
Celyn kini sudah terlihat segar badannya sudah dibersihkan. Dan yang paling membahagiakan, Aby membantunya, tanpa merasa jijik sama sekali pada darah yang masih merembes keluar dari bagian inti Celyn. Walaupun sesekali, Aby dengan usilnya menoel benda kenyal yang menggantung di dadanya.
"Hmm, sekarang besarnya masih kaya apel, tapi sebentar lagi, aku akan mengubahnya, menjadi buah pepaya," ucap Aby, sambil membantu, memakaikan pakaian buat Celyn.
Mendengar kata vul*gar dari suaminya, membuat pipi Celyn memerah karena malu.
"Sudah! sekarang kamu sudah wangi," ucap Aby , tersenyum, kemudian disusul dengan kecupan singkat di bibir Celyn.
"Masuk!" seru Aby dari dalam ketika mendengar ketukan dari pintu dari luar
Seorang wanita yang tidak lain Dokter Sinta membuka pintu dan berjalan menghampiri, Aby dan Celyn.
"Selamat pagi, Pak Aby, Bu, Celyn. sudah segar aja nih!" seulas senyuman yang manis tampak terbit di bibir Dokter Sinta sebagai pemanis sapaannya.
"Pagi, Dok!" sahut Celyn, membalas senyuman Dokter Sinta. Sedangkan Aby, kembali ke wajah datarnya.
Setelah berbasa -basi bertanya mengenai apa yang dirasakan Celyn, kini dokter itu, melakukan pemeriksaan ke tubuh, Celyn dan dia kembali menyunggingkan senyuman dan memasukkan kembali stetoskop ke kantong jas dokternya.
"Keadaan,Ibu Celyn sekarang sudah stabil dan baik-baik saja. Tinggal pemulihannya saja." jelas dokter Sinta, membuat Aby menarik napas lega.
"Dok, apa aku boleh melihat anak-anakku?"
"Tentu saja boleh, Bu. Ibu memang harus melihat anak Ibu, dan melakukan kontak fisik dengan mereka, sekaligus melakukan IMD,"
Bagi Celyn dia sudah mengerti apa itu IMD, karena selama masih hamil, Celyn sudah biasa membaca dan mencari tahu seputar kehamilan dan melahirkan. Tapi, bagi Aby itu merupakan istilah baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Manik mata Celyn berembun ketika melihat tubuh kedua anaknya yang sangat kecil di dalam inkubator.
Tubuh mereka menggeliat dan bibir yang mengecap-ecap seperti menyadari kalau mamanya ada di dekat mereka.
Dokter Sinta akhirnya menngarahkan Celyn untuk melakukan skinship dengan kedua anaknya, seperti yang dilakukan oleh Aby kemarin sekaligus melakukan IMD atau inisiasi menyusui Dini.
Air mata Celyn akhirnya tidak bisa dibendung lagi begitu kedua anaknya diletakkan di dadanya
Setelah selesai, Dokter Sinta mengembalikan kedua bayi itu kembali ke dalam inkubator dan beranjak pergi meninggalkan pasangan yang baru saja menjadi orang tua itu.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kakak sudah memikirkan nama mereka?" tanya Celyn membuka suara dengar mata yang terus menatap kedua anaknya.
"Sudah dong!" sahut Aby sambil merangkul bahu istrinya itu.
"Siapa, Kak? aku tidak mau ya, bayi satu dan bayi dua. Awas saja kalau sampai nama mereka aneh! Aby terkekeh mendengar ucapan istrinya yang diselipi dengan ancaman.
"Tidak akan! aku tidak mungkin memberi nama yang aneh. Untuk putra sulungku aku mau kasih dia nama Arick Leandre Bagaskara, yang artinya pemimpin yang mulia dan sekuat singa.
Karena aku ingin dia kelak menjadi pemimpin dan pastinya dia kuat. Kalau untuk adiknya aku mau kasih nama Arend Keandre Bagaskara yang berarti anak laki-laki yang jantan dan macho yang memiliki kekuatan seperti elang.
Bagaimana? apa kamu setuju? aku memilih nama itu,karena aku tahu kalau mereka anak-anak yang kuat."
Celyn terharu, tidak menyangka kalau Aby bisa mencarikan nama yang bagus dan penuh makna seperti itu.
"Aku suka, Kak! apa kakak tahu apa arti Bagaskara? itu mungkin nama keluarga, tapi asal kakak tahu Bagaskara itu memiliki arti 'yang memberikan cahaya'. Jadi nama anak-anak kita semakin bagus maknanya." senyum Celyn mengembang sempurna sembari menatap ke arah kedua anaknya.
"Hai, Baby Arick, hai, Baby Arend! welcome to the world!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruangan Celyn kini kembali ramai. Semuanya kembali berkumpul di sana, selepas bergantian
Ardan dan Rio juga sudah mengabari Aby, akan hukuman yang sudah diberikan pada Shasa dan Gilang atas perbuatan mereka. Aby cukup puas dengan hal yang baru saja didengarnya itu.
