Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kedatangan Mita ke apartemen


__ADS_3

"Kakak, kenapa senyum-senyum?" Reyna mengrenyitkan keningnya melihat Roni yang sedari pulang dari kampus tadi, tidak berhenti tersenyum sambil menatap ponselnya.


"Siapa yang senyum-senyum? kamu salah lihat kali," sangkal Roni sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Nggak kok. Aku tidak mungkin salah lihat. Iya kan, Beb?" Reyna meminta pembelaan dari Adrian sang kekasih.


"Iya, Ay. Kamu benar! aku juga melihatnya dari tadi," Adrian menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Bisa tidak kalian berdua mengganti panggilan kalian berdua? aku risih mendengarnya." protes Roni, geli mendengar panggilan dua sejoli itu.


"Apaan, sih Kak? kakak gak usah ngalihin pembicaraan deh. Yang sekarang kita bahas, kenapa Kakak, senyum-senyum dari tadi?" ujar Reyna , sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalian tahu tidak? si Ayam manggil si bebek, itu beb dan si bebek panggil si Ayam itu Ay, jadi kalian berdua itu sama aja, bebek sama ayam. Hahahaha!" Roni sama sekali tidak peduli protesan adiknya.


"Ihhh, bukannya tadi aku sudah bilang, jangan bahas panggilan kami. Sekarang kita itu lagi bahas sikap kakak hari ini."Reyna mencebikkan bibirnya, kesal.


"Kan aku sudah bilang, kalau kalian salah lihat. Jadi, apa yang mau aku jawab?"


"Masih aja ngeles. Kakak itu tadi ___". Reyna tiba-tiba menghentikan ucapannya, ketikan suara bel dari pintu, yang berbunyi tertangkap di telinganya.


"Siapa yang datang? kakak ada tamu?" Reyna menatap Roni dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Emm, kamu nggak usah banyak tanya. Mending sekarang kamu buka pintunya," titah Roni.


Reyna mengembuskan napas dengan berat seraya melangkahkan kakinya untuk membuka pintu


"Kak Mita!" seru Reyna begitu melihat sosok wanita berwajah manis yang berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang sempurna.


"Hai, Reyna. Ternyata kamu masih ingat aku." Mita melambaikan tangannya di depan wajah Reyna.


"Bagaimana aku bisa lupa sama perempuan yang membuat kakakku __"


"Mari masuk, Mit!" Roni dengan sigap menarik tangan Mita, menyela ucapan Reyna, sebelum ucapan sang adik melebar kemana-mana.


Reyna berdiri terpaku untu sepersekian detik di depan pintu. Detik berikutnya gadis itu langsung menyunggingkan senyumannya, menemukan jawaban, kenapa kakaknya tersenyum dari tadi.


"Apa kamu juga tinggal di sini?" bukannya be menjawab kecurigaan Adrian, Mita malah balik bertanya.


"Nggak, Kak! dia tinggal di apartemen sebelah. Kakak mengenal Adrian?" Kening, Reyna naik ke atas, curiga.


"Oh, dia satu jurusan dan di kelas yang sama denganku," sahut Mita dengan santai, tidak merasa terganggu sama sekali dengan tatapan tajam Adrian.


"Oh!" Reyna mangut-mangut. Kemudian gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah Roni dan mendekat ke arah kakaknya itu.

__ADS_1


"Kak, jadi ini alasan Kakak, senyum-semyum dari tadi?" bisik Reyna, tersenyum meledek.


"Apaan sih, Kamu. Mending Sekarang kamu masak untuk makan malam." titah Roni sembari memalingkan wajahnya.


Reyna berdecih, kesal tidak mendapatkan jawaban yang sesuai seperti yang dia inginkan.


"Kakak tidak ada uang ya, buat ngajak Kak Mita makan malam di luar?" Reyna sengaja mengeraskan suaranya, membuat Roni menghunuskan matanya ke arah Reyna yang langsung nyengir kuda.


"Aku datang ke sini, justru ingin belajar masak darimu, Reyna. Soalnya, aku mau suamiku nanti, bisa makan masakan ku sendiri," tutur Mita, sambil menggerakkan ekor matanya, melirik ke arah Roni. Sementara itu, Adrian merasa kalau ucapan Mita itu, ditujukan untuknya.


"Seberapa keras pun kamu belajar memasak, tidak akan bisa menandingi Reynaku, iya kan, Sayang?" Adrian sengaja, menyindir Mita, dengan berlaku mesra pada Reyna, untuk menegaskan kalau hatinya tidak akan pernah berubah.


Mita tidak merasa tersinggung sama sekali. Dia justru tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menanggapi ucapan Adrian, yang dia yakin tengah menyindirnya, sekaligus mengingatkan, kalau cintanya pada Reyna tidak akan berubah.


"Ya, ya aku tahu, kalau aku tidak mungkin bisa mengalahkan Reynamu. Tapi, mungkin calon suamiku juga suatu saat akan mengatakan hal yang sama sepertimu.'Tidak akan ada yang bisa menandingi, Mitaku'. Sekarang, aku benar-benar ingin segera menemukan pria yang siap untuk mengatakan hal itu padaku," tutur Mita, dengan ekor mata yang melirik ke arah Roni.


"Dan aku bisa pastikan, kalau itu bukan aku!" tegas Adrian.


"Dan aku juga tidak berharap, kalau itu kamu. Bukan hanya tidak berharap, aku juga berdoa, mudah-mudahan itu bukan kamu," Mita masih tetap tersenyum saat mengucapkan kata-katanya. Jangan lupakan Roni yang menatap curiga dan penuh tanya pada Mita dan Adrian. "Ada apa dengan mereka berdua? kenapa Adrian sepertinya mengibarkan bendera perang?" bisik Roni pada dirinya sendiri.


"Beb, kamu nggak boleh begitu akh!" protes Reyna, menatap tajam ke arah sang kekasih.

__ADS_1


Tbc


Please like, vote dan komen yang banyak ya gais. Kasih hadiah juga boleh ya🙏🏻😁


__ADS_2