
"Jadi, apa kamu sudah memikirkan siapa nama anak-anak kita?" tanya Aby, lembut seraya menyeka air mata dari pipi istrinya itu.
Celyn terdiam, seperti memikirkan sesuatu. "Sebenarnya aku berharap kakak yang kasih nama, apa kakak sudah memikirkan nama buat mereka?" Celyn malah balik bertanya.
"Hmm, jujur aku belum sempat memikirkan nama nama buat mereka, karena pikiranku terfokus ke kamu. Aku benar-benar takut kalau kamu tidak bangun lagi. Tapi, kalau kamu mau aku yang memberikan nama buat mereka, malam ini aku akan memikirkannya," sahut Aby sembari menerbitkan senyuman di bibirnya.
"Astaga! aku sampai lupa memberikan kabar pada orang tua kita, kalau kamu sudah sadar," Aby memukul jidatnya.
"Jangankan pada orang tua, sama kami bertiga pun kamu lupa mengabarinya." tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah pintu
Aby dan Celyn sontak menoleh ke arah pintu, yang kini tampak berdiri 3 orang yang tidak lain Kenjo, Calvin dan Anin. Ketiganya berpura-pura memasang wajah kesal.
"Hei, sejak kapan kalian bertiga ada di sana?"
"Kami sudah ada diluar sejak seseorang mengungkapkan perasaan hatinya, dan pernah merasa cemburu samaku. Tahu gak, aku merasa diriku keren, dicemburui sama seorang Aby," Kenjo berucap dengan santai, tapi siapapun tahu, kalau dia tengah meledek Aby.
"Sialan! kamu meledekku ya?" suara Aby terdengar tidak senang sekaligus kesal.
"Hmm, kamu merasa, ya?" kemudian Kenjo mengalihkan tatapannya ke arah Calvin, "Oh ya, Cal, bagaimana tadi cara orang itu, ngungkapin perasaannya? aku rada-rada lupa, apa kamu masih mengingatnya?"
"Hmm , tunggu sebentar! sepertinya begini deh ...,"
"Cal, sekali saja kamu berucap, aku akan membatalkan kerja sama dengan perusahaanmu dan menarik investasiku dari sana!" ancam Aby, merasa geram dengan ulah dua sahabatnya.
"Ah, kamu mah, gak seru! mainnya pakai ngancam-ngancam segala," Calvin menghela napas, kesal.
"Dan untuk kamu, Ken. Sekali saja kamu menyinggung masalah tadi, aku tidak akan memberikan adikku padamu," sambung Aby kembali, melayangkan ancaman pada Kenjo.
"Enak saja! kalau kakak tidak memberikan izin, aku sendiri yang akan mencari, Kak Kenjo. Kakak mau bilang apa?" Anin memprotes ancaman kakaknya dengan balik menantang.
"Cih dasar bucin kamu!" Aby, benar-benar mati kutu.
"Kakak tidak sadar kalau lagi ngomongin diri sendiri?" ucap Anin tidak mau kalah.
"Kami sekarang berani melawan kakak ya. Dikasih apa kamu sama Kenjo, hah?"
" Dikasih cinta yang besar, iya kan, Sayang?" ucap Anin sambil bergelayut manja di lengan Kenjo kekasihnya, dan Kenjo hanya tersenyum sambil menyentil hidung Celyn. Interaksi keduanya membuat Aby, berdecih dan ingin muntah.
__ADS_1
Kenjo mendekati Celyn dan pandangan Aby tidak pernah lepas dari pergerakan Kenjo, seakan takut kecolongan.
"Hai, Celyn. Selamat ya, sudah menjadi seorang Ibu, dan aku sangat bahagia, kamu masih bertahan dan kembali bersama kita," ucap Kenjo, seraya membelai lembut kepala Celyn.
"Kenjo, lepaskan tanganmu dari kepala istriku!" pekik Aby, yang meradang melihat tangan Kenjo, di kepala istrinya.
