Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Ekstra part 2


__ADS_3

Setelah mengetahui kalau persalinan Reyna lancar dan adik perempuannya itu baik-baik saja. Roni langsung mengajak Mita, sang istri untuk kembali ke hotel. Karena memang rencananya begitu. Mereka tidak akan kembali ke rumah mereka, tetapi mereka akan menghabiskan malam pertama mereka di hotel.


"Sayang, kamu yang mandi dulu atau aku?" tanya Mita setelah selesai melepaskan hiasan di kepala serta membersihkan makeup dari wajahnya.


Roni sama sekali tidak menjawab. Dia justru menatap intens ke arah sang istri, wanita yang merupakan cinta pertamanya dan dirinya tidak pernah menyangka kalau wanita itu kini sudah menjadi istrinya.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku?" Mita, menelisik tubuhnya mulai dari atas sampai ke bawah.


Roni mengulum senyumnya seraya mengayunkan kaki, melangkah menghampiri Mita. Kemudian dia menarik tubuh wanita ituan memeluknya dengan erat.


"Tidak ada yang aneh dengan dirimu. Kamu justru terlihat sangat cantik, Sayang."


"Gombal!" Mita mendorong pelan dada sang suami dengan pipi yang sudah berubah warna menjadi merah.


" Itu sama sekali bukan gombal. Aku akui, banyak wanita cantik di dunia ini. Tapi bagiku, hanya ada 3 wanita tercantik bagiku. Yang pertama itu mamaku, kedua itu Reyna dan ketiga itu kamu. Dan kalian bertiga adalah wanita-wanita yang sangat penting bagiku."


Mita tersenyum dan langsung menyelusupkan kepalanya di dada bidang milik Roni, dengan tangan yang merangkul erat pinggang pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Terima kasih, Sayang." ucap Mita dengan tulus.


"Aku mandi lebih dulu ya? setelah aku selesai, baru gantian dengan kamu." celetuk Mita, setelah mereka saling memeluk lebih kurang 5 menit.


"Hmm apa tidak lebih baik kalau kita mandi bersama? biar cepat selesainya dan kita bisa melakukannya," bisik Roni dengan embusan napas tepat di telinga Mita, membuat tubuh Mita meremang seketika.


"Aku rasa, justru akan semakin lama selesainya, Sayang. Lebih baik kita mandi sendiri-sendiri saja, ya." ucap Mita di sela-sela rasa malunya, mendengar ucapan sang suami yang baginya sedikit vul* gar.


Setelah tarik-ulur, mandi sendiri-sendiri atau mandi bersama, akhirat perdebatan dimenangkan oleh Mita yang menginginkan mandi sendiri-sendiri.


Roni terpaksa mengalah, karena ancaman yang dilontarkan oleh Mita istrinya. Mita mengancam tidak akan mau melakukan kewajibannya malam ini, jika Roni bersikukuh untuk tetap mandi bersama.


Roni berkali-kali melihat ke arah jam yang tergantung di dinding dan ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Dia merasa kalau Mita sangat lama di dalam kamar mandi. Padahal dia tahu jelas kalau Mita baru 5 menit yang lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Oh, sh*it, kenapa sih harus ada kata menunggu di dunia ini? Kalau seandainya aku bisa menghapus kata-kata, salah satu yang mau aku hapus itu kata 'menunggu'," Roni menggerutu di dalam hati.


10 menit kemudian Mita keluar dari dalam kamar mandi, dengan tubuh yang terbalut dengan jubah mandi yang panjangnya di atas lutut, membuat Roni tertegun sambil menelan ludahnya sendiri.


"Sayang, sekarang giliran kamu buat mandi. Buruan!"


Roni tersentak kaget, sadar dari ketertegunannya.


"Kamu tunggu aku! Jangan sampai kamu tertidur, nanti!" Roni, dengan langkah tergesa langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Roni tidak memerlukan waktu lama untuk membersihkan tubuhnya. Hanya 5 menit saja, di sudah terlihat keluar dari kamar mandi.


"Cepat sekali, Sayang. Apa kamu mandi tidak tidak menggunakan sabun?" Mita menaikkan keningnya, menatap Roni curiga.


"Tentu saja aku memakai sabun. Tapi aku tidak terlalu lama menggosok tubuhku," sahut Roni.


