannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin dan Kenjo melangkah memasuki restoran dengan kedua tangan yang masih saja tetap saling bertaut.
"Sayang, kita duduk di sana saja!" Kenjo menunjuk ke arah meja yang berada di sudut dan memiliki view yang langsung bisa melihat taman yang indah.
"Boleh deh!" sahut Anin.
Mereka berdua pun langsung melangkah menuju meja yang dimaksud oleh, Kenjo.
Seperti restoran pada umumnya, setiap ada tamu, akan ada pelayan yang langsung mendatangi. Demikian juga dengan Kenjo dan Anin. Seorang pelayan wanita dengan sigap langsung mendatangi meja Kenjo dan Anin dan menayangkan pesanan keduanya.
Pelayan itu, langsung beranjak pergi setelah selesai mencatat semua pesanan Anin dan Kenjo.
"Sayang, bagaimana dengan galeri kamu sekarang, apa banyak orang yang membeli lukisan kamu?" tanya Kenjo memulai percakapan.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang, dan mereka langsung menikmati makanan yang ada di hadapan masing-masing dan bahkan sesekali bertukar makanan, dengan menyuapkan makanan mereka ke mulut pasangan masing-masing.
"Hmm, Sayang, aku mau tanya, tapi kamu harus jawab dengan jujur ya." Ucap Anin, hati-hati.
"Mau tanya apa?" tanya Kenjo sambil memicingkan matanya.
Anin menggigit bibirnya, sedikit merasa ragu untuk mengungkapkan pertanyaannya.
"Kenapa kamu diam? kamu mau tanya apa, hum?" tanya Kenjo, lembut,.melihat keraguan di mata kekasihnya itu.
"Kamu janji dulu, nggak bakal marah,"
"Iya, aku janji!" sahut Kenjo, lugas.
"Hmm, apa kamu tidak ada niat untuk menikahiku?" tanya Anin, hati-hati.
__ADS_1
Kenjo bergeming, tidak menyangka kalau Anin akan menanyakan hal itu. Untuk sepersekian detik, dia terdiam, sambil menatap Anin dalam-dalam.
"Hmm, tentu saja ada. Tapi, kalau boleh jujur, masih ada hal yang aku pertimbangkan."
"Apalagi, yang perlu kakak pertimbangkan? apa kakak masih merasa, kalau kakak belum pantas bersanding denganku?"
Tebakan Anin langsung tepat sasaran, karena memang itulah yang sebenarnya dia rasakan. Kenapa Kenjo belakangan ini, selalu sibuk bekerja dan bekerja dan mengabaikan rasa rindu ingin berduaan dengan Anin, ya, karena dia ingin menunjukkan pada semua orang kalau dia menikah dengan Anin, sudah dalam posisi memiliki perusahaan yang besar, dan bukan karena, bantuan Ardan.
Kenjo menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Kamu cukup mengerti diriku, Sayang. Aku memang ingin membuat perusahaanku semakin besar dulu, baru aku akan melamarmu,"
"Sampai kapan itu? bukannya aku meragukan kemampuanmu. Tapi asal kamu tahu, perempuan itu butuh kepastian yang jelas. Kalau kita berhubungan terus tanpa pernah kamu berikan kepastian, buat apa? aku memang mencintaimu tapi usiaku semakin tahun semakin bertambah. Dan kenapa kamu masih memperdulikan apa kata orang?" ucap Anin panjang lebar, meluapkan semua apa yang tersimpan di pikirannya.
"Hmm, yang aku rasa bukan sesederhana seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Kalau boleh memilih, aku ingin menikahimu secepatnya, tapi tolong mengertilah dengan posisiku."
"Aku sudah cukup mengerti. Tapi, apa perusahaan kamu, belum cukup besar? aku rasa perusahaan yang kamu miliki, sudah cukup besar. Apa kamu mau perusahaanmu sebesar Bagaskara Company dulu, baru kamu akan berniat melamarku? kalau iya, sampai kapan? Sekali lagi, aku mau mengatakan, kalau aku tidak meragukan kemampuanmu. Tapi itu, ___". Anin ingin mengatakan, kalau itu sangat mustahil. Tapi, dia menggantung ucapannya karena dia tidak mau Kenjo merasa tersinggung.
"Sudahlah! kalau kamu masih kekeh pada pemikiranmu, lebih baik kita sendiri-sendiri saja dulu. Selama ini, aku sudah yakin kalau masa depanku adalah kamu, tapi sepertinya kamu masih tidak yakin. Ambisi kamu masih lebih besar daripada rasa cintamu. Aku mau pergi dulu! Aku doakan semoga, apa yang kamu inginkan bisa tercapai." pungkas Anin, berdiri dari kursinya dan meninggalkan Kenjo yang terdiam seribu bahasa.
Kenjo seketika sadar dan langsung memanggil pelayan untuk membayar pesanannya dan Anin. Kemudian dengan sigap dan dengan sedikit berlari dia keluar mengejar Anin, wanita yang dicintainya. Dia berharap dia masih bisa menemukan wanita itu di depan. Dan dia begitu lega ketika melihat Anin yang berdiri untuk menunggu taksi.
"Nin, jangan pergi!" Mohon Kenjo sambil menggenggam erat tangan wanita itu.
Anin bergeming, tidak membuka suara sedikitpun. Akan tetapi, manik matanya sudah berkilat-kilat, karena sudah dipenuhi dengan cairan bening yang siap untuk ditumpahkan kapan saja.
"Nin, apa yang kamu katakan benar, tapi kamu salah mengatakan kalau ambisiku lebih besar dari rasa cintaku. Aku sangat mencintaimu, Nin, dan aku tidak mau, hanya karena ambisiku, aku sampai kehilangan kamu. Tapi tolong jangan berkata, kita jalan sendiri- sendiri. Hatiku sakit mendengarnya, Nin. Tolong berikan aku waktu untuk merenung dulu, please," mohon Kenjo dengan tatapan yang sendu dan wajah yang memelas.
Anin tidak sanggup melihat wajah memelas Kenjo, dan akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Kenjo sontak ingin memeluk Anin. Tapi, Anin langsung menahan dengan sedikit mendorong tubuh Kenjo.
"Ini di depan umum, Sayang. Jadi, jangan main peluk-peluk saja!" ucap Anin
Kenjo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa salah tingkah.
Tbc
__ADS_1