Kenjo merasa kesal dengan sikap Aby yang berlebihan. Bukannya malah takut, Kenjo malah berani, mengecup puncak kepala Celyn, hingga membuat Aby semakin meradang.
"Kenjooo! beraninya kamu!" Aby beranjak dari tempatnya hendak menjauhkan Kenjo dari istrinya.
Dengan secepat kilat, Kenjo pun menghindar dengan bersembuyi di belakang Anin.
Kenjo berdecih serta berdecak melihat Aby mengusap-usap kepala Celyn, seakan sedang membersihkan bekas kecupannya tadi.
Kalian semua sudah berpasangan, aku kapan?" celetuk Calvin tiba-tiba, membuat suasana kembali cair. Sekarang dua pasangan itu, malah menertawakan Calvin yang mendengkus, kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini, Rio dan Ardan benar-benar datang ke kantor polisi dengan hati yang sudah tenang, karena mereka mengetahui kalau Celyn sudah sadar dan kini baik-baik saja.
Di dalam ruangan itu, sekarang tampak Gilang yang wajahnya masih bengkak membiru akibat pukulan dari Aby serta Shasa yang penampilannya tampak sangat berantakan.
Bersama dengan Gilang, tampak dua orang, yang berusia hampir sama dengan Ardan dan Rio. Mereka tidak lain adalah kedua orang tua Gilang. Sedangkan Shasa tampak sendiri tidak ada yang mendampingi, karena tadi malam mamahnya datang, dan mengatakan tidak memperdulikan dia lagi.
"Ok, sebenarnya kami malas untuk datang ke sini, menemui kalian. Karena, jujur bila aku melihat wajah kalian berdua, tanganku bergetar ingin memberikan pukulan ke wajah kalian. Tapi, mau tidak mau aku harus menemui kalian untuk menyampaikan, kalau kami menolak damai dan bahkan menuntut untuk memberikan hukuman yang seberat-beratnya untuk kalian berdua." Ucap Ardan datar, berusaha menahan keinginannya untuk melayangkan tinju di muka Gilang yang sudah babak belur itu.
"Pak, maafkan aku! aku berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatanku," mohon Gilang sambil berlutut di bawah kaki Ardan.
"Iya, Pak Ardan, Pak Rio, tolong ampuni Gilang. Lihatlah wajahnya sudah babak belur karena anak anda! Tulang hidungnya bahkan hampir patah akibat perbuatan anak anda," ucap mamanya Gilang, yang masih saja terlihat tidak tulus meminta maaf, bahkan terkesan angkuh.
Brakk ....
Rio menggebrak meja dengan keras, pertanda amarah yang dari tadi sudah berusaha dia tahan, kini sudah tidak sanggup dia bendung lagi.
"Brengsek! masih berani anda mengatakan seperti itu, setelah apa yang anak anda perbuat? apakah anda tahu, karena perbuatannya, putri dan cucu-cukuku terancam tidak ada, hah?!" bentak Rio dengan suara yang menggelegar, membuat yang berada di ruangan itu, bergidik ngeri melihat wajah Rio yang memerah dan sorot mata yang sangat tajam seperti belati yang siap menghujam jantung.
"Aku justru menyesal, kenapa tulang hidungnya saja yang patah? kenapa tidak ikut kakinya yang patah? aku justru berharap ******** anak anda ini dicincang sampai sekecil mungkin dan dikasih makan anj*ing." suara Rio masih tinggi dan berapi-api serta tangan yang mengepal kencang. Sehingga membuat kedua orang tua Gilang, ketakutan tidak berani lagi untuk buka suara.
__ADS_1
"Kamu ... siapa nama kamu? ya, Shasa, aku tidak tahu, hati kamu terbuat dari apa. Kamu bahkan menggunakan berbagai cara untuk membuat keinginanmu tercapai, sampai kamu tega ingin melakukan proses bayi inseminasi, dengan mencuri benih dari Aby. Tapi, aku bersyukur, cucu saya tidak lahir dari wanita seperti kamu."