Kemudian Roni melangkah mendekati istrinya yang terlihat seksi dengan lingeri warna kuning gading yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, Roni langsung melakukan kunjungan wisatanya, menjelajah semua area-area objek wisata di tubuh sang istri. Mulai dari mengecap manisnya jelly kenyal berwarna merah, merambah turun ke bawah. Lalu pria itu pun mendaki gunung Everest dan Himalaya bersamaan, menancapkan bendera setelah berhasil mencapai puncak yang berwarna pink kecoklatan itu . Kemudian setelah puas bermain-main di atas gunung, dia merambah turun kembali sampai menemukan lembah yang memiliki bau khas, yang memabukkan. Satu hal yang Roni tidak lupa, Dia selalu meninggalkan jejak di setiap area yang sudah dia kunjungi, dengan tujuan agar dia tahu jalan pulang. (Hehehehe)


Suara teriakan kesakitan terdengar nyaring dari mulut Mita, ketika ada benda asing milik Roni yang memasuki intinya. Akan tetapi rasa sakit itu tidak bertahan lama, seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu berganti dengan rasa nikmat yang tiada Tara dan baru pertama kali dirasakan oleh kedua insan itu. Bisa dipastikan mulai dari malam ini, kegiatan itu akan menjadi kegiatan yang akan berada di list paling atas, sebagai kegiatan ter-favorite buat kedua sejoli itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa Cucu-cucu Ardan dan Amanda sudah tumbuh besar. Suara riuh selalu terdengar di rumah itu, bila para cucu-cucunya datang berkunjung. Ya, Aby dan Celyn kini sudah tinggal di mansion sendiri. Sedangkan Adrian dan Reyna tinggal bersama dengan Ardan dan Amanda. Adrian juga kini sudah memiliki seorang putra yang berusia 2 tahun dan diberi nama Arkana Reynaldo Bagaskara.Sedangkan kakaknya Andrea kini sudah berusia 4 tahun.


"Arick, tolong ambilkan topi opa yang di atas meja sana! Supaya kita main di luar." titah Ardan.


"Aku Arend, Opa, bukan Arick." ucap Arend, mengingatkan opanya.


"Ahh, entah siapapun namamu, yang jelas muka kalian sama."

__ADS_1


"Tetap ada bedanya, Opa. Sisiran rambutku ke kanan, sedangkan Arend ke kiri." Arick menimpali ucapan Ardan.


"Gak mungkin opa kalau mau manggil nama kalian berdua harus lihat arah sisiran rambut kalian berdua? kurang kerjaan amat opa."


"Ada yang lebih gampang lagi. Aku memiliki tahu lalat kecil di bawah mataku. Sedangkan Kak Arick tidak punya tai lalat sama sekali, " kali ini Arend yang menjelaskan.


"Arghhh, sudahlah! Ops sudah tua, jadi tolong jangan paksa opa untuk berpikir!"


"Syukurlah, akhirnya Opa mau mengakui kalau Opa sudah tua. Selama ini Opa kan gak mengaku tua," celetuk Arick dengan raut wajah yang datar.


"Nah kalau yang ini aku tahu. Kamu pasti Arick.Ucapanmu yang eksplisit dan disertai dengan wajah datar tanpa ekspresi dan membuat orang kesal, itu adalah ciri khas Arick." Ardan bertepuk tangan, senang sekali karena sudah berhasil menebak.


"Opa tidak sadar, kalau Opa pun seperti itu," celetuk Arick yang sontak membuat Ardan terdiam.


"Asem!" umpatnya dalam hati.


"Kalila! kamu saja deh yang mengambilkan topi buat opa!" Ardan beralih ke arah cucu perempuannya.


"Aku Andrea, Opa. Kak Lila yang itu!" ucap Andrea dengan tangan yang menunjuk ke arah Kalila.


"Arghhh, sudahlah! biar opa saja yang ambil." Ardan bangun dari tempat duduknya dan melangkah untuk mengambil sendiri topinya.


"Kalian semua, jangan lagi menambah anak! bisa-bisa papa pusing gak hafal nama-nama anak kalian," celetuk Ardan ketika melewati anak-anak dan menantunya, hingga membuat suara tawa seketika pecah memenuhi ruangan itu.


Tidak berselang lama, mansion Ardan semakin ramai dengan kedatangan Calvin dan Cantika dengan ketiga anaknya bersama dengan Bagas dan Clara. Sedangkan Rio dan Jasmine sudah datang sebelumnya.


Ardan tiba-tiba masuk ke dalan satu ruangan dan tidak berselang lama, keluar kembali dengan sebuah kertas karton di tangannya. Pria yang sudah memiliki 8 cucu itu, melangkah ke arah pintu keluar, sehingga membuat kening orang-orang yang ada di sana berkerut, bingung.


"Mau kemana, Pah?" tanya Aby.


" Mau menempelkan ini di pintu pagar rumah kita," jawab Ardan menunjukkan kertas karton yang ada di tangannya.

__ADS_1


Seketika tawa kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya. Bagaimana tidak, Kertas karton itu tertulis ' **Tempat penampungan cucu-cucunya three Musketeers, Ardan, Rio, dan Bagas.'


Benar-benar tamat**.


__ADS_2