Sekarang kaum wanita sudah berkumpul di dekat ranjang Celyn dan para Pria berkumpul di sofa.
"Sekarang, Papa mau tanya. Ini dari kemarin sangat mengganggu pikiran, Papa.
Jadi, selama 7 bulan menikah, kalian berdua ngapain aja? apa kalian berdua sama sekali belum ...?" bisik Ardan ke telinga Aby. Akan tetapi walaupun berbisik, para pria dewasa lainnya masih bisa mendengar. Mereka semua otomatis, menganggukkan kepala, antusias ingin tahu juga.
Aby bergeming dengan memutar bola matanya, serta menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia mengedarkan matanya menatap semua mata yang juga menatap matanya, dengan tatapan ingin tahu.
"Hmm, belum! itu karena __"
"Kamu masih normal kan, By?" sela Ardan dengan suara yang masih terdengar sangat pelan, takut didengar oleh para wanita. Untungnya para wanita itu, sedang asyik tertawa-tawa sekarang. Jadi, Ardan merasa aman.
"Masih lah, Pah. Apa papa meragukanku?" tanya Aby, kesal.
__ADS_1
"Bukan hanya Papa. Aku yakin semua yang ada di sini juga pasti meragukanmu," semuanya menganggukkan kepala, membenarkan. Hal ini, membuat Aby semakin jengkel.
"Aku bukan tidak ingin. Apa kalian kira aku tidak ingin melakukannya? aku sangat ingin, tapi aku tidak mau mengambil resiko, kalau aku melakukannya, kandungan Celyn jadi bermasalah." sahut Aby, yang membuat mulut para pria itu membulat membentuk huruf 'o'.
"Om Bagas, Cantika buat aku aja ya, Om?" celetuk Calvin tiba-tiba.
Semua mata membesar dengan sempurna mendengar celetukan Calvin, khususnya Bagas dan Clara.
"Enak aja, main minta-minta begitu saja. Lagian Cantika masih 17 tahun, masih sangat muda." tolak Bagas, mentah-mentah.
"Lha, emang kenapa? kan sebentar lagi juga 18 tahun, lulus SMA." ucap Calvin dengan raut wajah yang meyakinkan.
"Aku bilang tidak, ya tidak! dia masih terlalu muda, dan harus kuliah dulu. Kalau sudah dewasa, baru dia aku izinkan akan menikah. Lagian kamu terlalu tua untuk Cantika."
"Baru beda 9 tahun, Om. Bahkan ada yang beda di atas 10 tahun, mah biasa aja. Om juga sama Tante Clara beda jauh usianya."
"Beda jauh bagaimana? kami hanya berbeda 5 tahun." ucap Bagas, geram.
"Ya udah, kalau begitu! aku cuma kasihan sama Om, udah nikahnya telat, masa punya cucunya juga telat. Om, kalah terus dari Om Ardan dan Om Rio. Mereka aja udah punya dua cucu. Lah, Omnya kapan? masa nunggu Om Ardan sama Om Rio punya cicit?"
Seketika suara tawa yang menggelegar, terdengar memenuhi ruangan Celyn. Semuanya tertawa mendengar ledekan Calvin kecuali, Bagas tentunya. Pria setengah baya itu, justru sekarang terdiam dan tersenyum kecut.
"Kamu benar juga. Nantikan Cantika tetap bisa kuliah, walaupun sudah menikah. Aku juga mau cepat-cepat punya cucu. Ok, aku terima lamaran kamu, walaupun lamaran kamu gak layak disebut lamaran,"
Calvin yang tadinya merasa bahagia bisa meledek Bagas, wajahnya kini berubah pucat, dengan mata yang membesar sempurna. Tenggorokannya seakan tercekat sehingga dia merasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Ti-tidak Om, tadi aku hanya bercanda! aku tidak mau menikah dengan Cantika. Putri Om itu, galak kaya nenek lampir. Aku tidak mau setiap hari tertekan batin kena omelannya," Calvin menolak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, bergidik membayangkan raut wajah galak Cantika.
"Tidak bisa! tadi kamu sendiri yang sudah melamar Cantika secara langsung. Jadi sekarang aku sudah menerima lamaranmu, dan kamu harus konsisten dengan ucapanmu. Kalau kamu menolak, itu sama saja kamu mempermainkanku dan aku akan buat perusahaanmu, bangkrut, kamu mau?" Bagas,menghunuskan tatapannya ke arah Calvin. Dan sekarang Calvin merasa terintimidasi.
"Om, jangan gitu dong!" mohon Calvin dengan wajah memelas. Akan tetapi, Bagas seakan tidak mendengar, karena keputusannya sudah bulat.
Calvin menoleh ke arah Aby dan Kenjo meminta pertolongan. Akan tetapi kedua sahabatnya itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahu, tidak mau ikut campur.
"Dasar sahabat laknat!" umpatnya di dalam hati.
Tbc
__ADS_1
Mohon dukungannya ya gais. Please like, vote dan komen. Thank you