Shasa terkesiap kaget sekaligus takut karena perbuatannya sudah terbongkar. Tapi kemudian dia tersenyum miring merasa kalau Aby akan menceraikan Celyn dan memilih untuk mencari keberadaan wanita yang mendapatkan benih dari pria itu. Karena sejauh ini, Shasa belum mengetahui kebenarannya, kalau Celyn lah wanita yang mendapatkan benih Aby.
"Kenapa kamu tersenyum? coba aku tebak, apa kamu mengira putra saya, akan menceraikan Celyn menantuku? sayangnya, apa yang kamu pikirkan tidak terjadi, karena benih itu berada di tempat yang tepat. Kamu mau tahu siapa? Tuhan mengirimkan Celyn di waktu yang tepat dan mendapatkan benih Aby di rahimnya."
Bola mata Shasa membesar dengan sempurna dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin! bagaimana bisa?" gumam Shasa dengan wajah yang frustasi.
"Kenapa tidak mungkin? itu karena Tuhan tahu, siapa yang tepat untuk melahirkan anak-anak buat Aby, dan yang pastinya itu bukan kamu! Sekarang kamu persiapkan diri kamu untuk membusuk di penjara, karena kami sudah memiliki semua bukti kejahatanmu dan Gilang." ucap Ardan sambil menyeringai sinis.
"Pak Ardan, tolong lepaskan aku. Aku melakukannya karena hasutan dari wanita ja*lang itu." Mohon Gilang sambil menunjuk ke arah Shasa.
"Enak saja kami bicara seperti itu! kamu juga sangat menginginkan Celyn kan?" Pekik Shasa tidak mau disalahkan.
"Tapi aku pernah mengatakan kalau aku sudah tidak mau berurusan dengan Aby lagi, tapi kamu yang kembali berusaha mempengaruhiku," Gilang masih tetap melakukan pembelaan diri.
"Diam!" bentak Ardan menghentikan perdebatan keduanya.
"Aku tidak perduli dengan apa yang kalian perdebatkan, silahkan kalian berdua saling menyalahkan, karena bagiku kalian berdua tetap salah dan tidak layak diampuni." ujar Ardan tegas, membuat wajah Gilang dan Shasa berubah pucat.
"Oh ya, aku juga mau menginformasikan kamu, kalau perusahaanmu sudah diambil alih oleh Bagaskara Company dan kamu tidak punya hak lagi di dalamnya. Semua aset-aset kamu juga sudah ditarik karena ternyata kamu punya banyak utang," bukan hanya Gilang yang lemas, kedua orang tuanya pun tersungkur lemas.
"Pak Ardan tolong jangan ambil perusahaan itu, bagaimana kami bisa hidup, nanti?" mohon mamanya Gilang.
"Kalian tenang saja, kami masih berbaik hati masih menyisakan rumah untuk kalian tempati." tegas Ardan tak terbantahkan.
"Ayo Rio kita pulang!"
Rio mengayunkan langkahnya dan berjalan mendekati Gilang dan menyempatkan diri untuk melayangkan tinjunya ke wajah Gilang, sebelum dia beranjak keluar menyusul Ardan.
"Ini semua gara-gara kamu, wanita ja*lang!" mamanya Gilang menghambur ke arah Shasa dan menarik rambut wanita itu, dengan sangat keras dan membantingnya ke lantai. Polisi berusaha melerai, tapi mereka kesusahan karena wanita setengah baya itu, seperti memiliki kekuatan lebih untuk terus menghajar Shasa, bahkan tangannya sudah penuh dengan rambut Shasa, yang tercabut dari akarnya, sangking kencangnya dia menarik rambut wanita itu.
Ardan dan Rio bukannya tidak mendengar keributan yang terjadi di ruangan itu, tapi mereka seakan menebalkan telinga dan tetap berjalan keluar, meninggalkan kantor polisi.
Tbc
__ADS_1